Akuntansi Archives - RDN Consulting


Category filter:AllAkuntansiBlogEkonomiEventHukumInfografikKesehatanKesehatanKeuanganKeuanganKonsultan PajakLaporan KeuanganManajemenPajakPajakTax ConsultationUncategorized
No more posts
May 20, 2022
WhatsApp-Image-2022-05-16-at-4.44.03-PM.jpeg

Untuk menilai kelayakan laporan keuangan dibutuhkan bantuan auditor. Auditor melakukan audit untuk menghasilkan opini audit. Ada 5 jenis opini audit yakni unqualified opinion, modified unqualified opinion, qualified opinion, adverse opinion dan disclaimer of opinion.

5 Jenis Opini Audit Laporan Keuangan

Sebelum memberikan opini audit dilakukan pengujian pengendalian dan prosedur analitik. Kriteria opini sendiri dijelaskan dalam contoh opini audit sebagai berikut :

1. Modified Unqualified Opinion

Opini ini dinilai wajar atau layak namun didampingi dengan paragraf penjelas yang tidak memiliki pengaruh langsung pada opini yang telah diberikan auditor. Penjelasan paragraf merupakan kondisi tertentu yang sudah disebutkan. Pemicu dari opini ini diantaranya adalah :

  • Keraguan besar terhadap konsep going concern. Pengaruh ketidakpastian peristiwa masa depan dan hasilnya tidak dapat diprediksi
  • Sebagian pendapat ditarik dari opini auditor independen lainnya
  • Tidak adanya aturan yang jelas terkait lapkeu berdampak timbul potensi menyimpang dari standar yang telah diberlakukan dalam akuntansi

2. Adverse Opinion

Adverse Opinion diberikan auditor ketika memeriksa dan memperoleh bukti cukup tepat untuk menyimpulkan kesalahan dalam membuat lapkeu. Kesalahan penyajian bisa individual maupun agregasi.

Adanya material yang pervasif pada lapkeu. Kondisi pervasif adalah kekeliruan yang berpengaruh kemanapun dan mendalam.

3. Qualified Opinion

Dalam penilaian auditor, opini inilah yang memiliki penilaian paling baik. Auditor memberikan qualified opinion jika ada hal dibawah ini :

  • Terdapat bukti yang cukup dan tepat oleh auditor memberikan kesimpulan adanya kesalahan penyajian secara individual maupun agregasi. Hasil audit ini berdampak tidak preventif terhadap lapkeu yang tersaji
  • Tidak adanya bukti untuk mendukung opini auditor namun timbul dampak kekeliruan penyajian. Walaupun adanya bukti maka timbul material namun tidak preventif.

Baca Juga: Audit Forensik, Contoh Kasus dan Perbedaan dengan Audit Investigasi

4. Disclaimer Of Opinion

Pada opini ini, auditor tidak menyatakan pendapat karena berdampak penyajian kekeliruan material yang tak terdeteksi. Apabila ada bersifat material dan preventif. 

Bila ruang lingkup auditor terbatas maka tidak dapat dilakukan pemeriksaan. Kondisi inilah yang membuat opini tidak menyatakan pendapat dirilis oleh auditor.

5. Unqualified Opinion

Unqualified Opinion merupakan hasil audit tanpa kesalahan material apapun. Laporan yang telah tersaji sesuai dengan standar akuntansi saat ini. Laporan keuangan dengan hasil audit seperti ini memenuhi persyaratan sebagai berikut :

  • Laporan keuangan tersaji secara lengkap
  • Bukti audit lengkap dan sesuai
  • Telah memenuhi standar umum dan adanya lampiran yang didasarkan atas serta prinsip akuntansi yang diberlakukan secara konsisten
  • Tidak ada keadaan dimana auditor perlu menambahkan paragraf penjelas atau modifikasi laporan

Jika laporan keuangan mendapatkan opini auditor dapat meningkatkan kepercayaan publik. Opini auditor meningkatkan kredibilitas perusahaan dan transparansi. Selain itu memberikan citra yang baik untuk investor agar mau berinvestasi.

Opini audit tak jarang dibutuhkan dalam perpajakan. Untuk itu, laporan keuangan perlu tersaji secara tepat, lengkap dan sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku saat ini.


May 17, 2022
WhatsApp-Image-2022-05-16-at-4.03.12-PM.jpeg

Pajak tangguhan juga dikenal sebagai deferred tax. Deferred tax dapat dilihat dari dua aspek yaitu beban dan pendapatan pajak (deferred tax expense / deferred tax income).

Pajak ini juga diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.46 terkait Akuntan Pajak Penghasilan. Dampak dari jenis pajak ini bisa menambah atau malah mengurangi beban dalam tahun pajak pada periode yang bersangkutan.

Tujuan

Definisi dari deferred tax dilihat dari dua aspek. Jika disimak dari sudut pandang aset merupakan total pajak keseluruhan atas penghasilan yang dipulihkan pada masa depan karena imbas :

  • Akumulasi rugi pajak belum dikompensasikan
  • Akumulasi kredit pajak belum dimanfaatkan
  • Perbedaan temporer boleh dikurangkan

Bila dilihat dari segi liabilitas adalah total pajak pendapatan terutang di masa depan imbas dari adanya selisih temporer kena pajak. Keduanya memiliki satu konsep yakni terutang di masa depan.

Tujuannya adalah nilai aset yang ditangguhkan guna menghapus kewajiban perpajakan. Nilai aset timbul dari perbedaan laba akuntansi dengan pajak.

Konsep Dasar

Ada empat pendekatan secara fiskal untuk menilai konsep pajak tangguhan. Berikut empat pendekatan yang dimaksud :

 

1. Pengakuan

 

Pada Lapkeu (laporan keuangan) pajak ini dapat digolongkan sebagai aktiva. Artinya perusahaan mengakui adanya nilai tercatat pada aset (aktiva) atau melunasi nilai yang ada pada hutang. Perbedaan temporer  berdampak pada bertambahnya beban pajak di masa mendatang dan diakui sebagai kewajiban hutang.

 

2. Pengukuran

 

Tarif pajak yang berlaku untuk pajak ini berdasarkan aset direalisasikan atau saat kewajiban telah dilunasi. Secara substantif pengukurannya dihitung dari tanggal neraca. Jika dilihat dari sudut pandang teknis, pengukurannya terhitung dari rugi fiskal yang dikompensasikan.

 

3. Penyajian

 

Aktiva maupun hutang harus dipisahkan dalam neraca. Hal ini berlaku pula pada penghasilan atau beban pajak. Aset dan kewajiban ditunda disajikan dalam aset dan kewajiban kini. 

Apabila aktiva maupun hutang lancar tersaji terpisah dengan aktiva maupun hutang  tidak lancar, maka aktiva maupun hutang pajak tangguhan tidak boleh digolongkan dalam aset atau kewajiban lancar.

 

4. Pengungkapan

 

PSAK No.46 paragraf 56-63 menjabarkan beberapa hal dalam catatan atas lapkeu yakni:

  • Total pajak saat ini atau ditunda yang bersumber dari transaksi langsung dibebankan atau dikreditkan ke ekuitas
  • Jumlah perbedaan temporer dikurangkan dan sisa rugi dikompensasikan ke tahun berikutnya serta diakui aset pajak tangguhan
  • Perubahan tarif pajak berlaku dan perbandingannya pada periode akuntansi sebelumnya
  • Rekonsiliasi antara hasil perkalian profit komersial dengan beban pajak dan tarif pajak berlaku mengungkapkan dasar perhitungan tarif pajak berlaku
  • Rekonsiliasi tarif pajak efektif rata-rata dan berlaku dengan mengungkapkan dasar perhitungan tarif pajak berlaku

 

Baca Juga: Apa itu Akuntansi Perpajakan? Begini Fungsi, Prinsip & Contohnya

 

Pajak tangguhan tidak dapat dihindari serta mengakibatkan dua pendekatan. Manfaat pajak ini mampu menghapus kewajiban perpajakannya. Dampaknya tidak ada lagi kewajiban yang dibayarkan pada masa depan.


May 13, 2022
WhatsApp-Image-2022-05-08-at-9.45.38-AM.jpeg

Ketika membeli barang khususnya yang dikenai pajak, biasanya kita akan mendapatkan faktur/invoice sebagai dokumen tagihan yang memuat nominal yang harus dibayarkan. Selain itu, ada juga penjual yang menerbitkan proforma invoice/faktur proforma terlebih dahulu sebelum menerbitkan invoice/faktur. Lantas, apa itu proforma invoice? Dan apa bedanya dengan invoice?

Pengertian Proforma Invoice

Proforma invoice adalah invoice sementara yang diterbitkan oleh penjual sebelum barang/jasa dikirimkan ke pembeli. Dokumen ini digunakan untuk mengonfirmasi bahwa kedua belah pihak, yakni penjual dan pembeli sudah saling setuju atas detail barang yang akan dikirimkan dan biaya yang harus dibayarkan.

Dengan adanya faktur sementara ini, pembeli bisa memastikan daftar barang apa saja yang akan dikirim dan detail biaya yang harus dibayarkan seperti harga barang, pajak, ongkos pengiriman, dan informasi penting lainnya. Hal ini dilakukan untuk menghindari perselisihan nantinya karena semuanya sudah tertera dengan jelas dan tidak ada yang tersembunyi.

Karena faktur proforma adalah faktur sementara, maka penjual harus menerbitkan faktur/invoice yang sebenarnya ketika pengiriman barang sudah dilakukan. Faktur proforma bukanlah faktur yang sebenarnya karena penjual tidak mencatatnya sebagai piutang ,dan pembeli tidak mencatatnya sebagai utang.

Faktur proforma tidak mengikat secara hukum dan harga pada penjualan akhir masih bisa berubah. Meskipun begitu, dokumen ini dibuat untuk memperkirakan estimasi biaya serta untuk mencegah pengeksposan biaya yang tidak terduga kepada pembeli setelah transaksi selesai dilakukan. ‎

Dalam beberapa kasus, contoh proforma invoice‎‎ dapat ditemukan pada jual beli yang membutuhkan uang muka agar proses produksi bisa dimulai.

Baca Juga: Mengenal Pengertian, Jenis, Fungsi & Contoh Invoice

 

Perbedaan Proforma invoice dan Invoice

Berikut adalah beberapa perbedaan antara faktur proforma dan faktur yang perlu Anda ketahui.

  1. ‎Faktur Proforma adalah faktur sementara yang dikirim sebelum faktur/tagihan yang sebenarnya dibuat serta memuat rincian barang/jasa yang belum dikirim‎ dan estimasi biayanya. Adapun faktur adakah dokumen tagihan yang mengonfirmasi bahwa penjualan terjadi dan meminta pembeli untuk melakukan pembayaran.
  2. Faktur proforma diterbitkan sebelum barang/jasa dikirimkan, sedangkan faktur diterbitkan sebelum pembayaran dilakukan.
  3. Faktur proforma dibuat untuk membantu pembeli mengetahui bahwa rincian barang dan biaya sudah sesuai dengan apa yang diharapkan. Sedangkan faktur dibuat untuk meminta pembeli  agar melakukan pembayaran sesuai tempo.
  4. Faktur harus menyertakan logo, informasi kontak, alamat penagihan, informasi pesanan,serta syarat dan ketentuan. Sedangkan faktur proforma harus menyertakan informasi yang sama dengan faktur tetapi harus diberikan label proforma dengan jelas.
  5. Faktur proforma ‎dibuat sekadar untuk memberikan gambaran umum tentang jumlah yang akan jatuh tempo dan kapan harus dibayar. Sedangkan faktur dibuat untuk penagihan yang sebenarnya dan dicatat sebagai hutang piutang. 
  6. Pada faktur proforma, informasi mengenai biaya yang harus dibayarkan masih bisa berubah. Sedangkan pada faktur, total biaya yang tercantum tidak lagi bisa berubah.

Demikianlah penjelasan mengenai apa itu proforma invoice dan perbedaannya dengan invoice.


April 13, 2022
WhatsApp-Image-2022-04-10-at-11.07.57-AM.jpeg

Laporan keuangan menjadi hal yang penting sekali untuk diperhatikan dalam bisnis maupun perusahaan. Hal ini karena menyangkut banyak hal dan juga aspek. Bagian dari laporan keuangan yang tak kalah penting adalah neraca keuangan. Lalu, apa yang dimaksud dengan neraca keuangan dan bagaimana cara membuatnya? Simak pembahasannya dalam artikel berikut ini!

Pengertian Neraca Keuangan

Hal yang mendasar dari neraca keuangan adalah informasi mengenai aset, kewajiban pembayaran pada pihak terkait dalam operasional perusahaan, dan juga modal yang digunakan dalam waktu tertentu. Jenis neraca yang digunakan oleh setiap perusahaan pun tentunya akan berbeda, tergantung jenis bidang yang digeluti. Namun, tujuannya tetap sama, yaitu membantu pengelolaan keuangan dalam perusahaan tersebut.

Komponen pada Laporan Neraca Keuangan

Laporan neraca keuangan tentunya disajikan melalui teknik yang rapi dan juga dikerjakan dengan teliti. Oleh karena itu, penting sekali untuk mengetahui komponen-komponen yang ada di dalamnya guna menghasilkan laporan keuangan yang terpercaya. Komponen yang dibutuhkan tersebut antara lain:

1. Aset

Aset (aktiva) adalah keseluruhan sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan. Hal ini berkaitan dengan nilai kekayaan dan juga kebutuhan perusahaan untuk tetap beroperasi. Aktiva ini terbagi menjadi dua, yaitu:

          Aset lancar: aset yang memiliki kegunaan dalam jangka pendek.

          Aset tetap: aset yang manfaatnya memiliki masa lebih dari satu tahun.

2. Liabilities (kewajiban)

Komponen penting yang lainnya adalah kewajiban yang juga merupakan utang terhadap pihak lain yang harus dibayar. Hal ini biasanya meliputi utang, pendapatan, dan juga biaya jatuh tempo. Terdapat dua kewajiban dalam laporan neraca keuangan. Di antaranya adalah:

          Utang/kewajiban lancar: kewajiban yang jatuh tempo dalam kurun waktu satu tahun.

          Utang/kewajiban jangka panjang: kewajiban yang  jatuh temponya lebih dari satu tahun.

Baca Juga: Pengertian Liabilitas dan Jenis-Jenisnya dalam Bisnis

3. Modal atau ekuitas

Modal atau ekuitas merupakan elemen yang terdapat dalam laporan keuangan dan dapat mencerminkan kepemilikan perusahaan. Hal ini dapat diartikan sebagai selisih antara komponen aset dan utang. Artinya, ekuitas dalam laporan neraca merupakan saldo akhir dari usaha. Macam-macam modal yang perlu diketahui antara lain:

          Saham disetor (jumlah kas yang disetorkan oleh pemegang saham ke perusahaan)

          Laba ditahan (laba perusahaan yang tidak dibagikan kepada pemegang saham)

Hal-Hal Penting dalam Membuat Laporan Neraca Keuangan

Ketika Anda akan membuat laporan neraca keuangan, penting sekali untuk melihat contoh neraca keuangan dan juga mengetahui format neraca keuangan agar memiliki gambaran saat membuatnya. Namun, perhatikan pula empat hal berikut ini agar pembuatan laporan dapat berjalan dengan baik.

          Membuat jurnal neraca

          Memposting laporan laba rugi

          Menyusun laporan laba rugi

          Menyusun laporan perubahan modal

Dengan empat poin di atas, maka pembuatan laporan neraca keuangan pun akan lebih mudah. Itulah serba-serbi mengenai neraca keuangan yang penting sekali untuk diperhatikan. Agar laporan terbebas dari kekeliruan yang memungkinkan merugikan perusahaan, usahakanlah agar mempercayakannya pada orang yang kompeten atau mengerjakannya dengan teliti.


March 21, 2022
WhatsApp-Image-2022-03-20-at-9.24.47-AM.jpeg

Semua hal yang memiliki keterkaitan dengan perusahaan atau bisnis tentu tidak akan lepas dengan perhitungan keuangan. Membahas mengenai hal tersebut, aktiva merupakan salah satu istilah yang sering sekali dibahas, karena termasuk ke dalam salah satu komponen yang begitu krusial. Selain itu, komponen yang satu ini juga memiliki jenis dan juga contoh yang harus diperhatikan.

Aktiva adalah semua sumber ekonomi yang dimiliki sebuah entitas yang dapat diukur dalam satuan uang. Aktiva dalam laporan keuangan muncul di neraca bersanding dengan pasiva yang berupa hutang dan ekuitas.

Jenis-Jenis Aktiva

Aktiva dapat berupa aset berwujud dan tidak berwujud. Jenisnya sendiri digolongkan dalam empat jenis di antaranya adalah current assets, fixed assets, long term investment dan intangible fixed assets

1. Current Assets

Current Assets (aktiva lancar) merupakan segala kekayaan yang dimiliki perusahaan yang dapat dikonversikan ke uang tunai dengan mudah. Dikatakan mudah karena kekayaan dapat diuangkan kurang dari satu tahun.

Beberapa contoh aktiva lancar adalah kas, piutang dagang, piutang wesel, beban dibayar di muka, perlengkapan dan persediaan produk yang dijual. 

Ada beberapa ciri khas yang dapat dikenali dari aset lancar. Di antaranya mudah diperjual belikan, penggunaannya kurang dari satu tahun dan umumnya berbentuk uang tunai.

2. Fixed Assets

Ada pula istilah fixed assets (aktiva tetap) yakni aset yang sifatnya tidak dapat langsung dicairkan dalam bentuk uang tunai.

Beberapa contoh aktiva tetap adalah tanah, bangunan, mesin atau kendaraan yang dimiliki perusahaan. Beberapa jenis aktiva tetap nilainya akan disusutkan (depresiasi) sesuai dengan jenis metode penyusutan yang digunakan. 

Ciri dari aktiva ini tidak likuid dan bukan digunakan untuk tujuan investasi. Masa manfaatnya lebih dari satu tahun dan aset digunakan untuk kegiatan operasional bisnis.

3. Long Term Investment

Ada pula investasi jangka panjang atau long term investment yang didapatkan dari penanaman modal dalam perusahaan. Tujuan dari investasi jangka panjang untuk memperoleh keuntungan dan mengontrol perusahaan.

Contoh dari jenis aset ini di antaranya pembelian saham perusahaan lain, obligasi maupun surat utang negara. Ciri dari investasi jangka panjang ialah keuntungannya tidak dapat didapatkan dalam jangka waktu pendek.

Umumnya diperjualbelikan jika situasi keuangan perusahaan dalam keadaan darurat. Investasi ini sering digunakan investor untuk memberikan pengaruh pada suatu perusahaan khususnya dalam memberikan keputusan.

4. Intangible Fixed Assets

Terakhir, ada intangible fixed assets atau aset tetap tidak berwujud. Aset jenis ini memiliki umur ekonomis yang lebih panjang dibandingkan aset tetap. Aset tetap tidak berwujud ini juga disusutkan namun menggunakan istilah amortisasi.

Beberapa contoh aset tetap tidak berwujud adalah hak paten, hak cipta, merek dagang, hak sewa, franchise bahkan good will. Good will adalah nilai baik sebuah korporasi yang memberikan keistimewaan bagi perusahaan.

Sementara franchise adalah hak dari kesepakatan antara dua pihak penggunaan nama merek dagang, resep khusus maupun lambang usaha. 

Kesimpulan

Aset terbagi atas empat jenis yakni aset lancar, aset tetap,  investasi jangka panjang dan aset tetap tidak berwujud. Baik aset berwujud atau tidak berwujud perlu dikelola dengan baik.

Caranya perlu dilakukan pencatatan aset, perhitungan penyusutan dan pelaporannya dalam laporan keuangan. Tujuannya agar nilai valuasi perusahaan tidak lebih rendah dari seharusnya.

Pengelolaan aktiva merupakan kegiatan krusial dalam perusahaan. Bila Anda kesulitan dalam pengelolaannya, Anda bisa hubungi kami, Jasa konsultan pajak dan akuntansi Rusdiono Consulting.


March 18, 2022
WhatsApp-Image-2022-03-12-at-7.31.31-AM.jpeg

Metode penyusutan aktiva tetap terbagi atas 5 jenis. Jika disusutkan maka nilai aset tetap tersebut akan berkurang setiap tahunnya.

Penyusutan aktiva tetap berpengaruh pada laporan laba rugi dan neraca. Tujuan diadakannya penyusutan aktiva tetap adalah untuk menunjukkan nilai real suatu aset tetap di entitas tersebut.

Faktor yang mempengaruhi besaran penyusutan adalah harga perolehan aset, umur ekonomis dan nilai residunya. Penggunaan metode penyusutan juga berpengaruh pada besaran nilai penyusutan yang dikenakan.

Metode Penyusutan Aktiva Tetap

Ada beberapa metode penyusutan aktiva tetap yang perlu diketahui. Antara lain:

Straight Line Method

Metode ini juga dikenal sebagai metode penyusutan garis lurus. Besaran beban penyusutannya tiap tahun sama. Contoh penyusutan aktiva tetap dengan metode ini dapat disimak sebagai berikut:

Dibeli mesin tahun 2020 seharga Rp50.000.000 dengan nilai residu sebesar Rp5.000.000. Diperkirakan masa manfaat mesin ini dapat digunakan hingga 5 tahun ke depan. Maka perhitungan beban penyusutannya tiap tahun adalah:

= (Rp50.000.000 – Rp5.000.000): 5

= Rp45.000.000: 5

= Rp9.000.000 per tahun

Double Declining Balance Method

Penyusutan ini dikenal dengan metode penyusutan saldo menurut. Perhitungannya menggunakan persentase pada harga buku yang bersangkutan. Besaran persentase penyusutannya biasanya dua kali persentase tarif penyusutan metode garis lurus. 

Untuk memahami metode ini kita bisa gunakan soal yang sama seperti pada metode garis lurus. Persentase yang bisa digunakan dalam metode ini dapat berupa saldo menurun tunggal atau berganda.

Gunakan soal yang sama dengan metode garis lurus. Perhitungannya adalah sebagai berikut:

% depresiasi per tahun: ⅕ tahun x 100 % = 20 % x 2 = 40 %

Maka perhitungan biaya penyusutan per tahunnya menurut metode saldo menurun dari soal yang sama dengan metode garis lurus adalah:

Tahun Harga Mesin Penyusutan % Tarif Depresiasi Akun Penyusutan Nilai Buku
0 Rp50.000.000 40 % Rp50.000.000
1 Rp50.000.000 Rp20.000.000 40 % Rp.20.000.000 Rp.30.000.000
2 Rp30.000.000 Rp12.000.000 40 % Rp32.000.000 Rp18.000.000
3 Rp18.000.000 Rp7.200.000 40 % Rp39.200.000 Rp10.800.000
4 Rp10.800.000 Rp4.320.000 40 % Rp43.520.000 Rp6.480.000
5 Rp6.480.000 Rp2.592.000 40 % Rp46.112.000 Rp3.888.000

Sum of The Year Digit Method

Metode ini perhitungannya menggunakan besaran penyusutan aktiva tetap tiap tahun yang jumlahnya semakin menurun. Misalnya saja pada mesin yang dibeli tahun 2020 memiliki umur ekonomis 5 tahun. 

Maka perhitungan jumlah umur ekonomisnya adalah 1+2+3+4+5 = 15 sebagai nilai penyebutnya. Sementara urutan tahun menjadi pembilangnya.

Tahun Biaya Penyusutan akun. Penyusutan Nilai Buku
2020 (5/15) Rp15.00.000 Rp15.00.000 Rp35.000.000
2021 ( 4/15) Rp12.000.000 Rp27.000.000 Rp23.000.000
2022 (3/15) Rp9.000.000 Rp36.000.000 Rp14.000.000
2023 (2/15) Rp6.000.000 Rp42.000.000 Rp8.000.000
2024 (1/15) Rp3.000.000 Rp45.000.000 Rp5.000.000

Service Hours Method

Dalam metode penyusutan jam kerja perhitungannya didasarkan pada jumlah satuan produk yang dihasilkan. Sebagai contoh mesin yang dibeli pada 2020 tersebut memiliki kemampuan kapasitas produksi selama 10.000 jam.

Rata-rata produksi per tahunnya sekitar 2500 jam saja. Perhitungan nilai penyusutannya adalah Rp50.000.000 – Rp5.000.000 = Rp45.000.000: 10.000 jam = 4500/jam.

Nilai penyusutan per tahunnya dapat dihitung dengan cara 4500 x 2500 jam sehingga besaran beban penyusutan Rp11.250.000 per tahun.

Productive Output Method

Beban depresiasi pada metode ini didasarkan pada jumlah satuan produk yang dihasilkan pada periode bersangkutan. 

Perhitungannya adalah dengan mengalikan jam dari satuan produksi dengan tarif penyusutan setiap produk. Sebagai contoh soal yang sama atas mesin dibeli pada 2020.

Ternyata kapasitas produksi mesin 10.000 unit. Rata-rata hasil produksi per tahunnya adalah 2500 menit maka perhitungan nilai penyusutan per tahunnya adalah sebagai berikut:

Rp50.000.000 – Rp5.000.000 = Rp45.000.000: 10.000 unit = 4500/unit. Sementara nilai penyusutan per tahunnya adalah 4500 x 2500 unit = Rp11.250.000 per tahun.

Baca Juga: Mengenal Metode Penyusutan dan Jenisnya dalam Akuntansi

Kesimpulan

Setiap jenis metode penyusutan yang digunakan nilainya berbeda satu dengan lainnya. Walaupun begitu jurnal penyusutan aktiva tetap sama yakni sebagai berikut:

Dr. Biaya penyusutan mesin xxx

Cr. Akumulasi penyusutan mesin xxx

 

Metode penyusutan aktiva harus dihitung secara teliti karena berkaitan pula dengan laba rugi. Gunakan Jasa konsultan pajak dan akuntansi Rusdiono Consulting untuk mempermudah perhitungan penyusutan aktiva tetap.


November 26, 2021
WhatsApp-Image-2021-11-20-at-3.08.54-PM-1.jpeg

Di dalam akuntansi, tentu Anda sering mendengar istilah biaya dibayar di muka.

Biaya dibayar di muka adalah istilah dalam akuntansi ketika Anda membayar sesuatu namun tidak digunakan secara langsung pada periode akuntansi tersebut.

Sebenarnya, Anda sering menemui contoh biaya dibayar di muka dalam kehidupan sehari-hari. Misal membayar sewa wifi atau membayar langganan layanan online streaming.

Lalu, apa itu biaya dibayar di muka dan bagaimana contoh kasusnya dalam penerapan di dalam jurnal akuntansi? Simak penjelasan singkatnya melalui artikel ini.

Pengertian Biaya Dibayar di Muka (Prepaid Expenses)

Seperti yang sudah dijelaskan pada kalimat pembuka, ada saatnya dimana Anda harus membayar sesuatu sebelum barang atau jasa tersebut dimanfaatkan.

Pembayaran di awal itu lah yang disebut dengan Biaya Dibayar di Muka atau dalam bahasa Inggris disebut prepaid expenses.

Biaya Dibayar di Muka adalah biaya yang dibayar sebelum aset tersebut digunakan di masa mendatang atau sebelum jatuh tempo.

Biaya tersebut tidak dibebankan secara langsung pada periode bersangkutan karena belum menjadi beban untuk periode tersebut sehingga biaya dibayar di muka dianggap sebagai aset lancar.

Baru kemudian biaya tersebut diakui sebagai beban pada waktu-ke-waktu sesuai dengan masa manfaatnya.

Penyajian Transaksi Biaya Dibayar di Muka dalam Akuntansi

Biaya dibayar dimuka dapat diilustrasikan ketika perusahaan setiap bulannya harus menggaji karyawan.

Pada awal tahun perusahaan akan mengeluarkan sejumlah biaya untuk gaji karyawan. Namun biaya tersebut tidak langsung diakui sebagai beban. Namun sebuah aset lancar.

Barulah, setiap bulannya, biaya tersebut diakui sebagai beban gaji yang telah dibayar di muka tadi.

Dengan kata lain, pada bulan-bulan berikutnya hingga akhir periode akuntansi meski tidak ada transaksi, biaya-biaya tersebut tetap dianggap sebagai beban yang dicatat dalam laporan laba rugi.

Apakah boleh demikian? Jawabannya sah-sah saja sebagai akuntansi akrual. Hal ini berguna bagi perusahaan agar keuangan terlihat stabil.

Bukan hanya itu, pencatatan biaya dibayar di muka juga berguna untuk memperkaya informasi keuangan sehingga perusahaan bisa lebih baik dalam mengukur biaya dan pendapatan dalam setiap transaksi jangka pendek.

Apa saja Jenis Transaksi Biaya Dibayar Dimuka dalam Perusahaan?

Selain gaji yang telah diilustrasikan di atas, transaksi apa saja yang termasuk ke dalam biaya dibayar di muka?

  • Polis asuransi
  • Biaya sewa jasa maupun barang
  • Tagihan utilitas
  • Beban bunga
  • Taksiran pajak
  • peralatan perusahaan

Baca Juga: Pengertian Manajemen Biaya, Konsep hingga Langkah Penerapannya

Contoh Jurnal Biaya Dibayar di Muka

Misalnya, perusahaan XYZ membayar di muka polis asuransi prabayar sebesar Rp12.000.000 pada 1 Januari 2020 untuk satu tahun.

Biaya Rp12.000.000 tidak diakui sebagai beban. Karena masih ada 11 bulan lagi dari asuransi yang belum didapatkan manfaatnya. Sehingga masih dianggap sebagai aset.

Baru lah setiap bulannya, biaya yang dibayar dimuka tadi dianggap sebagai beban dengan membagi biaya Rp12.000.000 tadi dengan jumlah bulan selama satu tahun (Rp12.000.000 / 12) sehingga beban yang dicatat tiap bulannya sebesar Rp1.000.000.

Kemudian di akhir masa pemanfaatan asuransi habis, akun biaya dibayar di muka tadi menjadi nol.

Ilustrasi pencatatannya adalah sebagai berikut

1/1/2020 Debit Kredit
Asuransi dibayar di muka Rp12.000.000
Kas Rp12.000.000

 

pengakuan beban pada laporan laba rugi setiap bulannya

31/1/2020 Debit Kredit
Biaya asuransi Rp1.000.000
Asuransi dibayar di muka Rp1.000.000

 

Pendekatan Jurnal Penyesuaian Biaya Dibayar di Muka 

Ada dua pendekatan dalam mencatat atau membuat jurnal penyesuaian biaya dibayar di muka yaitu metode neraca dan metode laba rugi.

Perbedaan dari kedua metode tersebut adalah apabila pembuatan jurnal penyesuaian menggunakan metode neraca, maka nilai yang digunakan adalah nilai terpakai atau nilai jatuh tempo.

Sedangkan metode laba rugi menggunakan nilai yang masih menjadi sisa beban.

Sehingga metode neraca memasukkan biaya dibayar dimuka ke dalam kredit. Sedangkan pada metode laba rugi memasukkan biaya dibayar dimuka ke dalam debit.

Penggunaan metode ini harus konsisten. Misalnya sejak awal perusahaan menggunakan metode neraca, maka seterusnya harus menggunakan metode neraca dan begitu juga sebaliknya.

Contoh Kasus Penggunaan Jurnal Penyesuaian Metode Neraca

Perusahaan KLM membayar jasa sewa pembuatan iklan komersial pada bulan April 2020 dengan biaya Rp120.000.000 untuk aktivitas iklan setahun atau 12 bulan sejak April 2020..

Itu berarti masa dari penggunaan jasa sewa akan berakhir pada bulan Maret 2021. Bagaimana pencatatan jurnal penyesuaiannya apabila menggunakan metode neraca?

Pertama, Anda perlu menghitung penggunaan jasa sewa pada periode adanya biaya dibayar dimuka yaitu pada bulan April 2020 hingga Desember 2020.

Itu berarti masa yang dihitung adalah 9 bulan. Maka cara perhitungannya adalah 9 bulan dikalikan Rp120.000.000 dibagi dengan total kontrak kerja sama yaitu 12 bulan.

Sehingga didapat: 9/12 x Rp120.000.000 = Rp90.000.000

Maka jurnal penyesuaiannya adalah sebagai berikut:

31/12/2020 Debit Kredit
Beban sewa jasa iklan Rp90.000.000
Biaya sewa dibayar di muka Rp90.000.000

 

Contoh Kasus Penggunaan Jurnal Penyesuaian Metode Laba Rugi

Anggap masih menggunakan ilustrasi perusahaan KLM yang menggunakan jasa sewa dan perusahaan KLM memutuskan untuk menggunakan metode laba rugi.

Maka yang dicatat ke dalam jurnal penyesuaian adalah sisa beban sewa yang belum terpakai yaitu selama 3 bulan (Sisa dari 12 bulan yang sudah dipakai 9 bulan).

Sama perhitungannya yaitu biaya yang dibayar di muka dikalikan dengan jumlah bulan sisa dan dibagi ke total tahun kontrak kerja sama yaitu 12 bulan.

Maka didapat: 3/12 x Rp120.000.000 = Rp30.000.000 dan jurnal penyesuaiannya dapat dicatat sebagai berikut.

 

31/03/2020 Debit Kredit
Biaya sewa dbayar di muka Rp30.000.000
Beban sewa jasa iklan Rp30.000.000

 

Kesimpulan

Pencatatan biaya dibayar di muka yang tidak langsung dijadikan beban mempermudah perusahaan dalam merencanakan pengeluaran lainnya dalam jangka waktu yang lebih pendek.

Selain itu, perlu diingat, Biaya dibayar dimuka atau prepaid expenses berbeda dengan uang muka atau down payment

Prepaid expenses merupakan biaya yang dikeluarkan secara penuh di awal sedangkan down payment merupakan beban utang perusahaan.

Apabila Anda masih kesulitan dalam membuat jurnal biaya dibayar dimuka, Anda bisa menghubungi Kami, Jasa konsultan pajak dan akuntansi Rusdiono Consulting sebagai rekan konsultasi Anda dalam berbisnis.


August 24, 2021
WhatsApp-Image-2021-08-22-at-5.51.05-AM.jpeg

Setiap bisnis memiliki berbagai pilihan dalam menentukan metode penetapan harga. Harga yang didasarkan pada tiga hal utama yaitu biaya produksi, permintaan, dan persaingan. Namun sayang, banyak bisnis yang menetapkan harga tanpa banyak pertimbangan. 

Oleh karena itu, artikel ini akan membantu bisnis Anda untuk memilih salah satu metode berdasarkan produk atau layanan yang Anda berikan.

Umumnya, metode penetapan harga dapat secara luas diklasifikasikan menjadi dua bagian:

  • Metode Penetapan Harga Berdasarkan Biaya
  • Metode Penetapan Harga Berdasarkan Pasar

Berikut penjelasan lebih lanjut.

 

A. Metode Penetapan Harga: Biaya (Cost Oriented Pricing)

 

Banyak bisnis menganggap biaya produksi sebagai dasar untuk menghitung harga barang jadi. Metode penetapan harga berorientasi biaya mencakup cara penetapan harga berikut:

 

 

1. Cost-Plus Pricing 

 

Metode ini adalah metode penetapan harga paling sederhana. Produsen menghitung biaya produksi yang dikeluarkan dan menambah persentase tertentu dari markup untuk merealisasikan harga jual.

Markup adalah persentase keuntungan yang dihitung dari total biaya yaitu biaya tetap dan biaya variabel.

Contoh:

Jika Harga Pokok Produksi produk-A adalah Rp 5000 dengan markup 25% dari total biaya, harga jual akan dihitung sebagai berikut.

= Harga pokok produksi + Harga Pokok Produksi x Markup Persentase/100

= 5000+ 5000 x 0,25= 6250

Jadi, sebuah bisnis memperoleh laba sebesar Rp 125 (Laba = Harga jual – Harga pokok)

 

2. Markup Pricing

 

Metode ini adalah variasi biaya ditambah penetapan harga dengan persentase markup dihitung pada harga jual.

Contoh:

Jika biaya per unit sebuah coklat adalah Rp16.000 dan produsen ingin mendapatkan markup 20% dari penjualan maka harga markup adalah:

= Biaya Satuan/ 1 laba atas penjualan yang diinginkan

= 16.000/1-0,20 = 20.000

Jadi, produsen akan membebankan Rp20.000 untuk satu cokelat dan akan memperoleh keuntungan Rp4.000 per unit.

 

3. Target Return Pricing

 

Dalam metode penetapan harga semacam ini, bisnis menetapkan harga untuk menghasilkan Tingkat Pengembalian Investasi atau ROI yang diperlukan dari penjualan barang dan jasa. 

Contoh:

Jika produsen sabun menginvestasikan Rp1.000.000 dalam bisnis dan mengharapkan ROI 20% yaitu Rp 200.000, maka perhitungannya:

= Biaya Unit + (Pengembalian yang Diinginkan x modal yang diinvestasikan)/ penjualan unit 

= 16 + (0,20 x 100000)/5000 Target Return Pricing = Rp 20.000

Dengan demikian, produsen akan mendapatkan 20% ROI asalkan biaya dan unit penjualan akurat. Jika penjualan tidak mencapai 50.000 unit maka pabrikan harus menyiapkan grafik titik impas dimana ROI yang berbeda dapat dihitung pada unit penjualan yang berbeda.

 

Baca Juga: Apa itu Akuntansi Manajemen? Bagaimana Fungsi dan Tujuan Akuntansi Manajemen?

 

B. Metode Penetapan Harga: Pasar (Market Oriented Pricing Method)

 

Dalam metode ini, harga dihitung berdasarkan kondisi pasar. Berikut penjelasan lebih lanjutnya.

 

1. Perceived-Value Pricing

 

Dalam metode penetapan harga ini, produsen memutuskan harga berdasarkan persepsi pelanggan terhadap barang dan jasa dengan mempertimbangkan semua elemen seperti iklan, promosi, manfaat, kualitas produk, saluran distribusi, dll yang mempengaruhi persepsi pelanggan.

Contoh: 

Pelanggan membeli produk Sony meskipun produk dengan harga lebih murah tersedia di pasar, hal ini karena perusahaan Sony mengikuti kebijakan penetapan harga yang dipersepsikan di mana pelanggan bersedia membayar ekstra untuk kualitas dan daya tahan produk yang lebih baik.

 

 

2. Value Pricing

 

Dengan metode penetapan harga ini, bisnis merancang produk dengan harga rendah dan mempertahankan penawaran berkualitas tinggi.  Produk direkayasa ulang untuk mengurangi biaya produksi dan menjaga kualitas secara bersamaan.

Contoh:

Tata Nano adalah contoh terbaik dari metode yang satu ini. Beberapa mobil Tata dirancang dengan fitur terbaik dengan harga rendah dan tetap memenuhi kualitasnya. 

 

 

3. Going Rate Pricing

 

Dalam metode ini, bisnis mempertimbangkan harga pesaing sebagai dasar dalam menentukan harga penawarannya sendiri. Umumnya, harga kurang lebih sama dengan harga pesaing.

Contoh:

Di Industri Oligopolistik seperti baja, kertas, pupuk, dll, harga yang dikenakan hampir semua sama.

 

 

4. Auction Type Pricing

 

Metode penetapan jenis ini semakin populer dengan semakin banyaknya penggunaan internet. Beberapa situs online seperti eBay, Quikr, OLX, dll. menyediakan platform bagi pelanggan untuk membeli atau menjual komoditas. Ada tiga jenis lelang:

 

  • English Auctions: Ada satu penjual dan banyak pembeli. Penjual menempatkan barang di situs seperti Yahoo dan penawar menaikkan harga sampai harga terbaik tercapai.

 

  • Dutch Auctions: Ada satu penjual dan banyak pembeli atau satu pembeli dan banyak penjual. Dalam kasus pertama, harga terbaik diumumkan dan kemudian perlahan-lahan turun sesuai dengan penawar sedangkan pada jenis kedua pembeli mengumumkan produk yang ingin dibeli kemudian calon penjual bersaing dengan menawarkan harga terendah.
  • Sealed-Bid Auctions: Metode semacam ini sangat umum dalam kasus pembelian di pemerintahan, di mana tender mengambang di pasar, dan calon pemasok mengajukan penawaran mereka dalam amplop tertutup, tidak mengungkapkan penawaran kepada siapa pun.

 

 

 

 

5. Differential Pricing

 

Metode penetapan harga ini diterapkan ketika harga yang berbeda harus dibebankan dari kelompok pelanggan yang berbeda. Harga juga dapat bervariasi sehubungan dengan waktu, area, dan bentuk produk.

Contoh:

Contoh terbaik dari metode ini adalah Air Mineral. Harga air mineral bervariasi di hotel, stasiun kereta api, toko ritel.

 

Demikian penjelasan kami mengenai metode penetapan harga. Anda dapat mengadopsi salah satu metode penetapan harga ini tergantung pada jenis produk yang ditawarkan dan tujuan akhir penetapan harga. Semoga dapat membantu.


August 23, 2021
WhatsApp-Image-2021-08-22-at-5.36.41-AM.jpeg

Kinerja keuangan dalam arti luas mengacu pada sejauh mana tujuan keuangan perusahaan sedang atau telah dicapai dan menjadi aspek penting dari manajemen risiko keuangan.

Hal ini dilakukan untuk mengukur kesehatan keuangan perusahaan secara keseluruhan dalam waktu tertentu, dapat digunakan untuk membandingkan suatu perusahaan dengan perusahaan lain di industri yang sama atau membandingkan dengan industri berbeda.

Jadi, apa pengertian kinerja keuangan? Bagaimana kinerja keuangan suatu perusahaan dianalisis? Apa saja indikator yang dianalisis dan faktor apa saja yang mempengaruhi?

Simak artikel RDN Consulting berikut ini.

Apa Itu Kinerja Keuangan?

Kinerja keuangan adalah evaluasi suatu perusahaan mengenai aset, kewajiban, ekuitas, biaya, pendapatan, dan profitabilitas secara keseluruhan. Kinerja keuangan diukur melalui berbagai rumus dan formula yang memungkinkan Anda untuk mengetahui efektivitas perusahaan.

Secara internal, kinerja keuangan diperiksa untuk menentukan tolak ukur atau pencapaian perusahaan saat ini. Bagi eksternal, kinerja keuangan dianalisis untuk menentukan peluang investasi potensial dan untuk menentukan apakah suatu perusahaan layak bagi pihak eksternal tersebut.

Perusahaan dan kelompok yang berkepentingan seperti manajer, pemegang saham, kreditur, dan otoritas pajak berusaha menjawab pertanyaan penting seperti:

“Bagaimana posisi keuangan perusahaan pada titik waktu tertentu? Bagaimana kinerja keuangan perusahaan selama periode waktu tertentu?”

Namun sebelum analisis dilakukan pada indikator keuangan tertentu yang menghasilkan kinerja secara keseluruhan, analisis laporan keuangan perlu dilakukan terlebih dahulu.

Pengertian Analisis Laporan Keuangan

Analisis laporan keuangan adalah proses yang dilakukan oleh perusahaan pihak internal dan eksternal untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana kinerja perusahaan. 

Prosesnya terdiri dari menganalisis empat laporan keuangan penting dalam bisnis, antara lain: neraca perusahaan, laporan laba rugi, laporan arus kas, dan laporan tahunan. 

 

 

Neraca

 

Dalam analisis laporan keuangan, neraca perusahaan dilihat untuk menentukan efisiensi operasional bisnis.

Pertama-tama, analisis aset dilakukan, terutama pada aset penting seperti kas, inventaris, dan aset tetap, yang memprediksi pertumbuhan bisnis di masa mendatang.

Selanjutnya, kewajiban jangka panjang dan jangka pendek diperiksa untuk menentukan apakah ada masalah likuiditas di masa yang akan datang atau pembayaran utang yang mungkin tidak dapat ditanggung oleh perusahaan.

Terakhir, ekuitas pemilik perusahaan diperiksa, yang memungkinkan Anda untuk menentukan modal saham yang didistribusikan di dalam dan di luar perusahaan.

 

Baca Juga: Cara Membuat Neraca Saldo, Contoh, Fungsi & Manfaat

 

 

Laporan Laba Rugi

 

Dalam analisis laporan keuangan, laporan laba rugi bisnis diselidiki untuk menentukan profitabilitas saat ini dan masa mendatang secara keseluruhan.

Memeriksa laporan laba rugi fiskal perusahaan sebelumnya dan saat ini memungkinkan Anda untuk menentukan apakah ada tren pendapatan dan pengeluaran. Hal tersebut guna menunjukkan potensi untuk meningkatkan profitabilitas di masa yang akan datang.

Baca Juga: Membuat Laporan Laba Rugi Sederhana dengan Bentuk & Format Berbeda

 

 

Laporan Arus Kas

 

Laporan arus kas sangat penting dalam analisis laporan keuangan untuk mengidentifikasi pemasukan dan pengeluaran perusahaan. 

Jika satu segmen bisnis mengalami arus keluar yang besar, agar tetap bertahan, perusahaan harus menghasilkan arus masuk melalui pembiayaan atau penjualan aset.

 

 

Laporan Tahunan

 

Terakhir, laporan tahunan, yang memberikan informasi kualitatif untuk menganalisis lebih lanjut kegiatan operasional dan pembiayaan perusahaan dengan menyeluruh.

 

Setelah mengetahui bagaimana menganalisis laporan keuangan, Anda dapat mengukur kinerja keuangan perusahaan dengan cara berikut.

Indikator & Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Keuangan 

Melalui analisis kinerja keuangan, rumus dan rasio keuangan tertentu dihitung guna memberikan pemahamanan tentang kondisi dan kinerja keuangan perusahaan saat ini.

Terdapat tujuh rasio yang banyak digunakan dalam dunia bisnis untuk membantu dan mengevaluasi kinerja perusahaan secara keseluruhan. 

 

 

Margin Laba Kotor

 

Margin laba kotor adalah rasio yang mengukur jumlah sisa pendapatan yang tersisa setelah dikurangi harga pokok penjualan.

Rasio ini berguna karena menunjukkan persentase bagian dari setiap rupiah penjualan yang dapat digunakan untuk menutupi biaya operasional perusahaan.

 

Gross Profit Margin = ( Revenue – Cost of Sales) / Revenue x 100

 

 

Modal Kerja 

 

Pengukuran modal kerja digunakan untuk menentukan aset bersih likuid perusahaan yang tersedia untuk mendanai operasional sehari-hari.

Menentukan likuiditas dalam bisnis penting karena menunjukkan apakah perusahaan memiliki sumber daya yang dapat dengan cepat dikonversi menjadi uang tunai jika diperlukan.

 

Working Capital = Current Assets – Current Liabilities

 

 

Rasio Lancar

 

Rasio lancar adalah rasio likuiditas yang membantu bisnis menentukan apakah bisnis memiliki aset lancar yang cukup untuk menutupi atau membayar kewajiban lancarnya.

 

Current Ratio = Current Assets / Current Liabilities

 

 

Rasio Perputaran Persediaan

 

Rasio perputaran persediaan adalah rasio efisiensi yang digunakan untuk mengukur berapa kali perusahaan menjual rata-rata persediaannya dalam satu tahun fiskal.

Rasio ini menguntungkan karena memungkinkan perusahaan dengan mudah menentukan apakah persediaan sedang banyak permintaan, obsolete, dan lain sebagainya.

 

Inventory Turnover = (Cost of Sales) / ((Beginning Inventory + Ending Inventory) / 2)

 

 

Leverage

 

Leverage adalah pengganda ekuitas yang dihitung oleh bisnis untuk menggambarkan berapa banyak utang yang sebenarnya digunakan untuk membeli aset.

 

Leverage = Total Assets / Total Equity

 

 

Pengembalian Aset

 

Pengembalian aset, seperti namanya, membantu perusahaan menentukan seberapa baik asetnya digunakan agar lebih menguntungkan.

Jika aset tidak digunakan secara efektif, jumlah pengembalian aset perusahaan akan rendah.

 

Return of Assets (ROA) = Net Profit / ((Beginning + Ending Assets) / 2)

 

 

Pengembalian Ekuitas

 

Mirip dengan pengembalian aset, pengembalian ekuitas adalah rasio profitabilitas yang digunakan untuk menganalisis efektivitas ekuitas, yang pada gilirannya menghasilkan keuntungan bagi investor.

Pengembalian ekuitas yang lebih tinggi menunjukkan bahwa investor akan menghasilkan di tingkat yang jauh lebih efisien, yang lebih menguntungkan bagi bisnis secara keseluruhan.

 

Return on Equity = Net Profit / ((Beginning Equity + Ending Equity) /2)

 

Tujuan Analisis Kinerja Keuangan Perusahaan

Sejatinya, jenis analisis bervariasi sesuai dengan kepentingan khusus pihak yang terlibat. Berikut contohnya.

 

 

  • Kreditur: tertarik pada likuiditas perusahaan (penilaian likuiditas perusahaan). 
  • Pemegang obligasi: tertarik pada kemampuan arus kas perusahaan (penilaian struktur modal perusahaan, sumber utama dan penggunaan dana, profitabilitas dari waktu ke waktu, dan proyeksi profitabilitas masa mendatang.).
  • Investor:  tertarik pada pendapatan saat ini dan yang diharapkan di masa depan serta stabilitas pendapatan ini (penilaian profitabilitas perusahaan dan kondisi keuangan).
  • Manajemen: tertarik pada pengendalian internal, kondisi keuangan yang lebih baik dan kinerja lebih baik (penilaian kondisi keuangan perusahaan saat ini, evaluasi peluang dalam kaitannya dengan posisi saat ini, pengembalian investasi yang disediakan oleh berbagai aset perusahaan, dll.).

 

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kinerja keuangan perusahaan merupakan laporan kesehatan keuangan suatu perusahaan yang membantu berbagai pihak internal dan eksternal dalam mengambil keputusan. 

Ingin menganalisis dan mengukur kinerja keuangan perusahaan saat ini? Anda dapat berkonsultasi dengan salah satu jasa akuntansi RDN Consulting, yang memberikan layanan jasa akuntansi seperti laporan keuangan bisnis kecil maupun besar.

Bersama kami, Anda dapat mengetahui posisi dan kinerja keuangan saat ini, sehingga kontrol keuangan lebih efektif & membantu perusahaan berkembang. Segera hubungi kami sekarang.


August 16, 2021
WhatsApp-Image-2021-08-15-at-11.29.57-AM.jpeg

Selain laporan laba rugi, neraca, dan laporan arus kas, dalam siklus akuntansi entitas bisnis atau perusahaan juga mengenal laporan perubahan modal.

Seperti yang Anda ketahui, dalam siklus akuntansi modal perusahaan pasti akan mengalami perubahan. Entah itu berkurang atau bahkan menjadi sumber daya yang baru.

Selain itu, laporan perubahan modal juga dipengaruhi oleh laporan-laporan keuangan lainnya terutama laporan laba-rugi.

Untuk lebih jelasnya dalam memahami dasar laporan perubahan modal beserta cara membuatnya, simak terus artikel berikut ini.

 

Apa itu Laporan Perubahan Modal?

Sebelum memahami pengertian laporan perubahan modal, mari analogikan dulu kenapa modal perusahaan bisa berubah.

Misal, Anda membuka bisnis keripik dengan mengeluarkan modal sekian rupiah.Tentunya,  ketika menjalankan bisnis, Anda memanfaatkan modal tersebut.

Modal atau dalam istilah keuangan disebut ekuitas adalah sejumlah sumber daya berupa dana atau uang yang dikeluarkan oleh pemilik usaha atau pihak lain yang terlibat dalam jalannya perusahaan untuk kepentingan bisnis.

Salah satu pemanfaatan modal adalah untuk membeli aset usaha Anda dalam membuat keripik dan biaya-biaya terkait produksi keripik.

Misalnya untuk membeli mesin pembungkus, kuali, kompor. Sedangkan untuk biaya produksi Anda menggunakan modal tersebut untuk membeli bahan dan menyewa karyawan.

Dari cerita singkat tersebut, Anda pasti sudah memahami kenapa modal yang Anda keluarkan bisa berubah.

Perubahan modal ini nantinya wajib Anda laporkan dalam laporan keuangan berupa laporan perubahan modal.

Jadi, bisa disimpulkan bahwa laporan perubahan modal adalah salah satu jenis laporan keuangan yang berfungsi untuk menyajikan informasi perubahan modal dalam satu periode siklus akuntansi.

Sebagai tambahan, dalam laporan keuangan perusahaan di Indonesia, apalagi jika sudah go public dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), laporan perubahan modal ditempatkan setelah laporan posisi keuangan atau neraca dan laba rugi.

Selain itu apabila Anda mendengar istilah laporan laba ditahan atau laporan perubahan ekuitas disamakan dengan laporan perubahan modal, maka itu tidak salah.

Ketiga istilah sama-sama benar dan kerap digunakan oleh banyak perusahaan sebagai penyebutan laporan perubahan modal.

 

Alasan Kenapa Modal Bisa Berubah

Di atas, secara sederhana Anda sudah mengetahui kenapa modal bisa berubah dalam satu periode operasional usaha.

Namun secara komprehensif, Anda bisa mengidentifikasi lebih jauh kenapa modal suatu usaha bisa berubah. Berikut alasannya:

  • Adanya kenaikan ekuitas atau modal. Baik yang berasal dari laba maupun tambahan investasi yang mengakibatkan modal kerja bertambah.
  • Adanya penambahan atau pembelian aktiva (aset) tetap yang menyebabkan berkurangnya modal kerja.
  • Adanya pengurangan aset atau aktiva tetap karena adanya penjualan atau mengalami depresiasi yang mengakibatkan penambahan modal kerja.
  • Pengambilan modal yang dilakukan oleh pemilik perusahaan atas dasar kepentingan pribadi atau prive.
  • Adanya penambahan utang jangka panjang baik dalam bentuk obligasi, hipotek, atau bentuk lainnya yang diimbangi dengan bertambahnya aset lancar. Hal ini akan menyebabkan modal kerja bertambah.
  • Perusahaan menderita kerugian baik yang sifatnya normal maupun accidental.
  • Adanya pembentukan dana atau pemisahan aktiva lancar untuk tujuan tertentu dalam jangka panjang. Maka hal ini akan mengurangi modal kerja.

Fungsi Laporan Perubahan Modal

Selain untuk dokumentasi, salah satu fungsi utama dalam membuat laporan perubahan modal adalah untuk mengetahui kinerja perusahaan terutama dalam hal pemanfaatan modal.

Itu artinya, laporan perubahan modal juga berfungsi sebagai acuan perusahaan dalam mengambil keputusan strategis.

Misal apakah laba akan didistribusikan dalam bentuk dividen atau akan digunakan lagi untuk operasional? Seberapa banyak laba akan ditahan?

Perlu diingat, perubahan modal pada usaha Anda bukanlah pertanda buruk. 

Perubahan modal sejatinya diperlukan agar perusahaan tetap bisa beroperasi bahkan mampu meningkatkan produktivitasnya.

Jika modal perusahaan bertambah, perusahaan bisa memanfaatkannya untuk meningkatkan kualitas atau diversifikasi produk.

Komponen atau Unsur Laporan Perubahan Modal

Secara umum, laporan perubahan modal memuat beberapa komponen atau unsur informasi yang setidaknya memuat hal-hal berikut.

1. Modal Awal

Modal awal adalah sejumlah dana yang diperoleh dari investasi pemilik atau penambahan investasi yang biasanya digunakan untuk aktivitas operasional usaha.

Dalam siklus akuntansi. modal awal juga bisa dikatakan sebagai saldo modal pada awal periode keuangan yang tercatat pada periode sebelumnya.

2. Saldo Laba Rugi

Saldo laba rugi pada periode tertentu yang ada dalam laporan laba rugi atau kolom neraca lajur bagian laba rugi.

Komponen saldo laba rugi juga mencakup laba ditahan atau tidak dibagi dan juga laba bersih.

Laba ditahan maksudnya adalah laba tersebut tidak dibagi sebagai dividen atau laba tersebut dijadikan kembali sebagai modal.

Sedangkan laba bersih merupakan perhitungan dari total penghasilan dikurangi beban dan juga pajak. Selain itu, kerugian juga dapat dicatat apabila pada lajur laba rugi bernilai kredit.

3. Dividen

Pembayaran dividen yang dilakukan pada periode pelaporan kepada pemegang saham dengan cara mengurangi dari modal atau ekuitas yang dimiliki oleh setiap pemegang saham.

Baca Juga: Pajak Dividen, Tarif Pajak hingga Contoh Perhitungannya!

4. Prive

Seperti yang telah disebut-sebut sebelumnya, prive atau pengambilan dana pribadi juga dapat dicatat dalam laporan perubahan modal.

5. Modal Akhir

Saldo cadangan modal yang dimiliki oleh perusahaan atau para pemegang saham pada akhir periode pelaporan.

Ada beberapa cara untuk mencari nilai modal akhir. Jika perusahaan dalam posisi untung maka rumusnya adalah modal awal ditambah perbandingan laba bersih dengan prive.

Sedangkan apabila saldo bernilai rugi, maka rumusnya adalah perbandingan rugi bersih ditambah prive.

6. Lain-Lain

Ada juga komponen lain misalnya pengaruh koreksi kesalahan pada periode sebelumnya, perubahan cadangan revaluasi, perubahan modal saham, atau pengaruh kebijakan akuntansi.

Perlu diingat, setiap perusahaan sebenarnya memiliki standar komponen atau unsur laporan yang berbeda-beda. Tergantung situasi atau jenis usaha perusahaan tersebut.

Misal, laporan perubahan modal usaha jasa dan dagang biasanya memiliki komponen yang sedikit berbeda.

Dengan kata lain, unsur-unsur atau komponen laporan yang disebutkan di atas bukan komponen mutlak atau wajib.

Contoh Laporan Perubahan Modal

Setelah Anda memahami apa itu laporan perubahan modal. Anda juga perlu memahami laporan jenis ini secara praktikal melalui contoh.

Seperti yang telah dibahas pada awal artikel, laporan perubahan modal dalam perusahaan berada di bawah laporan laba rugi.

Itu artinya, Anda harus membuat laporan laba rugi terlebih dahulu sebelum membuat laporan perubahan modal.

Selain itu, dalam perhitungan perubahan modal juga memerlukan statement berapakah laba atau rugi yang dimiliki oleh perusahaan sehingga penting bagi Anda untuk membuat laporan laba rugi terlebih dahulu.

Misal, diketahui PT XYZ memiliki laporan laba rugi usahanya di tahun 2020 sebagai berikut.

Contoh Laporan Laba Rugi

Kemudian, dari laporan laba rugi tersebut, maka dapat disusun laporan perubahan modal sebagai berikut.

Contoh Laporan Perubahan Modal

Contoh di atas bukanlah format baku. Kembali lagi, formal laporan perubahan modal sangat tergantung dengan situasi atau kebutuhan perusahaan.

 

Baca Juga: Membuat Laporan Laba Rugi Sederhana dengan Bentuk & Format Berbeda

Kesimpulan

Pada dasarnya, laporan perubahan modal merupakan laporan mini sebagai pedoman komprehensif untuk laporan keuangan secara menyeluruh.

Meski bersifat mini, laporan perubahan modal juga dianggap sama pentingnya dengan laporan keuangan lain karena mampu mengarahkan perusahaan dalam menentukan arah kebijakan. Terlebih jika berbicara terkait distribusi dividen.

Sebagai pengetahuan, perusahaan yang secara konsisten mendistribusikan dividen merupakan perusahaan mapan atau mature karena peluang bertumbuhnya lebih kecil.

Baik, itulah pembahasan singkat mengenai laporan perubahan modal. Apabila Anda membutuhkan konsultasi bisnis, Anda bisa menghubungi Kami, Rusdiono Consulting.

Temukan juga artikel tentang keuangan, bisnis, dan perpajakan lainnya yang disajikan oleh Rusdiono Consulting di sini.


Send this to a friend