Laporan Keuangan Archives - RDN Consulting


Category filter:AllAkuntansiBlogEkonomiEventHukumInfografikKesehatanKesehatanKeuanganKeuanganKonsultan PajakLaporan KeuanganManajemenPajakPajakTax ConsultationUncategorized
No more posts
May 13, 2022
WhatsApp-Image-2022-05-08-at-9.45.38-AM.jpeg

Ketika membeli barang khususnya yang dikenai pajak, biasanya kita akan mendapatkan faktur/invoice sebagai dokumen tagihan yang memuat nominal yang harus dibayarkan. Selain itu, ada juga penjual yang menerbitkan proforma invoice/faktur proforma terlebih dahulu sebelum menerbitkan invoice/faktur. Lantas, apa itu proforma invoice? Dan apa bedanya dengan invoice?

Pengertian Proforma Invoice

Proforma invoice adalah invoice sementara yang diterbitkan oleh penjual sebelum barang/jasa dikirimkan ke pembeli. Dokumen ini digunakan untuk mengonfirmasi bahwa kedua belah pihak, yakni penjual dan pembeli sudah saling setuju atas detail barang yang akan dikirimkan dan biaya yang harus dibayarkan.

Dengan adanya faktur sementara ini, pembeli bisa memastikan daftar barang apa saja yang akan dikirim dan detail biaya yang harus dibayarkan seperti harga barang, pajak, ongkos pengiriman, dan informasi penting lainnya. Hal ini dilakukan untuk menghindari perselisihan nantinya karena semuanya sudah tertera dengan jelas dan tidak ada yang tersembunyi.

Karena faktur proforma adalah faktur sementara, maka penjual harus menerbitkan faktur/invoice yang sebenarnya ketika pengiriman barang sudah dilakukan. Faktur proforma bukanlah faktur yang sebenarnya karena penjual tidak mencatatnya sebagai piutang ,dan pembeli tidak mencatatnya sebagai utang.

Faktur proforma tidak mengikat secara hukum dan harga pada penjualan akhir masih bisa berubah. Meskipun begitu, dokumen ini dibuat untuk memperkirakan estimasi biaya serta untuk mencegah pengeksposan biaya yang tidak terduga kepada pembeli setelah transaksi selesai dilakukan. ‎

Dalam beberapa kasus, contoh proforma invoice‎‎ dapat ditemukan pada jual beli yang membutuhkan uang muka agar proses produksi bisa dimulai.

Baca Juga: Mengenal Pengertian, Jenis, Fungsi & Contoh Invoice

 

Perbedaan Proforma invoice dan Invoice

Berikut adalah beberapa perbedaan antara faktur proforma dan faktur yang perlu Anda ketahui.

  1. ‎Faktur Proforma adalah faktur sementara yang dikirim sebelum faktur/tagihan yang sebenarnya dibuat serta memuat rincian barang/jasa yang belum dikirim‎ dan estimasi biayanya. Adapun faktur adakah dokumen tagihan yang mengonfirmasi bahwa penjualan terjadi dan meminta pembeli untuk melakukan pembayaran.
  2. Faktur proforma diterbitkan sebelum barang/jasa dikirimkan, sedangkan faktur diterbitkan sebelum pembayaran dilakukan.
  3. Faktur proforma dibuat untuk membantu pembeli mengetahui bahwa rincian barang dan biaya sudah sesuai dengan apa yang diharapkan. Sedangkan faktur dibuat untuk meminta pembeli  agar melakukan pembayaran sesuai tempo.
  4. Faktur harus menyertakan logo, informasi kontak, alamat penagihan, informasi pesanan,serta syarat dan ketentuan. Sedangkan faktur proforma harus menyertakan informasi yang sama dengan faktur tetapi harus diberikan label proforma dengan jelas.
  5. Faktur proforma ‎dibuat sekadar untuk memberikan gambaran umum tentang jumlah yang akan jatuh tempo dan kapan harus dibayar. Sedangkan faktur dibuat untuk penagihan yang sebenarnya dan dicatat sebagai hutang piutang. 
  6. Pada faktur proforma, informasi mengenai biaya yang harus dibayarkan masih bisa berubah. Sedangkan pada faktur, total biaya yang tercantum tidak lagi bisa berubah.

Demikianlah penjelasan mengenai apa itu proforma invoice dan perbedaannya dengan invoice.


April 13, 2022
WhatsApp-Image-2022-04-10-at-11.07.57-AM.jpeg

Laporan keuangan menjadi hal yang penting sekali untuk diperhatikan dalam bisnis maupun perusahaan. Hal ini karena menyangkut banyak hal dan juga aspek. Bagian dari laporan keuangan yang tak kalah penting adalah neraca keuangan. Lalu, apa yang dimaksud dengan neraca keuangan dan bagaimana cara membuatnya? Simak pembahasannya dalam artikel berikut ini!

Pengertian Neraca Keuangan

Hal yang mendasar dari neraca keuangan adalah informasi mengenai aset, kewajiban pembayaran pada pihak terkait dalam operasional perusahaan, dan juga modal yang digunakan dalam waktu tertentu. Jenis neraca yang digunakan oleh setiap perusahaan pun tentunya akan berbeda, tergantung jenis bidang yang digeluti. Namun, tujuannya tetap sama, yaitu membantu pengelolaan keuangan dalam perusahaan tersebut.

Komponen pada Laporan Neraca Keuangan

Laporan neraca keuangan tentunya disajikan melalui teknik yang rapi dan juga dikerjakan dengan teliti. Oleh karena itu, penting sekali untuk mengetahui komponen-komponen yang ada di dalamnya guna menghasilkan laporan keuangan yang terpercaya. Komponen yang dibutuhkan tersebut antara lain:

1. Aset

Aset (aktiva) adalah keseluruhan sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan. Hal ini berkaitan dengan nilai kekayaan dan juga kebutuhan perusahaan untuk tetap beroperasi. Aktiva ini terbagi menjadi dua, yaitu:

          Aset lancar: aset yang memiliki kegunaan dalam jangka pendek.

          Aset tetap: aset yang manfaatnya memiliki masa lebih dari satu tahun.

2. Liabilities (kewajiban)

Komponen penting yang lainnya adalah kewajiban yang juga merupakan utang terhadap pihak lain yang harus dibayar. Hal ini biasanya meliputi utang, pendapatan, dan juga biaya jatuh tempo. Terdapat dua kewajiban dalam laporan neraca keuangan. Di antaranya adalah:

          Utang/kewajiban lancar: kewajiban yang jatuh tempo dalam kurun waktu satu tahun.

          Utang/kewajiban jangka panjang: kewajiban yang  jatuh temponya lebih dari satu tahun.

Baca Juga: Pengertian Liabilitas dan Jenis-Jenisnya dalam Bisnis

3. Modal atau ekuitas

Modal atau ekuitas merupakan elemen yang terdapat dalam laporan keuangan dan dapat mencerminkan kepemilikan perusahaan. Hal ini dapat diartikan sebagai selisih antara komponen aset dan utang. Artinya, ekuitas dalam laporan neraca merupakan saldo akhir dari usaha. Macam-macam modal yang perlu diketahui antara lain:

          Saham disetor (jumlah kas yang disetorkan oleh pemegang saham ke perusahaan)

          Laba ditahan (laba perusahaan yang tidak dibagikan kepada pemegang saham)

Hal-Hal Penting dalam Membuat Laporan Neraca Keuangan

Ketika Anda akan membuat laporan neraca keuangan, penting sekali untuk melihat contoh neraca keuangan dan juga mengetahui format neraca keuangan agar memiliki gambaran saat membuatnya. Namun, perhatikan pula empat hal berikut ini agar pembuatan laporan dapat berjalan dengan baik.

          Membuat jurnal neraca

          Memposting laporan laba rugi

          Menyusun laporan laba rugi

          Menyusun laporan perubahan modal

Dengan empat poin di atas, maka pembuatan laporan neraca keuangan pun akan lebih mudah. Itulah serba-serbi mengenai neraca keuangan yang penting sekali untuk diperhatikan. Agar laporan terbebas dari kekeliruan yang memungkinkan merugikan perusahaan, usahakanlah agar mempercayakannya pada orang yang kompeten atau mengerjakannya dengan teliti.


August 23, 2021
WhatsApp-Image-2021-08-22-at-5.36.41-AM.jpeg

Kinerja keuangan dalam arti luas mengacu pada sejauh mana tujuan keuangan perusahaan sedang atau telah dicapai dan menjadi aspek penting dari manajemen risiko keuangan.

Hal ini dilakukan untuk mengukur kesehatan keuangan perusahaan secara keseluruhan dalam waktu tertentu, dapat digunakan untuk membandingkan suatu perusahaan dengan perusahaan lain di industri yang sama atau membandingkan dengan industri berbeda.

Jadi, apa pengertian kinerja keuangan? Bagaimana kinerja keuangan suatu perusahaan dianalisis? Apa saja indikator yang dianalisis dan faktor apa saja yang mempengaruhi?

Simak artikel RDN Consulting berikut ini.

Apa Itu Kinerja Keuangan?

Kinerja keuangan adalah evaluasi suatu perusahaan mengenai aset, kewajiban, ekuitas, biaya, pendapatan, dan profitabilitas secara keseluruhan. Kinerja keuangan diukur melalui berbagai rumus dan formula yang memungkinkan Anda untuk mengetahui efektivitas perusahaan.

Secara internal, kinerja keuangan diperiksa untuk menentukan tolak ukur atau pencapaian perusahaan saat ini. Bagi eksternal, kinerja keuangan dianalisis untuk menentukan peluang investasi potensial dan untuk menentukan apakah suatu perusahaan layak bagi pihak eksternal tersebut.

Perusahaan dan kelompok yang berkepentingan seperti manajer, pemegang saham, kreditur, dan otoritas pajak berusaha menjawab pertanyaan penting seperti:

“Bagaimana posisi keuangan perusahaan pada titik waktu tertentu? Bagaimana kinerja keuangan perusahaan selama periode waktu tertentu?”

Namun sebelum analisis dilakukan pada indikator keuangan tertentu yang menghasilkan kinerja secara keseluruhan, analisis laporan keuangan perlu dilakukan terlebih dahulu.

Pengertian Analisis Laporan Keuangan

Analisis laporan keuangan adalah proses yang dilakukan oleh perusahaan pihak internal dan eksternal untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana kinerja perusahaan. 

Prosesnya terdiri dari menganalisis empat laporan keuangan penting dalam bisnis, antara lain: neraca perusahaan, laporan laba rugi, laporan arus kas, dan laporan tahunan. 

 

 

Neraca

 

Dalam analisis laporan keuangan, neraca perusahaan dilihat untuk menentukan efisiensi operasional bisnis.

Pertama-tama, analisis aset dilakukan, terutama pada aset penting seperti kas, inventaris, dan aset tetap, yang memprediksi pertumbuhan bisnis di masa mendatang.

Selanjutnya, kewajiban jangka panjang dan jangka pendek diperiksa untuk menentukan apakah ada masalah likuiditas di masa yang akan datang atau pembayaran utang yang mungkin tidak dapat ditanggung oleh perusahaan.

Terakhir, ekuitas pemilik perusahaan diperiksa, yang memungkinkan Anda untuk menentukan modal saham yang didistribusikan di dalam dan di luar perusahaan.

 

Baca Juga: Cara Membuat Neraca Saldo, Contoh, Fungsi & Manfaat

 

 

Laporan Laba Rugi

 

Dalam analisis laporan keuangan, laporan laba rugi bisnis diselidiki untuk menentukan profitabilitas saat ini dan masa mendatang secara keseluruhan.

Memeriksa laporan laba rugi fiskal perusahaan sebelumnya dan saat ini memungkinkan Anda untuk menentukan apakah ada tren pendapatan dan pengeluaran. Hal tersebut guna menunjukkan potensi untuk meningkatkan profitabilitas di masa yang akan datang.

Baca Juga: Membuat Laporan Laba Rugi Sederhana dengan Bentuk & Format Berbeda

 

 

Laporan Arus Kas

 

Laporan arus kas sangat penting dalam analisis laporan keuangan untuk mengidentifikasi pemasukan dan pengeluaran perusahaan. 

Jika satu segmen bisnis mengalami arus keluar yang besar, agar tetap bertahan, perusahaan harus menghasilkan arus masuk melalui pembiayaan atau penjualan aset.

 

 

Laporan Tahunan

 

Terakhir, laporan tahunan, yang memberikan informasi kualitatif untuk menganalisis lebih lanjut kegiatan operasional dan pembiayaan perusahaan dengan menyeluruh.

 

Setelah mengetahui bagaimana menganalisis laporan keuangan, Anda dapat mengukur kinerja keuangan perusahaan dengan cara berikut.

Indikator & Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Keuangan 

Melalui analisis kinerja keuangan, rumus dan rasio keuangan tertentu dihitung guna memberikan pemahamanan tentang kondisi dan kinerja keuangan perusahaan saat ini.

Terdapat tujuh rasio yang banyak digunakan dalam dunia bisnis untuk membantu dan mengevaluasi kinerja perusahaan secara keseluruhan. 

 

 

Margin Laba Kotor

 

Margin laba kotor adalah rasio yang mengukur jumlah sisa pendapatan yang tersisa setelah dikurangi harga pokok penjualan.

Rasio ini berguna karena menunjukkan persentase bagian dari setiap rupiah penjualan yang dapat digunakan untuk menutupi biaya operasional perusahaan.

 

Gross Profit Margin = ( Revenue – Cost of Sales) / Revenue x 100

 

 

Modal Kerja 

 

Pengukuran modal kerja digunakan untuk menentukan aset bersih likuid perusahaan yang tersedia untuk mendanai operasional sehari-hari.

Menentukan likuiditas dalam bisnis penting karena menunjukkan apakah perusahaan memiliki sumber daya yang dapat dengan cepat dikonversi menjadi uang tunai jika diperlukan.

 

Working Capital = Current Assets – Current Liabilities

 

 

Rasio Lancar

 

Rasio lancar adalah rasio likuiditas yang membantu bisnis menentukan apakah bisnis memiliki aset lancar yang cukup untuk menutupi atau membayar kewajiban lancarnya.

 

Current Ratio = Current Assets / Current Liabilities

 

 

Rasio Perputaran Persediaan

 

Rasio perputaran persediaan adalah rasio efisiensi yang digunakan untuk mengukur berapa kali perusahaan menjual rata-rata persediaannya dalam satu tahun fiskal.

Rasio ini menguntungkan karena memungkinkan perusahaan dengan mudah menentukan apakah persediaan sedang banyak permintaan, obsolete, dan lain sebagainya.

 

Inventory Turnover = (Cost of Sales) / ((Beginning Inventory + Ending Inventory) / 2)

 

 

Leverage

 

Leverage adalah pengganda ekuitas yang dihitung oleh bisnis untuk menggambarkan berapa banyak utang yang sebenarnya digunakan untuk membeli aset.

 

Leverage = Total Assets / Total Equity

 

 

Pengembalian Aset

 

Pengembalian aset, seperti namanya, membantu perusahaan menentukan seberapa baik asetnya digunakan agar lebih menguntungkan.

Jika aset tidak digunakan secara efektif, jumlah pengembalian aset perusahaan akan rendah.

 

Return of Assets (ROA) = Net Profit / ((Beginning + Ending Assets) / 2)

 

 

Pengembalian Ekuitas

 

Mirip dengan pengembalian aset, pengembalian ekuitas adalah rasio profitabilitas yang digunakan untuk menganalisis efektivitas ekuitas, yang pada gilirannya menghasilkan keuntungan bagi investor.

Pengembalian ekuitas yang lebih tinggi menunjukkan bahwa investor akan menghasilkan di tingkat yang jauh lebih efisien, yang lebih menguntungkan bagi bisnis secara keseluruhan.

 

Return on Equity = Net Profit / ((Beginning Equity + Ending Equity) /2)

 

Tujuan Analisis Kinerja Keuangan Perusahaan

Sejatinya, jenis analisis bervariasi sesuai dengan kepentingan khusus pihak yang terlibat. Berikut contohnya.

 

 

  • Kreditur: tertarik pada likuiditas perusahaan (penilaian likuiditas perusahaan). 
  • Pemegang obligasi: tertarik pada kemampuan arus kas perusahaan (penilaian struktur modal perusahaan, sumber utama dan penggunaan dana, profitabilitas dari waktu ke waktu, dan proyeksi profitabilitas masa mendatang.).
  • Investor:  tertarik pada pendapatan saat ini dan yang diharapkan di masa depan serta stabilitas pendapatan ini (penilaian profitabilitas perusahaan dan kondisi keuangan).
  • Manajemen: tertarik pada pengendalian internal, kondisi keuangan yang lebih baik dan kinerja lebih baik (penilaian kondisi keuangan perusahaan saat ini, evaluasi peluang dalam kaitannya dengan posisi saat ini, pengembalian investasi yang disediakan oleh berbagai aset perusahaan, dll.).

 

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kinerja keuangan perusahaan merupakan laporan kesehatan keuangan suatu perusahaan yang membantu berbagai pihak internal dan eksternal dalam mengambil keputusan. 

Ingin menganalisis dan mengukur kinerja keuangan perusahaan saat ini? Anda dapat berkonsultasi dengan salah satu jasa akuntansi RDN Consulting, yang memberikan layanan jasa akuntansi seperti laporan keuangan bisnis kecil maupun besar.

Bersama kami, Anda dapat mengetahui posisi dan kinerja keuangan saat ini, sehingga kontrol keuangan lebih efektif & membantu perusahaan berkembang. Segera hubungi kami sekarang.


August 16, 2021
WhatsApp-Image-2021-08-15-at-11.29.57-AM.jpeg

Selain laporan laba rugi, neraca, dan laporan arus kas, dalam siklus akuntansi entitas bisnis atau perusahaan juga mengenal laporan perubahan modal.

Seperti yang Anda ketahui, dalam siklus akuntansi modal perusahaan pasti akan mengalami perubahan. Entah itu berkurang atau bahkan menjadi sumber daya yang baru.

Selain itu, laporan perubahan modal juga dipengaruhi oleh laporan-laporan keuangan lainnya terutama laporan laba-rugi.

Untuk lebih jelasnya dalam memahami dasar laporan perubahan modal beserta cara membuatnya, simak terus artikel berikut ini.

 

Apa itu Laporan Perubahan Modal?

Sebelum memahami pengertian laporan perubahan modal, mari analogikan dulu kenapa modal perusahaan bisa berubah.

Misal, Anda membuka bisnis keripik dengan mengeluarkan modal sekian rupiah.Tentunya,  ketika menjalankan bisnis, Anda memanfaatkan modal tersebut.

Modal atau dalam istilah keuangan disebut ekuitas adalah sejumlah sumber daya berupa dana atau uang yang dikeluarkan oleh pemilik usaha atau pihak lain yang terlibat dalam jalannya perusahaan untuk kepentingan bisnis.

Salah satu pemanfaatan modal adalah untuk membeli aset usaha Anda dalam membuat keripik dan biaya-biaya terkait produksi keripik.

Misalnya untuk membeli mesin pembungkus, kuali, kompor. Sedangkan untuk biaya produksi Anda menggunakan modal tersebut untuk membeli bahan dan menyewa karyawan.

Dari cerita singkat tersebut, Anda pasti sudah memahami kenapa modal yang Anda keluarkan bisa berubah.

Perubahan modal ini nantinya wajib Anda laporkan dalam laporan keuangan berupa laporan perubahan modal.

Jadi, bisa disimpulkan bahwa laporan perubahan modal adalah salah satu jenis laporan keuangan yang berfungsi untuk menyajikan informasi perubahan modal dalam satu periode siklus akuntansi.

Sebagai tambahan, dalam laporan keuangan perusahaan di Indonesia, apalagi jika sudah go public dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), laporan perubahan modal ditempatkan setelah laporan posisi keuangan atau neraca dan laba rugi.

Selain itu apabila Anda mendengar istilah laporan laba ditahan atau laporan perubahan ekuitas disamakan dengan laporan perubahan modal, maka itu tidak salah.

Ketiga istilah sama-sama benar dan kerap digunakan oleh banyak perusahaan sebagai penyebutan laporan perubahan modal.

 

Alasan Kenapa Modal Bisa Berubah

Di atas, secara sederhana Anda sudah mengetahui kenapa modal bisa berubah dalam satu periode operasional usaha.

Namun secara komprehensif, Anda bisa mengidentifikasi lebih jauh kenapa modal suatu usaha bisa berubah. Berikut alasannya:

  • Adanya kenaikan ekuitas atau modal. Baik yang berasal dari laba maupun tambahan investasi yang mengakibatkan modal kerja bertambah.
  • Adanya penambahan atau pembelian aktiva (aset) tetap yang menyebabkan berkurangnya modal kerja.
  • Adanya pengurangan aset atau aktiva tetap karena adanya penjualan atau mengalami depresiasi yang mengakibatkan penambahan modal kerja.
  • Pengambilan modal yang dilakukan oleh pemilik perusahaan atas dasar kepentingan pribadi atau prive.
  • Adanya penambahan utang jangka panjang baik dalam bentuk obligasi, hipotek, atau bentuk lainnya yang diimbangi dengan bertambahnya aset lancar. Hal ini akan menyebabkan modal kerja bertambah.
  • Perusahaan menderita kerugian baik yang sifatnya normal maupun accidental.
  • Adanya pembentukan dana atau pemisahan aktiva lancar untuk tujuan tertentu dalam jangka panjang. Maka hal ini akan mengurangi modal kerja.

Fungsi Laporan Perubahan Modal

Selain untuk dokumentasi, salah satu fungsi utama dalam membuat laporan perubahan modal adalah untuk mengetahui kinerja perusahaan terutama dalam hal pemanfaatan modal.

Itu artinya, laporan perubahan modal juga berfungsi sebagai acuan perusahaan dalam mengambil keputusan strategis.

Misal apakah laba akan didistribusikan dalam bentuk dividen atau akan digunakan lagi untuk operasional? Seberapa banyak laba akan ditahan?

Perlu diingat, perubahan modal pada usaha Anda bukanlah pertanda buruk. 

Perubahan modal sejatinya diperlukan agar perusahaan tetap bisa beroperasi bahkan mampu meningkatkan produktivitasnya.

Jika modal perusahaan bertambah, perusahaan bisa memanfaatkannya untuk meningkatkan kualitas atau diversifikasi produk.

Komponen atau Unsur Laporan Perubahan Modal

Secara umum, laporan perubahan modal memuat beberapa komponen atau unsur informasi yang setidaknya memuat hal-hal berikut.

1. Modal Awal

Modal awal adalah sejumlah dana yang diperoleh dari investasi pemilik atau penambahan investasi yang biasanya digunakan untuk aktivitas operasional usaha.

Dalam siklus akuntansi. modal awal juga bisa dikatakan sebagai saldo modal pada awal periode keuangan yang tercatat pada periode sebelumnya.

2. Saldo Laba Rugi

Saldo laba rugi pada periode tertentu yang ada dalam laporan laba rugi atau kolom neraca lajur bagian laba rugi.

Komponen saldo laba rugi juga mencakup laba ditahan atau tidak dibagi dan juga laba bersih.

Laba ditahan maksudnya adalah laba tersebut tidak dibagi sebagai dividen atau laba tersebut dijadikan kembali sebagai modal.

Sedangkan laba bersih merupakan perhitungan dari total penghasilan dikurangi beban dan juga pajak. Selain itu, kerugian juga dapat dicatat apabila pada lajur laba rugi bernilai kredit.

3. Dividen

Pembayaran dividen yang dilakukan pada periode pelaporan kepada pemegang saham dengan cara mengurangi dari modal atau ekuitas yang dimiliki oleh setiap pemegang saham.

Baca Juga: Pajak Dividen, Tarif Pajak hingga Contoh Perhitungannya!

4. Prive

Seperti yang telah disebut-sebut sebelumnya, prive atau pengambilan dana pribadi juga dapat dicatat dalam laporan perubahan modal.

5. Modal Akhir

Saldo cadangan modal yang dimiliki oleh perusahaan atau para pemegang saham pada akhir periode pelaporan.

Ada beberapa cara untuk mencari nilai modal akhir. Jika perusahaan dalam posisi untung maka rumusnya adalah modal awal ditambah perbandingan laba bersih dengan prive.

Sedangkan apabila saldo bernilai rugi, maka rumusnya adalah perbandingan rugi bersih ditambah prive.

6. Lain-Lain

Ada juga komponen lain misalnya pengaruh koreksi kesalahan pada periode sebelumnya, perubahan cadangan revaluasi, perubahan modal saham, atau pengaruh kebijakan akuntansi.

Perlu diingat, setiap perusahaan sebenarnya memiliki standar komponen atau unsur laporan yang berbeda-beda. Tergantung situasi atau jenis usaha perusahaan tersebut.

Misal, laporan perubahan modal usaha jasa dan dagang biasanya memiliki komponen yang sedikit berbeda.

Dengan kata lain, unsur-unsur atau komponen laporan yang disebutkan di atas bukan komponen mutlak atau wajib.

Contoh Laporan Perubahan Modal

Setelah Anda memahami apa itu laporan perubahan modal. Anda juga perlu memahami laporan jenis ini secara praktikal melalui contoh.

Seperti yang telah dibahas pada awal artikel, laporan perubahan modal dalam perusahaan berada di bawah laporan laba rugi.

Itu artinya, Anda harus membuat laporan laba rugi terlebih dahulu sebelum membuat laporan perubahan modal.

Selain itu, dalam perhitungan perubahan modal juga memerlukan statement berapakah laba atau rugi yang dimiliki oleh perusahaan sehingga penting bagi Anda untuk membuat laporan laba rugi terlebih dahulu.

Misal, diketahui PT XYZ memiliki laporan laba rugi usahanya di tahun 2020 sebagai berikut.

Contoh Laporan Laba Rugi

Kemudian, dari laporan laba rugi tersebut, maka dapat disusun laporan perubahan modal sebagai berikut.

Contoh Laporan Perubahan Modal

Contoh di atas bukanlah format baku. Kembali lagi, formal laporan perubahan modal sangat tergantung dengan situasi atau kebutuhan perusahaan.

 

Baca Juga: Membuat Laporan Laba Rugi Sederhana dengan Bentuk & Format Berbeda

Kesimpulan

Pada dasarnya, laporan perubahan modal merupakan laporan mini sebagai pedoman komprehensif untuk laporan keuangan secara menyeluruh.

Meski bersifat mini, laporan perubahan modal juga dianggap sama pentingnya dengan laporan keuangan lain karena mampu mengarahkan perusahaan dalam menentukan arah kebijakan. Terlebih jika berbicara terkait distribusi dividen.

Sebagai pengetahuan, perusahaan yang secara konsisten mendistribusikan dividen merupakan perusahaan mapan atau mature karena peluang bertumbuhnya lebih kecil.

Baik, itulah pembahasan singkat mengenai laporan perubahan modal. Apabila Anda membutuhkan konsultasi bisnis, Anda bisa menghubungi Kami, Rusdiono Consulting.

Temukan juga artikel tentang keuangan, bisnis, dan perpajakan lainnya yang disajikan oleh Rusdiono Consulting di sini.


August 10, 2021
WhatsApp-Image-2021-08-07-at-12.10.14-PM.jpeg

Ketika Anda memproduksi barang dan ternyata permintaannya melebihi ekspektasi, maka mau tidak mau Anda akan menambah biaya produksi lagi. Biaya tersebut yang dinamakan dengan biaya marjinal atau marginal cost.

Bukan tidak mungkin, bahwa bila Anda mengoperasikan sebuah usaha atau bisnis, ada momen dimana Anda akan mengeluarkan biaya marginal.

Jika pada contoh di atas situasinya terdapat penambahan produksi, biaya marginal juga bisa saja timbul karena adanya kejadian yang merugikan.

Lantas, apa itu biaya marginal dan kenapa perusahaan perlu memahami ini? simak artikel berikut ini.

 

Pengertian Biaya Marginal

Di dalam ilmu ekonomi mikro atau lebih sempitnya biaya produksi, biaya marginal adalah perubahan total biaya produksi yang berasal dari penambahan unit produksi.

Contoh sederhana, misal Anda membuka usaha roti. Biasanya Anda memproduksi 50 roti dalam sebulan dengan biaya Rp1.000.0000.

Nah ternyata, ada peningkatan permintaan yaitu 10 roti dengan tambahan biaya Rp50.000. Nah biaya Rp50.000 ini merupakan biaya marginal.

Sudah disebutkan sebelumnya, bahwa biaya marginal adalah perubahan biaya produksi yang berarti terdiri dari biaya tetap dan tidak tetap.

Namun, perubahan total biaya produksi atau adanya biaya marginal umumnya total biaya produksi hanya merupakan biaya marginal.

Kenapa demikian? Mari ingat sedikit tentang teori biaya tetap dan biaya tidak tetap.

Biaya tetap atau fixed cost tidak mengalami perubahan apabila terjadi perubahan jumlah produksi.

Namun biaya tetap per unit akan terus berkurang seiring perubahan produksi namun tidak sampai ke titik nol.

Sedangkan biaya variabel dipengaruhi dengan jumlah produksi. Menambah unit produksi berarti menambah biaya variabel.

Sehingga banyak pebisnis, ketika menghitung biaya marginal, mereka mengabaikan biaya tetap. Kecuali memang ada penambahan biaya tetap itu sendiri. Misal, menambah daya listrik atau menambah gudang produksi.

Baca Juga: Pengertian Manajemen Biaya, Konsep hingga Langkah Penerapannya

Rumus dan Cara Menghitungnya

Banyak pembahasan yang membahas bagaimana sebenarnya cara menghitung biaya marginal.

Pedoman umum yang biasanya digunakan untuk menghitung biaya marginal adalah prinsip yang dikemukakan Michael Parkin melalui buku nya Microeconomics dan Karl E. Case CS dengan bukunya The Principle of Economics.

Meskipun keduanya memiliki pendekatan yang berbeda. Lebih jauh, prinsip keduanya tidak ada yang salah dan bisa digunakan dalam praktik perhitungan biaya marginal.

Namun kali ini, untuk mengetahui rumus perhitungan atau cara menghitung biaya marginal maka pada tulisan ini akan menggunakan prinsip yang dikemukakan oleh Michael Parkin.

Beliau menjelaskan bahwa biaya marginal merupakan operasi hitung antara perubahan biaya produksi dibagi dengan perubahan jumlah unit.

Jika dirumuskan akan seperti ini:

Biaya Marginal = Perubahan Total Biaya Produksi / Perubahan Jumlah produksi

Sebagai ilustrasi, Aldi produsen sepatu yang saat ini berhasil memproduksi 50 pcs dengan total biaya produksi sekitar Rp30.000.000.

Namun Aldi ingin menambah produksinya menjadi 80 pcs dan diperkirakan akan memakan biaya sebesar Rp50.000.000.

Berarti biaya marginalnya adalah selisih dari total biaya produksi (Rp50.000.000 – Rp30.000.000  = Rp20.000.000) dibagi dengan selisih jumlah produksi (80 – 50 pc = 30 pc).

Maka biaya produksi marginalnya adalah Rp20.000.000/30 = Rp670.000.

Pembahasan

Mari bandingkan ketika Aldi memproduksi sepatu pada jumlah normal yaitu 50 pcs, biaya produksinya adalah Rp600.000 (Rp30.000.000 dibagi 50 pcs).

Kesimpulannya, Rp670.000 merupakan biaya produksi optimal agar Aldi bisa mendapatkan keuntungan.

Apabila Aldi nekat untuk menambah unit lagi di atas batas itu, kemungkinan besar biaya produksi tambahan juga akan naik. Mau-tidak-mau Aldi harus menaikkan harga.

Namun menaikkan harga dalam jangka pendek seperti itu akan memengaruhi keuntungan perusahaan, menurunkan daya saing, atau bahkan kehilangan konsumen.

Jadi, Aldi mau tidak mau harus menahan untuk tidak memproduksi lebih dari 80 pcs sepatu.

Singkatnya, biaya marginal bisa dikatakan optimal atau dapat memberikan keuntungan apabila biaya marginal (marginal cost) sama dengan pendapatan marginal (marginal revenue).

 

Kurva Biaya Marginal

Untuk mengetahui lebih jelasnya pengaruh biaya marginal dengan keputusan bisnis Anda, coba simak kurva dari grafik berikut ini.

Kurva Biaya Marginal

Untuk menganalisis biaya marginal, Anda tidak bisa melakukannya dengan satu faktor saja yaitu biaya marginal itu sendiri. 

Ada faktor pembanding yang harus Anda lihat. Faktor pembanding yang paling umum dan mudah adalah faktor biaya rata-rata (average cost).

Dalam grafik tersebut, para ekonom sepakat bahwa ketika biaya marginal lebih rendah dibanding biaya rata-rata (grafik pada posisi sebelah kiri), maka perusahaan berada pada skala ekonomis.

Maksudnya, pada skala ekonomis perusahaan bisa mengoptimalkan keuntungannya atau bahkan menciptakan competitive advantages.

Setelah kurva marginal cost dan average cost (lihat grafik) bertemu, baik biaya marginal maupun biaya rata-rata, angkanya akan terus menaik.

Namun, biaya marginal lebih tinggi dibanding dengan biaya rata-rata. Kondisi ini, bisa dibilang merupakan kondisi disekonomis.

Pada skala ini, perusahaan dianjurkan untuk menahan atau tidak melakukan penambahan unit produksi karena akan berdampak pada kerugian perusahaan.

 

Fungsi Biaya Marginal

Analisis biaya marginal sejatinya memiliki fungsi untuk membantu pelaku usaha dalam mengambil keputusan untuk mengoptimalkan keuntungan.

Misal, Anda penjual roti yang menjual 10 roti. Namun karena situasi tertentu, Anda ingin menambah unit produksi. 

Di sinilah peran analisis biaya marginal yang akan membantu Anda dalam menentukan berapa unit yang harus ditambah dalam produksi.

Memproduksi terlalu berlebihan atau terlalu cepat akan berdampak buruk bagi keuntungan. Sebaliknya, memproduksi terlalu lambat atau terlalu sedikit juga akan memiliki dampak yang sama.

Dari contoh di atas misalnya. Ketika Anda ingin menambah produksi dari 10 roti ke 11 roti ternyata membutuhkan biaya Rp5.000 per roti. Sedangkan dari 10 roti ke 12 roti membutuhkan biaya Rp6.000 per roti.

Namun, karena berbagai pertimbangan, entah karena daya beli konsumen, persaingan atau harga pasar, Anda menjual roti umumnya Rp5.500 per roti.

Berdasarkan kasus tersebut, berapa unit yang Anda akan tambahkan ke dalam produksi roti Anda? 11 unit atau 12 unit?

Tentu, Anda akan lebih memilih untuk menambah produksi menjadi 11 unit karena masih ada margin keuntungan Rp500.

Dengan kata lain jika biaya marginal Anda Rp1.000, maka Anda mau tidak mau harus menahan diri untuk menambah produksi ketika lebih atau bahkan mencapai biaya marginal itu.

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, mengetahui biaya marginal juga membantu melihat skala ekonomis sebuah perusahaan. Pada angka berapa perusahaan bisa melakukan competitive advantages.

Competitive advantages yang dimaksud misalnya menawarkan harga produk yang lebih kompetitif atau bahkan melakukan diversifikasi produk.

Itulah penjelasan singkat mengenai biaya marginal. Semoga artikel ini bisa memberikan sedikit pengetahuan bagi Anda yang ingin atau sedang menjalankan bisnis.

Apabila Anda membutuhkan konsultasi bisnis dan perpajakan, Anda bisa menghubungi Kami, Rusdiono Consulting melalui tautan berikut ini


August 9, 2021
WhatsApp-Image-2021-08-07-at-11.45.47-AM-1.jpeg

Dalam akuntansi, ada jenis jurnal yang sebenarnya tidak perlu Anda buat atau sifatnya opsional. Salah satunya adalah jurnal pembalik.

Maksudnya opsional adalah jurnal tersebut dibuat ketika Anda membutuhkannya.Terutama ketika Anda ingin mengurangi kesalahan dalam pencatatan akuntansi. 

Untuk memahami lebih lanjut, dalam artikel ini, Rusdiono Consulting akan menjelaskan apa itu jurnal pembalik dan bagaimana cara penyusunan sederhananya.

 

Pengertian Jurnal Pembalik

Singkatnya, jurnal pembalik atau yang disebut juga dengan reversal entry adalah jurnal opsional yang membalik jurnal penyesuaian yang menimbulkan akun riil baru.

Seperti yang Anda tahu, akun riil merupakan akun yang terus ada dan berlangsung pada periode akun berikutnya. Itu artinya akun riil tidak pernah ditutup ketika ada perpindahan periode.

Dengan kata lain, saldo pada akun riil akan terus tersaji selama perusahaan terus mengoperasikan bisnisnya.

Perusahaan sering kali membutuhkan jurnal pembalik untuk membantu mereka dalam menyederhanakan pencatatan ketika ingin memasuki periode akuntansi selanjutnya.

Oleh karena itu, jurnal pembalik biasanya disusun atau dibuat ketika memasuki atau mengawali periode akuntansi selanjutnya.

Dan atas alasan itu pula, kenapa jurnal pembalik disebut juga jurnal opsional, karena sejatinya perusahaan tidak benar-benar membutuhkan jurnal pembalik dan kembali lagi sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

Tujuan dan Fungsi Disusunnya Jurnal Pembalik

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, menyusun jurnal pembalik membantu perusahaan untuk mempermudah atau menyederhanakan pencatatan akun riil baru pada awal periode selanjutnya.

Namun ternyata ada manfaat lainnya yaitu sebagai berikut:

  • Jurnal pembalik bertujuan untuk mengurangi kesalahan atau kekeliruan dalam pencatatan yang mungkin bisa saja terjadi. Misalnya pencatatan berganda dalam penyusunan ayat jurnal penyesuaian.
  • Mempermudah perusahaan dalam pengawasan untuk menjaga konsistensi pencatatan pada akun-akun tertentu.
  • Meningkatkan akurasi dan efisiensi perusahaan dalam mencatat dan mengelola proses akuntansi.

Akun yang Bisa Dicatat dalam Jurnal Pembalik

Sebelum memahami akun apa saja yang dicatat di dalam jurnal pembalik, Anda perlu memahami dua term atau istilah jenis-jenis akun yang terdiri dari akun riil (akun neraca) dan akun nominal (akun laba-rugi).

Akun nominal adalah akun yang ditutup pencatatannya pada satu periode bersangkutan dan biasanya masuk ke dalam laporan laba-rugi. Akun nominal umumnya terdiri dari pendapatan dan beban.

Sedangkan akun riil seperti yang sudah sebelumnya adalah akun yang saldonya akan terus ada atau tercatat pada periode selanjutnya. Itu artinya akun riil ini bersifat tetap.

Akun riil sendiri terdiri dari harta atau aktiva baik yang sifatnya tetap maupun tidak tetap, utang atau liabilitas,dan juga modal.

Oleh karena jurnal pembalik mencatat akun riil yang baru pada jurnal penyesuaian, maka akun yang bisa dicatat tentu akun-akun riil.

Untuk mempermudah Anda mengidentifikasi akun apa saja yang dicatat pada jurnal penyesuaian ke jurnal pembalik, berikut Kami jabarkan akun-akunnya secara sederhana.

1. Akun Beban (Utang) yang Masih Harus Dibayar

Umumnya akun beban yang masih harus dibayar akan berlanjut pada periode akuntansi berikutnya sehingga dapat ditulis dalam jurnal pembalik.

2. Akun Beban (Utang) yang Dibayar di Muka

Akun beban yang dibayar di muka umumnya belum dicatat namun sudah dibayarkan pada periode tersebut sehingga perlu dibuat di dalam jurnal pembalik.

3. Akun Pendapatan yang Masih Harus Diterima (Piutang)

Meski pendapat itu masuk ke dalam akun laba-rugi, namun karena pendapatan tersebut belum diterima oleh perusahaan, maka akun ini dianggap ke dalam akun neraca, Dalam hal ini adalah piutang.

4. Akun Pendapatan yang Diterima di Muka

Akun dimana pendapatan diterima perusahaan ketika awal transaksi namun pembayaran belum dilakukan sepenuhnya oleh pembeli.

Biasanya konsumen atau pembeli akan membayar sepenuhnya ketika pekerjaan yang diminta telah selesai atau produk yang diminta telah tersedia.

5. Pemakaian Peralatan yang Tercatat sebagai Beban

Akun selanjutnya adalah pemakaian peralatan tercatat sebagai beban atau masuk ke dalam akun kredit.

Itu artinya perusahaan masih memiliki beban atas peralatan tersebut dan harus masuk ke dalam jurnal pembalik.

Contoh dan Cara Membuat Jurnal Pembalik

Jika membahas secara teori, maka tidak lengkap untuk tidak mempraktekkannya. Untuk itu Anda juga harus memahami contoh dan cara membuat jurnal pembalik.

Catatan, dalam artikel ini, Kami menggunakan contoh sederhana dan bertujuan agar Anda bisa mengidentifikasi akun mana yang boleh dicatat ke dalam jurnal pembalik atau tidak.

Simak ilustrasi contoh sebagai berikut.

Misal, Abdul pengusaha roti dan telah membuat jurnal penyesuaian yang telah dilakukan pada bulan Desember 2020 dengan rincian sebagai berikut.

 

Tanggal Akun Debit Kredit

31

Biaya Perawatan Pemanggang

Akumulasi Biaya Perawatan Pemanggang

Rp200.000

Rp200.000

Gaji Karyawan

Gaji Karyawan yang belum dibayar

Rp20.000.000

Rp20.000.000

Pendapatan yang masih harus diterima dari distributor

Pendapatan

Rp50.000.000

Rp50.000.000

 

Dari jurnal penyesuaian di atas, kira-kira akun mana yang bisa dimasukkan ke dalam jurnal pembalik?

Pertama, akun Biaya Perawatan Pemanggang. Apakah akun ini bisa dimasukkan ke dalam jurnal pembalik? Jawabannya tidak bisa karena biaya perawatannya sudah diakumulasikan dan didebitkan.

Itu artinya, Abdul pada periode tersebut sudah membayar biaya perawatan pemanggang sehingga akun tersebut tidak perlu dimasukkan ke dalam jurnal pembalik.

Selanjutnya, akun gaji karyawan. Karena beban gaji karyawan dikreditkan itu artinya perusahaan masih harus membayar gaji karyawan sejumlah sekian dan menjadi utang perusahaan.

Dengan kata lain, akun tersebut boleh dicatat ke dalam jurnal pembalik. Demikian pula dengan pendapatan yang masih harus diterima Abdul dari distributor.

Kenapa? Karena akun tersebut merupakan piutang dimana konsumen atau distributor roti Abdul belum melunasi pembayaran.

Dari pembahasan di atas maka Abdul bisa membuat jurnal pembalik yang dibuat pada Bulan Januari 2021 sebagai berikut.

Tanggal Akun Debit Kredit

31

Gaji Karyawan yang belum dibayar

Gaji Karyawan

Rp20.000.000

Rp20.000.000

Kas

Pendapatan yang masih harus diterima dari distributor

Rp50.000.000

Rp50.000.000

 

Sama seperti istilahnya, jurnal pembalik yaitu membalik akun debit ke akun kredit dan sebaliknya dimana hal ini akan mempermudah perusahaan dalam pencatatan akuntansi di periode tersebut.

Namun kembali lagi, jurnal pembalik sifatnya opsional. Boleh digunakan atau tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan. 

Karena pada akhirnya kebenaran laporan keuangan adalah hal yang paling penting dan mampu memiliki dampak bagi perusahaan, perusahaan juga sebaiknya menggunakan jurnal pembalik.

Itulah penjelasan singkat mengenai jurnal pembalik. Apabila Anda membutuhkan konsultasi keuangan terkait bisnis, Anda bisa menghubungi Kami, Rusdiono Consulting.

Temukan juga artikel-artikel terkait perpajakan dan bisnis kami lainnya hanya di website Rusdiono Consulting.


August 2, 2021
WhatsApp-Image-2021-08-01-at-5.08.03-PM.jpeg

Aset atau barang yang dimiliki oleh perusahaan pasti akan mengalami penurunan nilai ekonomis atau penyusutan yang nantinya dianalisis melalui nilai residu.

Nilai ekonomis yang dimaksud adalah nilai manfaat dari suatu barang. Misalnya, sebuah mesin produksi tidak mungkin akan berada pada kondisi yang sama dari tahun ke tahunnya.

Penurunan kondisi ini akan memengaruhi langsung fungsi dan nilai manfaat dari mesin itu sendiri. Mau tidak mau, Anda perlu mengeluarkan biaya untuk merawat atau bahkan menggantinya.

Nilai residu nantinya berguna bagi Anda yang ingin menentukan arah operasional melalui nilai ekonomis suatu aktiva yang telah dimanfaatkan.

Pengertian dan Peran Nilai Residu dalam Bisnis

Seperti yang Anda telah ketahui, sebuah aset yang digunakan untuk operasional bisnis akan mengalami penyusutan.

Penyusutan yang dimaksud adalah penurunan nilai ekonomis. Contoh, mesin sablon yang Anda gunakan, tiap tahun atau tiap periode tertentu pasti akan mengalami “penurunan fungsi”.

Entah itu risiko kerusakan karena sering digunakan atau bahkan jarang digunakan, Anda pasti akan mengupayakan bagaimana agar mesin sablon tersebut tetap berfungsi. 

Dengan cara apa? Merawatnya atau jika sudah mengalami kerusakan, Anda mau tidak mau harus menggantinya, kan?

Nah, keputusan tersebut akan sangat bergantung dengan besaran biaya penyusutan yang berpengaruh pada aset usaha Anda, dalam hal ini mesin sablon tadi misalnya.

Tentu juga hal tersebut akan memengaruhi laba perusahaan Anda baik secara langsung maupun tidak langsung

Alasannya, karena biaya penyusutan nantinya akan dimasukkan ke dalam item beban atau pengeluaran dalam laporan keuangan.

Besar kecilnya sebuah biaya penyusutan ini selain dipengaruhi masa ekonomis dan harga ketika Anda membeli aset tersebut, juga dipengaruhi oleh nilai residu.

Jadi, Apa itu Nilai Residu?

Dari penjelasan di atas, sebenarnya Anda mungkin sudah memahami ya apa itu nilai residu.

Jadi mari mulai ke intinya, apa itu nilai residu? Mari ambil dari dua definisi yang ada.

Nilai residu atau yang lebih dikenal dengan salvage value adalah estimasi atau perhitungan sebuah nilai buku aset setelah penyusutan.

Perhitungan nilai residu ini biasanya berguna bagi pebisnis agar aset yang dimiliki dapat memberikan imbalan atau nilai bagi pebisnis di akhir nilai manfaat aset tersebut.

Tidak jauh berbeda, menurut PSAK 16 (2011:16.3), nilai residu merupakan jumlah atas estimasi yang dapat diperoleh entitas bisnis (pebisnis) saat ini dari pelepasan aset.

Aset tersebut nantinya dikurangi estimasi biaya pelepasan (penyusutan), jika aset tersebut telah mencapai umur dan kondisi yang diharapkan pada akhir masa manfaatnya.

Metode Cara Menghitung Nilai Residu

Tidak ada rumus atau cara pasti untuk menentukan nilai residu karena sebenarnya nilai ini merupakan estimasi atau perkiraan nilai jual atau manfaat lainnya ketika barang tersebut berada pada akhir masa manfaat atau sudah tidak digunakan lagi.

Contoh, Anda pengusaha kontraktor yang akan menjual crane bekas seharga Rp100.000.000. Maka nilai Rp100.000.000 itu lah yang dinamakan nilai residu.

Padahal, 5 tahun lalu Anda dulu membeli crane tersebut seharga Rp250.000.000. Berarti biaya penyusutan crane adalah pengurangan antara harga beli dengan nilai residu yaitu Rp100.000.000.

Karena digunakan selama 5 tahun, berarti nilai penyusutan tiap tahunnya sebesar Rp20.000.000.

Contoh tersebut merupakan contoh sederhana atau metode garis linier (straight line) Dimana nilai residu merupakan faktor pengurang dari harga aset saat dibeli untuk mencari biaya penyusutan.

Biasanya, ketika nilai penyusutannya rendah, maka aset tersebut masih memiliki manfaat atau ketika proses penyusutannya itu berlangsung lama, maka Anda bisa mengoptimalkan aset tersebut.

Selain metode straight line atau garis lurus, ada juga beberapa metode yang bisa Anda gunakan yaitu sebagai berikut.

Metode Jumlah Angka Tahunan  (Sum of Year Digit Method)

Metode ini digunakan apabila Anda memiliki aset yang setiap tahunnya pasti mengalami risiko penurunan fungsi.

Karena adanya risiko tersebut, maka nilai penyusutan ini digunakan untuk menentukan biaya maintenance atau perbaikan tiap tahunnya.

Dengan kata lain, apabila nilai penyusutan pada periode berikutnya semakin berkurang, maka biaya maintenance yang harus dikeluarkan semakin meningkat.

Sama halnya dengan metode straight line, metode ini juga lebih efektif jika Anda memasukkan nilai residu sebagai faktor pengurang harga beli atau perolehan aset.

Adapun rumus dari metode ini adalah sebagai berikut.

Biaya Penyusutan = 

(Harga Perolehan Aset – Harga Residu) x Sisa umur penggunaan aset (n) / Penyebut Jumlah Angka Tahunan (n+(n-1)+(n-2)+….)

Penyebut Jumlah angka Tahunan adalah jumlah perhitungan dari sisa umur penggunaan aset. Contoh, jika umur sisa aset adalah 4 tahun maka Penyebut Jumlah Angka Tahunan adalah 4 + 3 + 2 + 1 = 10.

Karena disebut sebagai sisa umur, maka urutan pembilang pada perhitungan tahun pertama dibalik. Misal, tahun ke-1 pembilangnya adalah 4/10, tahun ke-2 adalah 3/10 dan seterusnya.

Contoh soal:

Pada 10 Januari 2021, Anda baru saja membeli mesin seharga Rp100.000.000 dengan nilai residu sebesar Rp40.000.000.

Menurut penjualnya, mesin tersebut hanya bisa beroperasi hingga 3 tahun. Berapa biaya penyusutannya?

Pertama, kita tentukan dulu penyebut jumlah angka tahunnya. Karena hanya bisa beroperasi selama 3 tahun maka penyebutnya yaitu: 3 + 2 + 1 = 6.

Kemudian hitung dasar penyusutannya dengan mengurangi harga beli aset dengan nilai residu yaitu:

= Rp100.000.000 – Rp40.000.000 = Rp60.000.000

Maka dari sini, Anda bisa melihat nilai penyusutan akhir di tiap tahun sisa pemakaian asetnya melalui perhitungan berikut:

Tahun ke Faktor Perhitungan Dasar penyusutan Nilai Penyusutan tiap Tahunnya
1 3/6

Rp60.000.000

Rp30.000.000
2 2/6 Rp20.000.000
3 1/6 Rp10.000.000

 

Nah, jika dilihat dari tabel, maka tiap tahunnya biaya penyusutan semakin kecil. Dengan kata lain, maka perusahaan wajib menambah biaya maintenance atau bahkan mengalokasikan dananya untuk membeli mesin baru.

Meski begitu, metode ini sangat jarang digunakan karena alasan pembukuan dalam perpajakan.

Metode Satuan Jam kerja (Service Hour Method)

Metode ini digunakan untuk membandingkan nilai penyusutan satu jenis aset yang sama dengan jumlah jam yang digunakan.

Seperti yang Anda tahu, dalam beberapa kasus perusahaan biasanya memiliki satu jenis aset yang sama namun frekuensi penggunaannya berbeda-beda.

Misal, Anda memiliki dua mesin packaging, pada tahun-tahun tertentu, salah satu mesin pasti jarang digunakan.

Nah, perbedaan jam kerja ini yang menjadi dasar perhitungan menggunakan metode satuan jam kerja.

Adapun rumusnya adalah sebagai berikut.

Biaya Penyusutan/Jam = Harga Beli atau Perolehan Aset – Nilai Residu / Jumlah Jam Kerja selama Umur Ekonomis

Kemudian, untuk mencari nilai penyusutan pada tiap periode maka rumusnya adalah:

Jumlah Jam Kerja per Periode x Tarif Penyusutan / Jam

Untuk lebih memahami metode ini, simak contoh soal berikut:

Anda di bulan Januari membeli sebuah mesin cetak seharga Rp10.000.000. 

Menurut penjual, mesin tersebut dapat bekerja selama 10.000 jam dan diperkirakan mampu bekerja 5.000 jam pada tahun pertama.

Di tahun berikutnya, mampu bekerja 4000 jam, dan tahun berikutnya 1000 jam setahun.

Berdasarkan riset yang Anda lakukan, mesin tersebut dapat dijual kembali (nilai residu) dengan harga Rp1.000.000.

Pertama cari dahulu biaya penyusutan per jamnya yaitu:

= Rp10.000.000 – Rp1.000.000 / 10.000 =  900

Maka nilai penyusutannya dapat dilihat melalui tabel berikut.

Tahun ke Jam Operasi Biaya penyusutan/jam Penyusutan Nilai Buku
1 5000 900 Rp4.500.000 (Rp10.000.000 – Rp4.500.000)

= Rp5.500.000

2 4000 900 Rp3.600.000 (Rp5.500.000 – Rp3.600.000)

= Rp1.900.000

3 1000 900 Rp900.000 (Rp1.900.000 – Rp900.000)

= Rp1.000.000

 

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa semakin lama sebuah aset digunakan dalam hitungan jam kerja, maka semakin besar pula nilai penyusutannya dan akan semakin berkurang tiap tahunnya.

Metode Hasil Produksi (Productive Output Method)

Metode lainnya adalah perhitungan berdasarkan kemampuan aset dalam memproduksi.

Dengan kata lain seberapa lama pun waktu penggunaannya, tetap yang menjadi faktor penghitungnya adalah kemampuan aset tersebut dalam memproduksi.

Adapun rumus metode ini adalah sebagai berikut:

Tarif Penyusutan Per Unit =  Harga Perolehan Aset – Nilai Residu / Jumlah Total Produk yang Mampu Dihasilkan

Sedangkan untuk mencari nilai penyusutan tiap periodenya adalah:

= Kemampuan Unit Mampu Berproduksi Tiap Periodenya x Tarif Penyusutan Per Unit

Misal, Anda membeli mesin printer 3D seharga Rp100.000.000 dengan nilai jual kembali setelah 5 tahun adalah Rp50.000.000.

Kemudian Anda memproyeksikan dalam lima tahun ke depan bisa memproduksi 1.000 unit cetakan. Dengan rincian sebagai berikut:

  • Tahun ke-1 = 300 unit
  • Tahun ke-2 = 300 unit
  • Tahun ke-3 = 200 unit
  • Tahun ke-4 = 150 unit
  • Tahun ke-5 = 50 unit

:Langkah pertama, Anda hitung terlebih dahulu tarif penyusutan per unitnya yaitu:

  • Rp100.000.000 – Rp50.000.000 / 1.000 unit. = Rp50.000

Maka tarif penyusutan tiap tahunnya dapat digambarkan melalui tabel berikut.

Tahun ke Unit Produksi Biaya Penyusutan per Unit Penyusutan
1 300 50.000 Rp15.000.000
2 300 50.000 Rp15.000..000
3 200 50.000 Rp10.000.000
4 150 50.000 Rp7.500.000
5 50 50.000 Rp2.500.000

 

Nah itulah penjelasan mengenai nilai residu, cara menentukan nilai residu, cara menghitung penyusutan menggunakan nilai residu, serta contoh kasus perhitungannya.

Dengan mengetahui perhitungan penyusutan dan nilai residu, Anda mampu memaksimalkan laba perusahaan berdasarkan penggunaan aset operasional. 

Semoga artikel ini memberikan manfaat, dan apabila Anda kesulitan dalam mengelola bisnis, Anda bisa menghubungi Kami, Rusdiono Consulting.


July 29, 2021
WhatsApp-Image-2021-07-25-at-5.02.39-PM.jpeg

Istilah pemindahbukuan atau (Pbk) dalam kasus pajak sering kali dikaitkan dengan sistem self-assessment perpajakan.

Hal ini karena self-assessment adalah sistem dimana Wajib Pajak diperkenankan untuk menghitung dan menyetorkan sendiri pajak terutangnya.

Karena dilakukan sendiri, sering kali terdapat kesalahan administrasi seperti salah hitung, surat Setoran Pajak yang diisi dengan tidak jelas, dan kesalahan administratif lainnya.

Kesalahan administrasi perpajakan seperti ini dapat diperbaiki dengan cara pemindahbukuan (Pbk).

Lantas, apa itu Pemindahbukuan Pajak atau (Pbk)? Simak jawabannya di sini!

Pemindahbukuan Pajak Menurut Peraturan Perpajakan

Pemindahbukuan pajak mulanya diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan No.88/KMK.04/1991 tentang Tata Cara Pembayaran Pajak Melalui Pemindahbukuan.

Dimana kemudian diatur dalam Keputusan DJP No.KEP-965/PJ.9/1992 tentang Pelaksanaan Teknis Tata Cara Pembayaran Pajak Melalui Pemindahbukuan.

Kemudian dalam perkembangannya, tata cara pemindahbukuan diatur dalam PMK No.242/PMK.03/2014 tentang Tata cara Pembayaran dan Penyetoran Pajak.

Dalam peraturan tersebut disebutkan secara singkat apa itu pemindahbukuan pajak.

Dimana pemindahbukuan pajak adalah proses memindahbukukan penerimaan pajak untuk dibukukan pada penerimaan pajak sesuai.

Apa maksudnya?

Pada awal tulisan ini dijelaskan bahwa asas perpajakan di Indonesia menganut sistem self-assessment dimana Wajib Pajak diberi kesempatan untuk mengelola pajaknya sendiri.

Karena hal ini, ketika Wajib Pajak melaporkan pajaknya, maka perhitungan pajak yang tercatat oleh Wajib Pajak tersebut harus disesuaikan dengan catatan pejabat perpajakan.

Jika dalam istilah perbankan, kurang lebih pemindahbukuan sama halnya dengan rekonsiliasi.

Selain itu, pemindahbukuan pajak dapat dilakukan untuk hal-hal berikut:

  1. Antar jenis pajak yang sama maupun berbeda
  2. Perbedaan masa atau tahun pajak
  3. Untuk Wajib Pajak yang sama maupun berbeda
  4. Dalam satu Kantor Pelayanan Pajak yang sama atau beda.

Namun perlu dicatat, pemindahbukuan merupakan sarana administrasi selain Surat Setoran Pajak (SSP).

Itu berarti ada hal-hal administrasi perpajakan yang membutuhkan pemindahbukuan dan ada hal lainnya yang tidak perlu.

Sebab Terjadinya Pemindahbukuan Pajak

Dalam PMK No.242/PMK.03/2014, ada beberapa hal penyebab Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan pemindahbukuan kepada Direktur Jenderal Pajak.

Hal-hal tersebut adalah sebagai berikut:

  • Pemindahbukuan karena adanya kesalahan dalam pengisian formulir SSP, SSPCP, baik menyangkut WP sendiri maupun WP lain.
  • Pemindahbukuan karena adanya kesalahan dalam pengisian data pembayaran pajak yang dilakukan melalui sistem pembayaran pajak secara elektronik tertera dalam dalam Bukti Penerimaan Negara (BPN).
  • Pemindahbukuan karena adanya kesalahan perekaman atas SSP dan SSPCP yang dilakukan Bank atau Pos Persepsi.
  • Pemindahbukuan karena kesalahan perekaman atau pengisian Bukti Pemindahbukuan (Pbk) oleh pegawai Direktorat Jenderal Pajak.
  • Pemindahbukuan dalam rangka pemecahan setoran pajak dalam SSP, SSPCP, BPN atau Bukti Pbk menjadi beberapa jenis pajak atau setoran beberapa WP dan/atau objek pajak PBB.
  • Pemindahbukuan karena pembayaran pada SSP, BPN, atau Bukti Pbk lebih besar dari pada pajak terutang dalam Surat Pemberitahuan, Surat Ketetapan Pajak, Surat Tagihan Pajak, Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang, Surat Ketetapan Pajak PBB atau Surat Tagihan Pajak PBB.
  • Pemindahbukuan karena jumlah pembayaran pada SSPCP atau Bukti Pbk lebih besar dari pada pajak terutang  dalam pemberitahuan pabean impor, dokumen cukai, atau Surat Tagihan/Penetapan.
  • Pemindahbukuan karena sebab lain yang diatur oleh Direktorat Jenderal Pajak.

Dalam PMK tersebut juga dijelaskan pemindahbukuan karena kesalahan pengisian formulir SSP meliputi NPWP, nama Wajib Pajak, Nomor dan Letak Objek Pajak, Kode Akun Pajak atau Kode Jenis Setoran, Masa atau Tahun Pajak, nomor ketetapan dan jumlah pembayaran

Apabila terjadi kesalahan-kesalahan yang disebutkan di atas, Anda bisa mengajukan permohonan Pemindahbukuan kepada Direktorat Jenderal Pajak melalui KPP tempat pembayaran diadministrasikan.

Kondisi Tidak Dapat Dilakukan Pemindahbukuan

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, terdapat kondisi dimana tidak dapat dilakukannya pemindahbukuan pajak. Adapun kondisinya adalah sebagai berikut:

  • Pemindahbukuan atas SSP yang kedudukannya dipersamakan dengan Faktur Pajak yang tidak dapat dikreditkan.
  • Pemindahbukuan ke pembayaran PPN atas objek pajak yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak dengan menggunakan SSP yang kedudukannya dipersamakan dengan Faktur Pajak.
  • Pemindahbukuan ke pelunasan Bea Meterai yang dilakukan dengan membubuhkan tanda bea Meterai Lunas dengan mesin teraan meterai digital.
  • Pemindahbukuan dengan mata uang Dollar Amerika Serikat. Hal ini karena pemindahbukuan untuk WP yang melakukan pembayaran dalam mata uang Dollar Amerika Serikat hanya dapat dilakukan antar pembayaran pajak yang dilakukan dalam mata uang serupa.

Syarat dan Cara Pemindahbukuan Pajak

Adapun cara pemindahbukuan pajak adalah sebagai berikut:

  1. Mengajukan permohonan pemindahbukuan yang diajukan ke kantor Direktorat Jenderal Pajak tempat pembayaran diadministrasikan menggunakan surat atau formulir permohonan pemindahbukuan pajak.
  2. Surat atau formulir tersebut dapat diserahkan secara langsung ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) tempat pembayaran diadministrasikan; atau
  3. Melalui pos atau jasa pengiriman dengan bukti pengiriman surat ke Kantor Pelayanan Pajak tempat pembayaran diadministrasikan.

Formulir pemindahbukuan pajak dapat Anda lihat melalui lampiran PMK.242/PMK.03/2014 di sini.

Dokumen yang Harus Dipersiapkan

Selain surat atau formulir pemindahbukuan pajak, Anda juga perlu melampirkan beberapa syarat dokumen sebagai berikut:

  • Surat Setoran Pajak (SSP) asli, Surat Setoran Pabean, Cukai, dan Pajak (SSPCP) asli, Bukti Pemindahbukuan asli, dokumen BPN, atau bukti asli pembayaran PPh dalam Mata Uang Dollar Amerika Serikat yang dimohonkan untuk dipindahbukukan.
  • Apabila terjadi akibat kesalahan perekaman oleh petugas Bank atau Pos Persepsi, maka dokumen yang dilampirkan surat pernyataan kesalahan perekaman dari pimpinan Bank atau Pos Persepsi tempat dilakukan pembayaran.
  • Apabila permohonan diajukan atas SSPCP, maka dokumen yang dilampirkan surat pemberitahuan pabean impor, dokumen cukai, atau surat tagihan yang asli.
  • Apabila permohonan pemindahbukuan diajukan atas SSP, SSPCP, BPN atau Bukti Pbk yang tidak mencantumkan NPWP, maka dokumen yang dilampirkan fotokopi KTP penyetor atau pihak penerima pemindahbukuan.
  • Apabila penyetor melakukan kesalahan pengisian NPWP, maka dokumen yang dilampirkan adalah fotokopi dokumen identitas penyetor atau wakil badan penyetor.
  • Apabila nama dan NPWP pemegang asli SSP tidak sama dengan nama dan NPWP yang tercantum dalam SSP, maka dokumen yang dilampirkan adalah surat pernyataan tidak keberatan dipindahbukukan.

Sebagai catatan, dokumen asli SSP, SSPCP, atau bukti Pbk yang telah dipindahbukukan terdapat cap yang telah dibubuhi dan ditandatangani oleh Kepala Kantor DJP yang melakukan pemindahbukuan.

Syarat dan Subjek Pemohon Pemindahbukuan Pajak

Pembayaran pajak dalam SSP, SSPCP, BPN, atau Bukti Pbk dapat diajukan permohonan pemindahbukuan dalam pembayaran tersebut belum diperhitungkan dengan pajak yang terutang dalam:

  • Surat Pemberitahuan Pajak (SPT)
  • Surat Tagihan Pajak atau Surat Ketetapan Pajak
  • Surat Pemberitahuan Pajak Terutang
  • Surat Tagihan Pajak PBB atau Surat Ketetapan Pajak PBB
  • Pemberitahuan Impor Barang (PIB)
  • Dokumen Cukai
  • Surat Tagihan/Penetapan

Lalu siapa yang berhak mengajukan permohonan pemindahbukuan pajak?

    1. Wajib Pajak Penyetor apabila permohonan diajukan karena kesalahan pembayaran atau penyetoran.
    2. Pejabat yang melaksanakan pemindahbukuan atau WP yang semula mengajukan permohonan pemindahbukuan apabila terjadi kesalahan perekaman Bukti Pemindahbukuan.
    3. Wajib Pajak pusat apabila permohonan yang diajukan atas SSP, SSPCP, BPN, dan Bukti Pbk yang mencantumkan NPWP dari Wajib Pajak cabang yang telah dihapus.

 

  • Surviving company, entitas baru hasil merger, atau pihak yang menerima penggabungan apabila permohonan diajukan atas SSP, SSPCP, BPN, dan Bukti Pbk dari WP yang menggabungkan usaha atau merger.

Baca Juga: Ini 5 Jenis Surat Ketetapan Pajak yang Perlu Anda Ketahui

 

Berapa Lama Proses Pemindahbukuan?

Menurut Surat Edaran DJP No.SE-54/PJ/2015 tentang SOP Layanan Unggulan Bidang Perpajakan, proses pemindahbukuan pajak dilakukan paling lama 30 hari.

Apabila permohonan pemindahbukuan diterima, maka Direktur Jenderal Pajak menerbitkan Bukti Pemindahbukuan atau Bukti PBk.

Apabila permohonan ditolak, maka Anda akan mendapatkan surat pemberitahuan secara tertulis yang diterbitkan pula oleh Direktur Jenderal Pajak.

Itulah penjelasan tentang pemindahbukuan pajak. Tetaplah menjadi Wajib Pajak yang bertanggung jawab terhadap kewajiban perpajakan.

Jika Anda ingin melakukan tax planning, Rusdiono Consulting siap mendampingi Anda termasuk apabila terjadi sengketa pajak. Hubungi Kami di sini!


July 8, 2021
WhatsApp-Image-2021-07-04-at-8.27.44-AM.jpeg

Istilah tutup buku mungkin sering Anda temui di berbagai kesempatan. Namun apakah Anda tahu apa sebenarnya istilah tersebut?

Istilah tutup buku merupakan istilah yang berasal dari akuntansi. 

Dimana entitas bisnis harus melakukan tutup buku pada setiap akhir periode akuntansi yang umumnya berjalan selama satu tahun.

Melalui artikel ini, Anda akan memahami istilah tutup buku dan kenapa sebuah entitas bisnis harus melakukannya.

Apa itu Tutup Buku?

Ketika memiliki sebuah bisnis tentu pasti bagi Anda untuk merekam setiap transaksi mulai dari pendapatan, pengeluaran, dan transaksi-transaksi lainnya ke dalam pembukuan.

Nantinya pembukuan ini akan menjadi laporan yang menyimpan informasi dalam satu periode akuntansi.

Pada saat mendekati akhir periode akuntansi, segala pembukuan yang dilakukan akan ditutup. 

Aktivitas ini lah yang pada umumnya disebut dengan tutup buku.

Secara umum, tutup buku adalah aktivitas merangkum atas perolehan hasil akhir dari suatu siklus akuntansi atau keuangan sebuah bisnis.

Dengan kata lain, tutup buku merupakan tanda bagi bisnis telah menutup laporan pada periode keuangan tersebut.

Jadi, ketika ada aktivitas keuangan dilakukan setelah masa tutup buku, aktivitas tersebut akan dimasukkan ke dalam pembukuan pada periode selanjutnya.

Aktivitas tutup buku juga dilakukan dengan cara memindahkan saldo akhir pada setiap akun menjadi saldo awal pada periode selanjutnya.

Sebagai catatan, aktivitas tutup buku tidak hanya dilakukan pada satu tahun periode akuntansi, namun juga bisa dilakukan pada satu bulan periode.

Hal tersebut biasanya dilakukan untuk membentuk jurnal penyusutan aset dan revaluasi yang tidak mungkin dilakukan dalam periode tahunan.

Apabila tutup buku dilakukan bulanan, setiap akun laba-rugi ditutup dan dipindahkan ke akun laba untuk bulan berikutnya pada periode berjalan.

Sedangkan apabila tutup buku dilakukan tahunan, laporan laba-rugi akan dipindahkan sebagai laba ditahan.

Fungsi Tutup Buku

Tujuan utama perusahaan melakukan tutup buku adalah untuk mengetahui posisi saldo akhir pada satu periode siklus akuntansi.

Dari tujuan yang umum ini, maka aktivitas tutup buku secara komprehensif memiliki empat fungsi umum.

Fungsi-fungsi tersebut adalah fungsi pelaporan, analisis, evaluasi dan pembentukan.

Secara lengkap, berikut penjelasan dari keempat fungsi tersebut.

1. Fungsi Pelaporan

Dengan melakukan tutup buku, perusahaan bisa mengetahui keadaan keuangan pada periode sebelumnya.

Dalam hal pembagian dividen misalnya. Aktivitas tutup buku bisa menjadi penanda tanggal cut-off siapa yang menerima dividen dan kapan investor tersebut akan menerima dividen.

Bukan hanya bagi investor. Penentuan tanggal dan informasi tutup buku juga berguna bagi pihak-pihak yang berkepentingan seperti auditor, petugas pajak dan direksi.

2. Fungsi Analisis

Adanya tutup buku pada sebuah siklus akuntansi juga membantu perusahaan dalam mengambil keputusan melalui analisis posisi keuangan perusahaan.

Perusahaan mampu mengetahui saldo akhir, laba-rugi, nilai aset, hingga piutang maupun hutang pada periode tersebut.

Dari kondisi keuangan tersebut, perusahaan bisa mengetahui apakah target berhasil dicapai pada periode tersebut dan mampu membantu dalam pengambilan keputusan strategis pada periode selanjutnya.

Jika perusahaan tidak melakukan tutup buku, maka segala aktivitas yang seharusnya masuk pada periode selanjutnya terekam pada periode berjalan dan akan mengacaukan aktivitas analisis keuangan.

3. Fungsi Evaluasi

Dengan melakukan tutup buku, perusahaan mampu mengidentifikasi masalah yang menyebabkan hambatan bagi perkembangan usaha yang sedang dijalankan.

Perusahaan mampu mengetahui pos-pos apa yang menjadi masalah pada bisnis, bagian apa yang perlu ditingkatkan atau bahkan dihilangkan.

4. Fungsi Pembentukan

Fungsi lainnya dari aktivitas tutup buku adalah saldo akhir pada periode sebelumnya dibentuk atau digunakan sebagai saldo awal pada periode selanjutnya.

Sehingga penggunaan saldo akhir tersebut menjadi saldo baru yang akan digunakan untuk aktivitas operasional perusahaan pada periode berjalan atau selanjutnya.

Tips Melakukan Tutup Buku

1. Susun Jurnal Penyesuaian Akrual

Jika mencatat dengan metode basis akrual, Anda perlu memposting entri jurnal ke akun berikut:

  • Pendapatan baik yang ditangguhkan atau pun belum ditagih.
  • Aset persediaan atau Harga Pokok Penjualan
  • Beban baik yang masih harus dibayar maupun yang telah dibayar di muka.

2. Ulas Kembali Laporan Keuangan

Tips selanjutnya adalah ulas kembali laporan keuangan pada periode sebelumnya.

Hal-hal yang perlu diperhatikan misalnya adanya penyimpangan nilai, saldo yang tidak biasa, item yang hilang, atau kesalahan lainnya.

Selain laporan keuangan, Anda juga perlu mengulas kembali atau memperbarui anggaran.

Misalnya, area mana yang hasil realisasinya sangat berbeda dengan anggaran yang telah ditentukan dan apa penyebabnya.

Pada akhirnya, mengulas anggaran juga akan mengungkap kesalahan yang tercatat pada laporan keuangan yang mungkin terlewatkan.

3. Tetapkan Tanggal Penutupan

Menetapkan tanggal pembukuan dilakukan untuk mencegah terjadinya perubahan yang dapat mengganggu pelaporan pada pembukuan sebelumnya.

Menetapkan cut-off juga berfungsi sebagai informasi kepada pihak-pihak terkait untuk dapat menerima laporan keuangan pada periode sebelumnya.

4. Rekonsiliasi setiap Transaksi

Transaksi bisnis pada periode berjalan tentu tidak hanya dilakukan dalam satu platform. Misalnya melalui payment gateway, bank, atau kartu kredit.

Perbedaan data dari platform tersebut dengan catatan internal mungkin akan terjadi dan Salah satu cara untuk menyamakan aktualisasi data adalah dengan rekonsiliasi.

Itulah penjelasan mengenai istilah buku besar dan tips bagaimana melakukan tutup buku yang benar.

Semoga artikel ini mampu memberikan wawasan baru bagi Anda terlebih bagi yang baru saja memulai bisnisnya.

Jika Anda kesulitan dalam mengelola keuangan bisnis Anda, Kami, Rusdiono Consulting siap memberikan pendampingan terutama dalam mengelola keuangan bisnis Anda saat ini.


June 7, 2021
WhatsApp-Image-2021-06-06-at-12.56.33-PM.jpeg

Analisis laporan keuangan adalah elemen penting yang tidak bisa dipisahkan dari perusahaan. Hal ini karena analisis laporan keuangan menjadi salah satu dasar untuk mengambil keputusan strategis pada bisnis. Di sisi lain, laporan keuangan juga digunakan untuk memberikan gambaran terhadap sehat-tidaknya suatu perusahaan. Lebih lengkap mengenai analisis laporan keuangan beserta metode-metodenya, mari simak artikel ini.

Pengertian Analisis Laporan Keuangan

Sebelum mengetahui apa itu analisis laporan keuangan mari ingat jenis-jenis laporan keuangan secara umum. Jika Anda lupa, laporan keuangan umumnya terdiri dari laporan laba rugi, neraca, perubahan modal, dan juga arus kas. Untuk lebih jelas mengenali jenis-jenis laporan keuangan Anda bisa membaca melalui artikel berikut: 5 Jenis Laporan Keuangan

Tentu laporan-laporan keuangan ini berfungsi sebagai sumber informasi yang dapat digunakan baik oleh perusahaan maupun stakeholder seperti investor.

Bagi perusahaan, laporan keuangan digunakan untuk melakukan pengambilan keputusan strategis pada bisnis ke depannya.

Sedangkan bagi investor, laporan keuangan berfungsi sebagai sumber informasi untuk mengevaluasi nilai dan kesehatan bisnis secara keseluruhan.

Informasi pada laporan keuangan tentu tidak bisa ditelan mentah-mentah sehingga perlu dianalisis untuk menghasilkan informasi yang benar-benar akurat, mendalam, dan bisa dipertanggungjawabkan.

Di sinilah kegiatan analisis laporan keuangan dilakukan. Jadi apa sebenarnya analisis laporan keuangan?

Analisis laporan keuangan adalah aktivitas identifikasi, menilai, mengolah hingga membandingkan informasi laporan keuangan menjadi informasi yang sebenar-benarnya dan mendalam.

Tujuan Analisis Laporan Keuangan

Tujuan umum dari analisis laporan keuangan telah dijelaskan sebelumnya di awal pembuka artikel ini; sebagai dasar pengambilan keputusan strategis dan informasi nilai bisnis perusahaan.

Namun sebenarnya, analisis laporan keuangan memiliki tujuan yang lebih spesifik seperti:

  • Mengetahui kemampuan perusahaan dalam melunasi hutang-hutangnya baik jangka pendek maupun jangka panjang.
  • Menilai kinerja bisnis pada tahun berjalan.
  • Membandingkan nilai perusahaan sendiri dengan pesaing.
  • Mengetahui kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan aset ke arah yang lebih menguntungkan.
  • Memproyeksikan bisnis yang terjadi di masa depan.
  • Mengetahui perubahan posisi keuangan pada periode tertentu.
  • Mengidentifikasi pos-pos keuangan yang bermasalah.

Metode Analisis Laporan Keuangan

Secara umum ada dua metode analisis laporan keuangan yaitu metode horizontal dan vertikal.

Analisis Horizontal

Metode analisis keuangan horizontal adalah metode analisis dengan membandingkan pos-pos laporan keuangan yang sama pada periode yang berbeda.

Biasanya perbandingan laporan keuangan yang dianalisis menggunakan dua atau tiga periode dimana periode yang lebih awal digunakan sebagai dasar pembandingnya.

Analisis ini digunakan dengan melihat persentase penurunan dan kenaikan pos-pos laporan keuangan dari periode yang dibandingkan. 

Oleh karena itu, metode ini sering disebut juga dengan metode dinamis.

Selain membandingkan laporan keuangan dua periode atau lebih yang disebut juga dengan analisis komparatif, ada beberapa metode lain yang umum digunakan untuk melakukan analisis horizontal, yaitu:

  • Analisis trend atau indeks – analisis untuk mengetahui kecenderungan dari posisi keuangan. Analisis ini biasanya dinyatakan dalam persentase. Namun dapat juga dinyatakan dalam indeks apabila menggunakan lebih dari dua periode.

 

  • Analisis sumber dan modal kerja – digunakan apabila ingin mengetahui sumber dan alokasi modal perusahaan, serta faktor-faktor yang mempengaruhi perubahannya.
  • Analisis perubahan laba kotor – digunakan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab perubahan laba kotor perusahaan dari periode ke periode.
  • Analisis sumber dan penggunaan kas – digunakan untuk mengetahui kondisi kas dan penyebab terjadinya perubahan kas pada suatu periode tertentu.

 

Contoh Sederhana Analisis Laporan Keuangan Horizontal

Sebagai gambaran, mari ambil contoh sederhana dengan membandingkan pendapatan perusahaan dari periode saat ini dan sebelumnya.

Sebuah perusahaan PT ABC pada tahun 2019 memiliki pendapatan sebesar Rp625.500.000 dan pada tahun 2020 memiliki pendapatan sebesar Rp575.000.000

Maka untuk melakukan analisis horizontal, Anda perlu mencari persentase perubahan pendapatan dari periode tahun 2019 ke tahun 2020 dengan cara:

= (Pendapatan tahun 2020 – Pendapatan 2019) / Pendapatan 2019.

= (Rp625.500.000 – Rp 575.000.000) / Rp575.000.000

= 8.78%

Maka terdapat penurunan pendapatan PT ABC sebesar 8.78% dari tahun 2019 ke tahun 2020. Melalui persentase ini, Anda bisa melihat penyebab adanya penurunan dari persentase pos-pos lain dari perbandingan laporan periode sebelumnya.

Analisis Vertikal

Analisis vertikal digunakan dengan membandingkan pos-pos keuangan yang berbeda pada satu laporan keuangan yang sama di satu periode yang sama.

Oleh karena itu, analisis vertikal sering disebut juga sebagai metode analisis statis.

Adapun yang termasuk ke dalam analisis laporan keuangan vertikal adalah sebagai berikut.

1. Analisis Common Size

Analisis common size adalah analisis yang membandingkan pos-pos laporan keuangan dengan menggunakan persentase dalam satu periode tertentu. 

Laporan yang dianalisis biasanya adalah laporan laba rugi dan neraca. 

Untuk laporan laba rugi dinyatakan sebagai persentase dimana setiap akun barisnya dibagi dengan pendapatan. Sedangkan pada laporan neraca, setiap akun dibandingkan dengan total aset.

2. Analisis Break Even

Analisis break even atau analisis titik impas adalah analisis yang digunakan untuk menentukan tingkat pendapatan yang harus dicapai oleh perusahaan.

Analisis break even membantu perusahaan untuk menganalisis berapa produk yang harus dijual atau berapa rupiah yang harus diterima pada satu periode tertentu.

Analisis ini bertujuan untuk membantu perusahaan dalam mengambil keputusan strategi bisnis agar perusahaan bisa mendapatkan keuntungan dan mengurangi risiko kerugian.

Baca Juga: Break Even Point (BEP): Pengertian dan Cara Hitungnya

 

3. Analisis Rasio Keuangan

Analisis rasio keuangan digunakan untuk menilai suatu kinerja perusahaan berdasarkan pos-pos laporan keuangan pada satu periode tertentu.

Analisis rasio keuangan berfungsi sebagai tolak ukur dalam mengambil langkah strategis perusahaan pada periode selanjutnya dan mengevaluasi sumber daya perusahaan.

Ada empat alat ukur dalam analisis rasio keuangan yaitu rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio profitabilitas dan rasio aktivitas.

Penjelasan mengenai analisis rasio keuangan adalah sebagai berikut:

  • Rasio likuiditas berguna untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya.

Rasio likuiditas membandingkan kas, efek, dan piutang dengan hutang jangka pendeknya.

  • Rasio solvabilitas digunakan mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya.

Rasio solvabilitas membandingkan seluruh beban utang perusahaan terhadap aset atau modalnya.

  • Rasio profitabilitas mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba yang berhubungan dengan nilai penjualan, aktiva, dan modal.
  • Rasio aktivitas digunakan untuk mengukur seberapa efektif perusahaan dalam memanfaatkan asetnya untuk dikonversikan menjadi keuntungan.

Contoh Sederhana dari Analisis Laporan Keuangan Vertikal

Seperti yang diketahui bahwa analisis vertikal membandingkan pos-pos laporan keuangan pada satu periode tertentu.

Mari ambil contoh analisis likuiditas lancar (current ratio). 

PT ABC memiliki total aset lancar sebesar Rp10.000.000 dan memiliki utang yang harus dilunasi dalam jangka waktu satu tahun sebesar Rp5.000.000 pada tahun 2020.

Maka, pada analisis ini Anda akan membandingkan dua pos laporan keuangan yaitu total aset lancar dan juga utang jangka pendek perusahaan dalam satu periode tertentu.

Melalui rumus rasio likuiditas lancar maka:

= Total aset lancar/utang jangka pendek

= Rp10.000.000/Rp5.000.000 X 100% = 2

Pada current ratio, jika perbandingan angkanya di atas 1, maka perusahaan terbilang aman dan mampu melunasi utang lancar atau jangka pendeknya.

Kesimpulan

Itulah penjelasan singkat mengenai laporan keuangan serta metode analisisnya. Sebenarnya ada banyak jenis metode analisis laporan keuangan yang bisa digunakan.

Namun secara umum, analisis laporan keuangan dibagi menjadi dua metode yaitu analisis vertikal dan juga horizontal. Dimana perbedaan keduanya berada pada objek pembanding dan tujuan analisisnya.

Dari kedua metode tersebut, Anda bisa mengembangkan metode-metode analisis yang lebih komprehensif sesuai dengan kebutuhan analisis perusahaan.


Send this to a friend