Akuntansi Archives - Rusdiono Consulting

April 9, 2021
WhatsApp-Image-2021-04-04-at-7.20.05-AM.jpeg

Setiap jenis perusahaan perlu mengetahui apakah mereka bekerja dengan baik dan apakah mereka perlu perbaikan di bidang tertentu demi pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. Oleh sebab itu, banyak perusahaan mencari audit operasional guna meningkatkan kinerja operasional termasuk kualitas, agility, efisiensi, nilai pelanggan, dan biaya. Jadi, apa pengertian audit operasional? Berikut penjelasan lengkap beserta contoh, tahapan, dan tujuannya.

Apa itu Audit Operasional?

Audit operasional adalah cara pemeriksaan perusahaan dalam menjalankan bisnis, dengan tujuan meningkatkan efisiensi dan efektivitas bisnis. Jenis audit ini sejatinya berbeda dari audit normal, dengan tujuan memeriksa pengendalian dan mengevaluasi kewajaran penyajian laporan keuangan.

Audit operasional biasanya dilakukan oleh staf audit internal, dengan spesialis yang tetap dapat dipekerjakan untuk jenis audit ini. Pengguna utama audit operasional adalah tim manajemen, dan terutama para manajer di area terkait.

Audit operasional mencari celah proses yang menyebabkan ketidakefektifan sumber daya, yang kemudian merekomendasikan solusi atas masalah tersebut.

Audit operasional juga menambah nilai serta layanan profesional bisnis. Sistematis dan disiplin yang tinggi juga merupakan bagian jenis audit ini guna memastikan bahwa audit operasional memberikan nilai tambah bagi perusahaan.

Tujuan dan Manfaat Audit Internasional

Tujuan audit internasional dapat bervariasi tergantung pada jenis perusahaan dan KPI-nya, atau apakah audit dilakukan untuk menjawab masalah khusus di berbagai bidang seperti sumber daya manusia, hubungan pelanggan, atau penurunan produksi. Mungkin juga ada masalah kepatuhan pemerintah yang perlu dipertimbangkan seperti keselamatan konsumen. 

Perusahaan dapat mencapai tujuannya dengan menerapkan metode yang disiplin dan sistematis untuk menilai dan memajukan efektivitas pengendalian, manajemen risiko, dan proses tata kelola perusahaan melalui audit operasional.

Perusahaan dan karyawan dapat terus meningkatkan kemampuannya untuk menerapkan pengetahuan serta keterampilan untuk memberikan hasil yang diinginkan. Sementara konsumen menerima produk atau layanan yang lebih hemat biaya dan berkualitas tinggi.

Selain itu, perusahaan dapat:

  • Memahami bagaimana proses, kebijakan, prosedur, dan jenis manajemen di masa depan menghasilkan efektivitas dan efisiensi maksimal.
  • Menetapkan dampak potensial dari keberhasilan dan kegagalan di bidang operasional tertentu.
  • Memahami risiko yang terkait dengan bisnis dan risiko operasional seperti kelalaian atau kesalahan karyawan, kegagalan sistem IT, kegagalan produk, dan masalah keselamatan dan kesehatan.
  • Melakukan perbaikan dan cara memitigasi risiko serta meningkatkan peluang bisnis.
  • Memberikan analisis objektif, penilaian, rekomendasi, dan feedback terkait kegiatan yang ditinjau.

Contoh Audit Operasional

Dalam sebuah perusahaan, terdapat banyak bidang bagi auditor internal melakukan audit operasionalnya. Namun sebelum peninjauan dapat dilakukan, audit internal perlu mengidentifikasi bidang yang dapat diaudit, dan memprosesnya terlebih dahulu. Hal tersebut dapat diidentifikasi dengan masukan yang diperoleh dari manajemen perusahaan.

Contoh, kepala operasional menyatakan kekhawatiran mengenai kesalahan informasi yang mungkin diberikan kepada pelanggan oleh tim penjualan. Sebab, direktur keuangan mengajukan beberapa ketidaksesuaian antara faktur dengan pengiriman kepada pelanggan.

Untuk kasus ini, proses penjualan dan proses penerbitan faktur mungkin perlu ditinjau. Auditor juga dapat mengidentifikasi proses atau operasional yang akan diaudit dengan memahami gambaran besar bisnis terlebih dahulu.

Kemudian, auditor dapat mengidentifikasi proses utama dan juga unit bisnis yang terkait. Setelah semua ini diidentifikasi, auditor harus melakukan penilaian untuk mengidentifikasi risiko yang terkait dengan pengendalian dan proses audit.

Siapa yang Biasanya Melakukan Audit?

Jasa audit operasional biasanya dilakukan oleh auditor internal. Mereka merupakan menilai efisiensi dan efektivitas audit dan operasi internal. Biasanya, auditor internal melakukan peninjauan terhadap tiga hal utama yang meliputi audit laporan keuangan, audit kepatuhan, dan audit operasional.

Namun, perusahaan dapat mempertimbangkan untuk menggunakan jasa ini kepada perusahaan eksternal jika perusahaan tidak memiliki departemen audit internal atau tim audit internal tidak memiliki cukup pengalaman dan pengetahuan untuk operasi kunci tertentu.

Seperti layanan audit internal dari Rusdiono Consulting, yang membantu Anda melakukan audit operasional atau keuangan dengan tujuan khusus yang ditetapkan oleh Anda.

 

Proses dan Tahapan Audit Operasional

Proses audit operasional tidak jauh berbeda dengan audit lain yang dilakukan oleh auditor internal. Hal ini termasuk perencanaan, pelaksanaan, pelaporan dan tindak lanjut.

 

  • Perencanaan 

 

Auditor perlu memperoleh pemahaman tentang bisnis serta operasionalnya. Kemudian, mereka perlu membuat penilaian dan menargetkan operasional utama mana yang harus mereka lakukan.

 

  • Eksekusi

 

Memvalidasi kunci utama dari operasional bisnis, mengamati bagaimana hal tersebut bekerja, dan memeriksa dokumen tertentu seperti faktur penjualan, catatan pengiriman barang.

 

  • Laporan Audit Operasional

 

Setelah menemukan kunci operasional dan kontrol divalidasi, laporan perlu disiapkan dan diserahkan ke komite audit.

 

  • Tindak Lanjut

 

Sama seperti audit internal lainnya, setiap temuan utama, dan rekomendasi yang disiapkan oleh auditor perlu ditindaklanjuti apakah temuan utama tersebut dimitigasi oleh manajemen atau departemen terkait.

Baca Juga: Pengertian Kertas Kerja Audit, Tujuan, Syarat Membuat, hingga Contohnya

Laporan Audit Internasional

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, salah satu tahapan penting dalam proses audit operasional adalah penyusunan dan distribusi laporan audit operasional kepada manajer unit dan pimpinan perusahaan.

Laporan audit akhir harus menguraikan ruang lingkup dan tujuan audit, termasuk informasi latar belakang yang diperlukan untuk mendukung pendapat dan rekomendasi yang dicapai sebagai hasilnya. 

Auditor juga menguraikan perubahan yang direkomendasikan untuk meningkatkan efektivitas operasional dalam laporan. Laporan audit akhir didistribusikan kepada manajer dan supervisor yang bertanggung jawab untuk menerapkan perubahan tersebut.

Demikian penjelasan mengenai audit operasional, tujuan, contoh, hingga tahapan audit operasional. Jika Anda kesulitan dalam melakukan operasional audit untuk bisnis, Anda dapat mengandalkan jasa layanan audit internal Rusdiono Consulting, sehingga Anda dapat meluangkan waktu untuk menjalankan bisnis pada hal yang lebih strategis.

Konsultasikan dengan auditor kami sekarang! Kalau ada cara mudah, kenapa harus dipersulit?


April 8, 2021
WhatsApp-Image-2021-04-04-at-7.04.52-AM.jpeg

Retur faktur pajak adalah sebutan untuk pengembalian faktur pajak guna memperbaiki kekeliruan pengisian data faktur oleh pihak yang mendapatkan faktur atau pihak pembeli. Terdapat dasar hukum, syarat, serta ketentuan yang perlu diketahui baik untuk retur pajak masukan maupun keluaran.

Apa itu Retur Faktur Pajak?

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, retur faktur pajak adalah sebutan untuk pengembalian faktur pajak guna memperbaiki kekeliruan pengisian data faktur oleh pihak yang mendapatkan faktur atau pihak pembeli. 

Retur faktur pajak pun dikenal sebagai retur BKP sebab proses retur atau pengembalian hanya dapat dilakukan khusus untuk barang. Adapun setiap  pengembalian barang selalu dilampirkan dengan retur faktur pajak dari barang terkait.

Dokumen dalam pengembalian faktur pajak juga disebut sebagai nota retur faktur pajak yang perlu diterbitkan oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP) pembeli kepada penjual.

Dasar hukum tentang retur faktur pajak tercantum pada:

 

  • Pasal 5A ayat 1 Undang-undang PPN

 

Pasal 5A Ayat 1 menerangkan bahwa PPN maupun PPnBM pada penyerahan BKP yang dikembalikan dapat dilakukan pengurangan dari PPN maupun PPnBM yang terutang dalam masa pajak terjadinya pengembalian BKP terkait. Biasanya, nilai retur PPN akan mengurangi pajak keluaran terutang bagi pihak penjual serta akan mengurangi pajak masukan pihak pembeli.

 

  • Pasal 3 dan 4 PMK-65/PMK.03/2010

 

Jika terdapat pengembalian barang kena pajak, pembeli perlu membuat serta menyampaikan nota retur untuk pengusaha kena pajak. Berdasarkan PMK No. 65/ PMK/03/2010, nota retur setidaknya perlu mengandung informasi berikut ini:

  1. Nomor urut nota retur.
  2. Nomor faktur pajak.
  3. Nama, alamat serta NPWP pembeli.
  4. Nama, alamat serta NPWP penjual.
  5. Jenis barang serta jumlah harga jual BKP yang dikembalikan.
  6. Tanggal pembuatan nota retur.
  7. Nama maupun tanda tangan yang berhak menandatangani nota retur.

 

Jadi, setelah penjual memberikan faktur kepada pembeli, maka pembeli akan melakukan entry data faktur pada Daftar Pajak Masukan miliknya. Apabila ada item barang yang tidak sesuai penjelasan, maka pembeli dapat mengembalikan barang tersebut yang dilengkapi dengan Retur atas Pajak Masukan (entry serta upload data Retur pada menu Retur Pajak Masukan di aplikasi e-faktur pihak pembeli).

Teruntuk pihak penjual atau penerbit faktur, retur dari pembeli  diterima kemudian entry di menu Retur Pajak Keluaran. Kemudian, jumlah retur bernilai negatif serta akan mengurangi jumlah DPP-PPN pada masa pajak ketika data retur diposting.

Data retur wajib diunggah, baik dari pihak pembeli yang melakukan retur (sebelum disampaikan ke pihak penjual) maupun dari pihak penjual atau penerbit faktur. Perlu diketahui juga bahwa dokumen retur akan terposting pada masa pajak sesuai tanggal dokumen returnya.

Baca Juga: Retur Pembelian & Penjualan, Beserta Pencatatan Jurnal dan Contoh

Syarat Nota Retur Faktur Pajak 

  1. PKP pembeli yang mengajukan retur membuat Nota Retur.
  2. Nota Retur dibuat beriringan dengan pengembalian Barang Kena Pajak (BKP).
  3. Nota Retur berisikan nomor nota, nomor faktur pajak, identitas PKP pembeli maupun penjual, deskripsi, nilai BKP, dan nilai PPN terutang.
  4. Pembuatan retur faktur pajak tidak dilakukan apabila PKP penjual mengganti BKP yang dikembalikan.

Pengaruh Retur Faktur Pajak Masukan dan Keluaran

Lantas, apa pengaruh retur faktur pajak masukan dan keluaran kepada PKP serta pelaporan PPN? Berikut beberapa  hal yang disebabkan dengan diterbitkannya retur faktur pajak:

  • Berkurangnya PPN Keluaran PKP penjual, apabila sebelumnya sudah dilaporkan.
  • Dihitung ketika nota retur telah diterima.
  • Berkurangnya harta maupun biaya PKP pembeli, apabila PPN masukan tidak dapat dikreditkan hingga perlu dilakukan kapitalisasi ataupun pembebasan.
  • Berkurangnya PPN Masukan PKP pembeli apabila sebelumnya sudah dikreditkan.
  • Dihitung ketika nota retur sudah dibuat.
  • Berkurangnya harta maupun biaya, apabila sebelumnya sudah dilakukan kapitalisasi ataupun pembebanan bagi pembeli non PKP.

Contoh Kasus Retur Pajak Masukan maupun Keluaran

PT ABC di bulan Oktober 2020 menyerahkan BKP berikut ini:

  • Kepada PT XYZ dengan kontrak senilai Rp. 385.000.000 belum termasuk PPN.
  • Kepada PT MNO dengan kontrak senilai Rp 715.000.000 termasuk PPN.
  • Kepada Koperasi Sejahtera yang tidak termasuk PKP senilai Rp 275.000.000 termasuk PPN.

PT ABC menyampaikan laporan PPN Keluaran atas transaksi tersebut di SPT Masa Juni. Dengan detail di bulan Juli berikut ini:

  • PT XYZ melakukan retur senilai Rp 35.000.000,00 serta tidak ada penggantian.
  • PT MNO melakukan retur sejumlah 5% dari pesanan serta dilakukan penggantian dengan produk serupa.
  • Koperasi Sejahtera melakukan retur sejumlah 15% dari pesanan serta tidak dilakukan penggantian. 

Lalu, bagaimana pengaruh retur pada pengelolaan PPN masing-masing PT?

  • Pengaruh retur PT ABC

Bagi PT ABC , mengurangi PPN Keluaran di masa Juli. Bagi PT ABC, mengurangi PPN Masukan di masa Juli senilai 10% x 35.000.000 = 3.500.000

  • Pengaruh retur PT MNO

Baik PT ABC maupun bagi PT MNO tidak ada pengaruh, karena terdapat penggantian yang mengikuti retur.

  • Pengaruh retur Koperasi Sejahtera

Untuk PT ABC, mengurangi PPN Keluaran di masa Juli sejumlah  = 10/ 110 x 15% x 275.000.000 = 3.750.000. Semantara untuk Koperasi Sejahtera, mengurangi beban pajak maupun persediaan senilai 3.750.000.

Perbedaan Nota Retur Faktur Pajak dengan Nota Pembatalan Faktur Pajak

Apabila nota retur faktur pajak dipakai sebagai bukti ketika mengembalikan BKP yang sudah diserahkan oleh penjual terhadap pembeli PKP, bagaimana dengan pengembalian Jasa Kena Pajak (JKP)?

Pengembalian JKP telah tercantum dalam Peraturan Menteri Keuangan No.65/PMK.03/2010 yang mengartikan nota pembatalan sebagai suatu dokumen yang dipakai untuk pembatalan seluruh atau sebagian hak serta fasilitas oleh penerima JKP. Nota pembatalan faktur pajak dibuat ketika JKP dibatalkan.

Adapun PMK 65/PMK.03/2010 juga mengatur beberapa poin yang perlu ada saat membuat nota retur pembatalan faktur pajak, meliputi:

  1. Nomor urut nota pembatalan.
  2. Nomor, kode seri, serta tanggal pembatalan JKP.
  3. Nama, alamat, serta NPWP penerima jasa.
  4. Nama, alamat, dan NPWP PKP pemberi JKP.
  5. Jenis jasa beserta jumlah penggantian JKP yang dibatalkan.
  6. PPN atas JKP yang dibatalkan.
  7. Tanggal pembuatan nota pembatalan.
  8. Nama serta tanda-tangan pihak yang berhak menandatangani nota pembatalan faktur pajak.

Demikian penjelasan mengenai pengertian retur pajak, syarat dan ketentuan retur pajak, pengaruh retur pajak masukan dan keluaran, contoh kasus retur faktur pajak masukan dan keluaran, serta perbedaan nota retur pajak dengan nota pembatalan faktur pajak.

Ingin dapatkan insight seputar faktur dan perpajakan lain? Baca artikel Rusdiono Consulting lainnya! Bukan hanya artikel, kami menyediakan jasa konsultasi perpajakan individu maupun badan, termasuk pengurusan faktur perpajakan Anda.

Dengan konsultan yang berpengalaman, Anda tak lagi direpotkan dengan sejumlah dokumen yang tidak Anda mengerti. Biarkan Anda berfokus pada hal strategis lain di perusahaan.


April 5, 2021
WhatsApp-Image-2021-04-04-at-5.31.11-AM.jpeg

Dalam proses jual beli barang, akan ada retur atau pengembalian barang kepada pihak penjual karena tidak sesuainya pesanan maupun karena barang yang diperjualbelikan rusak. Retur dilakukan ketika proses jual beli sudah selesai. Namun, apa perbedaan retur pembelian dan penjualan? Apa itu retur? Berikut lebih lengkapnya.

 

Apa Itu Retur?

Retur atau biasa disebut juga pengembalian adalah hal umum yang terjadi dalam dunia jual beli barang. Retur penjualan serta retur pembelian adalah dua hal yang sering ada dalam transaksi keuangan. 

Tentu, alasan terjadi pengembalian disebabkan oleh kegiatan penjualan ataupun pembelian yang tidak berjalan lancar. Pada kondisi tertentu, umumnya terdapat barang yang rusak maupun barang yang tidak sesuai dengan pemesanan.

Ketika mengembalikan barang, terdapat dokumen yang perlu dilampirkan, baik oleh pihak penjual serta pihak pembeli yang dikenal dengan nota retur.

Sesuai UU No.8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, apabila sejak awal terdapat kesengajaan pengiriman dari pihak penjual dalam mengirimkan barang yang rusak atau barang yang salah kepada pihak pembeli, maka penjual dapat terkena sanksi hukum.

 

Undang Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen

 

Bab 1 Pasal 1 Ayat 1 Perlindungan konsumen merupakan segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi perlindungan kepada konsumen.
Bab 1 Pasal 1 Ayat 2 Konsumen merupakan setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.
Bab 1 Pasal 1 Ayat 2 Pelaku usaha merupakan setiap orang perseorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi.

 

Retur Pembelian

Retur pembelian adalah pengembalian barang dari pihak pembeli kepada pihak penjual sebab barang yang sudah dikirim tidak sama dengan spesifikasi yang sudah dijelaskan. Selain itu, dapat juga terjadi karena barang rusak. Dengan retur pembelian, maka akan ada pengurangan utang pihak penjual atau pemilik barang.

Pemotongan utang yang disebabkan retur dapat dibagi atas 2 tipe :

 

  • Retur Pembelian secara Tunai

 

Retur pembelian tunai adalah barang yang dikembalikan kepada pihak penjual yang sudah dibeli secara tunai dengan perjanjian barang dapat diretur maupun dikembalikan yang diikuti dengan pengembalian pembayaran.

 

  • Retur Pembelian secara Kredit

 

Retur pembelian kredit adalah barang yang dikembalikan pada penjual untuk transaksi yang belum lunas atau dibayar secara kredit. Apabila retur pembelian dilakukan, maka akan otomatis dilakukan pengurangan utang pembelian pada penjual atau pemilik barang.

 

Retur Penjualan

Retur penjualan adalah pengiriman barang dari pihak pembeli kepada pihak penjualan karena barang tidak sesuai dengan apa yang dijelaskan sebelumnya atau dapat juga terjadi karena barang yang diterima pembeli mengalami kerusakan. 

Melalui retur penjualan, maka tagihan atau piutang dari pihak penjual terhadap pihak pembeli akan dikurangi. Dalam melakukan catatan transaksi retur penjualan dalam jurnal . akan dicatat di akun retur penjualan di debet serta akun piutang dagang di kredit.

Retur penjualan dikategorikan menjadi menjadi 3 jenis yakni:

  • Retur penjualan yang mengurangi piutang pihak pembeli.
  • Retur penjualan yang mengembalikan pembayaran pembeli.
  • Retur penjualan yang membutuhkan penggantian barang rusak dari pihak penjual. Dapat juga disebut sebagai klaim.

Demi menghindari dilakukannya retur, maka sangat penting bagi pihak penjual agar lebih teliti saat memperhatikan jenis serta spesifikasi barang yang akan dikirim kepada pihak pembeli. Jadi, keuntungan penjual akan jauh lebih besar karena tingkat retur sedikit.

Jika Anda ingin mengelola retur secara benar, maka Anda dapat menggunakan jasa konsultasi keuangan. 

Jurnal Retur Pembelian dan Penjualan

Penting bagi pemilik bisnis untuk melakukan pencatatan pada setiap transaksi secara detail serta secepat mungkin agar tidak merugi. Termasuk apabila terdapat transaksi retur pembelian dan penjualan. Berikut ini contoh-contoh jurnal pada retur pembelian dan penjualan.

  1. Jurnal Retur Pembelian

Berikut ini adalah contoh transaksi  retur pembelian pada PT ABC.

  1. 17 Juli 2020  PT ABC membeli barang dagangan secara tunai senilai Rp25.000.000,00.
  2. 19 Juli 2020 PT ABC UD membeli sejumlah barang dagang sebesar Rp20.000.000,00 dengan syarat 2/10, n/30 No Faktur 2710.
  3. 21 Juli 2020 pengembalian barang dagangan yang dibeli tanggal 19 Juli seharga Rp5.000.000,00 karena rusak.
  4. 25 Juli 2020 pengembalian barang dagang yang dibeli 17 Juli senilai Rp2.500.000,00.
  5. 28 Juli 2020 pembayaran utang untuk pembelian barang dagangan tanggal 19 Juli 2020.

 

Tanggal Nama Akun/Perkiraan Debet Kredit
Juli 2020 17 Pembelian Rp25.000.000
Kas Rp25.000.000
(Pembelian barang secara tunai)
19 Pembelian Rp20.000.000
Utang Dagang Rp20.000.000
(Pembelian barang secara kredit)
21 Utang Dagang Rp5.000.000
Retur Pembelian Rp5.000.000
(Pengembalian barang yang dibeli secara kredit)
25 Kas Rp2.500.000
Retur Pembelian Rp2.500.000
(Pengembalian barang yang dibeli secara tunai)
28 Utang Dagang Rp15.000.000
Kas Rp14.700.000
Pot Pembelian Rp300.000
(Pelunasan faktur no. 2710)

 

Transaksi tersebut dicatat ke dalam jurnal seperti berikut ini:

  1. Pada tanggal 21 terjadi retur pembelian barang dagang yang dibeli secara kredit menyebabkan pengurangan utang senilai Rp. 5.000.000,00.
  2. Pada tanggal 25 terjadi transaksi retur pembelian atas pembelian tunai yang menyebabkan jumlah kas bertambah senilai Rp2.5000,00.
  • Perusahaan menerima potongan 2% dari sisa utang dagang atas pelunasannya pada 28 Juli.
  • Nilai utang dagang senilai Rp20.000.000,00.
  • Retur pembelian serta  potongan harga (Rp 5.000.000,00).
  • Sisa utang dagang Rp15.000.000,00
  • Potongan pembelian 2% (Rp 300.000,00)
  • Nilai utang dagang yang perlu dibayar Rp14.700.000,00
  1. Apabila pelunasan dilakukan setelah 28 Juli misalnya pada 1 Agustus maka transaksinya dicatat seperti berikut ini:

 

Tanggal Keterangan Debet Kredit
Agustus 2020 1 Utang Dagang Rp15.000.000
Kas Rp15.000.000
(Pelunasan utang dagang tanpa potongan pembelian)

 

b. Jurnal Retur Penjualan

ABC beroperasional pada barang eceran, lalu saat menjual barangnya, disebutkan dalam faktur  bahwa barang dapat dikembalikan dalam waktu 30 hari.

Transaksi tersebut menghasilkan penjualan senilai Rp50.000.000 untuk Agustus 2020, dengan penjualan 60% secara tunai, kemudian sisanya dijual secara kredit. Perusahaan mempunyai 31.000.000 berbentuk piutang serta Rp2.500.000 berbentuk tunai pada akhir neraca Agustus 2020.

Harga pokok penjualan sebesar Rp40.000.000, lalu Persediaan Penutupan menunjukkan saldo sebesar Rp22.000.000. 5% dari barang yang dijual dikembalikan karena terdapat kecacatan pada produk. Kemudian, perusahaan menerima margin kotor 20% dari penjualan.

Sesuai data tersebut, Anda diharuskan untuk melakukan entri jurnal retur penjualan serta taksiran saldo yang akan tetap ada dalam penjualan, piutang, kas, inventaris, serta harga pokok penjualan.

Maka:

  1. Hitung jumlah pengembalian penjualan, yakni 5% dari penjualan Rp50.000.000, yang sama dengan  Rp2.500.000. 
  2. Asumsikan bahwa rasio 60% dikembalikan berbentuk tunai serta sisanya pada piutang.
  3. Akun kas dikreditkan sejumlah 60% dari Rp2.500.000 yang menjadi 1.500.000 lalu akun piutang dikreditkan sejumlah 40% (100 – 60) dari  Rp2.500.000 yang menjadi Rp1.000.000.
  4. Persediaan dikurangi Rp2.500.000 kurang dari 20% margin, yang menjadi 2.500.000 lalu dikurangi Rp500.000 yakni Rp2.000.000. Kemudian akan menambah persediaan serta mengurangi harga pokok penjualan yang sama.

 

Berarti, transaksinya dicatat seperti berikut ini

Keterangan Jumlah
Penjualan Rp50.000.000
Retur Penjualan Rp2.500.000
Cash Rp1.500.000
Kredit Rp1.000.000
Saldo Persediaan Rp2.000.000

 

Berikut Entri yang akan diposting:

 

  1. Entri Jurnal Pengembalian Penjualan

 

Tanggal Keterangan Debit Kredit
September 2020 1 Penjualan Rp1.500.000
Kas Rp1.500.000
Penjualan Rp1.000.000
Piutang Rp1.000.000

 

  1. Penyesuaian Harga Pokok Penjualan
Tanggal Keterangan Debit Kredit
September 2020 1 Persediaan Rp2.000.000
HPP Rp2.000.000

Contoh Retur Pembelian dan Penjualan

Berikut adalah contoh retur pembelian dan retur penjualan yang dikerjakan melalui sistem akuntansi

Contoh retur pembelian

Contoh Retur Penjualan

Praktis Menggunakan Jasa Pendamping Akuntansi

Dalam menjalani bisnis, tentunya anda akan selalu fokus pada inti dan pencapaian pada bisnis anda tanpa terganggu akan hal-hal teknis seperti pengelolaan akuntansi secara langsung. Oleh karena itu, dengan menggunakan jasa pendamping akuntansi Rusdiono Consulting, anda dapat menyerahkan masalah pengelolaan keuangan dan akuntansi perusahaan anda ditangan yang tepat dan profesional. Hubungi kami untuk informasi lebih lanjut.


April 2, 2021
WhatsApp-Image-2021-04-02-at-10.22.49-AM.jpeg

Istilah kasbon tentu tidak asing lagi bagi Anda. Kasbon adalah salah satu fasilitas yang diberikan oleh perusahaan untuk karyawannya biasanya berupa pinjaman.

Dalam akuntansi, kasbon sering masuk ke dalam kas perusahaan baik kas kecil berupa cash advance atau kas besar. Tentu tergantung dengan besaran kasbon dan kebijakan perusahaan.

Pengelolaan kasbon juga bukan hal yang bisa dianggap enteng apalagi jika perusahaan mengalokasikan dana kasbon pada kas besar.

Melalui artikel ini, mari simak apa itu kasbon dan apa saja bentuk-bentuk kasbon.

 

Apa itu Kasbon?

Pada dasarnya kasbon memiliki pengertian yang lebih luas yaitu pengeluaran perusahaan dimana nominal yang dikeluarkan tidak atau belum diketahui secara pasti.

Namun belakangan kasbon memiliki pengertian yang lebih sempit yaitu dimana kasbon adalah fasilitas pinjaman yang diberikan oleh sebuah instansi atau perusahaan kepada karyawannya.

Biasanya kasbon diambil dari alokasi besaran gaji karyawan yang akan dikembalikan dengan cara memotong gaji karyawan tersebut sesuai dengan jumlah kasbon yang ada.

Berbeda dengan pinjaman bank, kasbon biasanya tidak disertai bunga karena merupakan bentuk fasilitas perusahaan dalam rangka mensejahterakan karyawannya.

Misalnya saja pada kebutuhan-kebutuhan darurat misalnya untuk membayar biaya pernikahan, listrik, cicilan, atau kebutuhan mendadak lainnya.

Namun ada juga perusahaan yang menerapkan aturan khusus misalnya pagu, masa angsuran, tujuan pinjaman, bahkan bunga yang dikenakan.

Kasbon berbeda dengan fasilitas asuransi perusahaan. Kasbon biasanya terjadi pada hal-hal di luar kegiatan yang diasuransikan oleh perusahaan. Tentu ini kembali pada kebijakan perusahaan.

Pada lingkup manajemen SDM, kasbon juga berfungsi sebagai pemicu produktivitas dan loyalitas karyawan. Dengan adanya kasbon, perusahaan bisa menciptakan employee engagement pada karyawannya.

 

Pencatatan Kasbon; Kas Kecil atau Besar?

Meskipun sifatnya sementara dan biasanya di luar kebutuhan operasional perusahaan, kasbon karyawan tetap harus dicatat dalam jurnal.

Hal tersebut tentu karena kasbon termasuk ke dalam transaksi perusahaan yang perlu dicatat agar tidak terjadi selisih kas dan bisa dipertanggungjawabkan.

Namun seringkali terjadi pertanyaan, kemanakah pencatatan kasbon dibuat? Apakah ke dalam kas kecil atau kas besar?

Jawabannya adalah tergantung kebijakan perusahaan itu sendiri. Jika kasbon yang dikeluarkan dalam periode tertentu memengaruhi kas besar maka perusahaan bisa memasukkan kasbon ke dalam akun piutang lain-lain atau non-dagang.

Dimana dalam pencatatan jurnal terkait kasbon karyawan yaitu sebagai berikut.

Piutang Karyawan Rp xxx (Debit)
Kas Rp xxx (Kredit)

 

Jika piutang telah lunas, jurnalnya akan berubah seperti ini.

Kas Rp xxx (Debit)
Piutang Karyawan Rp xxx (Kredit)

 

Namun ada juga perusahaan yang memasukkan kasbon karyawan ke dalam kas kecil atau petty cash.

Biasanya dilakukan oleh perusahaan yang memiliki fasilitas kasbon karyawan secara khusus atau kasbon dikeluarkan untuk kebutuhan tidak terduga seperti dinas, parkir, dan keperluan meeting.

Baca juga: Memahami Petty Cash atau Kas Kecil dalam Pembukuan

Prosedur Pengeluaran Kasbon

Dalam mengeluarkan kasbon, perusahaan tidak bisa begitu saja memberikannya kepada karyawan. 

Karyawan perlu melewati beberapa prosedur atau SOP (Standar Operasional Perusahaan). meski berbeda-beda, pada dasarnya SOP pengeluaran kasbon di setiap perusahaan tetaplah sama.

 

1. Form atau Formulir Kasbon

Prosedur pertama dalam pengeluaran kasbon adalah pembuatan atau pengisian form kasbon oleh pemohon.

Biasanya dalam formulir kasbon terdiri dari header yang berisi nama perusahaan, judul formulir, nomor dokumen, dan kolom-kolom lainnya seperti masa berlaku formulir atau revisi formulir.

Kemudian diisi dengan nama peminjam, kolom persetujuan, besaran pinjaman, dan catatan keperluan.

Berikut contoh sederhana dari form kasbon.

 

FORM KASBON No.

Tanggal.

Pemohon:

Divisi:

Jabatan:

Catatan:
Nominal Pinjaman:
Mengetahui
Kasir HRD Pemohon/Penerima

 

2. Penyetujuan

Langkah kedua, setelah pemohon mengisi dan menyerahkan formulir ke kasir atau bagian keuangan. Maka selanjutnya pemohon tinggal menunggu proses persetujuan.

Proses persetujuan pun berbeda-beda tergantung kebijakan perusahaan. Ada yang langsung disetujui oleh manajer akuntansi, ada yang perlu melewati divisi lain seperti HRD, atau ada yang perlu persetujuan dari kepala cabang atau tingkat yang lebih tinggi seperti C-suite.

Biasanya semakin besar nominal pinjaman, maka semakin banyak pula pihak-pihak yang mengetahui permohonan kasbon.

Setelah disetujui, dokumen kasbon kemudian diperiksa oleh kasir apakah dokumen telah disetujui atau tidak. Apabila belum atau tidak disetujui pihak kasir berhak untuk menolak permohonan.

Apabila permohonan diterima, kasir memberikan nota kasbon. Biasanya nota kasbon merupakan formulir kasbon yang sudah ditanda-tangani oleh pihak-pihak yang mengetahui dan menyetujui adanya pengeluaran kasbon.

Nota kasbon digunakan sebagai bukti bahwa pemohon telah menerima uang kasbon yang diajukan dan sebagai bukti yang bisa dipertanggungjawabkan.

 

3. Jurnal atau Buku Kasbon

Dalam beberapa kasus, kasir kasbon biasanya mencatat transaksi kasbon ke dalam jurnal atau buku kasbon dan sifatnya sementara.

Dalam buku kasbon, kasir mencatat tanggal, pengeluaran kasbon, nomor kasbon, nama pemohon, keperluan, nominal, hingga jenis pengeluaran (tunai atau melalui bank).

Buku kasbon ini nantinya akan menjadi bukti pertanggungjawaban yang nantinya dimasukkan ke dalam laporan keuangan.

Baca Juga: Yuk Cek Cara Membuat Jurnal Umum Perusahaan!

 

Kesimpulan

Kasbon merupakan elemen penting yang tidak bisa dipisahkan dalam operasional bisnis. Meski merupakan bagian dari fasilitas perusahaan, aktivitas pengeluaran kasbon tentu harus bisa dipertanggungjawabkan.

Selain itu pengeluaran kasbon memiliki beberapa manfaat salah satunya adalah meningkatkan employee engagement pada sebuah perusahaan sehingga karyawan bisa lebih loyal dan produktif.

Di samping itu, adanya kasbon juga memfasilitasi perusahaan itu sendiri dalam mengawasi pengeluaran-pengeluaran di luar operasional yang bisa saja mengganggu arus kas perusahaan.


March 26, 2021
WhatsApp-Image-2021-03-21-at-7.57.56-AM.jpeg

Pernahkan Anda mengeluarkan uang untuk kebutuhan kecil atau tak terduga dalam bisnis misalnya seperti parkir, jamuan makan saat meeting, atau keperluan mendadak lainnya? Uang yang dikeluarkan untuk kebutuhan tersebut adalah bentuk dari kas kecil atau petty cash.

Namun sering sekali kas kecil tersebut membingungkan bagi pengelola usaha, Apakah pengeluaran kecil atau mendadak itu perlu dimasukkan ke dalam pembukuan?

Untuk mencari tahu lebih lanjut tentang petty cash atau kas kecil dalam pembukuan, Anda perlu menyimak artikel ini.

 

Pengertian Petty Cash atau Kas Kecil

Dikutip dari laman Investopedia, kas kecil atau petty cash merupakan sejumlah kas yang disimpan perusahaan untuk membiayai pengeluaran kecil seperti kebutuhan operasional kantor atau reimbursement.

Singkatnya petty cash merupakan cadangan uang  yang dimiliki oleh perusahaan untuk digunakan pada hal-hal yang sifatnya kecil atau hal-hal yang tidak terduga.

Namun jangan salah, meski kecil, pengeluaran petty cash tetap dibatasi tiap periode pembukuannya dan wajib tercatat dalam laporan keuangan.

Maka dari itu biasanya perusahaan sudah menetapkan berapa uang yang harus dikeluarkan untuk kas kecil pada periode tertentu sesuai dengan kebijakan masing-masing perusahaan.

 

Tujuan Petty Cash atau Kas Kecil

Tentu dibuatnya petty cash atau kas kecil memiliki tujuan di antaranya adalah;

  1. Memangkas birokrasi atau prosedur yang kurang efisien untuk pengeluaran yang cepat dan mendadak terutama pada nominal yang lebih kecil. Contoh kasus petty cash: Pengeluaran kurangnya makanan saat meeting dengan klien.
  2. Mempermudah perusahaan terutama karyawan dalam memberikan pelayanan yang maksimal kepada konsumen atau relasi. Contoh kasus petty cash: Kehabisan stok bonus untuk konsumen yang seharusnya ada dalam paket pembelian.
  3. Menangani masalah kecil yang sering terjadi pada kegiatan operasional kantor. Contoh kasus petty cash: Parkir dan reimbursement.
  4. Mempercepat aktivitas operasional yang membutuhkan dana cepat. Contoh: Biaya ongkos kirim.

Selain itu, terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan ketika melakukan pengeluaran melalui petty cash yaitu:

  1. Kas kecil atau petty cash biasanya telah ditentukan batas maksimalnya pada satu periode tertentu.
  2. Harus ada bukti pengeluaran kas kecil baik kwitansi, faktur, atau bukti lainnya dan ditandatangani oleh pemegang petty cash yang selanjutnya diberikan kepada bendahara kas.
  3. Kasbon atau pinjaman karyawan tidak termasuk dalam petty cash.

Baca Juga: Pembukuan bagi Wajib Pajak

Metode Pencatatan Kas Kecil atau Petty Cash

Satu hal yang perlu diingat adalah pencatatan petty cash atau kas kecil tergantung dari kebijakan perusahaan.

Terkait perbedaan tersebut, ada dua metode pencatatan yang paling umum digunakan yaitu metode tetap atau Imprest Fund System dan metode fluktuatif atau Fluctuating Fund System.

1. Metode Tetap (Imprest Fund System)

Metode pertama adalah metode yang paling umum digunakan oleh banyak perusahaan dimana rekening kas kecil jumlahnya selalu tetap.

Karakteristik dari metode ini pemegang petty cash tidak langsung mencatat pengeluaran namun mengumpulkan bukti transaksi pengeluarannya.

Selain itu, jika dana kas kecil hampir habis, bendahara kas melakukan pencatatan berdasarkan bukti transaksi yang telah dikumpulkan.

Selanjutnya, pemegang kas kecil melakukan pengajuan kembali dana kas kecil kepada bendahara kas sebesar nominal yang telah dikeluarkan menurut pembukuan atau bukti transaksi pengeluaran sebelumnya.

Hal tersebut membuat jumlah nominal kas kecil sama dengan jumlah semula.

2. Metode Fluktuatif  (Fluctuating Fund System)

Jika metode tetap menghendaki jumlah kas kecil harus sama jumlahnya dengan saldo awal yang telah ditentukan, maka metode fluktuatif ditetapkan sesuai kebutuhan.

Dalam metode ini, jumlah pengisian kembali petty cash tidak harus sama dengan nominal saldo awal; bisa kurang atau lebih.

Pencatatan kas kecil atau petty cash dengan metode ini harus dimuat dalam jurnal dengan melakukan debit biaya dan kredit pengeluaran

Intinya, jumlah dana pada kas kecil menyesuaikan dengan seberapa banyak kebutuhan bagi penggunanya.

 

Dokumen yang Biasanya ada dalam Kas Kecil atau Petty Cash

Dalam melakukan pencatatan kas kecil atau petty cash, ada beberapa dokumen yang perlu diperhatikan salah satunya sebagai bukti yang bisa dipertanggungjawabkan adanya pengeluaran kas kecil.

Hal tersebut dilakukan untuk mencegah penyelewengan baik yang dilakukan oleh karyawan maupun manajemen. Beberapa dokumen yang perlu diperhatikan dalam petty cash adalah:

1. Bukti Kas Keluar

Dokumen ini bertujuan untuk memantau pergerakan pengeluaran kas. Dalam kasus kas kecil, bukti kas keluar digunakan untuk mengevaluasi ketika akan melakukan pengisian ulang saldo kas kecil.

2.Permohonan Pengeluaran Kas Kecil

Ketika saldo dalam petty cash tidak lagi memenuhi kebutuhan, maka pemegang kas kecil bisa mengajukan permohonan pengeluaran.

Pengisian kembali baru bisa diajukan ketika ada dokumen permintaan sebagai bukti pengeluaran untuk menjadi bahan pertimbangan.

3. Bukti Pengeluaran

Bukti pengeluaran termasuk dokumen terpenting yang tidak lepas dari aktivitas yang berasal dari kas kecil.

Dokumen tersebut nantinya dilampirkan bersamaan dengan laporan pengeluaran kas kecil yang terjadi sebagai bukti konkrit yang bisa dipertanggungjawabkan. Contohnya seperti kwitansi, nota, faktur dan bukti-bukti lainnya.

4. Permohonan Pengisian Kas Kecil

Ketika jumlah kas kecil tinggal sedikit, maka pemegang kas kecil atau petty cash perlu mengajukan pengisian ulang. Dokumen permohonan ini diperlukan sebagai bukti pengajuan untuk pengisian dana kas kecil.

Baca Juga: Mengenal Pengertian, Jenis, Fungsi & Contoh Invoice

 

Contoh Kasus Laporan Petty Cash atau Kas Kecil

Untuk lebih memahami bagaimana penerapan pencatatan petty cash atau kas kecil, marik simak contoh kasus berikut.

PT Sukses Selalu merupakan perusahaan yang mengalokasikan kas kecil pada bulan Februari 2021 dengan rincian sebagai berikut.

  • 1 Februari 2021: Penyerahan kas sebesar Rp 2.000.000 untuk kas kecil.
  • 3 Februari 2021: Pembelian snack untuk meeting dengan klien senilai Rp 100.000
  • 15 Februari 2021: Pembelian alat tulis kantor senilai Rp 100.000
  • 19 Februari 2021: Kunjungan ke kantor kolega di luar kota sebesar Rp 300.000
  • 26 Februari 2021: Pertanggungjawaban atas pengeluaran kas kecil dan pengisian kembali.

Berdasarkan kasus tersebut, mari buat contoh pencatatan kas kecil dengan dua metode yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya.

 

Cara Membuat Petty Cash dengan Metode Tetap (Imprest)

Pembentukan Dana Petty Cash atau Kas Kecil

Tanggal Keterangan Debit Kredit
1/02/2021 Dana Kas Kecil Rp 2.000.000
Rp 2.000.000

 

Pengisian Kembali Dana Petty Cash atau Kas Kecil

 

Tanggal Keterangan Debit Kredit
26/02/2021 Pembelian snack Rp 100.000
Pembelian ATK Rp 100.000
Perjalanan dinas Rp 300.000
Kas Rp 500.000

 

Keterangan:

Karena metode tetap dilakukan dengan mengumpulkan bukti-bukti transaksi terlebih dahulu, maka pencatatan hanya dilakukan ketika pemegang kas kecil melaporkan bukti transaksi atau saat melakukan pengisian kembali.

Sehingga dari pencatatan tersebut dapat diketahui pengisian kembali dana petty cash sesuai dengan jumlah pengeluaran yang tercatat yaitu Rp 500.000. Sehingga saldo kas kecil kembali menjadi Rp 2.000.000.

 

Cara Membuat Petty Cash dengan Metode Fluktuatif

Pembentukan Dana Petty Cash atau Kas Kecil

Tanggal Keterangan Debit Kredit
1/02/2021 Dana Kas Kecil Rp 2.000.000
Rp 2.000.000

 

Pembelian Snack untuk Rapat

Tanggal Keterangan Debit Kredit
3/02/2021 Pembelian Snack Rp 100.000
Rp 100.000

 

Pembelian Alat Tulis Kantor

Tanggal Keterangan Debit Kredit
15/02/2021 Pembelian ATK Rp 100.000
Rp 100.000

 

Perjalanan Dinas

Tanggal Keterangan Debit Kredit
19/02/2021 Perjalanan Dinas Rp 300.000
Rp300.000

 

Pengisian Kembali Dana Petty Cash atau Kas Kecil

Tanggal Keterangan Debit Kredit
1/02/2021 Dana Kas Kecil Rp 800.000
Rp 800.000

 

Penjelasan:

Dari mana angka Rp 800.000 pada pengisian kembali dana kas kecil? 

Angka tersebut hanya sebagai contoh. Karena pada metode fluktuatif, pengisian kembali dana petty cash berdasarkan kebutuhan pemegang dana tersebut.

Katakanlah pada pengisian kembali pemegang dana kas kecil membutuhkan Rp 800.000 maka pencatatan pengisian kembali ditulis sesuai angka kebutuhan tersebut.

Hal tersebut karena dalam metode fluktuasi pengisian kembali dana kas kecil tidak harus sesuai dengan jumlah pengeluaran yang terjadi sehingga saldo dana kas kecil akan berbeda dengan saldo saat pertama kali pembentukan dana petty cash.

Berdasarkan kasus tersebut di mana pada saldo awal kas kecil sebesar Rp 2.000.000 berubah menjadi Rp 2.300.000 yang berasal dari pengurangan saldo awal dengan jumlah pengeluaran ditambah pengisian kembali dana kas kecil di akhir periode.

 

Kesimpulan

Kas kecil bisa dikatakan sebagai dana tak terduga. Hal ini karena dana yang disimpan berdasarkan kebutuhan-kebutuhan kecil atau darurat di luar dana operasional perusahaan.

Sehingga pos-pos pengeluarannya pun berbeda-beda bagi tiap perusahaan. Misalnya saja ada perusahaan yang mencatat kasbon dalam kas kecil dan sebagian lagi dimasukkan ke dalam akun kas besar.

Selain itu metode pencatatan dana kas kecil atau petty cash sangat bergantung pada kebutuhan perusahaan Anda. Apakah perusahaan Anda lebih cocok menggunakan metode tetap atau fluktuatif.

 

Apabila anda membutuhkan pendamping akutansi untuk menyelesaikan berbagai masalah pencatatan dan pembukuan perusahaan anda, hubungi kami di sini.


March 25, 2021
WhatsApp-Image-2021-03-21-at-7.39.47-AM.jpeg

Dalam berbisnis, ada saat dimana biaya yang kita keluarkan dalam mengoperasikan bisnis menemui “titik impas”. Kondisi seperti ini dalam ilmu manajemen keuangan disebut dengan Break Even Point atau disingkat BEP.

Singkatnya begini, BEP adalah dimana biaya operasional yang digunakan sama besarnya dengan pendapatan yang didapat.

Kondisi keuangan yang Anda keluarkan untuk bisnis tidak untung maupun rugi sehingga berada di posisi yang seimbang.

Untuk lebih lengkapnya mengenai Break Even Point atau BEP mari simak penjelasan singkat berikut ini.

 

Pengertian Break Even Point

Masih banyak orang yang menyalah-artikan bahwa Break Even Point (BEP) merupakan balik modal. Padahal balik modal dan Break Even Point memiliki definisi yang berbeda.

Dalam istilah akuntansi, balik modal bisa diartikan sebagai return of investment dimana yang dihitung adalah modal yang Anda keluarkan untuk menjalankan bisnis sehingga mampu memberikan keuntungan pada jangka waktu tertentu.

Sedikit berbeda dengan balik modal, Break Even Point lebih memerhatikan besaran biaya operasional yang dikeluarkan berdasarkan aktiva tetap dan tidak tetap.

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, Break Even Point atau BEP merupakan titik dimana jumlah pendapatan sama dengan jumlah pengeluaran atau biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi barang/jasa atau yang disebut dengan titik impas.

Lebih jelasnya, Harahap pada bukunya Analisis atas Laporan Keuangan (2004) menjelaskan bahwa BEP merupakan kondisi dimana perusahaan tidak memperoleh laba dan tidak menderita kerugian. Itu artinya semua biaya yang dikeluarkan untuk operasi produksi bisa ditutupi oleh pendapatan dari penjualan produk.

Baca Juga: 5 Jenis Laporan Keuangan dan Pengertiannya

 

Fungsi Perhitungan Break Even Point (BEP)

Berbeda dengan return of investment dimana berfungsi sebagai analisis seberapa efisiensi penggunaan modal yang dikeluarkan untuk menjalankan usaha, analisis BEP membantu bagaimana perusahaan bisa mengefisiensikan produksinya untuk mencapai laba yang optimal.

Adapun fungsi atau tujuan perhitungan Break Even Point (BEP) sebagai berikut.

  1. Pengusaha mampu menentukan volume kapasitas produksi yang tersisa setelah BEP tercapai hal ini akan membantu perusahaan memproyeksikan laba maksimumnya.
  2. Pengusaha bisa menentukan langkah efisiensi kerja yang bisa dilakukan. Contohnya, mengurangi beban yang dianggap tidak perlu.
  3. Mengetahui perubahan nilai laba jika terjadi perubahan harga produk. Hal ini karena nilai BEP dengan harga produk dan laba memiliki hubungan linier. Itu artinya jika salah satu nilai tinggi maka elemen lainnya juga tinggi.
  4. Mampu mengetahui perubahan laba sehingga perusahaan bisa mengantisipasi nilai kerugian ketika terjadi penurunan penjualan.
  5. Pengusaha dapat menentukan margin untuk memperoleh keuntungan.

Intinya, adanya perhitungan BEP ini adalah sebagai pedoman bagi pengusaha untuk mengefisiensikan produksi untuk mendapatkan keuntungan yang optimal.

Pengusaha bisa menetapkan kebijakan-kebijakan ekonomis bagi bisnisnya pada periode mendatang. Pengusaha juga menjadi lebih jeli dalam memberikan inovasi pada produk-produknya.

 

Komponen Pembentuk Break Even Point

Tentu tidak lengkap jika membahas perhitungan BEP tanpa mengetahui komponen pembentuknya.

Ada empat komponen pembentuk perhitungan Break Even Point (BEP) yaitu biaya tetap, biaya variabel, harga jual, dan pendapatan. Berikut penjelasannya.

Biaya Tetap (Fixed Cost)

Biaya tetap atau fixed cost merupakan biaya yang nilainya tidak berubah meski ada perubahan operasional bisnis.

Perubahan yang dimaksud adalah ada atau tidaknya aktivitas operasional perusahaan untuk memproduksi barang pada periode tertentu. Misalnya biaya tenaga kerja, biaya sewa, atau biaya penyusutan peralatan.

Biaya Variabel (Variable Cost)

Berbeda dengan biaya tetap, biaya variabel nilainya berubah-ubah sesuai dengan kapasitas produksi. Biaya variabel bisa saja meningkat atau menurun sesuai dengan permintaan.

Misalnya biaya bahan baku, biaya transportasi, atau biaya lainnya yang berkaitan langsung dengan kapasitas produksi.

Harga Jual (Price)

Harga jual merupakan besaran harga setelah menentukan seluruh biaya produksi ditambah dengan nilai keuntungan atau margin. Harga jual biasanya dihitung per-unit setelah produksi.

Pendapatan (Revenue)

Pendapatan atau penghasilan merupakan perhitungan hasil yang didapat dari penjualan. Jumlah pendapatan didapat dari harga jual dikalikan dengan jumlah produk yang terjual.

Nilai pendapatan berfungsi untuk proyeksi pendapatan pada periode selanjutnya dengan nilai keuntungan dan/atau jumlah unit dan harga yang berbeda.

 

Perhitungan Break Even Point (BEP)

Break Even Point atau BEP umumnya dapat dihitung menggunakan tiga metode; metode persamaan, metode margin kontribusi dan metode grafik.

Meskipun memiliki perbedaan bentuk atau variasi analisis, namun pada dasarnya hasil akhirnya tetap sama.

Berikut penjabaran metode perhitungan Break Even Point.

Metode Persamaan

Metode persamaan merupakan metode yang digunakan berdasarkan laporan laba rugi.

Rumus pertama digunakan untuk mengetahui berapa unit jumlah barang/jasa yang harus diproduksi untuk mencapai BEP yaitu:

BEP (unit) = Total Biaya Tetap (Fixed Cost) / (Harga Jual Per Unit Produk – Biaya variabel setiap unit produk

Rumus kedua adalah untuk mengetahui berapa rupiah nilai penjualan yang harus diterima untuk mendapatkan titik impas. Adapun rumusnya sebagai berikut.

BEP (rupiah) = Total Biaya Tetap (Fixed Cost) / (1 – Biaya Variabel Setiap Unit Produk / Harga Jual Per Unit)

atau

BEP (Satuan Rupiah) = (Biaya Tetap / Harga Jual Per Unit – Biaya Variabel) x Harga Jual per Unit

BEP untuk produk ganda

BEP Produk Ganda = Biaya Tetap (Fixed Cost) / [(1 – v/c) x Wi]

Dimana v/c merupakan perbandingan variable cost atau biaya variabel dan harga jual.

Sedangkan Wi menyatakan persentase dari total penjualan tiap produk dalam rupiah atau bisa disebut dengan bobot kontribusi margin.

Pada keadaan BEP laba operasionalnya sama dengan nol sehingga menghasilkan jumlah produk yang dijual mencapai BEP ditambah biaya tetap.

Metode Kontribusi Unit

Metode kontribusi unit merupakan metode berdasarkan jumlah margin kontribusi. Margin kontribusi sendiri adalah selisih antara pendapatan dari hasil penjualan dengan biaya variabel.

Dengan menggunakan metode ini, pengusaha dapat mengetahui berapa keuntungan dari suatu produk yang berhasil dijual dengan mengukur hasil dari penjualan terhadap keuntungan.

Margin kontribusi unit = Pendapatan – Biaya variabel (Variable Cost)

Rasio Margin Kontribusi = Margin Kontribusi / Penjualan

Berdasarkan dasar rumus di atas akan menghasilkan rumus:

BEP (Unit) = Biaya Tetap / Margin Kontribusi per Unit

atau

BEP = Biaya Tetap / (Harga Jual – Biaya variabel)

Sedangkan untuk satuan rupiah:

BEP (Satuan Rupiah) = Biaya Tetap / Rasio Margin Kontribusi

Metode Grafik

Selain dengan metode persamaan, BEP atau Break Even Point dapat digambarkan melalui metode grafik.

Grafis BEP akan menunjukkan volume penjualan pada sumbu x atau garis horizontal dan biaya akan terletak pada sumbu y atau garis vertikal.

Nah, titik impas atau BEP terletak pada perpotongan antara garis volume penjualan dan garis biaya.

Untuk lebih jelasnya, Anda bisa melihat grafik di bawah ini.

Contoh grafik Break Event Point

Pada grafik tersebut, irisan pada sebelah kiri garis BEP merupakan sisi kerugian (loss) dan sebelah kanan merupakan sisi laba (profit).

Grafik BEP mampu mempermudah pengusaha untuk melihat dan mengevaluasi perubahan volume tahun lalu dan memproyeksikan volume penjualan pada tahun selanjutnya.

Menurut Henry Simamora dalam bukunya Akuntansi Manajemen (2012), melalui grafik BEP, hal yang penting bagi pengusaha untuk diperhatikan adalah selama harga jual melebihi biaya variabel, maka penjualan yang lebih banyak akan menguntungkan perusahaan baik dengan meningkatkan laba atau mengurangi kerugian.

Sehingga penting bagi perusahaan tetap beroperasi untuk mencegah kerugian yang lebih besar lagi.

 

Contoh Perhitungan Break Even Point (BEP)

Untuk membuktikan dan bisa lebih memahami analisis titik impas atau BEP, Anda bisa melihat contoh soal berikut ini.

Contoh:

Sebuah perusahaan yang memproduksi peralatan rumah tangga ingin mengetahui berapa unit yang harus diproduksi agar mencapai BEP atau titik impas.

Biaya tetap produksinya Rp 100.000.000 dan biaya variabel atau tidak tetap per-unit sebesar Rp 250.000. Harga jual per-unitnya sebesar Rp 500.000. 

Berapakah unit yang harus diproduksi agar perusahaan tersebut mencapai BEP?

Diketahui:

Biaya tetap produksi (Fixed Cost): Rp 100.000.000

Biaya variabel per unit: Rp 250.000

Harga jual per unit: Rp 500.000

Menghitung BEP dalam Unit maka persamaan yang digunakan adalah:

BEP (unit) = Total Biaya Tetap (Fixed Cost) / (Harga Jual Per Unit Produk – Biaya variabel setiap unit produk

BEP (Unit) = 100.000.000 / (500.000 – 250.000)

BEP (Unit) = 100.000.000 / 250.000

BEP (Unit) = 400 unit

Jadi, perusahaan tersebut harus memproduksi peralatan rumah tangga sebanyak 400 unit mencapai Break Even Point (BEP).

Untuk perhitungan berapa rupiah agar mencapai BEP maka;

BEP (Rupiah) = Total Biaya Tetap (Fixed Cost) / (1 – Biaya Variabel Setiap Unit Produk / Harga Jual Per Unit)

BEP (Rupiah) = 100.000.000 / (1 – 250.000/500.000)

BEP (Rupiah) = 100.000.000 / (1 – 1/2)

BEP (Rupiah) = Rp 200.000.000

Jadi, perusahaan tersebut harus bisa mencapai penjualan sebesar Rp 200.000.000 untuk mencapai titik impasnya.

Tidak sampai di situ, melalui perhitungan tersebut perusahaan bisa memproyeksikan target laba yang diinginkan menggunakan rumus:

BEP – Laba = (Biaya Tetap + Target Laba) / (Harga Jual Per Unit – Biaya Variabel)

Katakanlah perusahaan tersebut menargetkan laba sebesar Rp 50 juta per bulan maka,

BEP – Laba = (100.000.000 + 50.000.000) / (500.000 – 250.000)

BEP – Laba = 150.000.000 / 250.000

BEP – Laba (untuk target unit) = 600 unit

BEP – Laba (untuk target penjualan) = (jumlah unit x harga jual) = 600 x Rp 500.000 = Rp 300.000.000

Untuk membuktikan bahwa penjualan 600 unit bernilai Rp 300.000.000, perusahaan mendapatkan laba sebesar Rp 50 juta, maka bisa menggunakan metode berikut.

= Penjualan – (Biaya Tetap + Total Biaya Variabel)

= 300.000.000 – (100.000.000 + (600 unit x 250.000))

= 300.000.000 – 250.000.000

= Rp 50.000.000

Baca Juga: Laporan Keuangan UKM, Hal-Hal yang Wajib Anda Ketahui

Kesimpulan

BEP atau Break Even Point atau titik impas merupakan komponen keuangan dimana pengusaha mampu memproyeksikan berapa unit produk yang harus dijual atau berapa rupiah keuntungan yang harus dicapai agar berada di titik impasnya.

Hal ini tentu berguna bagi perusahaan untuk memproyeksikan langkah-langkah yang akan diambil dalam aktivitas penjualan mulai dari inovasi, variasi produk, hingga hal-hal yang bersifat operasional agar perusahaan mampu mencapai keuntungan yang optimal.


February 8, 2021
invoice-white_197463-348.jpg

Dalam proses jual beli, dibutuhkan yang namanya nota atau faktur sebagai bukti sah jika telah terjadi transaksi di antara penjual dan pembeli. Nota tersebut yang nantinya akan dijadikan sebagai alat klaim ketika ada permasalahan perhitungan atau ketidaksesuaian antara pesanan dengan barang yang diterima. Umumnya, faktur terdapat dua yaitu pembelian dan penjualan. Namun, pada ulasan ini hanya akan membahas seputar faktur penjualan beserta kegunaannya. 

Apa Itu Faktur Penjualan? 

Faktur penjualan merupakan salah satu bukti transaksi yang diterbitkan oleh Pengusaha Kena Pajak maupun Pengusaha Non PKP kepada konsumen setelah melakukan pembelian barang ataupun jasa yang sudah terdaftar untuk dikenakan pajak. Umumnya, faktur ini baru akan diterima oleh konsumen setelah melakukan pelunasan. Faktur atau nota ini pun dapat digunakan sebagai alat klaim ketika ada permasalahan di kemudian hari selama masih dalam masa garansi yang ditentukan oleh perusahaan atau toko penerbit faktur. 

Baca Juga: SPPKP: Keuntungan, Syarat, dan Cara Mendapatkannya

Fungsi Faktur Penjualan

Fungsi dari faktur penjualan adalah: 

  1. Sebagai informasi dan bukti sah setelah terjadi transaksi jual beli. 
  2. Sebagai informasi jumlah tagihan yang harus dibayarkan jika terjadi pembayaran secara kredit. 
  3. Sebagai bukti valid untuk melakukan klaim ketika terjadi kesalahan pada pesanan atau barang yang diterima. 
  4. Sebagai dokumen lampiran untuk membuat laporan keuangan. 
  5. Sebagai lampiran untuk pelaporan pajak. 

Cara Membuat Faktur Penjualan

Dalam pembuatan faktur penjualan, diperlukan isinya sesuai dengan format faktur penjualan yang sudah ditentukan, yaitu: 

  1. Identitas perusahaan, yang mana mencantumkan nama, alamat, serta logo. 
  2. Identitas pelanggan, yang mana mencantumkan nama, alamat. Namun, identitas ini bisa dilewati jika usahanya dalam bentuk retail atau eceran. 
  3. Nomor faktur, biasanya tiap perusahaan memiliki format masing-masing. Gunanya untuk memudahkan dalam pelacakan transaksi. 
  4. Tanggal terbitnya faktur atau tanggal ketika transaksi berlangsung. 
  5. Informasi detail barang yang ditransaksikan, berisi detail item, jumlah yang dibeli, harga. 
  6. Total yang harus dibayarkan oleh konsumen. Biasanya berisi subtotal, rincian tambahan pajak seperti PPN, BKP, diskon, serta total secara keseluruhan. 
  7. Nama terang kasir yang melakukan transaksi dan tanda tangannya. Pun ditambahkan nama terang dan tanda tangan konsumen. Hal ini menunjukkan jika transaksi dilakukan oleh kedua belah pihak dalam keadaan sadar. 

Contoh & Format Faktur Penjualan

Komponen-komponen dalam penerbitan faktur penjualan tersebut, dapat diimplementasikan seperti contoh berikut:

Contoh faktur penjualan 1

Contoh faktur penjualan 2

Dalam contoh faktur penjualan tersebut, terdapat informasi seperti format yang ditentukan, yaitu: 

  1. Identitas penerbit faktur. 
  2.  Identitas konsumen.
  3. Nomor faktur transaksi.
  4. Waktu terjadinya transaksi.
  5. Rincian detail tentang barang-barang yang ditransaksikan. 
  6. Total keseluruhan yang harus dibayarkan. 
  7. Nama terang dan tanda tangan kasir atau sales. 
  8. Nama terang dan tanda tangan konsumen. 
  9. Kolom untuk membubuhkan catatan tambahan jika diperlukan. 

Baca Juga: Kode Faktur Pajak, Bagian Faktur Pajak yang Wajib Dipahami PKP

Nah, kurang lebih itulah ulasan mengenai faktur penjualan beserta fungsi dan cara membuatnya. Anda dapat menggunakannya untuk referensi dalam membuat faktur penjualan untuk transaksi usaha yang dijalani. Semoga membantu.


February 3, 2021
WhatsApp-Image-2021-01-31-at-6.28.04-AM.jpeg

Seiring berjalannya waktu, banyak bisnis-bisnis baru bermunculan dengan berbagai barang atau jasa yang ditawarkan. Namun, tidak sedikit para pengusaha pemula ini yang belum menggunakan invoice dalam setiap transaksi yang dilakukan. Sejatinya, invoice atau bisa juga disebut faktur adalah bagian terpenting dalam berbisnis, lantaran dapat dijadikan alat untuk merekam segala transaksi yang terjadi, baik pembelian maupun penjualan. 

Pengertian Invoice

Invoice adalah surat tagihan yang diterbitkan oleh penjual untuk diserahkan kepada pelanggan setelah melakukan transaksi. Umumnya, format invoice harus berisi nama barang, harga, jumlah yang dibeli, serta total yang harus dibayarkan. Bisa juga ditambah informasi diskon jika memang ada atau piutang. 

Jenis-jenis Invoice

Invoice sendiri dalam dunia bisnis terdiri dari beberapa jenis. Di antaranya: 

  1. Invoice Biasa

Invoice biasa ini sering Anda jumpai setelah melakukan transaksi pembelian di pusat perbelanjaan, toko, atau bahkan rumah makan tertentu. Umumnya digunakan untuk jenis transaksi yang sifatnya sederhana. Dalam satu invoice, berisi keterangan nama barang, jumlah yang dibeli, harga per item, serta harga total yang harus dibayar, diskon. 

  1. Proforma Invoice

Proforma invoice bisa juga disebut sebagai faktur sementara yang akan diberikan oleh penjual kepada pembeli sebelum barang yang dibelinya diterima secara utuh. Bisa juga invoice ini disebut sebagai nota pengganti. Nantinya, setelah barang sudah dikirim secara keseluruhan, penjual akan mengganti proforma invoice dengan nota utuhnya. 

  1. Konsuler Invoice

Konsuler Invoice adalah jenis faktur yang biasa dipakai untuk melakukan transaksi ekspor impor antar negara. Biasanya, sebelum invoice diberikan kepada pembeli, penjual akan meminta legalisasi kepada perwakilan negara tujuan. Maka, tidak heran jika format invoice konsuler harus berisi persetujuan serta pengesahan dari perwakilan negara yang melakukan impor. Bisa juga diwakilkan oleh kantor konsuler, atase perdagangan, atau kedutaan besar dari negara yang mengimpor yang bertempat di negara yang mengekspor. 

Baca Juga: Panduan Bayar Pajak Mudah & Cepat dengan e-Billing

Fungsi Invoice

Fungsi dari invoice itu sendiri adalah: 

  1. Alat rujukan yang sah seandainya barang yang ditransaksikan akan dijual lagi kepada pihak ketiga. 
  2. Alat rujukan seandainya ada kesalahan dalam pengiriman pesanan atau perhitungan total yang harus dibayarkan. 
  3. Alat informasi yang berisi rincian barang serta harga yang sudah dibeli. 
  4. Alat bukti untuk melaporkan pajak setiap bulan maupun tahun. 
  5. Alat bukti yang dapat digunakan ketika hendak melakukan kredit oleh pengusaha. 
  6. Alat rujukan untuk melakukan pembukuan atau pelaporan keuangan. 

Cara Membuat Invoice dan Contoh Invoice

Invoice yang tepat, harus memiliki informasi berikut: 

  • Identitas perusahaan yang berisi nama, kontak yang bisa dihubungi, serta logo perusahaan. 
  • Identitas klien yang berisikan nama, kontak yang bisa dihubungi, serta alamat. 
  • Nomor invoice untuk memudahkan dalam pelacakan. 
  • Tanggal invoice diterbitkan. 
  • Tanggal jatuh tempo pembayaran ketika melakukan kredit. 
  • Rincian barang yang dibeli berisi nama barang, jumlah yang dibeli, harga. 
  • Jumlah total tagihan yang harus dibayar. 
  • Diskon jika ada. 
  • Cara pembayaran beserta ketentuannya. 

Namun, ada juga invoice yang tidak menggunakan identitas pembeli seperti nota supermarket, minimarket, atau rumah makan. 

Adapun contoh invoice adalah:

Contoh Invoice - Rusdiono Consulting

Itulah gambaran tentang jenis-jenis invoice beserta fungsi dan contohnya. Semoga bermanfaat.


December 21, 2020
clayton-robbins-ihqB-c8C7Bc-unsplash-1280x853.jpg

Aset-aset perusahaan yang mengalami perubahan nilai bukan hanya aset berupa uang saja. Seiring dengan berjalannya waktu, aset tak bergerak seperti mesin dan juga bangunan akan mengalami perubahan nilai. Di dalam ilmu akuntansi, perhitungan hal tersebut bisa dilakukan dengan metode penyusutan.

Apa yang dimaksud dengan metode penyusutan? Ia merupakan proses perhitungan nilai dan biaya aset selama ia digunakan. Penyusutan atau depresiasi ini mencakup beberapa faktor, seperti harga aset pada saat dibeli (acquisition cost), harga buku aset tetap, nilai residu, dan usia ekonomis.

 

Macam-macam Metode Penyusutan

Dalam dunia akuntansi, terdapat macam-macam metode penyusutan yang akan dibahas dalam penjelasan di bawah ini.

1. Metode Penyusutan Garis Lurus

Metode ini dipakai untuk menghitung aset tetap dengan biaya penyusutan yang sama alias stabil sampai dengan berakhirnya usia ekonomis aset itu. Metode ini biasanya dipakai untuk aset-aset semacam bangunan serta peralatan di kantor yang tidak terpengaruh oleh kuantitas produksi layaknya mesin cetak, mesin pemotong, dan lain sebagainya.

Terdapat dua cara menghitung penyusutan metode garis lurus, antara lain:

Perhitungan nilai sisa

Penyusutan = (Acquisition Cost-Nilai Sisa) : Usia Ekonomis

Perhitungan tanpa nilai sisa

Penyusutan = Acquisition Cost : Umur Ekonomis

 

2. Metode Penyusutan Saldo Menurun

Metode ini berkaitan dengan persentase harga buku aset pada suatu tahun. Rumusnya adalah:

Depresiasi = (2 x (100% : Usia Ekonomis) ) x Harga Beli/Nilai Buku Aset

 

3. Service Hours Method

Sesuai dengan namanya, metode ini erat kaitannya dengan produksi barang/jasa dalam kurun waktu tertentu. Rumus dari metode ini adalah sebagai berikut:

Penyusutan setiap tahun = Jam Kerja Tercapai x Tarif Penyusutan/Jam

Sementara itu, tarif penyusutan/jam dapat dihitung melalui rumus:

Harga Perolehan Nilai Sisa : Total Jam Kerja dari Pemakaian Aset Tetap

 

4. Sum of the Year Digit Method

Metode ini dipakai jika kita bermaksud untuk melihat penyusutan setelah jumlah tahun yang berlalu semenjak aset tersebut ada. Berikut rumusnya:

Penyusutan = Sisa Usia Pemakaian Aset : Jumlah  Tahun x Harga Perolehan Nilai Sisa

 

5. Metode Satuan Hasil Produksi

Metode ini merujuk pada satuan produk yang dihasilkan oleh aset tetap pada kurun waktu tertentu, misalnya setiap satu tahun sekali atau beberapa tahun sekali. Rumus dari metode ini adalah:

Beban Penyusutan Tahunan = Jam dari Satuan Produk x Tarif Penyusutan Setiap Produk

Cara menghitung tarif penyusutan per satuan produk adalah:

Tarif Penyusutan Per Satuan Produk = Harga Perolehan Nilai Sisa : Jumlah Produk yang Dihasilkan

Baca Juga: 5 Jenis Laporan Keuangan dan Pengertiannya

Itulah berbagai hal yang bisa Anda pahami terkait metode penyusutan. Dilihat dari segi rumus, metode yang satu ini terlihat mudah. Namun, untuk mengaplikasikannya, diperlukan ketelitian agar tidak terjadi kesalahan dalam menghitung berapa banyak penyusutan aset yang telah terjadi. 


December 17, 2020
scott-graham-OQMZwNd3ThU-unsplash-min-1280x854.jpg

Laporan keuangan konsolidasi merupakan gabungan laporan keuangan yang menyajikan informasi milik perusahaan induk dan anak perusahaan dalam satu laporan seolah mereka adalah entitas tunggal. Perusahaan tidak memerlukan laporan keuangan jika induk perusahaan tidak memiliki kontrol atau hak kendali terhadap anak perusahaannya. Laporan tersebut diperlukan jika perusahaan memenuhi syarat-syarat berikut:

  • Memiliki satu atau lebih entitas perusahaan (anak perusahaan) yang dibuktikan dengan kepemilikan saham.
  • Perusahaan induk memiliki saham lebih dari 50% terhadap anak perusahaan.
  • Perusahaan induk mempunyai saham tidak mencapai 50% tetapi masih memegang kendali penuh atas anak perusahaan.

Cara Membuat Laporan Keuangan Konsolidasi

Berikut langkah-langkah pembuatan laporan keuangan konsolidasi yang bisa Anda lakukan:

  1. Lakukan pemeriksaan secara keseluruhan terhadap laporan keuangan entitas induk dan entitas anak. Kemudian lakukan koreksi dan penyesuaian apabila teridentifikasi kelalaian atau kesalahan dalam pencatatan.
  2. Lakukan penyesuaian laporan untuk mengeliminasi laba-rugi masing-masing perusahaan
  3. Lakukan eliminasi pada dividen dan penghasilan anak perusahaan serta mengembalikan saldo investasi seperti awal periode.
  4. Lakukan penyesuaian untuk membuat catatan dari bagian kepentingan non pengendali atas laba dan dividen anak perusahaan.
  5. Eliminasi saldo resiprokal investment yang sebelumnya dilaporkan pada keuangan entitas anak.
  6. Lakukan alokasi dan amortisasi apabila terdapat selisih yang tidak wajar.
  7. Mengeliminasi saldo-saldo resiprokal lainnya (utang piutang, pendapatan, beban, dan lainnya).

Contoh Kasus 

Untuk lebih memahami pembuatan laporan keuangan konsolidasi, coba perhatikan contoh kasus berikut:

Sebuah perusahaan induk memiliki tiga anak perusahaan dengan struktur:

  • 90% saham di perusahaan Alfa, dan 10% milik publik.
  • 40% saham di perusahaan Beta dengan perusahaan induk masih memiliki kendali.
  • 20% saham di perusahaan Gama dan perusahaan induk tidak memiliki kendali.

Perusahaan induk akan membuat laporan keuangan konsolidasi dengan perusahaan Alfa dan Beta. Rumusan perhitungannya adalah sebagai berikut:

  • Aset: 100% aset Alfa + 100% aset Beta + 20% aset Gama. 
  • Liabilitas: 100% liabilitas Alfa + 100% liabilitas Beta. 
  • Ekuitas: 100% ekuitas Alfa + 100% ekuitas Beta. 
  • Pendapatan: 100% Alfa + 100% Beta. 
  • Laba kotor: 100% Alfa + 100% Beta. 
  • Bagian penghasilan (rugi) komprehensif lain dari entitas asosiasi: 20% Gama. 
  • Laba: 100% Alfa + 100% Beta + 20% Gama. 
  • Laba pemilik induk perusahaan: 90% Alfa + 40% Beta + 20% Gama. 
  • KNP (Kepentingan Non Pengendali): 10% Alfa + 60% Beta. 

Apabila anak perusahaan memiliki anak perusahaan lainnya atau ‘cucu’ perusahaan induk dan seterusnya, maka semuanya akan dikonsolidasikan. Tetapi, dengan catatan jika perusahaan induk masih memiliki kendali. Bila tidak memiliki kendali, cucu perusahaan tersebut tidak perlu ikut dilaporkan juga dalam laporan konsolidasi. 

Nah, kurang lebih itulah rincian cara membuat laporan keuangan konsolidasi beserta contohnya. Apabila perusahaan anda membutuhkan jasa pembuatan laporan keuangan profesional, kami menyediakan jasa pembuatan laporan keuangan dan jasa yang berhubungan dengan akuntansi dan pajak lainnya. Segera hubungi kami di sini.


Send this to a friend