Akuntansi Archives - RDN Consulting


Category filter:AllAkuntansiBlogEkonomiEventHukumInfografikKesehatanKeuanganKeuanganKonsultan PajakLaporan KeuanganManajemenPajakPajakTax ConsultationUncategorized
No more posts
August 24, 2021
WhatsApp-Image-2021-08-22-at-5.51.05-AM.jpeg

Setiap bisnis memiliki berbagai pilihan dalam menentukan metode penetapan harga. Harga yang didasarkan pada tiga hal utama yaitu biaya produksi, permintaan, dan persaingan. Namun sayang, banyak bisnis yang menetapkan harga tanpa banyak pertimbangan. 

Oleh karena itu, artikel ini akan membantu bisnis Anda untuk memilih salah satu metode berdasarkan produk atau layanan yang Anda berikan.

Umumnya, metode penetapan harga dapat secara luas diklasifikasikan menjadi dua bagian:

  • Metode Penetapan Harga Berdasarkan Biaya
  • Metode Penetapan Harga Berdasarkan Pasar

Berikut penjelasan lebih lanjut.

 

A. Metode Penetapan Harga: Biaya (Cost Oriented Pricing)

 

Banyak bisnis menganggap biaya produksi sebagai dasar untuk menghitung harga barang jadi. Metode penetapan harga berorientasi biaya mencakup cara penetapan harga berikut:

 

 

1. Cost-Plus Pricing 

 

Metode ini adalah metode penetapan harga paling sederhana. Produsen menghitung biaya produksi yang dikeluarkan dan menambah persentase tertentu dari markup untuk merealisasikan harga jual.

Markup adalah persentase keuntungan yang dihitung dari total biaya yaitu biaya tetap dan biaya variabel.

Contoh:

Jika Harga Pokok Produksi produk-A adalah Rp 5000 dengan markup 25% dari total biaya, harga jual akan dihitung sebagai berikut.

= Harga pokok produksi + Harga Pokok Produksi x Markup Persentase/100

= 5000+ 5000 x 0,25= 6250

Jadi, sebuah bisnis memperoleh laba sebesar Rp 125 (Laba = Harga jual – Harga pokok)

 

2. Markup Pricing

 

Metode ini adalah variasi biaya ditambah penetapan harga dengan persentase markup dihitung pada harga jual.

Contoh:

Jika biaya per unit sebuah coklat adalah Rp16.000 dan produsen ingin mendapatkan markup 20% dari penjualan maka harga markup adalah:

= Biaya Satuan/ 1 laba atas penjualan yang diinginkan

= 16.000/1-0,20 = 20.000

Jadi, produsen akan membebankan Rp20.000 untuk satu cokelat dan akan memperoleh keuntungan Rp4.000 per unit.

 

3. Target Return Pricing

 

Dalam metode penetapan harga semacam ini, bisnis menetapkan harga untuk menghasilkan Tingkat Pengembalian Investasi atau ROI yang diperlukan dari penjualan barang dan jasa. 

Contoh:

Jika produsen sabun menginvestasikan Rp1.000.000 dalam bisnis dan mengharapkan ROI 20% yaitu Rp 200.000, maka perhitungannya:

= Biaya Unit + (Pengembalian yang Diinginkan x modal yang diinvestasikan)/ penjualan unit 

= 16 + (0,20 x 100000)/5000 Target Return Pricing = Rp 20.000

Dengan demikian, produsen akan mendapatkan 20% ROI asalkan biaya dan unit penjualan akurat. Jika penjualan tidak mencapai 50.000 unit maka pabrikan harus menyiapkan grafik titik impas dimana ROI yang berbeda dapat dihitung pada unit penjualan yang berbeda.

 

Baca Juga: Apa itu Akuntansi Manajemen? Bagaimana Fungsi dan Tujuan Akuntansi Manajemen?

 

B. Metode Penetapan Harga: Pasar (Market Oriented Pricing Method)

 

Dalam metode ini, harga dihitung berdasarkan kondisi pasar. Berikut penjelasan lebih lanjutnya.

 

1. Perceived-Value Pricing

 

Dalam metode penetapan harga ini, produsen memutuskan harga berdasarkan persepsi pelanggan terhadap barang dan jasa dengan mempertimbangkan semua elemen seperti iklan, promosi, manfaat, kualitas produk, saluran distribusi, dll yang mempengaruhi persepsi pelanggan.

Contoh: 

Pelanggan membeli produk Sony meskipun produk dengan harga lebih murah tersedia di pasar, hal ini karena perusahaan Sony mengikuti kebijakan penetapan harga yang dipersepsikan di mana pelanggan bersedia membayar ekstra untuk kualitas dan daya tahan produk yang lebih baik.

 

 

2. Value Pricing

 

Dengan metode penetapan harga ini, bisnis merancang produk dengan harga rendah dan mempertahankan penawaran berkualitas tinggi.  Produk direkayasa ulang untuk mengurangi biaya produksi dan menjaga kualitas secara bersamaan.

Contoh:

Tata Nano adalah contoh terbaik dari metode yang satu ini. Beberapa mobil Tata dirancang dengan fitur terbaik dengan harga rendah dan tetap memenuhi kualitasnya. 

 

 

3. Going Rate Pricing

 

Dalam metode ini, bisnis mempertimbangkan harga pesaing sebagai dasar dalam menentukan harga penawarannya sendiri. Umumnya, harga kurang lebih sama dengan harga pesaing.

Contoh:

Di Industri Oligopolistik seperti baja, kertas, pupuk, dll, harga yang dikenakan hampir semua sama.

 

 

4. Auction Type Pricing

 

Metode penetapan jenis ini semakin populer dengan semakin banyaknya penggunaan internet. Beberapa situs online seperti eBay, Quikr, OLX, dll. menyediakan platform bagi pelanggan untuk membeli atau menjual komoditas. Ada tiga jenis lelang:

 

  • English Auctions: Ada satu penjual dan banyak pembeli. Penjual menempatkan barang di situs seperti Yahoo dan penawar menaikkan harga sampai harga terbaik tercapai.

 

  • Dutch Auctions: Ada satu penjual dan banyak pembeli atau satu pembeli dan banyak penjual. Dalam kasus pertama, harga terbaik diumumkan dan kemudian perlahan-lahan turun sesuai dengan penawar sedangkan pada jenis kedua pembeli mengumumkan produk yang ingin dibeli kemudian calon penjual bersaing dengan menawarkan harga terendah.
  • Sealed-Bid Auctions: Metode semacam ini sangat umum dalam kasus pembelian di pemerintahan, di mana tender mengambang di pasar, dan calon pemasok mengajukan penawaran mereka dalam amplop tertutup, tidak mengungkapkan penawaran kepada siapa pun.

 

 

 

 

5. Differential Pricing

 

Metode penetapan harga ini diterapkan ketika harga yang berbeda harus dibebankan dari kelompok pelanggan yang berbeda. Harga juga dapat bervariasi sehubungan dengan waktu, area, dan bentuk produk.

Contoh:

Contoh terbaik dari metode ini adalah Air Mineral. Harga air mineral bervariasi di hotel, stasiun kereta api, toko ritel.

 

Demikian penjelasan kami mengenai metode penetapan harga. Anda dapat mengadopsi salah satu metode penetapan harga ini tergantung pada jenis produk yang ditawarkan dan tujuan akhir penetapan harga. Semoga dapat membantu.


August 23, 2021
WhatsApp-Image-2021-08-22-at-5.36.41-AM.jpeg

Kinerja keuangan dalam arti luas mengacu pada sejauh mana tujuan keuangan perusahaan sedang atau telah dicapai dan menjadi aspek penting dari manajemen risiko keuangan.

Hal ini dilakukan untuk mengukur kesehatan keuangan perusahaan secara keseluruhan dalam waktu tertentu, dapat digunakan untuk membandingkan suatu perusahaan dengan perusahaan lain di industri yang sama atau membandingkan dengan industri berbeda.

Jadi, apa pengertian kinerja keuangan? Bagaimana kinerja keuangan suatu perusahaan dianalisis? Apa saja indikator yang dianalisis dan faktor apa saja yang mempengaruhi?

Simak artikel RDN Consulting berikut ini.

Apa Itu Kinerja Keuangan?

Kinerja keuangan adalah evaluasi suatu perusahaan mengenai aset, kewajiban, ekuitas, biaya, pendapatan, dan profitabilitas secara keseluruhan. Kinerja keuangan diukur melalui berbagai rumus dan formula yang memungkinkan Anda untuk mengetahui efektivitas perusahaan.

Secara internal, kinerja keuangan diperiksa untuk menentukan tolak ukur atau pencapaian perusahaan saat ini. Bagi eksternal, kinerja keuangan dianalisis untuk menentukan peluang investasi potensial dan untuk menentukan apakah suatu perusahaan layak bagi pihak eksternal tersebut.

Perusahaan dan kelompok yang berkepentingan seperti manajer, pemegang saham, kreditur, dan otoritas pajak berusaha menjawab pertanyaan penting seperti:

“Bagaimana posisi keuangan perusahaan pada titik waktu tertentu? Bagaimana kinerja keuangan perusahaan selama periode waktu tertentu?”

Namun sebelum analisis dilakukan pada indikator keuangan tertentu yang menghasilkan kinerja secara keseluruhan, analisis laporan keuangan perlu dilakukan terlebih dahulu.

Pengertian Analisis Laporan Keuangan

Analisis laporan keuangan adalah proses yang dilakukan oleh perusahaan pihak internal dan eksternal untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana kinerja perusahaan. 

Prosesnya terdiri dari menganalisis empat laporan keuangan penting dalam bisnis, antara lain: neraca perusahaan, laporan laba rugi, laporan arus kas, dan laporan tahunan. 

 

 

Neraca

 

Dalam analisis laporan keuangan, neraca perusahaan dilihat untuk menentukan efisiensi operasional bisnis.

Pertama-tama, analisis aset dilakukan, terutama pada aset penting seperti kas, inventaris, dan aset tetap, yang memprediksi pertumbuhan bisnis di masa mendatang.

Selanjutnya, kewajiban jangka panjang dan jangka pendek diperiksa untuk menentukan apakah ada masalah likuiditas di masa yang akan datang atau pembayaran utang yang mungkin tidak dapat ditanggung oleh perusahaan.

Terakhir, ekuitas pemilik perusahaan diperiksa, yang memungkinkan Anda untuk menentukan modal saham yang didistribusikan di dalam dan di luar perusahaan.

 

Baca Juga: Cara Membuat Neraca Saldo, Contoh, Fungsi & Manfaat

 

 

Laporan Laba Rugi

 

Dalam analisis laporan keuangan, laporan laba rugi bisnis diselidiki untuk menentukan profitabilitas saat ini dan masa mendatang secara keseluruhan.

Memeriksa laporan laba rugi fiskal perusahaan sebelumnya dan saat ini memungkinkan Anda untuk menentukan apakah ada tren pendapatan dan pengeluaran. Hal tersebut guna menunjukkan potensi untuk meningkatkan profitabilitas di masa yang akan datang.

Baca Juga: Membuat Laporan Laba Rugi Sederhana dengan Bentuk & Format Berbeda

 

 

Laporan Arus Kas

 

Laporan arus kas sangat penting dalam analisis laporan keuangan untuk mengidentifikasi pemasukan dan pengeluaran perusahaan. 

Jika satu segmen bisnis mengalami arus keluar yang besar, agar tetap bertahan, perusahaan harus menghasilkan arus masuk melalui pembiayaan atau penjualan aset.

 

 

Laporan Tahunan

 

Terakhir, laporan tahunan, yang memberikan informasi kualitatif untuk menganalisis lebih lanjut kegiatan operasional dan pembiayaan perusahaan dengan menyeluruh.

 

Setelah mengetahui bagaimana menganalisis laporan keuangan, Anda dapat mengukur kinerja keuangan perusahaan dengan cara berikut.

Indikator & Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Keuangan 

Melalui analisis kinerja keuangan, rumus dan rasio keuangan tertentu dihitung guna memberikan pemahamanan tentang kondisi dan kinerja keuangan perusahaan saat ini.

Terdapat tujuh rasio yang banyak digunakan dalam dunia bisnis untuk membantu dan mengevaluasi kinerja perusahaan secara keseluruhan. 

 

 

Margin Laba Kotor

 

Margin laba kotor adalah rasio yang mengukur jumlah sisa pendapatan yang tersisa setelah dikurangi harga pokok penjualan.

Rasio ini berguna karena menunjukkan persentase bagian dari setiap rupiah penjualan yang dapat digunakan untuk menutupi biaya operasional perusahaan.

 

Gross Profit Margin = ( Revenue – Cost of Sales) / Revenue x 100

 

 

Modal Kerja 

 

Pengukuran modal kerja digunakan untuk menentukan aset bersih likuid perusahaan yang tersedia untuk mendanai operasional sehari-hari.

Menentukan likuiditas dalam bisnis penting karena menunjukkan apakah perusahaan memiliki sumber daya yang dapat dengan cepat dikonversi menjadi uang tunai jika diperlukan.

 

Working Capital = Current Assets – Current Liabilities

 

 

Rasio Lancar

 

Rasio lancar adalah rasio likuiditas yang membantu bisnis menentukan apakah bisnis memiliki aset lancar yang cukup untuk menutupi atau membayar kewajiban lancarnya.

 

Current Ratio = Current Assets / Current Liabilities

 

 

Rasio Perputaran Persediaan

 

Rasio perputaran persediaan adalah rasio efisiensi yang digunakan untuk mengukur berapa kali perusahaan menjual rata-rata persediaannya dalam satu tahun fiskal.

Rasio ini menguntungkan karena memungkinkan perusahaan dengan mudah menentukan apakah persediaan sedang banyak permintaan, obsolete, dan lain sebagainya.

 

Inventory Turnover = (Cost of Sales) / ((Beginning Inventory + Ending Inventory) / 2)

 

 

Leverage

 

Leverage adalah pengganda ekuitas yang dihitung oleh bisnis untuk menggambarkan berapa banyak utang yang sebenarnya digunakan untuk membeli aset.

 

Leverage = Total Assets / Total Equity

 

 

Pengembalian Aset

 

Pengembalian aset, seperti namanya, membantu perusahaan menentukan seberapa baik asetnya digunakan agar lebih menguntungkan.

Jika aset tidak digunakan secara efektif, jumlah pengembalian aset perusahaan akan rendah.

 

Return of Assets (ROA) = Net Profit / ((Beginning + Ending Assets) / 2)

 

 

Pengembalian Ekuitas

 

Mirip dengan pengembalian aset, pengembalian ekuitas adalah rasio profitabilitas yang digunakan untuk menganalisis efektivitas ekuitas, yang pada gilirannya menghasilkan keuntungan bagi investor.

Pengembalian ekuitas yang lebih tinggi menunjukkan bahwa investor akan menghasilkan di tingkat yang jauh lebih efisien, yang lebih menguntungkan bagi bisnis secara keseluruhan.

 

Return on Equity = Net Profit / ((Beginning Equity + Ending Equity) /2)

 

Tujuan Analisis Kinerja Keuangan Perusahaan

Sejatinya, jenis analisis bervariasi sesuai dengan kepentingan khusus pihak yang terlibat. Berikut contohnya.

 

 

  • Kreditur: tertarik pada likuiditas perusahaan (penilaian likuiditas perusahaan). 
  • Pemegang obligasi: tertarik pada kemampuan arus kas perusahaan (penilaian struktur modal perusahaan, sumber utama dan penggunaan dana, profitabilitas dari waktu ke waktu, dan proyeksi profitabilitas masa mendatang.).
  • Investor:  tertarik pada pendapatan saat ini dan yang diharapkan di masa depan serta stabilitas pendapatan ini (penilaian profitabilitas perusahaan dan kondisi keuangan).
  • Manajemen: tertarik pada pengendalian internal, kondisi keuangan yang lebih baik dan kinerja lebih baik (penilaian kondisi keuangan perusahaan saat ini, evaluasi peluang dalam kaitannya dengan posisi saat ini, pengembalian investasi yang disediakan oleh berbagai aset perusahaan, dll.).

 

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kinerja keuangan perusahaan merupakan laporan kesehatan keuangan suatu perusahaan yang membantu berbagai pihak internal dan eksternal dalam mengambil keputusan. 

Ingin menganalisis dan mengukur kinerja keuangan perusahaan saat ini? Anda dapat berkonsultasi dengan salah satu jasa akuntansi RDN Consulting, yang memberikan layanan jasa akuntansi seperti laporan keuangan bisnis kecil maupun besar.

Bersama kami, Anda dapat mengetahui posisi dan kinerja keuangan saat ini, sehingga kontrol keuangan lebih efektif & membantu perusahaan berkembang. Segera hubungi kami sekarang.


August 16, 2021
WhatsApp-Image-2021-08-15-at-11.29.57-AM.jpeg

Selain laporan laba rugi, neraca, dan laporan arus kas, dalam siklus akuntansi entitas bisnis atau perusahaan juga mengenal laporan perubahan modal.

Seperti yang Anda ketahui, dalam siklus akuntansi modal perusahaan pasti akan mengalami perubahan. Entah itu berkurang atau bahkan menjadi sumber daya yang baru.

Selain itu, laporan perubahan modal juga dipengaruhi oleh laporan-laporan keuangan lainnya terutama laporan laba-rugi.

Untuk lebih jelasnya dalam memahami dasar laporan perubahan modal beserta cara membuatnya, simak terus artikel berikut ini.

 

Apa itu Laporan Perubahan Modal?

Sebelum memahami pengertian laporan perubahan modal, mari analogikan dulu kenapa modal perusahaan bisa berubah.

Misal, Anda membuka bisnis keripik dengan mengeluarkan modal sekian rupiah.Tentunya,  ketika menjalankan bisnis, Anda memanfaatkan modal tersebut.

Modal atau dalam istilah keuangan disebut ekuitas adalah sejumlah sumber daya berupa dana atau uang yang dikeluarkan oleh pemilik usaha atau pihak lain yang terlibat dalam jalannya perusahaan untuk kepentingan bisnis.

Salah satu pemanfaatan modal adalah untuk membeli aset usaha Anda dalam membuat keripik dan biaya-biaya terkait produksi keripik.

Misalnya untuk membeli mesin pembungkus, kuali, kompor. Sedangkan untuk biaya produksi Anda menggunakan modal tersebut untuk membeli bahan dan menyewa karyawan.

Dari cerita singkat tersebut, Anda pasti sudah memahami kenapa modal yang Anda keluarkan bisa berubah.

Perubahan modal ini nantinya wajib Anda laporkan dalam laporan keuangan berupa laporan perubahan modal.

Jadi, bisa disimpulkan bahwa laporan perubahan modal adalah salah satu jenis laporan keuangan yang berfungsi untuk menyajikan informasi perubahan modal dalam satu periode siklus akuntansi.

Sebagai tambahan, dalam laporan keuangan perusahaan di Indonesia, apalagi jika sudah go public dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), laporan perubahan modal ditempatkan setelah laporan posisi keuangan atau neraca dan laba rugi.

Selain itu apabila Anda mendengar istilah laporan laba ditahan atau laporan perubahan ekuitas disamakan dengan laporan perubahan modal, maka itu tidak salah.

Ketiga istilah sama-sama benar dan kerap digunakan oleh banyak perusahaan sebagai penyebutan laporan perubahan modal.

 

Alasan Kenapa Modal Bisa Berubah

Di atas, secara sederhana Anda sudah mengetahui kenapa modal bisa berubah dalam satu periode operasional usaha.

Namun secara komprehensif, Anda bisa mengidentifikasi lebih jauh kenapa modal suatu usaha bisa berubah. Berikut alasannya:

  • Adanya kenaikan ekuitas atau modal. Baik yang berasal dari laba maupun tambahan investasi yang mengakibatkan modal kerja bertambah.
  • Adanya penambahan atau pembelian aktiva (aset) tetap yang menyebabkan berkurangnya modal kerja.
  • Adanya pengurangan aset atau aktiva tetap karena adanya penjualan atau mengalami depresiasi yang mengakibatkan penambahan modal kerja.
  • Pengambilan modal yang dilakukan oleh pemilik perusahaan atas dasar kepentingan pribadi atau prive.
  • Adanya penambahan utang jangka panjang baik dalam bentuk obligasi, hipotek, atau bentuk lainnya yang diimbangi dengan bertambahnya aset lancar. Hal ini akan menyebabkan modal kerja bertambah.
  • Perusahaan menderita kerugian baik yang sifatnya normal maupun accidental.
  • Adanya pembentukan dana atau pemisahan aktiva lancar untuk tujuan tertentu dalam jangka panjang. Maka hal ini akan mengurangi modal kerja.

Fungsi Laporan Perubahan Modal

Selain untuk dokumentasi, salah satu fungsi utama dalam membuat laporan perubahan modal adalah untuk mengetahui kinerja perusahaan terutama dalam hal pemanfaatan modal.

Itu artinya, laporan perubahan modal juga berfungsi sebagai acuan perusahaan dalam mengambil keputusan strategis.

Misal apakah laba akan didistribusikan dalam bentuk dividen atau akan digunakan lagi untuk operasional? Seberapa banyak laba akan ditahan?

Perlu diingat, perubahan modal pada usaha Anda bukanlah pertanda buruk. 

Perubahan modal sejatinya diperlukan agar perusahaan tetap bisa beroperasi bahkan mampu meningkatkan produktivitasnya.

Jika modal perusahaan bertambah, perusahaan bisa memanfaatkannya untuk meningkatkan kualitas atau diversifikasi produk.

Komponen atau Unsur Laporan Perubahan Modal

Secara umum, laporan perubahan modal memuat beberapa komponen atau unsur informasi yang setidaknya memuat hal-hal berikut.

1. Modal Awal

Modal awal adalah sejumlah dana yang diperoleh dari investasi pemilik atau penambahan investasi yang biasanya digunakan untuk aktivitas operasional usaha.

Dalam siklus akuntansi. modal awal juga bisa dikatakan sebagai saldo modal pada awal periode keuangan yang tercatat pada periode sebelumnya.

2. Saldo Laba Rugi

Saldo laba rugi pada periode tertentu yang ada dalam laporan laba rugi atau kolom neraca lajur bagian laba rugi.

Komponen saldo laba rugi juga mencakup laba ditahan atau tidak dibagi dan juga laba bersih.

Laba ditahan maksudnya adalah laba tersebut tidak dibagi sebagai dividen atau laba tersebut dijadikan kembali sebagai modal.

Sedangkan laba bersih merupakan perhitungan dari total penghasilan dikurangi beban dan juga pajak. Selain itu, kerugian juga dapat dicatat apabila pada lajur laba rugi bernilai kredit.

3. Dividen

Pembayaran dividen yang dilakukan pada periode pelaporan kepada pemegang saham dengan cara mengurangi dari modal atau ekuitas yang dimiliki oleh setiap pemegang saham.

Baca Juga: Pajak Dividen, Tarif Pajak hingga Contoh Perhitungannya!

4. Prive

Seperti yang telah disebut-sebut sebelumnya, prive atau pengambilan dana pribadi juga dapat dicatat dalam laporan perubahan modal.

5. Modal Akhir

Saldo cadangan modal yang dimiliki oleh perusahaan atau para pemegang saham pada akhir periode pelaporan.

Ada beberapa cara untuk mencari nilai modal akhir. Jika perusahaan dalam posisi untung maka rumusnya adalah modal awal ditambah perbandingan laba bersih dengan prive.

Sedangkan apabila saldo bernilai rugi, maka rumusnya adalah perbandingan rugi bersih ditambah prive.

6. Lain-Lain

Ada juga komponen lain misalnya pengaruh koreksi kesalahan pada periode sebelumnya, perubahan cadangan revaluasi, perubahan modal saham, atau pengaruh kebijakan akuntansi.

Perlu diingat, setiap perusahaan sebenarnya memiliki standar komponen atau unsur laporan yang berbeda-beda. Tergantung situasi atau jenis usaha perusahaan tersebut.

Misal, laporan perubahan modal usaha jasa dan dagang biasanya memiliki komponen yang sedikit berbeda.

Dengan kata lain, unsur-unsur atau komponen laporan yang disebutkan di atas bukan komponen mutlak atau wajib.

Contoh Laporan Perubahan Modal

Setelah Anda memahami apa itu laporan perubahan modal. Anda juga perlu memahami laporan jenis ini secara praktikal melalui contoh.

Seperti yang telah dibahas pada awal artikel, laporan perubahan modal dalam perusahaan berada di bawah laporan laba rugi.

Itu artinya, Anda harus membuat laporan laba rugi terlebih dahulu sebelum membuat laporan perubahan modal.

Selain itu, dalam perhitungan perubahan modal juga memerlukan statement berapakah laba atau rugi yang dimiliki oleh perusahaan sehingga penting bagi Anda untuk membuat laporan laba rugi terlebih dahulu.

Misal, diketahui PT XYZ memiliki laporan laba rugi usahanya di tahun 2020 sebagai berikut.

Contoh Laporan Laba Rugi

Kemudian, dari laporan laba rugi tersebut, maka dapat disusun laporan perubahan modal sebagai berikut.

Contoh Laporan Perubahan Modal

Contoh di atas bukanlah format baku. Kembali lagi, formal laporan perubahan modal sangat tergantung dengan situasi atau kebutuhan perusahaan.

 

Baca Juga: Membuat Laporan Laba Rugi Sederhana dengan Bentuk & Format Berbeda

Kesimpulan

Pada dasarnya, laporan perubahan modal merupakan laporan mini sebagai pedoman komprehensif untuk laporan keuangan secara menyeluruh.

Meski bersifat mini, laporan perubahan modal juga dianggap sama pentingnya dengan laporan keuangan lain karena mampu mengarahkan perusahaan dalam menentukan arah kebijakan. Terlebih jika berbicara terkait distribusi dividen.

Sebagai pengetahuan, perusahaan yang secara konsisten mendistribusikan dividen merupakan perusahaan mapan atau mature karena peluang bertumbuhnya lebih kecil.

Baik, itulah pembahasan singkat mengenai laporan perubahan modal. Apabila Anda membutuhkan konsultasi bisnis, Anda bisa menghubungi Kami, Rusdiono Consulting.

Temukan juga artikel tentang keuangan, bisnis, dan perpajakan lainnya yang disajikan oleh Rusdiono Consulting di sini.


August 10, 2021
WhatsApp-Image-2021-08-07-at-12.10.14-PM.jpeg

Ketika Anda memproduksi barang dan ternyata permintaannya melebihi ekspektasi, maka mau tidak mau Anda akan menambah biaya produksi lagi. Biaya tersebut yang dinamakan dengan biaya marjinal atau marginal cost.

Bukan tidak mungkin, bahwa bila Anda mengoperasikan sebuah usaha atau bisnis, ada momen dimana Anda akan mengeluarkan biaya marginal.

Jika pada contoh di atas situasinya terdapat penambahan produksi, biaya marginal juga bisa saja timbul karena adanya kejadian yang merugikan.

Lantas, apa itu biaya marginal dan kenapa perusahaan perlu memahami ini? simak artikel berikut ini.

 

Pengertian Biaya Marginal

Di dalam ilmu ekonomi mikro atau lebih sempitnya biaya produksi, biaya marginal adalah perubahan total biaya produksi yang berasal dari penambahan unit produksi.

Contoh sederhana, misal Anda membuka usaha roti. Biasanya Anda memproduksi 50 roti dalam sebulan dengan biaya Rp1.000.0000.

Nah ternyata, ada peningkatan permintaan yaitu 10 roti dengan tambahan biaya Rp50.000. Nah biaya Rp50.000 ini merupakan biaya marginal.

Sudah disebutkan sebelumnya, bahwa biaya marginal adalah perubahan biaya produksi yang berarti terdiri dari biaya tetap dan tidak tetap.

Namun, perubahan total biaya produksi atau adanya biaya marginal umumnya total biaya produksi hanya merupakan biaya marginal.

Kenapa demikian? Mari ingat sedikit tentang teori biaya tetap dan biaya tidak tetap.

Biaya tetap atau fixed cost tidak mengalami perubahan apabila terjadi perubahan jumlah produksi.

Namun biaya tetap per unit akan terus berkurang seiring perubahan produksi namun tidak sampai ke titik nol.

Sedangkan biaya variabel dipengaruhi dengan jumlah produksi. Menambah unit produksi berarti menambah biaya variabel.

Sehingga banyak pebisnis, ketika menghitung biaya marginal, mereka mengabaikan biaya tetap. Kecuali memang ada penambahan biaya tetap itu sendiri. Misal, menambah daya listrik atau menambah gudang produksi.

Baca Juga: Pengertian Manajemen Biaya, Konsep hingga Langkah Penerapannya

Rumus dan Cara Menghitungnya

Banyak pembahasan yang membahas bagaimana sebenarnya cara menghitung biaya marginal.

Pedoman umum yang biasanya digunakan untuk menghitung biaya marginal adalah prinsip yang dikemukakan Michael Parkin melalui buku nya Microeconomics dan Karl E. Case CS dengan bukunya The Principle of Economics.

Meskipun keduanya memiliki pendekatan yang berbeda. Lebih jauh, prinsip keduanya tidak ada yang salah dan bisa digunakan dalam praktik perhitungan biaya marginal.

Namun kali ini, untuk mengetahui rumus perhitungan atau cara menghitung biaya marginal maka pada tulisan ini akan menggunakan prinsip yang dikemukakan oleh Michael Parkin.

Beliau menjelaskan bahwa biaya marginal merupakan operasi hitung antara perubahan biaya produksi dibagi dengan perubahan jumlah unit.

Jika dirumuskan akan seperti ini:

Biaya Marginal = Perubahan Total Biaya Produksi / Perubahan Jumlah produksi

Sebagai ilustrasi, Aldi produsen sepatu yang saat ini berhasil memproduksi 50 pcs dengan total biaya produksi sekitar Rp30.000.000.

Namun Aldi ingin menambah produksinya menjadi 80 pcs dan diperkirakan akan memakan biaya sebesar Rp50.000.000.

Berarti biaya marginalnya adalah selisih dari total biaya produksi (Rp50.000.000 – Rp30.000.000  = Rp20.000.000) dibagi dengan selisih jumlah produksi (80 – 50 pc = 30 pc).

Maka biaya produksi marginalnya adalah Rp20.000.000/30 = Rp670.000.

Pembahasan

Mari bandingkan ketika Aldi memproduksi sepatu pada jumlah normal yaitu 50 pcs, biaya produksinya adalah Rp600.000 (Rp30.000.000 dibagi 50 pcs).

Kesimpulannya, Rp670.000 merupakan biaya produksi optimal agar Aldi bisa mendapatkan keuntungan.

Apabila Aldi nekat untuk menambah unit lagi di atas batas itu, kemungkinan besar biaya produksi tambahan juga akan naik. Mau-tidak-mau Aldi harus menaikkan harga.

Namun menaikkan harga dalam jangka pendek seperti itu akan memengaruhi keuntungan perusahaan, menurunkan daya saing, atau bahkan kehilangan konsumen.

Jadi, Aldi mau tidak mau harus menahan untuk tidak memproduksi lebih dari 80 pcs sepatu.

Singkatnya, biaya marginal bisa dikatakan optimal atau dapat memberikan keuntungan apabila biaya marginal (marginal cost) sama dengan pendapatan marginal (marginal revenue).

 

Kurva Biaya Marginal

Untuk mengetahui lebih jelasnya pengaruh biaya marginal dengan keputusan bisnis Anda, coba simak kurva dari grafik berikut ini.

Kurva Biaya Marginal

Untuk menganalisis biaya marginal, Anda tidak bisa melakukannya dengan satu faktor saja yaitu biaya marginal itu sendiri. 

Ada faktor pembanding yang harus Anda lihat. Faktor pembanding yang paling umum dan mudah adalah faktor biaya rata-rata (average cost).

Dalam grafik tersebut, para ekonom sepakat bahwa ketika biaya marginal lebih rendah dibanding biaya rata-rata (grafik pada posisi sebelah kiri), maka perusahaan berada pada skala ekonomis.

Maksudnya, pada skala ekonomis perusahaan bisa mengoptimalkan keuntungannya atau bahkan menciptakan competitive advantages.

Setelah kurva marginal cost dan average cost (lihat grafik) bertemu, baik biaya marginal maupun biaya rata-rata, angkanya akan terus menaik.

Namun, biaya marginal lebih tinggi dibanding dengan biaya rata-rata. Kondisi ini, bisa dibilang merupakan kondisi disekonomis.

Pada skala ini, perusahaan dianjurkan untuk menahan atau tidak melakukan penambahan unit produksi karena akan berdampak pada kerugian perusahaan.

 

Fungsi Biaya Marginal

Analisis biaya marginal sejatinya memiliki fungsi untuk membantu pelaku usaha dalam mengambil keputusan untuk mengoptimalkan keuntungan.

Misal, Anda penjual roti yang menjual 10 roti. Namun karena situasi tertentu, Anda ingin menambah unit produksi. 

Di sinilah peran analisis biaya marginal yang akan membantu Anda dalam menentukan berapa unit yang harus ditambah dalam produksi.

Memproduksi terlalu berlebihan atau terlalu cepat akan berdampak buruk bagi keuntungan. Sebaliknya, memproduksi terlalu lambat atau terlalu sedikit juga akan memiliki dampak yang sama.

Dari contoh di atas misalnya. Ketika Anda ingin menambah produksi dari 10 roti ke 11 roti ternyata membutuhkan biaya Rp5.000 per roti. Sedangkan dari 10 roti ke 12 roti membutuhkan biaya Rp6.000 per roti.

Namun, karena berbagai pertimbangan, entah karena daya beli konsumen, persaingan atau harga pasar, Anda menjual roti umumnya Rp5.500 per roti.

Berdasarkan kasus tersebut, berapa unit yang Anda akan tambahkan ke dalam produksi roti Anda? 11 unit atau 12 unit?

Tentu, Anda akan lebih memilih untuk menambah produksi menjadi 11 unit karena masih ada margin keuntungan Rp500.

Dengan kata lain jika biaya marginal Anda Rp1.000, maka Anda mau tidak mau harus menahan diri untuk menambah produksi ketika lebih atau bahkan mencapai biaya marginal itu.

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, mengetahui biaya marginal juga membantu melihat skala ekonomis sebuah perusahaan. Pada angka berapa perusahaan bisa melakukan competitive advantages.

Competitive advantages yang dimaksud misalnya menawarkan harga produk yang lebih kompetitif atau bahkan melakukan diversifikasi produk.

Itulah penjelasan singkat mengenai biaya marginal. Semoga artikel ini bisa memberikan sedikit pengetahuan bagi Anda yang ingin atau sedang menjalankan bisnis.

Apabila Anda membutuhkan konsultasi bisnis dan perpajakan, Anda bisa menghubungi Kami, Rusdiono Consulting melalui tautan berikut ini


August 9, 2021
WhatsApp-Image-2021-08-07-at-11.45.47-AM-1.jpeg

Dalam akuntansi, ada jenis jurnal yang sebenarnya tidak perlu Anda buat atau sifatnya opsional. Salah satunya adalah jurnal pembalik.

Maksudnya opsional adalah jurnal tersebut dibuat ketika Anda membutuhkannya.Terutama ketika Anda ingin mengurangi kesalahan dalam pencatatan akuntansi. 

Untuk memahami lebih lanjut, dalam artikel ini, Rusdiono Consulting akan menjelaskan apa itu jurnal pembalik dan bagaimana cara penyusunan sederhananya.

 

Pengertian Jurnal Pembalik

Singkatnya, jurnal pembalik atau yang disebut juga dengan reversal entry adalah jurnal opsional yang membalik jurnal penyesuaian yang menimbulkan akun riil baru.

Seperti yang Anda tahu, akun riil merupakan akun yang terus ada dan berlangsung pada periode akun berikutnya. Itu artinya akun riil tidak pernah ditutup ketika ada perpindahan periode.

Dengan kata lain, saldo pada akun riil akan terus tersaji selama perusahaan terus mengoperasikan bisnisnya.

Perusahaan sering kali membutuhkan jurnal pembalik untuk membantu mereka dalam menyederhanakan pencatatan ketika ingin memasuki periode akuntansi selanjutnya.

Oleh karena itu, jurnal pembalik biasanya disusun atau dibuat ketika memasuki atau mengawali periode akuntansi selanjutnya.

Dan atas alasan itu pula, kenapa jurnal pembalik disebut juga jurnal opsional, karena sejatinya perusahaan tidak benar-benar membutuhkan jurnal pembalik dan kembali lagi sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

Tujuan dan Fungsi Disusunnya Jurnal Pembalik

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, menyusun jurnal pembalik membantu perusahaan untuk mempermudah atau menyederhanakan pencatatan akun riil baru pada awal periode selanjutnya.

Namun ternyata ada manfaat lainnya yaitu sebagai berikut:

  • Jurnal pembalik bertujuan untuk mengurangi kesalahan atau kekeliruan dalam pencatatan yang mungkin bisa saja terjadi. Misalnya pencatatan berganda dalam penyusunan ayat jurnal penyesuaian.
  • Mempermudah perusahaan dalam pengawasan untuk menjaga konsistensi pencatatan pada akun-akun tertentu.
  • Meningkatkan akurasi dan efisiensi perusahaan dalam mencatat dan mengelola proses akuntansi.

Akun yang Bisa Dicatat dalam Jurnal Pembalik

Sebelum memahami akun apa saja yang dicatat di dalam jurnal pembalik, Anda perlu memahami dua term atau istilah jenis-jenis akun yang terdiri dari akun riil (akun neraca) dan akun nominal (akun laba-rugi).

Akun nominal adalah akun yang ditutup pencatatannya pada satu periode bersangkutan dan biasanya masuk ke dalam laporan laba-rugi. Akun nominal umumnya terdiri dari pendapatan dan beban.

Sedangkan akun riil seperti yang sudah sebelumnya adalah akun yang saldonya akan terus ada atau tercatat pada periode selanjutnya. Itu artinya akun riil ini bersifat tetap.

Akun riil sendiri terdiri dari harta atau aktiva baik yang sifatnya tetap maupun tidak tetap, utang atau liabilitas,dan juga modal.

Oleh karena jurnal pembalik mencatat akun riil yang baru pada jurnal penyesuaian, maka akun yang bisa dicatat tentu akun-akun riil.

Untuk mempermudah Anda mengidentifikasi akun apa saja yang dicatat pada jurnal penyesuaian ke jurnal pembalik, berikut Kami jabarkan akun-akunnya secara sederhana.

1. Akun Beban (Utang) yang Masih Harus Dibayar

Umumnya akun beban yang masih harus dibayar akan berlanjut pada periode akuntansi berikutnya sehingga dapat ditulis dalam jurnal pembalik.

2. Akun Beban (Utang) yang Dibayar di Muka

Akun beban yang dibayar di muka umumnya belum dicatat namun sudah dibayarkan pada periode tersebut sehingga perlu dibuat di dalam jurnal pembalik.

3. Akun Pendapatan yang Masih Harus Diterima (Piutang)

Meski pendapat itu masuk ke dalam akun laba-rugi, namun karena pendapatan tersebut belum diterima oleh perusahaan, maka akun ini dianggap ke dalam akun neraca, Dalam hal ini adalah piutang.

4. Akun Pendapatan yang Diterima di Muka

Akun dimana pendapatan diterima perusahaan ketika awal transaksi namun pembayaran belum dilakukan sepenuhnya oleh pembeli.

Biasanya konsumen atau pembeli akan membayar sepenuhnya ketika pekerjaan yang diminta telah selesai atau produk yang diminta telah tersedia.

5. Pemakaian Peralatan yang Tercatat sebagai Beban

Akun selanjutnya adalah pemakaian peralatan tercatat sebagai beban atau masuk ke dalam akun kredit.

Itu artinya perusahaan masih memiliki beban atas peralatan tersebut dan harus masuk ke dalam jurnal pembalik.

Contoh dan Cara Membuat Jurnal Pembalik

Jika membahas secara teori, maka tidak lengkap untuk tidak mempraktekkannya. Untuk itu Anda juga harus memahami contoh dan cara membuat jurnal pembalik.

Catatan, dalam artikel ini, Kami menggunakan contoh sederhana dan bertujuan agar Anda bisa mengidentifikasi akun mana yang boleh dicatat ke dalam jurnal pembalik atau tidak.

Simak ilustrasi contoh sebagai berikut.

Misal, Abdul pengusaha roti dan telah membuat jurnal penyesuaian yang telah dilakukan pada bulan Desember 2020 dengan rincian sebagai berikut.

 

Tanggal Akun Debit Kredit

31

Biaya Perawatan Pemanggang

Akumulasi Biaya Perawatan Pemanggang

Rp200.000

Rp200.000

Gaji Karyawan

Gaji Karyawan yang belum dibayar

Rp20.000.000

Rp20.000.000

Pendapatan yang masih harus diterima dari distributor

Pendapatan

Rp50.000.000

Rp50.000.000

 

Dari jurnal penyesuaian di atas, kira-kira akun mana yang bisa dimasukkan ke dalam jurnal pembalik?

Pertama, akun Biaya Perawatan Pemanggang. Apakah akun ini bisa dimasukkan ke dalam jurnal pembalik? Jawabannya tidak bisa karena biaya perawatannya sudah diakumulasikan dan didebitkan.

Itu artinya, Abdul pada periode tersebut sudah membayar biaya perawatan pemanggang sehingga akun tersebut tidak perlu dimasukkan ke dalam jurnal pembalik.

Selanjutnya, akun gaji karyawan. Karena beban gaji karyawan dikreditkan itu artinya perusahaan masih harus membayar gaji karyawan sejumlah sekian dan menjadi utang perusahaan.

Dengan kata lain, akun tersebut boleh dicatat ke dalam jurnal pembalik. Demikian pula dengan pendapatan yang masih harus diterima Abdul dari distributor.

Kenapa? Karena akun tersebut merupakan piutang dimana konsumen atau distributor roti Abdul belum melunasi pembayaran.

Dari pembahasan di atas maka Abdul bisa membuat jurnal pembalik yang dibuat pada Bulan Januari 2021 sebagai berikut.

Tanggal Akun Debit Kredit

31

Gaji Karyawan yang belum dibayar

Gaji Karyawan

Rp20.000.000

Rp20.000.000

Kas

Pendapatan yang masih harus diterima dari distributor

Rp50.000.000

Rp50.000.000

 

Sama seperti istilahnya, jurnal pembalik yaitu membalik akun debit ke akun kredit dan sebaliknya dimana hal ini akan mempermudah perusahaan dalam pencatatan akuntansi di periode tersebut.

Namun kembali lagi, jurnal pembalik sifatnya opsional. Boleh digunakan atau tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan. 

Karena pada akhirnya kebenaran laporan keuangan adalah hal yang paling penting dan mampu memiliki dampak bagi perusahaan, perusahaan juga sebaiknya menggunakan jurnal pembalik.

Itulah penjelasan singkat mengenai jurnal pembalik. Apabila Anda membutuhkan konsultasi keuangan terkait bisnis, Anda bisa menghubungi Kami, Rusdiono Consulting.

Temukan juga artikel-artikel terkait perpajakan dan bisnis kami lainnya hanya di website Rusdiono Consulting.


August 2, 2021
WhatsApp-Image-2021-08-01-at-5.08.03-PM.jpeg

Aset atau barang yang dimiliki oleh perusahaan pasti akan mengalami penurunan nilai ekonomis atau penyusutan yang nantinya dianalisis melalui nilai residu.

Nilai ekonomis yang dimaksud adalah nilai manfaat dari suatu barang. Misalnya, sebuah mesin produksi tidak mungkin akan berada pada kondisi yang sama dari tahun ke tahunnya.

Penurunan kondisi ini akan memengaruhi langsung fungsi dan nilai manfaat dari mesin itu sendiri. Mau tidak mau, Anda perlu mengeluarkan biaya untuk merawat atau bahkan menggantinya.

Nilai residu nantinya berguna bagi Anda yang ingin menentukan arah operasional melalui nilai ekonomis suatu aktiva yang telah dimanfaatkan.

Pengertian dan Peran Nilai Residu dalam Bisnis

Seperti yang Anda telah ketahui, sebuah aset yang digunakan untuk operasional bisnis akan mengalami penyusutan.

Penyusutan yang dimaksud adalah penurunan nilai ekonomis. Contoh, mesin sablon yang Anda gunakan, tiap tahun atau tiap periode tertentu pasti akan mengalami “penurunan fungsi”.

Entah itu risiko kerusakan karena sering digunakan atau bahkan jarang digunakan, Anda pasti akan mengupayakan bagaimana agar mesin sablon tersebut tetap berfungsi. 

Dengan cara apa? Merawatnya atau jika sudah mengalami kerusakan, Anda mau tidak mau harus menggantinya, kan?

Nah, keputusan tersebut akan sangat bergantung dengan besaran biaya penyusutan yang berpengaruh pada aset usaha Anda, dalam hal ini mesin sablon tadi misalnya.

Tentu juga hal tersebut akan memengaruhi laba perusahaan Anda baik secara langsung maupun tidak langsung

Alasannya, karena biaya penyusutan nantinya akan dimasukkan ke dalam item beban atau pengeluaran dalam laporan keuangan.

Besar kecilnya sebuah biaya penyusutan ini selain dipengaruhi masa ekonomis dan harga ketika Anda membeli aset tersebut, juga dipengaruhi oleh nilai residu.

Jadi, Apa itu Nilai Residu?

Dari penjelasan di atas, sebenarnya Anda mungkin sudah memahami ya apa itu nilai residu.

Jadi mari mulai ke intinya, apa itu nilai residu? Mari ambil dari dua definisi yang ada.

Nilai residu atau yang lebih dikenal dengan salvage value adalah estimasi atau perhitungan sebuah nilai buku aset setelah penyusutan.

Perhitungan nilai residu ini biasanya berguna bagi pebisnis agar aset yang dimiliki dapat memberikan imbalan atau nilai bagi pebisnis di akhir nilai manfaat aset tersebut.

Tidak jauh berbeda, menurut PSAK 16 (2011:16.3), nilai residu merupakan jumlah atas estimasi yang dapat diperoleh entitas bisnis (pebisnis) saat ini dari pelepasan aset.

Aset tersebut nantinya dikurangi estimasi biaya pelepasan (penyusutan), jika aset tersebut telah mencapai umur dan kondisi yang diharapkan pada akhir masa manfaatnya.

Metode Cara Menghitung Nilai Residu

Tidak ada rumus atau cara pasti untuk menentukan nilai residu karena sebenarnya nilai ini merupakan estimasi atau perkiraan nilai jual atau manfaat lainnya ketika barang tersebut berada pada akhir masa manfaat atau sudah tidak digunakan lagi.

Contoh, Anda pengusaha kontraktor yang akan menjual crane bekas seharga Rp100.000.000. Maka nilai Rp100.000.000 itu lah yang dinamakan nilai residu.

Padahal, 5 tahun lalu Anda dulu membeli crane tersebut seharga Rp250.000.000. Berarti biaya penyusutan crane adalah pengurangan antara harga beli dengan nilai residu yaitu Rp100.000.000.

Karena digunakan selama 5 tahun, berarti nilai penyusutan tiap tahunnya sebesar Rp20.000.000.

Contoh tersebut merupakan contoh sederhana atau metode garis linier (straight line) Dimana nilai residu merupakan faktor pengurang dari harga aset saat dibeli untuk mencari biaya penyusutan.

Biasanya, ketika nilai penyusutannya rendah, maka aset tersebut masih memiliki manfaat atau ketika proses penyusutannya itu berlangsung lama, maka Anda bisa mengoptimalkan aset tersebut.

Selain metode straight line atau garis lurus, ada juga beberapa metode yang bisa Anda gunakan yaitu sebagai berikut.

Metode Jumlah Angka Tahunan  (Sum of Year Digit Method)

Metode ini digunakan apabila Anda memiliki aset yang setiap tahunnya pasti mengalami risiko penurunan fungsi.

Karena adanya risiko tersebut, maka nilai penyusutan ini digunakan untuk menentukan biaya maintenance atau perbaikan tiap tahunnya.

Dengan kata lain, apabila nilai penyusutan pada periode berikutnya semakin berkurang, maka biaya maintenance yang harus dikeluarkan semakin meningkat.

Sama halnya dengan metode straight line, metode ini juga lebih efektif jika Anda memasukkan nilai residu sebagai faktor pengurang harga beli atau perolehan aset.

Adapun rumus dari metode ini adalah sebagai berikut.

Biaya Penyusutan = 

(Harga Perolehan Aset – Harga Residu) x Sisa umur penggunaan aset (n) / Penyebut Jumlah Angka Tahunan (n+(n-1)+(n-2)+….)

Penyebut Jumlah angka Tahunan adalah jumlah perhitungan dari sisa umur penggunaan aset. Contoh, jika umur sisa aset adalah 4 tahun maka Penyebut Jumlah Angka Tahunan adalah 4 + 3 + 2 + 1 = 10.

Karena disebut sebagai sisa umur, maka urutan pembilang pada perhitungan tahun pertama dibalik. Misal, tahun ke-1 pembilangnya adalah 4/10, tahun ke-2 adalah 3/10 dan seterusnya.

Contoh soal:

Pada 10 Januari 2021, Anda baru saja membeli mesin seharga Rp100.000.000 dengan nilai residu sebesar Rp40.000.000.

Menurut penjualnya, mesin tersebut hanya bisa beroperasi hingga 3 tahun. Berapa biaya penyusutannya?

Pertama, kita tentukan dulu penyebut jumlah angka tahunnya. Karena hanya bisa beroperasi selama 3 tahun maka penyebutnya yaitu: 3 + 2 + 1 = 6.

Kemudian hitung dasar penyusutannya dengan mengurangi harga beli aset dengan nilai residu yaitu:

= Rp100.000.000 – Rp40.000.000 = Rp60.000.000

Maka dari sini, Anda bisa melihat nilai penyusutan akhir di tiap tahun sisa pemakaian asetnya melalui perhitungan berikut:

Tahun ke Faktor Perhitungan Dasar penyusutan Nilai Penyusutan tiap Tahunnya
1 3/6

Rp60.000.000

Rp30.000.000
2 2/6 Rp20.000.000
3 1/6 Rp10.000.000

 

Nah, jika dilihat dari tabel, maka tiap tahunnya biaya penyusutan semakin kecil. Dengan kata lain, maka perusahaan wajib menambah biaya maintenance atau bahkan mengalokasikan dananya untuk membeli mesin baru.

Meski begitu, metode ini sangat jarang digunakan karena alasan pembukuan dalam perpajakan.

Metode Satuan Jam kerja (Service Hour Method)

Metode ini digunakan untuk membandingkan nilai penyusutan satu jenis aset yang sama dengan jumlah jam yang digunakan.

Seperti yang Anda tahu, dalam beberapa kasus perusahaan biasanya memiliki satu jenis aset yang sama namun frekuensi penggunaannya berbeda-beda.

Misal, Anda memiliki dua mesin packaging, pada tahun-tahun tertentu, salah satu mesin pasti jarang digunakan.

Nah, perbedaan jam kerja ini yang menjadi dasar perhitungan menggunakan metode satuan jam kerja.

Adapun rumusnya adalah sebagai berikut.

Biaya Penyusutan/Jam = Harga Beli atau Perolehan Aset – Nilai Residu / Jumlah Jam Kerja selama Umur Ekonomis

Kemudian, untuk mencari nilai penyusutan pada tiap periode maka rumusnya adalah:

Jumlah Jam Kerja per Periode x Tarif Penyusutan / Jam

Untuk lebih memahami metode ini, simak contoh soal berikut:

Anda di bulan Januari membeli sebuah mesin cetak seharga Rp10.000.000. 

Menurut penjual, mesin tersebut dapat bekerja selama 10.000 jam dan diperkirakan mampu bekerja 5.000 jam pada tahun pertama.

Di tahun berikutnya, mampu bekerja 4000 jam, dan tahun berikutnya 1000 jam setahun.

Berdasarkan riset yang Anda lakukan, mesin tersebut dapat dijual kembali (nilai residu) dengan harga Rp1.000.000.

Pertama cari dahulu biaya penyusutan per jamnya yaitu:

= Rp10.000.000 – Rp1.000.000 / 10.000 =  900

Maka nilai penyusutannya dapat dilihat melalui tabel berikut.

Tahun ke Jam Operasi Biaya penyusutan/jam Penyusutan Nilai Buku
1 5000 900 Rp4.500.000 (Rp10.000.000 – Rp4.500.000)

= Rp5.500.000

2 4000 900 Rp3.600.000 (Rp5.500.000 – Rp3.600.000)

= Rp1.900.000

3 1000 900 Rp900.000 (Rp1.900.000 – Rp900.000)

= Rp1.000.000

 

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa semakin lama sebuah aset digunakan dalam hitungan jam kerja, maka semakin besar pula nilai penyusutannya dan akan semakin berkurang tiap tahunnya.

Metode Hasil Produksi (Productive Output Method)

Metode lainnya adalah perhitungan berdasarkan kemampuan aset dalam memproduksi.

Dengan kata lain seberapa lama pun waktu penggunaannya, tetap yang menjadi faktor penghitungnya adalah kemampuan aset tersebut dalam memproduksi.

Adapun rumus metode ini adalah sebagai berikut:

Tarif Penyusutan Per Unit =  Harga Perolehan Aset – Nilai Residu / Jumlah Total Produk yang Mampu Dihasilkan

Sedangkan untuk mencari nilai penyusutan tiap periodenya adalah:

= Kemampuan Unit Mampu Berproduksi Tiap Periodenya x Tarif Penyusutan Per Unit

Misal, Anda membeli mesin printer 3D seharga Rp100.000.000 dengan nilai jual kembali setelah 5 tahun adalah Rp50.000.000.

Kemudian Anda memproyeksikan dalam lima tahun ke depan bisa memproduksi 1.000 unit cetakan. Dengan rincian sebagai berikut:

  • Tahun ke-1 = 300 unit
  • Tahun ke-2 = 300 unit
  • Tahun ke-3 = 200 unit
  • Tahun ke-4 = 150 unit
  • Tahun ke-5 = 50 unit

:Langkah pertama, Anda hitung terlebih dahulu tarif penyusutan per unitnya yaitu:

  • Rp100.000.000 – Rp50.000.000 / 1.000 unit. = Rp50.000

Maka tarif penyusutan tiap tahunnya dapat digambarkan melalui tabel berikut.

Tahun ke Unit Produksi Biaya Penyusutan per Unit Penyusutan
1 300 50.000 Rp15.000.000
2 300 50.000 Rp15.000..000
3 200 50.000 Rp10.000.000
4 150 50.000 Rp7.500.000
5 50 50.000 Rp2.500.000

 

Nah itulah penjelasan mengenai nilai residu, cara menentukan nilai residu, cara menghitung penyusutan menggunakan nilai residu, serta contoh kasus perhitungannya.

Dengan mengetahui perhitungan penyusutan dan nilai residu, Anda mampu memaksimalkan laba perusahaan berdasarkan penggunaan aset operasional. 

Semoga artikel ini memberikan manfaat, dan apabila Anda kesulitan dalam mengelola bisnis, Anda bisa menghubungi Kami, Rusdiono Consulting.


July 8, 2021
WhatsApp-Image-2021-07-04-at-8.27.44-AM.jpeg

Istilah tutup buku mungkin sering Anda temui di berbagai kesempatan. Namun apakah Anda tahu apa sebenarnya istilah tersebut?

Istilah tutup buku merupakan istilah yang berasal dari akuntansi. 

Dimana entitas bisnis harus melakukan tutup buku pada setiap akhir periode akuntansi yang umumnya berjalan selama satu tahun.

Melalui artikel ini, Anda akan memahami istilah tutup buku dan kenapa sebuah entitas bisnis harus melakukannya.

Apa itu Tutup Buku?

Ketika memiliki sebuah bisnis tentu pasti bagi Anda untuk merekam setiap transaksi mulai dari pendapatan, pengeluaran, dan transaksi-transaksi lainnya ke dalam pembukuan.

Nantinya pembukuan ini akan menjadi laporan yang menyimpan informasi dalam satu periode akuntansi.

Pada saat mendekati akhir periode akuntansi, segala pembukuan yang dilakukan akan ditutup. 

Aktivitas ini lah yang pada umumnya disebut dengan tutup buku.

Secara umum, tutup buku adalah aktivitas merangkum atas perolehan hasil akhir dari suatu siklus akuntansi atau keuangan sebuah bisnis.

Dengan kata lain, tutup buku merupakan tanda bagi bisnis telah menutup laporan pada periode keuangan tersebut.

Jadi, ketika ada aktivitas keuangan dilakukan setelah masa tutup buku, aktivitas tersebut akan dimasukkan ke dalam pembukuan pada periode selanjutnya.

Aktivitas tutup buku juga dilakukan dengan cara memindahkan saldo akhir pada setiap akun menjadi saldo awal pada periode selanjutnya.

Sebagai catatan, aktivitas tutup buku tidak hanya dilakukan pada satu tahun periode akuntansi, namun juga bisa dilakukan pada satu bulan periode.

Hal tersebut biasanya dilakukan untuk membentuk jurnal penyusutan aset dan revaluasi yang tidak mungkin dilakukan dalam periode tahunan.

Apabila tutup buku dilakukan bulanan, setiap akun laba-rugi ditutup dan dipindahkan ke akun laba untuk bulan berikutnya pada periode berjalan.

Sedangkan apabila tutup buku dilakukan tahunan, laporan laba-rugi akan dipindahkan sebagai laba ditahan.

Fungsi Tutup Buku

Tujuan utama perusahaan melakukan tutup buku adalah untuk mengetahui posisi saldo akhir pada satu periode siklus akuntansi.

Dari tujuan yang umum ini, maka aktivitas tutup buku secara komprehensif memiliki empat fungsi umum.

Fungsi-fungsi tersebut adalah fungsi pelaporan, analisis, evaluasi dan pembentukan.

Secara lengkap, berikut penjelasan dari keempat fungsi tersebut.

1. Fungsi Pelaporan

Dengan melakukan tutup buku, perusahaan bisa mengetahui keadaan keuangan pada periode sebelumnya.

Dalam hal pembagian dividen misalnya. Aktivitas tutup buku bisa menjadi penanda tanggal cut-off siapa yang menerima dividen dan kapan investor tersebut akan menerima dividen.

Bukan hanya bagi investor. Penentuan tanggal dan informasi tutup buku juga berguna bagi pihak-pihak yang berkepentingan seperti auditor, petugas pajak dan direksi.

2. Fungsi Analisis

Adanya tutup buku pada sebuah siklus akuntansi juga membantu perusahaan dalam mengambil keputusan melalui analisis posisi keuangan perusahaan.

Perusahaan mampu mengetahui saldo akhir, laba-rugi, nilai aset, hingga piutang maupun hutang pada periode tersebut.

Dari kondisi keuangan tersebut, perusahaan bisa mengetahui apakah target berhasil dicapai pada periode tersebut dan mampu membantu dalam pengambilan keputusan strategis pada periode selanjutnya.

Jika perusahaan tidak melakukan tutup buku, maka segala aktivitas yang seharusnya masuk pada periode selanjutnya terekam pada periode berjalan dan akan mengacaukan aktivitas analisis keuangan.

3. Fungsi Evaluasi

Dengan melakukan tutup buku, perusahaan mampu mengidentifikasi masalah yang menyebabkan hambatan bagi perkembangan usaha yang sedang dijalankan.

Perusahaan mampu mengetahui pos-pos apa yang menjadi masalah pada bisnis, bagian apa yang perlu ditingkatkan atau bahkan dihilangkan.

4. Fungsi Pembentukan

Fungsi lainnya dari aktivitas tutup buku adalah saldo akhir pada periode sebelumnya dibentuk atau digunakan sebagai saldo awal pada periode selanjutnya.

Sehingga penggunaan saldo akhir tersebut menjadi saldo baru yang akan digunakan untuk aktivitas operasional perusahaan pada periode berjalan atau selanjutnya.

Tips Melakukan Tutup Buku

1. Susun Jurnal Penyesuaian Akrual

Jika mencatat dengan metode basis akrual, Anda perlu memposting entri jurnal ke akun berikut:

  • Pendapatan baik yang ditangguhkan atau pun belum ditagih.
  • Aset persediaan atau Harga Pokok Penjualan
  • Beban baik yang masih harus dibayar maupun yang telah dibayar di muka.

2. Ulas Kembali Laporan Keuangan

Tips selanjutnya adalah ulas kembali laporan keuangan pada periode sebelumnya.

Hal-hal yang perlu diperhatikan misalnya adanya penyimpangan nilai, saldo yang tidak biasa, item yang hilang, atau kesalahan lainnya.

Selain laporan keuangan, Anda juga perlu mengulas kembali atau memperbarui anggaran.

Misalnya, area mana yang hasil realisasinya sangat berbeda dengan anggaran yang telah ditentukan dan apa penyebabnya.

Pada akhirnya, mengulas anggaran juga akan mengungkap kesalahan yang tercatat pada laporan keuangan yang mungkin terlewatkan.

3. Tetapkan Tanggal Penutupan

Menetapkan tanggal pembukuan dilakukan untuk mencegah terjadinya perubahan yang dapat mengganggu pelaporan pada pembukuan sebelumnya.

Menetapkan cut-off juga berfungsi sebagai informasi kepada pihak-pihak terkait untuk dapat menerima laporan keuangan pada periode sebelumnya.

4. Rekonsiliasi setiap Transaksi

Transaksi bisnis pada periode berjalan tentu tidak hanya dilakukan dalam satu platform. Misalnya melalui payment gateway, bank, atau kartu kredit.

Perbedaan data dari platform tersebut dengan catatan internal mungkin akan terjadi dan Salah satu cara untuk menyamakan aktualisasi data adalah dengan rekonsiliasi.

Itulah penjelasan mengenai istilah buku besar dan tips bagaimana melakukan tutup buku yang benar.

Semoga artikel ini mampu memberikan wawasan baru bagi Anda terlebih bagi yang baru saja memulai bisnisnya.

Jika Anda kesulitan dalam mengelola keuangan bisnis Anda, Kami, Rusdiono Consulting siap memberikan pendampingan terutama dalam mengelola keuangan bisnis Anda saat ini.


June 9, 2021
WhatsApp-Image-2021-06-06-at-1.52.49-PM.jpeg

Joint venture adalah istilah yang tepat untuk menggambarkan bagaimana dua atau lebih entitas bisnis bekerja sama untuk bisa mewujudkan bisnis itu sendiri.

Biasanya joint venture juga dilakukan bagi perusahaan yang belum memiliki kompetensi sehingga dianggap tidak memiliki kekuatan secara utuh untuk bisa bersaing secara mandiri.

Ada berbagai alasan kenapa banyak perusahaan melakukan kerjasama semacam ini. Mulai dari kekurangan sumber daya, dana, hingga teknologi.

Lalu, apa sebenarnya joint venture? Kenapa banyak perusahaan saat ini melakukan kegiatan kerjasama antar-perusahaan seperti ini?

Pengertian Joint Venture

Jika berbicara kerja sama, sebenarnya joint venture bukanlah satu-satunya bentuk kerja sama yang biasa dilakukan oleh dua atau lebih perusahaan.

Namun belakangan, kerja sama jenis ini sering digunakan oleh banyak perusahaan terutama oleh perusahaan-perusahaan rintisan atau startup.

Jadi, apa itu joint venture?

Joint venture merupakan bentuk perjanjian bisnis antara dua atau lebih pihak yang bertujuan mengumpulkan sumber daya secara bersama-sama untuk mencapai tujuan tertentu.

Tujuan tertentu yang dimaksud adalah adanya aktivitas bisnis baru atau proyek yang berlangsung dalam jangka waktu tertentu.

Oleh karena itu, bentuk perjanjiannya pun bisa dalam jangka panjang maupun jangka pendek tergantung kesepakatan.

Ini artinya, joint venture merupakan kerja sama yang tidak berlaku selamanya.

Kerja sama jenis ini juga sering disebut dengan usaha patungan karena pihak-pihak yang bekerja sama sepakat untuk menyetorkan modal dan menanggung risiko bersama.

Tujuan Adanya Joint Venture

Alasan utama terjadinya joint venture adalah guna memanfaatkan masing-masing keunggulan dari dua atau lebih perusahaan yang bekerja sama.

Namun lebih jelasnya, mari simak alasan-alasan berikut kenapa ada perusahaan yang melakukan joint venture.

 

1. Memaksimalkan Sumber Daya

Dengan adanya usaha patungan, entitas bisnis bisa memaksimalkan sumber daya yang ada dengan menggabungkan sumber daya pihak yang diajak kerja sama.

Dengan adanya peningkatan sumber daya, perusahaan bisa lebih memaksimalkan produksi, melakukan diversifikasi, hingga memperluas jangkauan pasar.

 

2. Penghematan Biaya

Di sisi lain, dengan adanya joint venture perusahaan bisa mengurangi penggunaan modal dan biaya-biaya.

Dengan adanya bentuk kerja sama seperti ini, perusahaan yang memiliki dana terbatas mampu memaksimalkan operasional bisnisnya.

Selain itu, bagi perusahaan yang memiliki dana lebih besar mampu memanfaatkan dananya menjadi lebih efisien.

 

3. Menggabungkan Keunggulan Kompetitif

Sama halnya manusia, perusahaan juga memiliki sisi “unik” tersendiri dan dalam hal ini adalah keunggulan kompetitif.

Misalnya saja perusahaan A memiliki keunggulan inovasi teknologi, sedangkan perusahaan B unggul dalam hal SDM.

Dengan adanya aktivitas joint venture antara perusahaan A dan B, maka keduanya bisa meningkatkan produksi dan melakukan diversifikasi produk.

 

4. Mengurangi Risiko

Ketika ingin mengembangkan unit bisnis atau peluang baru, pasti entitas bisnis akan menemui banyak risiko.

Dengan melakukan kerja sama, perusahaan terkait bisa mengurangi risiko yang terjadi dalam mengambil peluang bisnis baru itu.

Misalnya, perusahaan A ingin mendirikan bisnisnya di negara B. Maka yang harus dilakukan oleh perusahaan A adalah melakukan joint venture dengan perusahaan di negara B.

Kelebihan dan Kekurangan

Sebenarnya kelebihan dari adanya usaha patungan telah dijelaskan melalui tujuan dari joint venture yang telah dijelaskan sebelumnya.

Namun yang jelas, kelebihan dari adanya usaha patungan adalah masing-masing perusahaan bisa mengurangi risiko apalagi yang sifatnya jangka panjang.

Di sisi lain, usaha patungan juga bersifat fleksibel dan tidak mengikat. Itu artinya jika kerja sama yang dijalin tidak memberikan keuntungan, perusahaan bisa menghentikan kerja sama.

Sebaliknya jika keduanya menguntungkan, perusahaan bisa menjalin kerja sama yang lebih panjang.

Jika ada kelebihan, tentu ada kekurangan. Sama halnya dengan jenis kerja sama joint venture.

Adapun kekurangan joint venture adalah sebagai berikut:

  • Adanya kesalahan dalam menentukan mitra kerja sama bisa saja berdampak pada risiko politik.
  • Adanya harga transfer produk dan komponen berpeluang menimbulkan konflik kepentingan di antara dua belah pihak.
  • Kemungkinan terjadinya benturan budaya yang akan berpengaruh langsung pada pengambilan keputusan bisnis.

Jenis-Jenis Kontrak Joint Venture

Ada dua jenis dari kontrak kerja sama joint venture yaitu domestik dan internasional.

Joint venture domestik adalah kerja sama yang dilakukan oleh pihak-pihak atau perusahaan di dalam wilayah yang sama dalam hal ini adalah di dalam negeri.

Sedangkan joint venture internasional adalah kerja sama yang dilakukan oleh pihak-pihak atau perusahaan antar negara atau melibatkan perusahaan asing.

Dasar Hukum

Di Indonesia sendiri sebenarnya belum ada Undang-Undang yang secara eksplisit membahas tentang regulasi kerja sama patungan atau joint venture.

Namun secara implisit, joint venture dibahas dalam UU Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal.

Dimana dijelaskan pada Pasal 5 ayat 3 yaitu:

Penanaman modal dalam negeri dan asing yang melakukan penanaman modal dalam bentuk perseroan terbatas dilakukan dengan mengambil bagian saham pada saat pendirian perseroan terbatas.

Isi dari pasal tersebut sangat dekat dengan definisi dari usaha kerja sama patungan atau joint venture.

Dimana joint venture dianggap memiliki aktivitas penanaman modal baik dari modal asing maupun modal dalam negeri.

Aktivitas joint venture yang melibatkan modal dari luar negeri maka dianggap sebagai Penanaman Modal Asing (PMA).

Di sisi lain aktivitas usaha patungan yang melibatkan antar perusahaan dalam negeri dianggap sebagai Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).

Dimana kedua istilah ini tertulis dalam Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal.

Ditambah, Indonesia memiliki Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang bertugas melaksanakan koordinasi kebijakan dan pelayanan di bidang penanaman modal.

Jadi cukup jelas, bahwa joint venture secara implisit diatur oleh pemerintah melalui Undang-Undang Penanaman Modal. 

Akuntansi pada Joint Venture

Ada dua metode pencatatan dalam perusahaan yang melakukan kerja sama patungan atau joint venture yaitu pencatatan tidak terpisah dan terpisah.

Pencatatan Tidak Terpisah

Dalam metode pencatatan tidak terpisah semua transaksi yang berhubungan dengan operasi usaha dicatat oleh semua sekutu.

Dalam pencatatan terpisah, salah satu pihak menjadi penyelenggara pencatatan rekening secara lengkap yaitu rekening aktiva, hutang, modal, pendapatan dan biaya.

Oleh karena ada pencampuran pencatatan, maka untuk membedakan pencatatan setiap rekening diberi tanda joint venture (JV).

Rekening yang diselenggarakan oleh pihak pemegang pencatatan (managing partner) meliputi:

  1. Rekening Aktiva-Joint Venture (JV)
  2. Rekening Utang-Joint Venture (JV)
  3. Rekening Sekutu
  4. Rekening Joint Venture.

Sedangkan pihak lainnya yang tidak memegang pencatatan hanya menyelenggarakan dua macam rekening yaitu rekening joint venture dan rekening sekutu.

Adapun mekanisme pencatatan tidak terpisah yang dilakukan oleh pihak penyelenggara pencatatan (managing partner) adalah sebagai berikut:

  1. Pendebetan dilakukan apabila terjadi transaksi yang berakibat rekening aktiva JV bertambah, Utang JV berkurang, dan modal berkurang.
  2. Pengkreditan dilakukan apabila terjadi transaksi yang berakibat rekening aktiva JV berkurang, Utang JV bertambah, dan modal bertambah.

Pencatatan Terpisah

Pada pencatatan terpisah, maka pencatatan joint venture dicatat seperti usaha biasa sedangkan anggota joint venture hanya mencatat transaksi yang berhubungan dengan bisnisnya.

Misalnya penawaran dana ke joint venture, perolehan laba atas joint venture, atau penarikan kembali dana yang tertanam dalam kerja sama.

Baca Juga: 3 Tahap Pencatatan Siklus Akuntansi Perusahan Jasa

Contoh Joint Venture di Indonesia

Ada beberapa contoh joint venture yang bisa menjadi gambaran bagaimana bentuk kerja sama ini bisa terjadi.

Salah satunya adalah apa yang dilakukan oleh PT Indofood CBP Sukses Makmur dengan beberapa perusahaan dari luar negeri salah satunya adalah Nestle dan PepsiCo.

PT Indofood CBP Sukses Makmur bekerja sama dengan Nestle membentuk PT Nestle Indofood Citarasa Indonesia yang dibentuk pada tahun 2005 dan berakhir pada September 2018.

Selain dengan Nestle, PT Indofood CBP Sukses Makmur juga bekerja sama dengan PepsiCo yang memproduksi snack yang akan berakhir Agustus 2021.

Beda Joint Venture, Joint Operation dan Bentuk kerja Sama Usaha Lainnya

Di Indonesia sendiri, joint venture dan joint operation sering dianggap sama. Namun sebenarnya keduanya memiliki perbedaan.

Dari segi keterlibatan misalnya. Joint venture biasanya melibatkan beberapa bahkan semua unit bisnisnya dalam kerja sama sedangkan joint operation hanya melibatkan satu unit bisnis untuk menyelenggarakan proyek tertentu.

Di samping itu, joint operation tidak membentuk entitas bisnis baru sedangkan joint venture membentuk entitas bisnis baru berdasarkan perjanjian kerja sama yang dilakukan.

Jadi jika kerja sama berakhir, entitas bisnis yang lahir dari kerja sama joint venture juga akan berakhir atau bubar.

Lalu apa bedanya dengan merger, konsolidasi, dan akuisisi?

Meski sama-sama membentuk entitas baru, joint venture dan konsolidasi jelas berbeda. Konsolidasi tidak memiliki kontrak kerja sama dan benar-benar membentuk sebuah entitas atau perusahaan baru.

Contoh konsolidasi adalah Bank Mandiri yang berasal dari beberapa Bank swasta dari Indonesia.

Sedangkan merger adalah penggabungan perusahaan dimana salah satunya membeli atau mengambil seluruh aset dan kewajiban dari pihak lainnya. Sehingga salah satu perusahaan yang aset dan kewajibannya diambil tidak ada lagi.

Contoh merger adalah apa yang dilakukan CIMB Niaga terhadap Lippo Bank pada tahun 2008.

Lain lagi dengan akuisisi. Bentuk kerja sama akuisisi sebenarnya sama dengan merger. Namun bedanya perusahaan yang diambil alih masih ada atau tidak hilang. Contoh akuisisi adalah Instagram yang diakuisisi oleh Facebook.


June 8, 2021
WhatsApp-Image-2021-06-06-at-1.36.38-PM.jpeg

Bagi keuangan bisnis apapun, besar maupun kecil, penilaian bisnis didasarkan atas dua komponen utama neraca : aset serta kewajiban. Ekuitas pemilik, atau ekuitas pemegang saham, adalah bagian dari neraca. Persamaan dasar akuntansi merupakan representasi dari bagaimana ketiga komponen penting tersebut dikaitkan satu sama lain. 

Namun, apa itu persamaan dasar akuntansi? Bagaimana contoh dan tabel persamaan dasar akuntansi itu sendiri? Simak artikel  berikut ini.

Apa itu Persamaan Dasar Akuntansi?

Persamaan dasar akuntansi sering disebut sebagai dasar atas sistem akuntansi entri ganda. Di suatu neraca bisnis, terlihat bahwa total aset perusahaan sama dengan jumlah kewajiban perusahaan serta ekuitas pemegang saham.

Dengan sistem entri ganda tersebut, persamaan dasar akuntansi menegaskan bahwa neraca tetap “seimbang”, serta setiap pembuatan entri di sisi debit wajib mempunyai entri (atau cakupan) yang sama di sisi kredit.

Persamaan dasar akuntansi mendukung bisnis untuk menilai apakah transaksi bisnis tercatat secara akurat dalam pembukuan serta akunnya. 

Di bawah ini adalah contoh item yang ada dalam persamaan dasar akuntansi:

1. Aktiva

Aset adalah kas, setara kas maupun aset likuid. Sementara piutang  adalah jumlah uang yang dihutang kepada perusahaan oleh pelanggannya untuk penjualan produk dan jasanya. Persediaan juga dianggap sebagai aset.

 

2. Kewajiban

Kewajiban atau liabilitas adalah apa yang biasanya dipunyai atau harus dibayar bisnis agar bisnis tetap berjalan. Utang, termasuk utang jangka panjang, adalah kewajiban, seperti sewa, pajak, utilitas, gaji, upah, dan utang dividen.

 

3. Ekuitas Pemegang Saham

Ekuitas pemegang saham merupakan total aset bisnis yang jumlahnya dikurangi total kewajiban bisnis. Ekuitas pemegang saham adalah sejumlah uang yang akan diberikan kepada pemegang saham apabila semua aset dilikuidasi serta semua utang perusahaan lunas.

Laba ditahan merupakan bagian dari ekuitas pemegang saham, serta sama dengan jumlah total laba yang tidak dibayarkan terhadap pemegang saham sebagai dividen. 

Fungsi dan Manfaat Persamaan Akuntansi

Dalam sistem pelaporan keuangan, salah satu laporan keuangan – neraca terus memainkan peran fundamental. 

Neraca, pertama-tama, memperkenalkan pemilik pada manajemen, status properti suatu entitas ekonomi. Mereka akan mencari tahu dari neraca apa yang dimiliki pemilik, yaitu berapa kuantitas dan kualitas sumber daya perusahaan yang dapat dibuang oleh perusahaan, dan siapa yang terlibat dalam pembuatan sumber daya tersebut.

Kedua, menurut neraca, ditentukan apakah perusahaan dapat segera menutup kewajiban kepada pihak ketiga (pemegang saham, investor, kreditor, pembeli, penjual, dll.). 

Ketiga, konten modal dan item kewajiban memungkinkan untuk digunakan baik oleh pengguna internal maupun eksternal. Sebagai bentuk sentral dari pelaporan keuangan, neraca memungkinkan penentuan pada tanggal pelaporan komposisi dan struktur aset perusahaan, likuiditas, dan perputaran aset lancar, ketersediaan ekuitas dan kewajiban pemilik, kondisi dan dinamika piutang dan hutang, kelayakan kredit, dan solvabilitas perusahaan.

Data neraca memungkinkan Anda untuk mengevaluasi efisiensi penempatan modal perusahaan, kecukupannya untuk kegiatan ekonomi saat ini dan yang akan datang, ukuran dan struktur sumber pinjaman, serta efektivitas daya tariknya. 

Jadi, neraca adalah bentuk terinformatif untuk analisis dan evaluasi situasi keuangan sebuah entitas ekonomi, serta tanpa persamaan akuntansi, tak mungkin membuat laporan keuangan. Oleh karena itu, persamaan akuntansi diperlukan baik untuk usaha besar atau kecil.

Rumus dan Perhitungan Persamaan Akuntansi

Aktiva= ( Kewajiban + Ekuitas Pemegang Saham )

Neraca memegang dasar persamaan akuntansi:

  1. Menemukan total aset perusahaan di neraca dalam suatu periode.
  2. Total seluruh kewajiban harus merupakan daftar terpisah dalam neraca.
  3. Menemukan ekuitas pemegang saham total lalu menambahkan jumlahnya dalam total kewajiban.
  4. Total aset akan sama dengan jumlah kewajiban serta total ekuitas.

Contohnya, dalam tahun fiskal, pengecer terkemuka ABC memberi laporan berikut dalam neracanya:

Total aset: Rp 170 miliar

Total kewajiban: Rp 120 miliar

Total ekuitas pemegang saham: Rp 50 miliar

Jika menghitung sisi kanan persamaan akuntansi (ekuitas + kewajiban), maka sampai pada (Rp 50 miliar + Rp 120 miliar) = Rp 170 miliar, yang sesuai dengan nilai aset yang dilaporkan oleh perusahaan.

Sistem Entri Ganda

Persamaan akuntansi membentuk dasar dari akuntansi entri ganda dan merupakan representasi ringkas dari konsep yang berkembang menjadi tampilan neraca yang kompleks, diperluas , dan multi-item. Neraca didasarkan pada sistem akuntansi double entry dimana total aset perusahaan sama dengan total kewajiban dan ekuitas pemegang saham.

Pada dasarnya, representasi tersebut menyamakan semua penggunaan modal (aset) dengan semua sumber modal, dimana modal utang mengarah pada kewajiban dan modal ekuitas mengarah pada ekuitas pemegang saham.

Untuk bisnis yang menyimpan akun dengan akurat, setiap transaksi akan dicatat setidaknya di dua akun. Contoh, apabila bisnis mengambil pinjaman dari entitas keuangan bank, uang yang dipinjam akan menambah aset perusahaan serta kewajiban pinjaman juga akan ditambah dengan jumlah yang sama.

Apabila bisnis membeli bahan mentah secara tunai, maka akan menambah persediaan (aset) dan mengurangi modal tunai (aset lain). Oleh karena terdapat dua atau lebih akun yang terpengaruh oleh setiap transaksi yang dilakukan oleh suatu perusahaan, maka sistem akuntansi ini disebut sebagai akuntansi double entry.

Praktik double entry memberi kepastian bahwa persamaan akuntansi tetap seimbang, yang berarti nilai sisi kiri persamaan akan selalu sesuai dengan nilai sisi kanan. Dalam hal ini, jumlah total semua aset akan selalu setara dengan jumlah kewajiban serta ekuitas pemegang saham.

Baca Juga: Mengenal Sistem Informasi Akuntansi beserta Metode & Tujuannya

Contoh Persamaan Dasar Akuntansi

Untuk setiap transaksi, kedua sisi harus memiliki nilai yang sama. Di bawah ini contoh transaksi serta bagaimana pengaruhnya terhadap persamaan akuntansi.

 

1. Membeli Mesin dengan Uang Tunai

Perusahaan XYZ ingin membeli mesin seharga Rp 500 hanya dengan uang tunai. Transaksi ini akan menghasilkan debit ke Peralatan (+ Rp 500.000) dan kredit ke Tunai (- Rp 500.000). Efek bersih pada persamaan akuntansi adalah sebagai berikut:

 

Aset = Liabilitas + Ekuitas Pemegang Saham
+500.000
-500.000
0 = 0 + 0

 

Transaksi ini hanya mempengaruhi aset persamaan; oleh karena itu tidak ada efek terkait dalam kewajiban atau ekuitas pemegang saham di sisi kanan persamaan.

 

 

2. Membeli Mesin dengan Uang Tunai dan Kredit

Perusahaan XYZ ingin membeli mesin seharga Rp 500.000 tetapi hanya memiliki uang tunai Rp 250 dalam kepemilikannya. Perusahaan diizinkan untuk membeli mesin ini dengan pembayaran awal Rp 250 tetapi jumlah yang tersisa berutang kepada produsen. 

Ini akan menghasilkan debit ke Peralatan (+ Rp 500.000), kredit ke Utang Usaha (+ Rp 250.000), dan kredit ke Kas (- Rp 250.000). Efek bersih pada persamaan akuntansi adalah sebagai berikut:

 

Aset = Liabilitas + Ekuitas Pemegang Saham
+500.000 +250.000
-250.000
+250.000 = +250.000 + 0

 

Transaksi ini mempengaruhi kedua sisi persamaan akuntansi; kedua sisi kiri dan kanan persamaan bertambah + Rp 250.000.

Contoh lainnya:

 

Contoh 1

Anda baru saja memulai bisnis software setelah setahun menabung Rp 10.000.000 untuk berkontribusi pada perusahaan baru Anda. Rp 10.000.000 sekarang menjadi ekuitas Anda dalam bisnis, jadi Anda juga perlu meningkatkan aset Anda. Persamaannya terlihat seperti ini:

Rp 10.000.000 Aset = Rp 0 Kewajiban + Rp 10.000.000 Ekuitas

Contoh 2

Sekarang Anda telah memulai perusahaan Anda, Anda perlu membeli dua komputer dan peralatan lainnya. Jadi, Anda memutuskan untuk membeli peralatan senilai Rp 2.000.000 dengan kartu kredit perusahaan Anda. Pembelian kartu kredit senilai Rp 2.000.000 itu adalah kewajiban (alias utang) dan aset. Baik aset dan liabilitas meningkat Rp 2.000.000, jadi persamaannya terlihat seperti ini:

 

Rp 2.000.000 Aset = Rp 2.000.000 Liabilitas + Rp 0 Ekuitas

Contoh 3

Bisnis Anda berkembang, dan Anda sekarang memiliki pelanggan. Seorang pelanggan memutuskan untuk membeli software Anda untuk komputer bisnis mereka sendiri. 

Software Anda senilai Rp 10.000 per unduhan program, dan pelanggan membutuhkan program tersebut untuk 50 komputer, dengan total Rp 500.000. Dari transaksi ini, Anda mendapatkan aset dan ekuitas. Persamaan akuntansi Anda terlihat seperti ini:

 

Rp 500.000 Aset = Rp 0 Kewajiban + Rp 500.000 Ekuitas

Contoh Tabel Persamaan Dasar Akuntansi

Pada tanggal 1 Januari 2020, bengkel dengan nama Bengkel Sepeda Motor Tiga Roda melakukan beberapa transaksi sebagai berikut:

  1. Investasi modal pertama Bengkel Sepeda Motor Tiga Roda yaitu uang tunai senilai Rp10.000.000 serta Peralatan kantor senilai Rp500.000.
  2. Pembayaran sewa atas ruangan usaha bengkel senilai Rp600.000 untuk satu bulan. 
  3. Pembelian perlengkapan bengkel secara kredit senilai Rp400.000 beserta peralatan bengkel senilai Rp1.000.000. 
  4. Mendapat pemasukan atas jasa yang telah diberikan selama satu minggu senilai Rp 1.600.000. 
  5. Pembayaran tagihan listrik serta  air bulan Januari 2020 senilai Rp200.000.
  6. Mendapatkan jasa servis langganan senilai Rp750.000. 
  7. Pembayaran sebagian utang atas pembelian perlengkapan senilai Rp250.000. Menerima pelunasan piutang atas transaksi seorang konsumen senilai Rp500.000. 
  8. Pemilik mengambil uang tunai untuk pribadi senilai Rp100.000. 
  9. Pembayaran gaji karyawan bulan Januari 2020 senilai Rp3.000.000 
  10. Pembayaran rekening telepon senilai Rp75.000. 
  11. Di akhir bulan Januari 2020 perlengkapan yang masih ada bernilai Rp250.000 serta peralatan bengkel disusutkan senilai Rp50.000.
  12. Menerima jasa servis senilai Rp1.500.000.

Maka, pembuatan tabel persamaan dasar akuntansi yakni:

No Harta Uang+Modal Keterangan
Kas Piutang Perlengkapan Peralatan Akumulasi Penyusutan Utang Usaha Modal
1 10.000.000 500.000 10.500.000 Investasi awal
2 -600.000 -600.000 Beban sewa
9.400.000 500.000 9.900.000
3 400.000 1.000.000 1.400.000 Perlengkapan Bengkel
9.400.000 400.000 1.500.000 1.400.000 9.900.000
4 1.600.000 1.600.000 Pendapatan servis
11.000.000 400.000 1.500.000 1.400.000 11.500.000
5 -200.000 -200.000 Beban listrik dan air
10.800.000 400.000 1.500.000 1.400.000 11.300.000
6 750.000 750.000 Pendapatan servis
11.000.000 750.000 400.000 1.500.000 1.400.000 12.050.000
7 -250.000 -250.000 Cicilan utang usaha
10.750.000 750.000 400.000 1.500.000 1.150.000 12.050.000
8 -500.000 -500.000 Pelunasan piutang
11.250.000 250.000 400.000 1.500.000 1.150.000 12.050.000
9 -100.000 -100.000 Prive pemilik
11.150.000 250.000 400.000 1.500.000 1.150.000 11.950.000
10 -375.000 3.000.000 Beban gaji
75.000 Beban telepon
10.775.000 250.000 400.000 1.500.000 50.000 1.150.000 8.675.000
11 150.000 150.000 Beban perlengkapan
50.000 Beban penyusutan
10.775.000 250.000 250.000 250.000 50.000 1.150.000 8.675.000
12 1.500.000 1.500.000
12.275.000 250.000 250.000 250.000 50.000 1.150.000 10.175.000 Pendapatan servis

 

Batasan Persamaan Akuntansi

Meskipun neraca selalu seimbang, persamaan dasar akuntansi tidak memberikan informasi kepada investor tentang seberapa baik kinerja perusahaan. 

Sebaliknya, investor harus menafsirkan angka-angka dan memutuskan sendiri apakah perusahaan memiliki terlalu banyak atau terlalu sedikit kewajiban, tidak cukup aset, atau mungkin terlalu banyak aset, atau mendanai perusahaan dengan benar untuk memastikan pertumbuhan jangka panjang.

Namun, kenapa persamaan dasar akuntansi penting? Persamaan akuntansi berperan penting sebab menghubungkan tiga komponen neraca: aset, kewajiban, serta ekuitas. 

Jadi, ekuitas perusahaan bertambah saat asetnya bertambah, dan sebaliknya. Demikian pula, meningkatkan kewajiban akan menurunkan ekuitas, sedangkan menurunkan kewajiban — seperti dengan melunasi utang — akan menambah ekuitas.

 

Demikian penjelasan mengenai persamaan dasar akuntansi, lengkap dengan pengertian, fungsi dan manfaat, contoh lengkap beserta tabel, serta batasan persamaan akuntansi. Semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan Anda seputar akuntansi.

Jika Anda akan memulai sebuah perusahaan tetapi tidak mengerti persamaan dasar akuntansi, Anda dapat berkonsultasi terlebih dahulu dengan Rusdiono Consulting agar mendapat strategi terbaik dalam memulai akuntansi dan pembukuan bisnis.

Konsultan berpengalaman dan bersertifikasi, siap membantu perusahaan dan UMKM yang baru memulai usaha sekali pun. Langsung hubungi kami sekarang.


June 7, 2021
WhatsApp-Image-2021-06-06-at-12.56.33-PM.jpeg

Analisis laporan keuangan adalah elemen penting yang tidak bisa dipisahkan dari perusahaan. Hal ini karena analisis laporan keuangan menjadi salah satu dasar untuk mengambil keputusan strategis pada bisnis. Di sisi lain, laporan keuangan juga digunakan untuk memberikan gambaran terhadap sehat-tidaknya suatu perusahaan. Lebih lengkap mengenai analisis laporan keuangan beserta metode-metodenya, mari simak artikel ini.

Pengertian Analisis Laporan Keuangan

Sebelum mengetahui apa itu analisis laporan keuangan mari ingat jenis-jenis laporan keuangan secara umum. Jika Anda lupa, laporan keuangan umumnya terdiri dari laporan laba rugi, neraca, perubahan modal, dan juga arus kas. Untuk lebih jelas mengenali jenis-jenis laporan keuangan Anda bisa membaca melalui artikel berikut: 5 Jenis Laporan Keuangan

Tentu laporan-laporan keuangan ini berfungsi sebagai sumber informasi yang dapat digunakan baik oleh perusahaan maupun stakeholder seperti investor.

Bagi perusahaan, laporan keuangan digunakan untuk melakukan pengambilan keputusan strategis pada bisnis ke depannya.

Sedangkan bagi investor, laporan keuangan berfungsi sebagai sumber informasi untuk mengevaluasi nilai dan kesehatan bisnis secara keseluruhan.

Informasi pada laporan keuangan tentu tidak bisa ditelan mentah-mentah sehingga perlu dianalisis untuk menghasilkan informasi yang benar-benar akurat, mendalam, dan bisa dipertanggungjawabkan.

Di sinilah kegiatan analisis laporan keuangan dilakukan. Jadi apa sebenarnya analisis laporan keuangan?

Analisis laporan keuangan adalah aktivitas identifikasi, menilai, mengolah hingga membandingkan informasi laporan keuangan menjadi informasi yang sebenar-benarnya dan mendalam.

Tujuan Analisis Laporan Keuangan

Tujuan umum dari analisis laporan keuangan telah dijelaskan sebelumnya di awal pembuka artikel ini; sebagai dasar pengambilan keputusan strategis dan informasi nilai bisnis perusahaan.

Namun sebenarnya, analisis laporan keuangan memiliki tujuan yang lebih spesifik seperti:

  • Mengetahui kemampuan perusahaan dalam melunasi hutang-hutangnya baik jangka pendek maupun jangka panjang.
  • Menilai kinerja bisnis pada tahun berjalan.
  • Membandingkan nilai perusahaan sendiri dengan pesaing.
  • Mengetahui kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan aset ke arah yang lebih menguntungkan.
  • Memproyeksikan bisnis yang terjadi di masa depan.
  • Mengetahui perubahan posisi keuangan pada periode tertentu.
  • Mengidentifikasi pos-pos keuangan yang bermasalah.

Metode Analisis Laporan Keuangan

Secara umum ada dua metode analisis laporan keuangan yaitu metode horizontal dan vertikal.

Analisis Horizontal

Metode analisis keuangan horizontal adalah metode analisis dengan membandingkan pos-pos laporan keuangan yang sama pada periode yang berbeda.

Biasanya perbandingan laporan keuangan yang dianalisis menggunakan dua atau tiga periode dimana periode yang lebih awal digunakan sebagai dasar pembandingnya.

Analisis ini digunakan dengan melihat persentase penurunan dan kenaikan pos-pos laporan keuangan dari periode yang dibandingkan. 

Oleh karena itu, metode ini sering disebut juga dengan metode dinamis.

Selain membandingkan laporan keuangan dua periode atau lebih yang disebut juga dengan analisis komparatif, ada beberapa metode lain yang umum digunakan untuk melakukan analisis horizontal, yaitu:

  • Analisis trend atau indeks – analisis untuk mengetahui kecenderungan dari posisi keuangan. Analisis ini biasanya dinyatakan dalam persentase. Namun dapat juga dinyatakan dalam indeks apabila menggunakan lebih dari dua periode.

 

  • Analisis sumber dan modal kerja – digunakan apabila ingin mengetahui sumber dan alokasi modal perusahaan, serta faktor-faktor yang mempengaruhi perubahannya.
  • Analisis perubahan laba kotor – digunakan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab perubahan laba kotor perusahaan dari periode ke periode.
  • Analisis sumber dan penggunaan kas – digunakan untuk mengetahui kondisi kas dan penyebab terjadinya perubahan kas pada suatu periode tertentu.

 

Contoh Sederhana Analisis Laporan Keuangan Horizontal

Sebagai gambaran, mari ambil contoh sederhana dengan membandingkan pendapatan perusahaan dari periode saat ini dan sebelumnya.

Sebuah perusahaan PT ABC pada tahun 2019 memiliki pendapatan sebesar Rp625.500.000 dan pada tahun 2020 memiliki pendapatan sebesar Rp575.000.000

Maka untuk melakukan analisis horizontal, Anda perlu mencari persentase perubahan pendapatan dari periode tahun 2019 ke tahun 2020 dengan cara:

= (Pendapatan tahun 2020 – Pendapatan 2019) / Pendapatan 2019.

= (Rp625.500.000 – Rp 575.000.000) / Rp575.000.000

= 8.78%

Maka terdapat penurunan pendapatan PT ABC sebesar 8.78% dari tahun 2019 ke tahun 2020. Melalui persentase ini, Anda bisa melihat penyebab adanya penurunan dari persentase pos-pos lain dari perbandingan laporan periode sebelumnya.

Analisis Vertikal

Analisis vertikal digunakan dengan membandingkan pos-pos keuangan yang berbeda pada satu laporan keuangan yang sama di satu periode yang sama.

Oleh karena itu, analisis vertikal sering disebut juga sebagai metode analisis statis.

Adapun yang termasuk ke dalam analisis laporan keuangan vertikal adalah sebagai berikut.

1. Analisis Common Size

Analisis common size adalah analisis yang membandingkan pos-pos laporan keuangan dengan menggunakan persentase dalam satu periode tertentu. 

Laporan yang dianalisis biasanya adalah laporan laba rugi dan neraca. 

Untuk laporan laba rugi dinyatakan sebagai persentase dimana setiap akun barisnya dibagi dengan pendapatan. Sedangkan pada laporan neraca, setiap akun dibandingkan dengan total aset.

2. Analisis Break Even

Analisis break even atau analisis titik impas adalah analisis yang digunakan untuk menentukan tingkat pendapatan yang harus dicapai oleh perusahaan.

Analisis break even membantu perusahaan untuk menganalisis berapa produk yang harus dijual atau berapa rupiah yang harus diterima pada satu periode tertentu.

Analisis ini bertujuan untuk membantu perusahaan dalam mengambil keputusan strategi bisnis agar perusahaan bisa mendapatkan keuntungan dan mengurangi risiko kerugian.

Baca Juga: Break Even Point (BEP): Pengertian dan Cara Hitungnya

 

3. Analisis Rasio Keuangan

Analisis rasio keuangan digunakan untuk menilai suatu kinerja perusahaan berdasarkan pos-pos laporan keuangan pada satu periode tertentu.

Analisis rasio keuangan berfungsi sebagai tolak ukur dalam mengambil langkah strategis perusahaan pada periode selanjutnya dan mengevaluasi sumber daya perusahaan.

Ada empat alat ukur dalam analisis rasio keuangan yaitu rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio profitabilitas dan rasio aktivitas.

Penjelasan mengenai analisis rasio keuangan adalah sebagai berikut:

  • Rasio likuiditas berguna untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya.

Rasio likuiditas membandingkan kas, efek, dan piutang dengan hutang jangka pendeknya.

  • Rasio solvabilitas digunakan mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya.

Rasio solvabilitas membandingkan seluruh beban utang perusahaan terhadap aset atau modalnya.

  • Rasio profitabilitas mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba yang berhubungan dengan nilai penjualan, aktiva, dan modal.
  • Rasio aktivitas digunakan untuk mengukur seberapa efektif perusahaan dalam memanfaatkan asetnya untuk dikonversikan menjadi keuntungan.

Contoh Sederhana dari Analisis Laporan Keuangan Vertikal

Seperti yang diketahui bahwa analisis vertikal membandingkan pos-pos laporan keuangan pada satu periode tertentu.

Mari ambil contoh analisis likuiditas lancar (current ratio). 

PT ABC memiliki total aset lancar sebesar Rp10.000.000 dan memiliki utang yang harus dilunasi dalam jangka waktu satu tahun sebesar Rp5.000.000 pada tahun 2020.

Maka, pada analisis ini Anda akan membandingkan dua pos laporan keuangan yaitu total aset lancar dan juga utang jangka pendek perusahaan dalam satu periode tertentu.

Melalui rumus rasio likuiditas lancar maka:

= Total aset lancar/utang jangka pendek

= Rp10.000.000/Rp5.000.000 X 100% = 2

Pada current ratio, jika perbandingan angkanya di atas 1, maka perusahaan terbilang aman dan mampu melunasi utang lancar atau jangka pendeknya.

Kesimpulan

Itulah penjelasan singkat mengenai laporan keuangan serta metode analisisnya. Sebenarnya ada banyak jenis metode analisis laporan keuangan yang bisa digunakan.

Namun secara umum, analisis laporan keuangan dibagi menjadi dua metode yaitu analisis vertikal dan juga horizontal. Dimana perbedaan keduanya berada pada objek pembanding dan tujuan analisisnya.

Dari kedua metode tersebut, Anda bisa mengembangkan metode-metode analisis yang lebih komprehensif sesuai dengan kebutuhan analisis perusahaan.


Send this to a friend