Memahami Manajemen Risiko Secara Lengkap pada Perusahaan

July 16, 2021by Admin dua0
WhatsApp-Image-2021-07-10-at-2.43.08-PM.jpeg

Tidak ada yang tidak memiliki risiko. Begitu pun juga dengan bisnis. Apapun kondisinya, risiko tidak akan bisa Anda hindari. Tapi bisa Anda atur besar-kecil dampak yang ditimbulkan melalui manajemen risiko.

Untuk lebih jauh mengenal manajemen risiko dan kenapa hal tersebut menjadi penting, simak artikel berikut ini.

Apa itu Manajemen Risiko?

Definisi risiko sebenarnya sudah bisa dipahami dalam kehidupan sehari-hari. Mari ambil contoh ketika Anda ingin berangkat ke kantor.

Ketika berangkat ke kantor, terdapat banyak risiko yang bisa saja terjadi kepada Anda.

Agar bisa mencapai kantor Anda dengan selamat, tanpa disadari Anda telah melakukan manajemen risiko.

Mulai dari kapan Anda harus berangkat dan mengambil rute terbaik. Kendaraan apa yang Anda pilih untuk pergi ke kantor. Bahkan apa yang Anda persiapkan dari rumah untuk pekerjaan di kantor.

Lalu, apa risikonya?

kecelakaan, terlambat kerja, atau risiko lupa untuk mempersiapkan materi pekerjaan atau presentasi.

Dari rentetan kegiatan dari contoh tersebut sebenarnya Anda sudah bisa menarik kesimpulan apa itu manajemen risiko.

Manajemen risiko adalah proses logis untuk mengelola potensi adanya kerugian sehingga potensi tersebut dapat dikurangi, dihindari atau bahkan memberikan peluang baru bagi subjek tertentu.

Subjek tertentu yang dimaksud adalah perorangan, organisasi, perusahaan, atau pemerintahan.

Lalu, apa saja yang dimaksud dengan proses logis itu?

Proses logis adalah rentetan aktivitas yang dilakukan secara sadar mulai dari mengidentifikasi, menganalisis, pencegahan, penanganan, hingga evaluasi.

Bentuk dan Sumber Risiko

Sebelum lebih jauh membahas tentang manajemen risiko, perlu diketahui bahwa risiko memiliki dua istilah penting. Peril dan Hazard.

Peril sendiri adalah potensi yang menyebabkan risiko atau kerugian itu terjadi. Sedangkan hazard adalah pemicu yang mampu meningkatkan potensi risiko.

Contoh ketika pandemi COVID-19. Pandeminya sendiri merupakan peril. Sedangkan bentuk hazard-nya adalah interaksi antar manusia yang menyebabkan penularan virus dan memperburuk kondisi pandemi.

Selain itu, risiko juga memiliki bentuk. Mengetahui bentuk risiko membantu Anda untuk merumuskan atau mengidentifikasi risiko yang terjadi.

Apa saja bentuk-bentuk risiko secara umum?

    • Risiko usaha – Meliputi risiko kerugian, risiko produksi, risiko SDM, kegagalan mesin, atau kerusakan data.
    • Risiko geografis – Misalnya cuaca, bencana alam seperti banjir, gempa, atau hama.
    • Risiko Ekonomi – Meliputi kondisi perekonomian negara yang berdampak langsung pada aktivitas ekonomi secara mikro.
    • Risiko politik – Meliputi kondisi politik dan kebijakan usaha.
    • Risiko legal – Meliputi gugatan seperti sengketa hak paten, bangunan, pajak, atau utang-piutang.

 

  • Risiko sosial dan budaya – Meliputi vandalisme, kerusuhan, budaya masyarakat yang tidak sesuai dengan cita-cita perusahaan, pemogokan pegawai, perampokan.

 

  • Risiko ketidakpastian – Misalnya kecelakaan kerja, kebakaran, atau pandemi.

Selain bentuk, ada juga identifikasi sumber risiko yang meliputi:

 

  • Sumber eksternal– Risiko yang bersumber dari luar. Meliputi perubahan perilaku konsumen, kekecewaan konsumen, persaingan bisnis, pemasok, masyarakat sekitar perusahaan, pemerintah
  • Sumber internal – Risiko yang bersumber dari dalam. Meliputi SDM, peralatan, hingga pengembangan teknologi.

 

Tujuan dan Manfaat Manajemen Risiko

Secara umum, tujuan manajemen risiko adalah sebagai dasar bagi entitas baik pribadi maupun organisasi untuk mengurangi adanya resiko yang akan berdampak langsung pada entitas tersebut.

Dengan kata lain, tujuan yang ditetapkan dapat dengan mudah tercapai.

Secara khusus, manajemen risiko memiliki tujuan sebagai berikut:

  • Sebagai sumber informasi potensi risiko kepada pihak yang berkaitan.
  • Mengontrol risiko termasuk mengurangi potensi kerugian yang ditimbulkan dari risiko.
  • Memastikan entitas perusahaan berjalan pada koridor yang semestinya.
  • Membantu perusahaan dalam mengefisiensikan anggaran.
  • Memberikan rasa aman.
  • Memberikan gambaran apakah risiko tersebut dapat dijadikan peluang yang menguntungkan bagi perusahaan atau tidak.
  • Membantu perusahaan mengelola sumber daya yang ada secara efisien.
  • Meningkatkan produktivitas dan keuntungan.
  • Membantu perusahaan dalam mengambil keputusan terutama pada keputusan-keputusan strategis.

Jadi sejatinya manajemen risiko bukan hanya dilakukan ketika ada potensi risiko. Namun ada atau tidak, perusahaan tetap harus memiliki master plan manajemen risiko.

Mengukur Risiko

Untuk memulai manajemen risiko, perusahaan perlu mengukur risiko yang akan terjadi untuk mengetahui seberapa besar potensi yang ditimbulkan dari risiko tersebut.

Selain itu, dengan mengukur risiko, perusahaan juga bisa melakukan ranking atau membuat daftar prioritas mana risiko yang relevan dan memiliki sifat urgensi.

Apa saja sih metode pengukuran risiko itu?

1. Pengukuran Probabilitas

Mengukur seberapa sering risiko terjadi pada rentetan peristiwa spesifik. Misalnya, seberapa sering petani mengalami gagal panen dalam satu periode tertentu.

2. Pengukuran Notional

 Bertujuan mengukur objek yang rentan mengalami risiko. Misalnya perusahaan meminjamkan uang kepada pihak lain sebesar Rp100juta, maka besarnya risiko kredit berdasarkan pendekatan notional adalah Rp100 juta.

3. Pengukuran Sensitivitas

Metode yang sama dengan pengukuran notional namun dipengaruhi dengan faktor atau variabel penentu.

Misalnya risiko aset keuangan yang diukur berdasarkan tingkat pengembalian aset yang bersangkutan terhadap perubahan tingkat pengembalian pasar.

4. Metode Volatilitas

Pengukuran apabila objek yang rentan terhadap risiko bernilai fluktuatif atau tidak tetap. Ukuran yang umum digunakan adalah menggunakan standar deviasi. 

Semakin besar deviasi maka semakin fluktuatif nilai tersebut. Itu berarti objek yang rentan terhadap risiko semakin berisiko.

5. Metode Value at Risk

Mengukur risiko berdasarkan kerugian maksimum yang akan dan bisa terjadi pada suatu objek yang rentan terhadap risiko.

6. Metode Matriks

Metode pengukuran yang cukup sederhana yaitu dengan membuat matriks dengan mengelompokkan risiko berdasarkan dua indikator yaitu frekuensi terjadinya risiko dan signifikansi dampak (severity) dari risiko.

 

Baca Juga: Pengertian Manajemen Biaya, Konsep hingga Langkah Penerapannya

Pendekatan atau Metode Manajemen Risiko

Salah satu tahapan terpenting dalam manajemen risiko adalah pengendalian risiko (risk control).

Risk control bisa dikatakan sebagai inti dari aktivitas manajemen risiko. Dimana perusahaan dalam hal ini mengelola risiko yang dan akan terjadi.

Dalam melakukan risk control, entitas bisnis atau perusahaan menggunakan beberapa pendekatan atau metode di antaranya sebagai berikut.

1. Penghindaran Risiko (Risk Avoidance)

 Pendekatan dengan cara menghindari objek-objek yang dapat menimbulkan risiko.

Contoh: untuk menghindari perusahaan berhenti beroperasi saat pandemi, perusahaan menerapkan work from home.

2. Segregasi

Memisahkan dua objek yang berpotensi menimbulkan risiko. Contohnya: Memisahkan beberapa karyawan yang tengah memiliki konflik.

3. Pencegahan Risiko (Loss Prevention)

Pendekatan dengan melakukan pencegahan akan timbulnya risiko. Misalnya: Perusahaan melakukan audit keuangan tiap tahunnya untuk mencegah adanya kerugian yang diakibatkan dari penyelewengan.

4. Pengurangan Risiko (Loss Reduction)

Metode pendekatan dengan mengurangi dampak kerugian yang terjadi. Misalnya: Mengurangi biaya produksi atau menjual harga murah pada barang-barang yang sukar terjual.

Dalam pengurangan risiko ada dua cara yaitu pre-loss reduction dan post-loss reduction.

pre-loss reduction adalah upaya meminimalkan risiko sebelum terjadinya risiko. Misalnya menyediakan alat pemadam kebakaran.

Sedangkan post-loss reduction adalah upaya meminimalkan risiko setelah terjadinya risiko. Misalnya menyelamatkan sisa barang akibat kebakaran.

5. Risk Retention

Upaya perusahaan untuk mempertahankan risiko karena dianggap objek berisiko memiliki biaya yang lebih besar dibanding dengan biaya risiko itu sendiri.

Dengan kata lain, perusahaan akan menanggung biaya risiko atau ganti rugi terhadap risiko itu sendiri.

Contohnya adalah ketika perusahaan rela mengembalikan uang yang dibayar pelanggan ketika produk yang dijual mengalami cacat.

6. Risk Transfer

Pendekatan ini dilakukan dengan membagi objek yang berpotensi risiko kepada pihak lain dengan memberikan jaminan kepada pihak yang bersangkutan.

Contohnya: Perusahaan mengandalkan konsultan bisnis untuk mengelola risiko perusahaan itu.

7. Non-Insurance Transfer

hampir sama dengan risk transfer yaitu dengan memberikan objek berisiko kepada pihak lain.

Bedanya, non-insurance transfer tidak memberikan jaminan kepada pihak yang menerima objek berisiko. 

Biasanya metode ini berjalan dengan kesepakatan atau aturan yang dibuat oleh masing-masing perusahaan.

Contoh metode ini adalah ketika Anda membeli barang dari supplier, maka barang tersebut menjadi tanggung jawab pengirim selama pengiriman.

 

Tahapan atau Proses Manajemen Risiko Perusahaan

Jika menjabarkan seluruh tahapan, proses manajemen risiko memiliki tahapan yang cukup kompleks.

Namun sebagai dasar, ada tiga tahapan utama yang wajib dilakukan perusahaan ketika ingin mengelola risiko.

Tiga tahapan itu adalah identifikasi, analisis, dan pengendalian risiko. 

Untuk menjelaskan tahapan tersebut secara rinci, simak penjelasan di bawah berikut.

1. Identifikasi Risiko

Proses yang pertama adalah mengidentifikasi objek yang memiliki potensi risiko dengan cara mengumpulkan data dan informasi yang berhubungan dengan objek berpotensi risiko tersebut.

Adapun beberapa aktivitas yang dilakukan meliputi:

  • Menentukan ruang lingkup yang akan diidentifikasi apakah lingkungan internal atau eksternal
  • Menetapkan dan membuat daftar objek yang memiliki potensi risiko. Baik yang sifatnya tidak berbentuk seperti keuangan dan penjualan maupun yang sifatnya fisik seperti aset atau SDM.
  • Melakukan diskusi untuk menentukan arah kebijakan terhadap objek yang berpotensi memiliki risiko.

2. Analisis Risiko

Setelah melakukan identifikasi risiko, perusahaan selanjutnya melakukan analisis risiko untuk mengetahui dampak dan ukuran risiko serta dan metode yang akan digunakan untuk mengontrol risiko.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan analisis risiko yaitu:

Menentukan metode analisis

Analisis kualitatif biasanya dilakukan untuk mengukur potensi risiko secara fisiko tanpa memerhatikan monetary value.

Sedangkan analisis kuantitatif merupakan analisis finansial yang memerhatikan monetary value.

Perbedaan kedua analisis ini adalah apabila Anda tidak memiliki data yang cukup, maka analisis yang digunakan adalah analisis kualitatif.

Mengukur tingkat risiko

Pada sub judul sebelumnya telah dibahas metode analisis untuk mengukur tingkat risiko dimana terdapat dua indikator utama dalam pengukuran tingkat risiko yaitu frekuensi dan signifikansi (severity).

3. Pengendalian Risiko

Pengendalian risiko (risk control) adalah proses inti dari manajemen risiko. Dimana perusahaan Anda melakukan mitigasi terhadap risiko.

Pendekatan pengendalian risiko juga sudah dibahas pada sub-judul sebelumnya.

Penggunaan pendekatan juga sangat bergantung pada kondisi perusahaan, jenis risiko, dan ukuran risiko

Selain melakukan mitigasi, ada tiga tahapan lain yang tidak kalah penting pada proses ini, yaitu:

 

  • Komunikasi dan delegasi – Rencana mitigasi risiko yang telah ditentukan kemudian dikomunikasikan kepada pihak-pihak yang menyangkut dengan objek berisiko. Seperti manajemen, pekerja, atau pihak ketiga.
  • Memantau (Monitoring) – Proses mitigasi risiko selanjutnya dipantau apakah sesuai dengan rencana yang telah ditentukan.
  • Evaluasi – Pada akhir periode tertentu, perusahaan akan mengevaluasi segala proses manajemen risiko. Apa saja yang berdampak, berapa kerugian yang terjadi, apakah ada peluang baru, hingga pembetulan metode yang digunakan.

 

Penutup

Setiap bisnis pasti memiliki risiko entah itu berskala kecil atau besar. Namun yang pasti, perusahaan mau-tidak-mau harus berupaya mengelola risiko tersebut.

Jika Anda sulit untuk mengelola risiko bisnis saat ini, Anda bisa mengandalkan konsultan bisnis yang saat ini sudah banyak tersedia di Indonesia.

Rusdiono Consulting sebagai salah satu konsultan bisnis dan perpajakan siap memberikan pendampingan dalam mengelola risiko bisnis Anda.

Admin dua


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Send this to a friend