Akuntansi Archives - Rusdiono Consulting

July 8, 2021
WhatsApp-Image-2021-07-04-at-8.27.44-AM.jpeg

Istilah tutup buku mungkin sering Anda temui di berbagai kesempatan. Namun apakah Anda tahu apa sebenarnya istilah tersebut?

Istilah tutup buku merupakan istilah yang berasal dari akuntansi. 

Dimana entitas bisnis harus melakukan tutup buku pada setiap akhir periode akuntansi yang umumnya berjalan selama satu tahun.

Melalui artikel ini, Anda akan memahami istilah tutup buku dan kenapa sebuah entitas bisnis harus melakukannya.

Apa itu Tutup Buku?

Ketika memiliki sebuah bisnis tentu pasti bagi Anda untuk merekam setiap transaksi mulai dari pendapatan, pengeluaran, dan transaksi-transaksi lainnya ke dalam pembukuan.

Nantinya pembukuan ini akan menjadi laporan yang menyimpan informasi dalam satu periode akuntansi.

Pada saat mendekati akhir periode akuntansi, segala pembukuan yang dilakukan akan ditutup. 

Aktivitas ini lah yang pada umumnya disebut dengan tutup buku.

Secara umum, tutup buku adalah aktivitas merangkum atas perolehan hasil akhir dari suatu siklus akuntansi atau keuangan sebuah bisnis.

Dengan kata lain, tutup buku merupakan tanda bagi bisnis telah menutup laporan pada periode keuangan tersebut.

Jadi, ketika ada aktivitas keuangan dilakukan setelah masa tutup buku, aktivitas tersebut akan dimasukkan ke dalam pembukuan pada periode selanjutnya.

Aktivitas tutup buku juga dilakukan dengan cara memindahkan saldo akhir pada setiap akun menjadi saldo awal pada periode selanjutnya.

Sebagai catatan, aktivitas tutup buku tidak hanya dilakukan pada satu tahun periode akuntansi, namun juga bisa dilakukan pada satu bulan periode.

Hal tersebut biasanya dilakukan untuk membentuk jurnal penyusutan aset dan revaluasi yang tidak mungkin dilakukan dalam periode tahunan.

Apabila tutup buku dilakukan bulanan, setiap akun laba-rugi ditutup dan dipindahkan ke akun laba untuk bulan berikutnya pada periode berjalan.

Sedangkan apabila tutup buku dilakukan tahunan, laporan laba-rugi akan dipindahkan sebagai laba ditahan.

Fungsi Tutup Buku

Tujuan utama perusahaan melakukan tutup buku adalah untuk mengetahui posisi saldo akhir pada satu periode siklus akuntansi.

Dari tujuan yang umum ini, maka aktivitas tutup buku secara komprehensif memiliki empat fungsi umum.

Fungsi-fungsi tersebut adalah fungsi pelaporan, analisis, evaluasi dan pembentukan.

Secara lengkap, berikut penjelasan dari keempat fungsi tersebut.

1. Fungsi Pelaporan

Dengan melakukan tutup buku, perusahaan bisa mengetahui keadaan keuangan pada periode sebelumnya.

Dalam hal pembagian dividen misalnya. Aktivitas tutup buku bisa menjadi penanda tanggal cut-off siapa yang menerima dividen dan kapan investor tersebut akan menerima dividen.

Bukan hanya bagi investor. Penentuan tanggal dan informasi tutup buku juga berguna bagi pihak-pihak yang berkepentingan seperti auditor, petugas pajak dan direksi.

2. Fungsi Analisis

Adanya tutup buku pada sebuah siklus akuntansi juga membantu perusahaan dalam mengambil keputusan melalui analisis posisi keuangan perusahaan.

Perusahaan mampu mengetahui saldo akhir, laba-rugi, nilai aset, hingga piutang maupun hutang pada periode tersebut.

Dari kondisi keuangan tersebut, perusahaan bisa mengetahui apakah target berhasil dicapai pada periode tersebut dan mampu membantu dalam pengambilan keputusan strategis pada periode selanjutnya.

Jika perusahaan tidak melakukan tutup buku, maka segala aktivitas yang seharusnya masuk pada periode selanjutnya terekam pada periode berjalan dan akan mengacaukan aktivitas analisis keuangan.

3. Fungsi Evaluasi

Dengan melakukan tutup buku, perusahaan mampu mengidentifikasi masalah yang menyebabkan hambatan bagi perkembangan usaha yang sedang dijalankan.

Perusahaan mampu mengetahui pos-pos apa yang menjadi masalah pada bisnis, bagian apa yang perlu ditingkatkan atau bahkan dihilangkan.

4. Fungsi Pembentukan

Fungsi lainnya dari aktivitas tutup buku adalah saldo akhir pada periode sebelumnya dibentuk atau digunakan sebagai saldo awal pada periode selanjutnya.

Sehingga penggunaan saldo akhir tersebut menjadi saldo baru yang akan digunakan untuk aktivitas operasional perusahaan pada periode berjalan atau selanjutnya.

Tips Melakukan Tutup Buku

1. Susun Jurnal Penyesuaian Akrual

Jika mencatat dengan metode basis akrual, Anda perlu memposting entri jurnal ke akun berikut:

  • Pendapatan baik yang ditangguhkan atau pun belum ditagih.
  • Aset persediaan atau Harga Pokok Penjualan
  • Beban baik yang masih harus dibayar maupun yang telah dibayar di muka.

2. Ulas Kembali Laporan Keuangan

Tips selanjutnya adalah ulas kembali laporan keuangan pada periode sebelumnya.

Hal-hal yang perlu diperhatikan misalnya adanya penyimpangan nilai, saldo yang tidak biasa, item yang hilang, atau kesalahan lainnya.

Selain laporan keuangan, Anda juga perlu mengulas kembali atau memperbarui anggaran.

Misalnya, area mana yang hasil realisasinya sangat berbeda dengan anggaran yang telah ditentukan dan apa penyebabnya.

Pada akhirnya, mengulas anggaran juga akan mengungkap kesalahan yang tercatat pada laporan keuangan yang mungkin terlewatkan.

3. Tetapkan Tanggal Penutupan

Menetapkan tanggal pembukuan dilakukan untuk mencegah terjadinya perubahan yang dapat mengganggu pelaporan pada pembukuan sebelumnya.

Menetapkan cut-off juga berfungsi sebagai informasi kepada pihak-pihak terkait untuk dapat menerima laporan keuangan pada periode sebelumnya.

4. Rekonsiliasi setiap Transaksi

Transaksi bisnis pada periode berjalan tentu tidak hanya dilakukan dalam satu platform. Misalnya melalui payment gateway, bank, atau kartu kredit.

Perbedaan data dari platform tersebut dengan catatan internal mungkin akan terjadi dan Salah satu cara untuk menyamakan aktualisasi data adalah dengan rekonsiliasi.

Itulah penjelasan mengenai istilah buku besar dan tips bagaimana melakukan tutup buku yang benar.

Semoga artikel ini mampu memberikan wawasan baru bagi Anda terlebih bagi yang baru saja memulai bisnisnya.

Jika Anda kesulitan dalam mengelola keuangan bisnis Anda, Kami, Rusdiono Consulting siap memberikan pendampingan terutama dalam mengelola keuangan bisnis Anda saat ini.


June 9, 2021
WhatsApp-Image-2021-06-06-at-1.52.49-PM.jpeg

Joint venture adalah istilah yang tepat untuk menggambarkan bagaimana dua atau lebih entitas bisnis bekerja sama untuk bisa mewujudkan bisnis itu sendiri.

Biasanya joint venture juga dilakukan bagi perusahaan yang belum memiliki kompetensi sehingga dianggap tidak memiliki kekuatan secara utuh untuk bisa bersaing secara mandiri.

Ada berbagai alasan kenapa banyak perusahaan melakukan kerjasama semacam ini. Mulai dari kekurangan sumber daya, dana, hingga teknologi.

Lalu, apa sebenarnya joint venture? Kenapa banyak perusahaan saat ini melakukan kegiatan kerjasama antar-perusahaan seperti ini?

Pengertian Joint Venture

Jika berbicara kerja sama, sebenarnya joint venture bukanlah satu-satunya bentuk kerja sama yang biasa dilakukan oleh dua atau lebih perusahaan.

Namun belakangan, kerja sama jenis ini sering digunakan oleh banyak perusahaan terutama oleh perusahaan-perusahaan rintisan atau startup.

Jadi, apa itu joint venture?

Joint venture merupakan bentuk perjanjian bisnis antara dua atau lebih pihak yang bertujuan mengumpulkan sumber daya secara bersama-sama untuk mencapai tujuan tertentu.

Tujuan tertentu yang dimaksud adalah adanya aktivitas bisnis baru atau proyek yang berlangsung dalam jangka waktu tertentu.

Oleh karena itu, bentuk perjanjiannya pun bisa dalam jangka panjang maupun jangka pendek tergantung kesepakatan.

Ini artinya, joint venture merupakan kerja sama yang tidak berlaku selamanya.

Kerja sama jenis ini juga sering disebut dengan usaha patungan karena pihak-pihak yang bekerja sama sepakat untuk menyetorkan modal dan menanggung risiko bersama.

Tujuan Adanya Joint Venture

Alasan utama terjadinya joint venture adalah guna memanfaatkan masing-masing keunggulan dari dua atau lebih perusahaan yang bekerja sama.

Namun lebih jelasnya, mari simak alasan-alasan berikut kenapa ada perusahaan yang melakukan joint venture.

 

1. Memaksimalkan Sumber Daya

Dengan adanya usaha patungan, entitas bisnis bisa memaksimalkan sumber daya yang ada dengan menggabungkan sumber daya pihak yang diajak kerja sama.

Dengan adanya peningkatan sumber daya, perusahaan bisa lebih memaksimalkan produksi, melakukan diversifikasi, hingga memperluas jangkauan pasar.

 

2. Penghematan Biaya

Di sisi lain, dengan adanya joint venture perusahaan bisa mengurangi penggunaan modal dan biaya-biaya.

Dengan adanya bentuk kerja sama seperti ini, perusahaan yang memiliki dana terbatas mampu memaksimalkan operasional bisnisnya.

Selain itu, bagi perusahaan yang memiliki dana lebih besar mampu memanfaatkan dananya menjadi lebih efisien.

 

3. Menggabungkan Keunggulan Kompetitif

Sama halnya manusia, perusahaan juga memiliki sisi “unik” tersendiri dan dalam hal ini adalah keunggulan kompetitif.

Misalnya saja perusahaan A memiliki keunggulan inovasi teknologi, sedangkan perusahaan B unggul dalam hal SDM.

Dengan adanya aktivitas joint venture antara perusahaan A dan B, maka keduanya bisa meningkatkan produksi dan melakukan diversifikasi produk.

 

4. Mengurangi Risiko

Ketika ingin mengembangkan unit bisnis atau peluang baru, pasti entitas bisnis akan menemui banyak risiko.

Dengan melakukan kerja sama, perusahaan terkait bisa mengurangi risiko yang terjadi dalam mengambil peluang bisnis baru itu.

Misalnya, perusahaan A ingin mendirikan bisnisnya di negara B. Maka yang harus dilakukan oleh perusahaan A adalah melakukan joint venture dengan perusahaan di negara B.

Kelebihan dan Kekurangan

Sebenarnya kelebihan dari adanya usaha patungan telah dijelaskan melalui tujuan dari joint venture yang telah dijelaskan sebelumnya.

Namun yang jelas, kelebihan dari adanya usaha patungan adalah masing-masing perusahaan bisa mengurangi risiko apalagi yang sifatnya jangka panjang.

Di sisi lain, usaha patungan juga bersifat fleksibel dan tidak mengikat. Itu artinya jika kerja sama yang dijalin tidak memberikan keuntungan, perusahaan bisa menghentikan kerja sama.

Sebaliknya jika keduanya menguntungkan, perusahaan bisa menjalin kerja sama yang lebih panjang.

Jika ada kelebihan, tentu ada kekurangan. Sama halnya dengan jenis kerja sama joint venture.

Adapun kekurangan joint venture adalah sebagai berikut:

  • Adanya kesalahan dalam menentukan mitra kerja sama bisa saja berdampak pada risiko politik.
  • Adanya harga transfer produk dan komponen berpeluang menimbulkan konflik kepentingan di antara dua belah pihak.
  • Kemungkinan terjadinya benturan budaya yang akan berpengaruh langsung pada pengambilan keputusan bisnis.

Jenis-Jenis Kontrak Joint Venture

Ada dua jenis dari kontrak kerja sama joint venture yaitu domestik dan internasional.

Joint venture domestik adalah kerja sama yang dilakukan oleh pihak-pihak atau perusahaan di dalam wilayah yang sama dalam hal ini adalah di dalam negeri.

Sedangkan joint venture internasional adalah kerja sama yang dilakukan oleh pihak-pihak atau perusahaan antar negara atau melibatkan perusahaan asing.

Dasar Hukum

Di Indonesia sendiri sebenarnya belum ada Undang-Undang yang secara eksplisit membahas tentang regulasi kerja sama patungan atau joint venture.

Namun secara implisit, joint venture dibahas dalam UU Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal.

Dimana dijelaskan pada Pasal 5 ayat 3 yaitu:

Penanaman modal dalam negeri dan asing yang melakukan penanaman modal dalam bentuk perseroan terbatas dilakukan dengan mengambil bagian saham pada saat pendirian perseroan terbatas.

Isi dari pasal tersebut sangat dekat dengan definisi dari usaha kerja sama patungan atau joint venture.

Dimana joint venture dianggap memiliki aktivitas penanaman modal baik dari modal asing maupun modal dalam negeri.

Aktivitas joint venture yang melibatkan modal dari luar negeri maka dianggap sebagai Penanaman Modal Asing (PMA).

Di sisi lain aktivitas usaha patungan yang melibatkan antar perusahaan dalam negeri dianggap sebagai Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).

Dimana kedua istilah ini tertulis dalam Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal.

Ditambah, Indonesia memiliki Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang bertugas melaksanakan koordinasi kebijakan dan pelayanan di bidang penanaman modal.

Jadi cukup jelas, bahwa joint venture secara implisit diatur oleh pemerintah melalui Undang-Undang Penanaman Modal. 

Akuntansi pada Joint Venture

Ada dua metode pencatatan dalam perusahaan yang melakukan kerja sama patungan atau joint venture yaitu pencatatan tidak terpisah dan terpisah.

Pencatatan Tidak Terpisah

Dalam metode pencatatan tidak terpisah semua transaksi yang berhubungan dengan operasi usaha dicatat oleh semua sekutu.

Dalam pencatatan terpisah, salah satu pihak menjadi penyelenggara pencatatan rekening secara lengkap yaitu rekening aktiva, hutang, modal, pendapatan dan biaya.

Oleh karena ada pencampuran pencatatan, maka untuk membedakan pencatatan setiap rekening diberi tanda joint venture (JV).

Rekening yang diselenggarakan oleh pihak pemegang pencatatan (managing partner) meliputi:

  1. Rekening Aktiva-Joint Venture (JV)
  2. Rekening Utang-Joint Venture (JV)
  3. Rekening Sekutu
  4. Rekening Joint Venture.

Sedangkan pihak lainnya yang tidak memegang pencatatan hanya menyelenggarakan dua macam rekening yaitu rekening joint venture dan rekening sekutu.

Adapun mekanisme pencatatan tidak terpisah yang dilakukan oleh pihak penyelenggara pencatatan (managing partner) adalah sebagai berikut:

  1. Pendebetan dilakukan apabila terjadi transaksi yang berakibat rekening aktiva JV bertambah, Utang JV berkurang, dan modal berkurang.
  2. Pengkreditan dilakukan apabila terjadi transaksi yang berakibat rekening aktiva JV berkurang, Utang JV bertambah, dan modal bertambah.

Pencatatan Terpisah

Pada pencatatan terpisah, maka pencatatan joint venture dicatat seperti usaha biasa sedangkan anggota joint venture hanya mencatat transaksi yang berhubungan dengan bisnisnya.

Misalnya penawaran dana ke joint venture, perolehan laba atas joint venture, atau penarikan kembali dana yang tertanam dalam kerja sama.

Baca Juga: 3 Tahap Pencatatan Siklus Akuntansi Perusahan Jasa

Contoh Joint Venture di Indonesia

Ada beberapa contoh joint venture yang bisa menjadi gambaran bagaimana bentuk kerja sama ini bisa terjadi.

Salah satunya adalah apa yang dilakukan oleh PT Indofood CBP Sukses Makmur dengan beberapa perusahaan dari luar negeri salah satunya adalah Nestle dan PepsiCo.

PT Indofood CBP Sukses Makmur bekerja sama dengan Nestle membentuk PT Nestle Indofood Citarasa Indonesia yang dibentuk pada tahun 2005 dan berakhir pada September 2018.

Selain dengan Nestle, PT Indofood CBP Sukses Makmur juga bekerja sama dengan PepsiCo yang memproduksi snack yang akan berakhir Agustus 2021.

Beda Joint Venture, Joint Operation dan Bentuk kerja Sama Usaha Lainnya

Di Indonesia sendiri, joint venture dan joint operation sering dianggap sama. Namun sebenarnya keduanya memiliki perbedaan.

Dari segi keterlibatan misalnya. Joint venture biasanya melibatkan beberapa bahkan semua unit bisnisnya dalam kerja sama sedangkan joint operation hanya melibatkan satu unit bisnis untuk menyelenggarakan proyek tertentu.

Di samping itu, joint operation tidak membentuk entitas bisnis baru sedangkan joint venture membentuk entitas bisnis baru berdasarkan perjanjian kerja sama yang dilakukan.

Jadi jika kerja sama berakhir, entitas bisnis yang lahir dari kerja sama joint venture juga akan berakhir atau bubar.

Lalu apa bedanya dengan merger, konsolidasi, dan akuisisi?

Meski sama-sama membentuk entitas baru, joint venture dan konsolidasi jelas berbeda. Konsolidasi tidak memiliki kontrak kerja sama dan benar-benar membentuk sebuah entitas atau perusahaan baru.

Contoh konsolidasi adalah Bank Mandiri yang berasal dari beberapa Bank swasta dari Indonesia.

Sedangkan merger adalah penggabungan perusahaan dimana salah satunya membeli atau mengambil seluruh aset dan kewajiban dari pihak lainnya. Sehingga salah satu perusahaan yang aset dan kewajibannya diambil tidak ada lagi.

Contoh merger adalah apa yang dilakukan CIMB Niaga terhadap Lippo Bank pada tahun 2008.

Lain lagi dengan akuisisi. Bentuk kerja sama akuisisi sebenarnya sama dengan merger. Namun bedanya perusahaan yang diambil alih masih ada atau tidak hilang. Contoh akuisisi adalah Instagram yang diakuisisi oleh Facebook.


June 8, 2021
WhatsApp-Image-2021-06-06-at-1.36.38-PM.jpeg

Bagi keuangan bisnis apapun, besar maupun kecil, penilaian bisnis didasarkan atas dua komponen utama neraca : aset serta kewajiban. Ekuitas pemilik, atau ekuitas pemegang saham, adalah bagian dari neraca. Persamaan dasar akuntansi merupakan representasi dari bagaimana ketiga komponen penting tersebut dikaitkan satu sama lain. 

Namun, apa itu persamaan dasar akuntansi? Bagaimana contoh dan tabel persamaan dasar akuntansi itu sendiri? Simak artikel  berikut ini.

Apa itu Persamaan Dasar Akuntansi?

Persamaan dasar akuntansi sering disebut sebagai dasar atas sistem akuntansi entri ganda. Di suatu neraca bisnis, terlihat bahwa total aset perusahaan sama dengan jumlah kewajiban perusahaan serta ekuitas pemegang saham.

Dengan sistem entri ganda tersebut, persamaan dasar akuntansi menegaskan bahwa neraca tetap “seimbang”, serta setiap pembuatan entri di sisi debit wajib mempunyai entri (atau cakupan) yang sama di sisi kredit.

Persamaan dasar akuntansi mendukung bisnis untuk menilai apakah transaksi bisnis tercatat secara akurat dalam pembukuan serta akunnya. 

Di bawah ini adalah contoh item yang ada dalam persamaan dasar akuntansi:

1. Aktiva

Aset adalah kas, setara kas maupun aset likuid. Sementara piutang  adalah jumlah uang yang dihutang kepada perusahaan oleh pelanggannya untuk penjualan produk dan jasanya. Persediaan juga dianggap sebagai aset.

 

2. Kewajiban

Kewajiban atau liabilitas adalah apa yang biasanya dipunyai atau harus dibayar bisnis agar bisnis tetap berjalan. Utang, termasuk utang jangka panjang, adalah kewajiban, seperti sewa, pajak, utilitas, gaji, upah, dan utang dividen.

 

3. Ekuitas Pemegang Saham

Ekuitas pemegang saham merupakan total aset bisnis yang jumlahnya dikurangi total kewajiban bisnis. Ekuitas pemegang saham adalah sejumlah uang yang akan diberikan kepada pemegang saham apabila semua aset dilikuidasi serta semua utang perusahaan lunas.

Laba ditahan merupakan bagian dari ekuitas pemegang saham, serta sama dengan jumlah total laba yang tidak dibayarkan terhadap pemegang saham sebagai dividen. 

Fungsi dan Manfaat Persamaan Akuntansi

Dalam sistem pelaporan keuangan, salah satu laporan keuangan – neraca terus memainkan peran fundamental. 

Neraca, pertama-tama, memperkenalkan pemilik pada manajemen, status properti suatu entitas ekonomi. Mereka akan mencari tahu dari neraca apa yang dimiliki pemilik, yaitu berapa kuantitas dan kualitas sumber daya perusahaan yang dapat dibuang oleh perusahaan, dan siapa yang terlibat dalam pembuatan sumber daya tersebut.

Kedua, menurut neraca, ditentukan apakah perusahaan dapat segera menutup kewajiban kepada pihak ketiga (pemegang saham, investor, kreditor, pembeli, penjual, dll.). 

Ketiga, konten modal dan item kewajiban memungkinkan untuk digunakan baik oleh pengguna internal maupun eksternal. Sebagai bentuk sentral dari pelaporan keuangan, neraca memungkinkan penentuan pada tanggal pelaporan komposisi dan struktur aset perusahaan, likuiditas, dan perputaran aset lancar, ketersediaan ekuitas dan kewajiban pemilik, kondisi dan dinamika piutang dan hutang, kelayakan kredit, dan solvabilitas perusahaan.

Data neraca memungkinkan Anda untuk mengevaluasi efisiensi penempatan modal perusahaan, kecukupannya untuk kegiatan ekonomi saat ini dan yang akan datang, ukuran dan struktur sumber pinjaman, serta efektivitas daya tariknya. 

Jadi, neraca adalah bentuk terinformatif untuk analisis dan evaluasi situasi keuangan sebuah entitas ekonomi, serta tanpa persamaan akuntansi, tak mungkin membuat laporan keuangan. Oleh karena itu, persamaan akuntansi diperlukan baik untuk usaha besar atau kecil.

Rumus dan Perhitungan Persamaan Akuntansi

Aktiva= ( Kewajiban + Ekuitas Pemegang Saham )

Neraca memegang dasar persamaan akuntansi:

  1. Menemukan total aset perusahaan di neraca dalam suatu periode.
  2. Total seluruh kewajiban harus merupakan daftar terpisah dalam neraca.
  3. Menemukan ekuitas pemegang saham total lalu menambahkan jumlahnya dalam total kewajiban.
  4. Total aset akan sama dengan jumlah kewajiban serta total ekuitas.

Contohnya, dalam tahun fiskal, pengecer terkemuka ABC memberi laporan berikut dalam neracanya:

Total aset: Rp 170 miliar

Total kewajiban: Rp 120 miliar

Total ekuitas pemegang saham: Rp 50 miliar

Jika menghitung sisi kanan persamaan akuntansi (ekuitas + kewajiban), maka sampai pada (Rp 50 miliar + Rp 120 miliar) = Rp 170 miliar, yang sesuai dengan nilai aset yang dilaporkan oleh perusahaan.

Sistem Entri Ganda

Persamaan akuntansi membentuk dasar dari akuntansi entri ganda dan merupakan representasi ringkas dari konsep yang berkembang menjadi tampilan neraca yang kompleks, diperluas , dan multi-item. Neraca didasarkan pada sistem akuntansi double entry dimana total aset perusahaan sama dengan total kewajiban dan ekuitas pemegang saham.

Pada dasarnya, representasi tersebut menyamakan semua penggunaan modal (aset) dengan semua sumber modal, dimana modal utang mengarah pada kewajiban dan modal ekuitas mengarah pada ekuitas pemegang saham.

Untuk bisnis yang menyimpan akun dengan akurat, setiap transaksi akan dicatat setidaknya di dua akun. Contoh, apabila bisnis mengambil pinjaman dari entitas keuangan bank, uang yang dipinjam akan menambah aset perusahaan serta kewajiban pinjaman juga akan ditambah dengan jumlah yang sama.

Apabila bisnis membeli bahan mentah secara tunai, maka akan menambah persediaan (aset) dan mengurangi modal tunai (aset lain). Oleh karena terdapat dua atau lebih akun yang terpengaruh oleh setiap transaksi yang dilakukan oleh suatu perusahaan, maka sistem akuntansi ini disebut sebagai akuntansi double entry.

Praktik double entry memberi kepastian bahwa persamaan akuntansi tetap seimbang, yang berarti nilai sisi kiri persamaan akan selalu sesuai dengan nilai sisi kanan. Dalam hal ini, jumlah total semua aset akan selalu setara dengan jumlah kewajiban serta ekuitas pemegang saham.

Baca Juga: Mengenal Sistem Informasi Akuntansi beserta Metode & Tujuannya

Contoh Persamaan Dasar Akuntansi

Untuk setiap transaksi, kedua sisi harus memiliki nilai yang sama. Di bawah ini contoh transaksi serta bagaimana pengaruhnya terhadap persamaan akuntansi.

 

1. Membeli Mesin dengan Uang Tunai

Perusahaan XYZ ingin membeli mesin seharga Rp 500 hanya dengan uang tunai. Transaksi ini akan menghasilkan debit ke Peralatan (+ Rp 500.000) dan kredit ke Tunai (- Rp 500.000). Efek bersih pada persamaan akuntansi adalah sebagai berikut:

 

Aset = Liabilitas + Ekuitas Pemegang Saham
+500.000
-500.000
0 = 0 + 0

 

Transaksi ini hanya mempengaruhi aset persamaan; oleh karena itu tidak ada efek terkait dalam kewajiban atau ekuitas pemegang saham di sisi kanan persamaan.

 

 

2. Membeli Mesin dengan Uang Tunai dan Kredit

Perusahaan XYZ ingin membeli mesin seharga Rp 500.000 tetapi hanya memiliki uang tunai Rp 250 dalam kepemilikannya. Perusahaan diizinkan untuk membeli mesin ini dengan pembayaran awal Rp 250 tetapi jumlah yang tersisa berutang kepada produsen. 

Ini akan menghasilkan debit ke Peralatan (+ Rp 500.000), kredit ke Utang Usaha (+ Rp 250.000), dan kredit ke Kas (- Rp 250.000). Efek bersih pada persamaan akuntansi adalah sebagai berikut:

 

Aset = Liabilitas + Ekuitas Pemegang Saham
+500.000 +250.000
-250.000
+250.000 = +250.000 + 0

 

Transaksi ini mempengaruhi kedua sisi persamaan akuntansi; kedua sisi kiri dan kanan persamaan bertambah + Rp 250.000.

Contoh lainnya:

 

Contoh 1

Anda baru saja memulai bisnis software setelah setahun menabung Rp 10.000.000 untuk berkontribusi pada perusahaan baru Anda. Rp 10.000.000 sekarang menjadi ekuitas Anda dalam bisnis, jadi Anda juga perlu meningkatkan aset Anda. Persamaannya terlihat seperti ini:

Rp 10.000.000 Aset = Rp 0 Kewajiban + Rp 10.000.000 Ekuitas

Contoh 2

Sekarang Anda telah memulai perusahaan Anda, Anda perlu membeli dua komputer dan peralatan lainnya. Jadi, Anda memutuskan untuk membeli peralatan senilai Rp 2.000.000 dengan kartu kredit perusahaan Anda. Pembelian kartu kredit senilai Rp 2.000.000 itu adalah kewajiban (alias utang) dan aset. Baik aset dan liabilitas meningkat Rp 2.000.000, jadi persamaannya terlihat seperti ini:

 

Rp 2.000.000 Aset = Rp 2.000.000 Liabilitas + Rp 0 Ekuitas

Contoh 3

Bisnis Anda berkembang, dan Anda sekarang memiliki pelanggan. Seorang pelanggan memutuskan untuk membeli software Anda untuk komputer bisnis mereka sendiri. 

Software Anda senilai Rp 10.000 per unduhan program, dan pelanggan membutuhkan program tersebut untuk 50 komputer, dengan total Rp 500.000. Dari transaksi ini, Anda mendapatkan aset dan ekuitas. Persamaan akuntansi Anda terlihat seperti ini:

 

Rp 500.000 Aset = Rp 0 Kewajiban + Rp 500.000 Ekuitas

Contoh Tabel Persamaan Dasar Akuntansi

Pada tanggal 1 Januari 2020, bengkel dengan nama Bengkel Sepeda Motor Tiga Roda melakukan beberapa transaksi sebagai berikut:

  1. Investasi modal pertama Bengkel Sepeda Motor Tiga Roda yaitu uang tunai senilai Rp10.000.000 serta Peralatan kantor senilai Rp500.000.
  2. Pembayaran sewa atas ruangan usaha bengkel senilai Rp600.000 untuk satu bulan. 
  3. Pembelian perlengkapan bengkel secara kredit senilai Rp400.000 beserta peralatan bengkel senilai Rp1.000.000. 
  4. Mendapat pemasukan atas jasa yang telah diberikan selama satu minggu senilai Rp 1.600.000. 
  5. Pembayaran tagihan listrik serta  air bulan Januari 2020 senilai Rp200.000.
  6. Mendapatkan jasa servis langganan senilai Rp750.000. 
  7. Pembayaran sebagian utang atas pembelian perlengkapan senilai Rp250.000. Menerima pelunasan piutang atas transaksi seorang konsumen senilai Rp500.000. 
  8. Pemilik mengambil uang tunai untuk pribadi senilai Rp100.000. 
  9. Pembayaran gaji karyawan bulan Januari 2020 senilai Rp3.000.000 
  10. Pembayaran rekening telepon senilai Rp75.000. 
  11. Di akhir bulan Januari 2020 perlengkapan yang masih ada bernilai Rp250.000 serta peralatan bengkel disusutkan senilai Rp50.000.
  12. Menerima jasa servis senilai Rp1.500.000.

Maka, pembuatan tabel persamaan dasar akuntansi yakni:

No Harta Uang+Modal Keterangan
Kas Piutang Perlengkapan Peralatan Akumulasi Penyusutan Utang Usaha Modal
1 10.000.000 500.000 10.500.000 Investasi awal
2 -600.000 -600.000 Beban sewa
9.400.000 500.000 9.900.000
3 400.000 1.000.000 1.400.000 Perlengkapan Bengkel
9.400.000 400.000 1.500.000 1.400.000 9.900.000
4 1.600.000 1.600.000 Pendapatan servis
11.000.000 400.000 1.500.000 1.400.000 11.500.000
5 -200.000 -200.000 Beban listrik dan air
10.800.000 400.000 1.500.000 1.400.000 11.300.000
6 750.000 750.000 Pendapatan servis
11.000.000 750.000 400.000 1.500.000 1.400.000 12.050.000
7 -250.000 -250.000 Cicilan utang usaha
10.750.000 750.000 400.000 1.500.000 1.150.000 12.050.000
8 -500.000 -500.000 Pelunasan piutang
11.250.000 250.000 400.000 1.500.000 1.150.000 12.050.000
9 -100.000 -100.000 Prive pemilik
11.150.000 250.000 400.000 1.500.000 1.150.000 11.950.000
10 -375.000 3.000.000 Beban gaji
75.000 Beban telepon
10.775.000 250.000 400.000 1.500.000 50.000 1.150.000 8.675.000
11 150.000 150.000 Beban perlengkapan
50.000 Beban penyusutan
10.775.000 250.000 250.000 250.000 50.000 1.150.000 8.675.000
12 1.500.000 1.500.000
12.275.000 250.000 250.000 250.000 50.000 1.150.000 10.175.000 Pendapatan servis

 

Batasan Persamaan Akuntansi

Meskipun neraca selalu seimbang, persamaan dasar akuntansi tidak memberikan informasi kepada investor tentang seberapa baik kinerja perusahaan. 

Sebaliknya, investor harus menafsirkan angka-angka dan memutuskan sendiri apakah perusahaan memiliki terlalu banyak atau terlalu sedikit kewajiban, tidak cukup aset, atau mungkin terlalu banyak aset, atau mendanai perusahaan dengan benar untuk memastikan pertumbuhan jangka panjang.

Namun, kenapa persamaan dasar akuntansi penting? Persamaan akuntansi berperan penting sebab menghubungkan tiga komponen neraca: aset, kewajiban, serta ekuitas. 

Jadi, ekuitas perusahaan bertambah saat asetnya bertambah, dan sebaliknya. Demikian pula, meningkatkan kewajiban akan menurunkan ekuitas, sedangkan menurunkan kewajiban — seperti dengan melunasi utang — akan menambah ekuitas.

 

Demikian penjelasan mengenai persamaan dasar akuntansi, lengkap dengan pengertian, fungsi dan manfaat, contoh lengkap beserta tabel, serta batasan persamaan akuntansi. Semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan Anda seputar akuntansi.

Jika Anda akan memulai sebuah perusahaan tetapi tidak mengerti persamaan dasar akuntansi, Anda dapat berkonsultasi terlebih dahulu dengan Rusdiono Consulting agar mendapat strategi terbaik dalam memulai akuntansi dan pembukuan bisnis.

Konsultan berpengalaman dan bersertifikasi, siap membantu perusahaan dan UMKM yang baru memulai usaha sekali pun. Langsung hubungi kami sekarang.


June 7, 2021
WhatsApp-Image-2021-06-06-at-12.56.33-PM.jpeg

Analisis laporan keuangan adalah elemen penting yang tidak bisa dipisahkan dari perusahaan. Hal ini karena analisis laporan keuangan menjadi salah satu dasar untuk mengambil keputusan strategis pada bisnis. Di sisi lain, laporan keuangan juga digunakan untuk memberikan gambaran terhadap sehat-tidaknya suatu perusahaan. Lebih lengkap mengenai analisis laporan keuangan beserta metode-metodenya, mari simak artikel ini.

Pengertian Analisis Laporan Keuangan

Sebelum mengetahui apa itu analisis laporan keuangan mari ingat jenis-jenis laporan keuangan secara umum. Jika Anda lupa, laporan keuangan umumnya terdiri dari laporan laba rugi, neraca, perubahan modal, dan juga arus kas. Untuk lebih jelas mengenali jenis-jenis laporan keuangan Anda bisa membaca melalui artikel berikut: 5 Jenis Laporan Keuangan

Tentu laporan-laporan keuangan ini berfungsi sebagai sumber informasi yang dapat digunakan baik oleh perusahaan maupun stakeholder seperti investor.

Bagi perusahaan, laporan keuangan digunakan untuk melakukan pengambilan keputusan strategis pada bisnis ke depannya.

Sedangkan bagi investor, laporan keuangan berfungsi sebagai sumber informasi untuk mengevaluasi nilai dan kesehatan bisnis secara keseluruhan.

Informasi pada laporan keuangan tentu tidak bisa ditelan mentah-mentah sehingga perlu dianalisis untuk menghasilkan informasi yang benar-benar akurat, mendalam, dan bisa dipertanggungjawabkan.

Di sinilah kegiatan analisis laporan keuangan dilakukan. Jadi apa sebenarnya analisis laporan keuangan?

Analisis laporan keuangan adalah aktivitas identifikasi, menilai, mengolah hingga membandingkan informasi laporan keuangan menjadi informasi yang sebenar-benarnya dan mendalam.

Tujuan Analisis Laporan Keuangan

Tujuan umum dari analisis laporan keuangan telah dijelaskan sebelumnya di awal pembuka artikel ini; sebagai dasar pengambilan keputusan strategis dan informasi nilai bisnis perusahaan.

Namun sebenarnya, analisis laporan keuangan memiliki tujuan yang lebih spesifik seperti:

  • Mengetahui kemampuan perusahaan dalam melunasi hutang-hutangnya baik jangka pendek maupun jangka panjang.
  • Menilai kinerja bisnis pada tahun berjalan.
  • Membandingkan nilai perusahaan sendiri dengan pesaing.
  • Mengetahui kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan aset ke arah yang lebih menguntungkan.
  • Memproyeksikan bisnis yang terjadi di masa depan.
  • Mengetahui perubahan posisi keuangan pada periode tertentu.
  • Mengidentifikasi pos-pos keuangan yang bermasalah.

Metode Analisis Laporan Keuangan

Secara umum ada dua metode analisis laporan keuangan yaitu metode horizontal dan vertikal.

Analisis Horizontal

Metode analisis keuangan horizontal adalah metode analisis dengan membandingkan pos-pos laporan keuangan yang sama pada periode yang berbeda.

Biasanya perbandingan laporan keuangan yang dianalisis menggunakan dua atau tiga periode dimana periode yang lebih awal digunakan sebagai dasar pembandingnya.

Analisis ini digunakan dengan melihat persentase penurunan dan kenaikan pos-pos laporan keuangan dari periode yang dibandingkan. 

Oleh karena itu, metode ini sering disebut juga dengan metode dinamis.

Selain membandingkan laporan keuangan dua periode atau lebih yang disebut juga dengan analisis komparatif, ada beberapa metode lain yang umum digunakan untuk melakukan analisis horizontal, yaitu:

  • Analisis trend atau indeks – analisis untuk mengetahui kecenderungan dari posisi keuangan. Analisis ini biasanya dinyatakan dalam persentase. Namun dapat juga dinyatakan dalam indeks apabila menggunakan lebih dari dua periode.

 

  • Analisis sumber dan modal kerja – digunakan apabila ingin mengetahui sumber dan alokasi modal perusahaan, serta faktor-faktor yang mempengaruhi perubahannya.
  • Analisis perubahan laba kotor – digunakan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab perubahan laba kotor perusahaan dari periode ke periode.
  • Analisis sumber dan penggunaan kas – digunakan untuk mengetahui kondisi kas dan penyebab terjadinya perubahan kas pada suatu periode tertentu.

 

Contoh Sederhana Analisis Laporan Keuangan Horizontal

Sebagai gambaran, mari ambil contoh sederhana dengan membandingkan pendapatan perusahaan dari periode saat ini dan sebelumnya.

Sebuah perusahaan PT ABC pada tahun 2019 memiliki pendapatan sebesar Rp625.500.000 dan pada tahun 2020 memiliki pendapatan sebesar Rp575.000.000

Maka untuk melakukan analisis horizontal, Anda perlu mencari persentase perubahan pendapatan dari periode tahun 2019 ke tahun 2020 dengan cara:

= (Pendapatan tahun 2020 – Pendapatan 2019) / Pendapatan 2019.

= (Rp625.500.000 – Rp 575.000.000) / Rp575.000.000

= 8.78%

Maka terdapat penurunan pendapatan PT ABC sebesar 8.78% dari tahun 2019 ke tahun 2020. Melalui persentase ini, Anda bisa melihat penyebab adanya penurunan dari persentase pos-pos lain dari perbandingan laporan periode sebelumnya.

Analisis Vertikal

Analisis vertikal digunakan dengan membandingkan pos-pos keuangan yang berbeda pada satu laporan keuangan yang sama di satu periode yang sama.

Oleh karena itu, analisis vertikal sering disebut juga sebagai metode analisis statis.

Adapun yang termasuk ke dalam analisis laporan keuangan vertikal adalah sebagai berikut.

1. Analisis Common Size

Analisis common size adalah analisis yang membandingkan pos-pos laporan keuangan dengan menggunakan persentase dalam satu periode tertentu. 

Laporan yang dianalisis biasanya adalah laporan laba rugi dan neraca. 

Untuk laporan laba rugi dinyatakan sebagai persentase dimana setiap akun barisnya dibagi dengan pendapatan. Sedangkan pada laporan neraca, setiap akun dibandingkan dengan total aset.

2. Analisis Break Even

Analisis break even atau analisis titik impas adalah analisis yang digunakan untuk menentukan tingkat pendapatan yang harus dicapai oleh perusahaan.

Analisis break even membantu perusahaan untuk menganalisis berapa produk yang harus dijual atau berapa rupiah yang harus diterima pada satu periode tertentu.

Analisis ini bertujuan untuk membantu perusahaan dalam mengambil keputusan strategi bisnis agar perusahaan bisa mendapatkan keuntungan dan mengurangi risiko kerugian.

Baca Juga: Break Even Point (BEP): Pengertian dan Cara Hitungnya

 

3. Analisis Rasio Keuangan

Analisis rasio keuangan digunakan untuk menilai suatu kinerja perusahaan berdasarkan pos-pos laporan keuangan pada satu periode tertentu.

Analisis rasio keuangan berfungsi sebagai tolak ukur dalam mengambil langkah strategis perusahaan pada periode selanjutnya dan mengevaluasi sumber daya perusahaan.

Ada empat alat ukur dalam analisis rasio keuangan yaitu rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio profitabilitas dan rasio aktivitas.

Penjelasan mengenai analisis rasio keuangan adalah sebagai berikut:

  • Rasio likuiditas berguna untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya.

Rasio likuiditas membandingkan kas, efek, dan piutang dengan hutang jangka pendeknya.

  • Rasio solvabilitas digunakan mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya.

Rasio solvabilitas membandingkan seluruh beban utang perusahaan terhadap aset atau modalnya.

  • Rasio profitabilitas mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba yang berhubungan dengan nilai penjualan, aktiva, dan modal.
  • Rasio aktivitas digunakan untuk mengukur seberapa efektif perusahaan dalam memanfaatkan asetnya untuk dikonversikan menjadi keuntungan.

Contoh Sederhana dari Analisis Laporan Keuangan Vertikal

Seperti yang diketahui bahwa analisis vertikal membandingkan pos-pos laporan keuangan pada satu periode tertentu.

Mari ambil contoh analisis likuiditas lancar (current ratio). 

PT ABC memiliki total aset lancar sebesar Rp10.000.000 dan memiliki utang yang harus dilunasi dalam jangka waktu satu tahun sebesar Rp5.000.000 pada tahun 2020.

Maka, pada analisis ini Anda akan membandingkan dua pos laporan keuangan yaitu total aset lancar dan juga utang jangka pendek perusahaan dalam satu periode tertentu.

Melalui rumus rasio likuiditas lancar maka:

= Total aset lancar/utang jangka pendek

= Rp10.000.000/Rp5.000.000 X 100% = 2

Pada current ratio, jika perbandingan angkanya di atas 1, maka perusahaan terbilang aman dan mampu melunasi utang lancar atau jangka pendeknya.

Kesimpulan

Itulah penjelasan singkat mengenai laporan keuangan serta metode analisisnya. Sebenarnya ada banyak jenis metode analisis laporan keuangan yang bisa digunakan.

Namun secara umum, analisis laporan keuangan dibagi menjadi dua metode yaitu analisis vertikal dan juga horizontal. Dimana perbedaan keduanya berada pada objek pembanding dan tujuan analisisnya.

Dari kedua metode tersebut, Anda bisa mengembangkan metode-metode analisis yang lebih komprehensif sesuai dengan kebutuhan analisis perusahaan.


June 4, 2021
WhatsApp-Image-2021-05-31-at-6.13.20-PM.jpeg

Neraca saldo adalah langkah penting dari siklus akuntansi – yang merupakan rangkaian langkah yang dilakukan selama suatu periode akuntansi untuk menganalisis, mencatat, mengklasifikasikan, meringkas, dan melaporkan informasi keuangan untuk menghasilkan laporan keuangan. 

Neraca saldo bukanlah laporan keuangan, tetapi terdiri dari semua informasi yang diperlukan untuk membuat tiga laporan keuangan utama — laporan arus kas , neraca , dan laporan laba rugi. 

Dalam siklus akuntansi, penyusunan neraca saldo dilakukan tepat setelah memposting entri jurnal ke akun buku besar, dan tepat sebelum menyiapkan laporan keuangan.  

Lantas, apa pengertian neraca saldo? bagaimana cara membuat neraca saldo disertai dengan contohnya? Apa manfaat dan fungsinya? Simak artikel berikut ini.

Apa itu Neraca Saldo?

Neraca saldo adalah laporan yang mencantumkan saldo semua akun buku besar perusahaan pada titik waktu tertentu. Akun yang terdapat pada neraca saldo berhubungan dengan semua item akuntansi utama, yaitu aset , kewajiban, ekuitas, pendapatan, pengeluaran, keuntungan, serta kerugian. 

Hal ini terutama digunakan untuk mengidentifikasi saldo debet dan entri kredit dari transaksi yang dicatat dalam buku besar pada titik waktu tertentu. 

Setiap perusahaan mempersiapkan neraca saldo secara rutin, yang umumnya dilakukan setiap akhir periode pelaporan. Tujuan umum pembuatan neraca saldo adalah untuk memastikan entri dalam sistem pembukuan perusahaan secara matematis benar.

Neraca saldo mencakup daftar semua total akun buku besar. Setiap akun perlu disertakan nomor akun, deskripsi akun, beserta saldo debit / kredit di akhirnya. Selain itu, harus menyatakan tanggal akhir periode akuntansi pembuatan laporan.

Perbedaan utama dari buku besar adalah bahwa buku besar menunjukkan semua transaksi menurut akun, sedangkan neraca saldo hanya menunjukkan total akun, bukan setiap transaksi terpisah.

Pada akhirnya, apabila beberapa entri penyesuaian telah dimasukkan, maka wajib ada dalam neraca saldo. Berarti, wajib memperlihatkan angka-angka sebelum penyesuaian, entri penyesuaian, serta saldo setelah penyesuaian.

Penting juga untuk diperhatikan bahwa meskipun neraca saldo dianggap seimbang, bukan berarti tidak ada kesalahan akuntansi. Misalnya, akuntan mungkin gagal mencatat akun atau mengklasifikasikan transaksi dengan tidak benar. Ini adalah kesalahan akuntansi yang tidak akan muncul dalam neraca saldo.

Cara Membuat Neraca Saldo dengan Mudah

Untuk menyiapkan neraca saldo, Anda memerlukan saldo penutupan dari akun buku besar umum. Neraca saldo disiapkan setelah memposting semua transaksi keuangan ke jurnal dan merangkumnya pada laporan buku besar. Neraca saldo dibuat untuk memastikan bahwa debit sama dengan kredit dalam bagan akun.

  1. Sebelum Anda memulai dengan neraca saldo, Anda perlu memastikan bahwa setiap akun buku besar seimbang. Perbedaan antara jumlah semua entri debit dan jumlah semua entri kredit menunjukkan keseimbangan.
  2. Siapkan lembar kerja. Tajuk kolom harus untuk nomor rekening, nama rekening dan kolom yang sesuai untuk saldo debit dan kredit.
  3. Untuk setiap akun buku besar, transfer ke lembar kerja neraca saldo nomor akun dan nama akun bersama dengan saldo akun di kolom debit atau kredit yang sesuai.
  4. Tambahkan jumlah kolom debit dan kolom kredit. Idealnya, jumlah totalnya harus sama dalam neraca saldo bebas kesalahan. Jika jumlahnya sama, Anda dapat menutup neraca saldo.
  5. Jika ada perbedaan, akuntan harus mencari dan memperbaiki kesalahan tersebut.

Berikut beberapa contoh kesalahan dalam neraca saldo:

  • Entri telah dibuat dua kali
  • Penghilangan entri
  • Entri telah dibuat ke akun yang salah
  • Kesalahan transposisi
  • Kesalahan dalam mentransfer saldo ke neraca saldo
  • Kesalahan dalam menyeimbangkan akun
  • Jumlah yang salah diposting di buku besar
  • Dimasukkan pada kolom yang salah, debit bukan kredit atau sebaliknya

Metode yang digunakan dalam membuat neraca saldo:

  1. Total method:  sisi debit dan sisi kredit dari akun buku besar ditambahkan. Total sisi debet ditempatkan pada kolom debet dan total sisi kredit pada kolom kredit pada neraca saldo. Kolom debet total dan kolom kredit harus sama.
  2. Balance method: dengan metode ini, saldo yang ditampilkan hanya saldo dari semua akun buku besar saja.

Akun neraca saldo dicantumkan dalam urutan khusus untuk membantu dalam penyusunan laporan keuangan. Akun dalam neraca percobaan dicantumkan dengan urutan sebagai berikut:

  • Aktiva
  • Kewajiban
  • Keadilan
  • Pendapatan
  • Beban

Selanjutnya, aset dan kewajiban harus dicantumkan dalam urutan likuiditas, yang mengacu pada seberapa cepat suatu aset dapat dikonversi menjadi uang tunai untuk melunasi kewajiban. Aset paling likuid terdaftar pertama. Ini termasuk kas dan piutang jangka pendek.

Baca Juga: Laporan Keuangan UKM, Hal-Hal yang Wajib Anda Ketahui

 

Contoh Neraca Saldo

Contoh neraca saldo berdasarkan data keuangan Toko Gemilang periode November 2020 berikut ini.

Toko Gemilang

Neraca Saldo

per 31 November 2021

(dalam rupiah)

No. Kode Nama Akun Debit Kredit
111 kas 28.200.000
112 piutang usaha 4.100.000
113 perlengkapan 6.750.000
114 sewa dibayar di muka 12.000.000
121 peralatan 18.650.000
122 kendaraan 22.400.000
211 utang usaha 1.500.000
212 utang bank 10.000.000
311 modal 55.300.000
312 prive 1.000.000
411 pendapatan jasa 30.150.000
421 pendapatan sewa 30.150.000
511 beban gaji karyawan 8.850.000
512 beban listrik dan telepon 850.000
513 beban administrasi dan umum 750.000
514 beban lain-lain 1.050.000
515 Beban Iklan 850.000
105.450.000 105.450.000

 

Fungsi dan Manfaat Neraca Saldo

Sekali lagi, penting untuk diperhatikan bahwa neraca saldo bukanlah laporan keuangan. Sebagian besar hanya laporan internal. Namun, mengapa sebuah perusahaan membutuhkan neraca saldo? Apa tujuan dari neraca saldo? Mari coba pahami fungsi dan manfaat neraca saldo.

  • Meskipun bukan laporan keuangan, neraca saldo bertindak sebagai langkah pertama dalam menyiapkannya. Akuntan menggunakan spreadsheet neraca saldo sebagai dasar saat menyiapkan laporan keuangan.
  • Neraca saldo dibuat sesuai dengan konsep pembukuan double entry. Ini berarti bahwa untuk setiap entri yang dicatat di kolom debit, entri kredit yang sesuai juga akan dicatat di kolom kredit. Karena ini melibatkan pencatatan semua entri dari buku besar organisasi dengan cara ini, ini juga membantu untuk mengidentifikasi dan memperbaiki kesalahan.

Misalnya, jika ada ketidakcocokan antara total akun debit dan kredit pada titik mana pun, tentu menunjukkan adanya kesalahan. Neraca saldo membantu mencapai akurasi matematis.

  • Dengan bantuan neraca saldo, seseorang juga dapat memastikan bahwa saldo akun diambil secara akurat dari buku besar akuntansi.
  • Menjadi lembar ringkasan, ini membantu untuk memberikan pandangan luas tentang transaksi akuntansi perusahaan.
  • Neraca saldo dapat menjadi alat penting bagi auditor karena mereka dapat menganalisis neraca saldo sebelum memeriksa buku besar.
  • Penyesuaian dapat dilakukan dengan mudah bahkan setelah neraca saldo telah disiapkan karena memberikan akuntan kolom penghitungan.

 

Baca Juga: Pembukuan bagi Wajib Pajak

 

Meskipun penyusunan neraca saldo bukanlah solusi satu-satunya untuk mendeteksi semua kesalahan akuntansi, neraca saldo tidak diragukan lagi merupakan langkah penting dalam proses akuntansi karena latihan akuntansi yang tersisa bergantung pada proses ini. 

Agar pembukuan Anda lancar, akurat, dan bebas dari kesalahan, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan Rusdiono Consulting yang melayani jasa akuntansi perusahaan sehingga lebih mudah.

Beberapa jasa yang ditawarkan yaitu laporan keuangan, kepatuhan dan pelaporan, hingga pendampingan akuntansi. Tak perlu khawatir, konsultan kami sudah berpengalaman dan bersertifikasi. Hubungi kami sekarang juga.


May 26, 2021
Akuntansi-Perpajakan.jpg

Sejatinya, dunia pajak tidak mengenal akuntansi dan hanya terdapat pencatatan serta pembukuan saja. Akan tetapi, di era modern, sistem akuntansi sangat diperlukan. Maka muncul istilah akuntansi perpajakan, yang berarti segala pencatatan serta penyusunan segala transaksi keuangan agar tahu jumlah pajak yang perlu dibayar Wajib Pajak (WP).

Simak rangkuman Rusdiono Consulting berikut untuk mengenali lebih lanjut tentang akuntansi perpajakan. 

Apa itu Akuntansi Perpajakan?

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, akuntansi perpajakan adalah suatu kegiatan mencatat keuangan di suatu badan usaha maupun lembaga guna mengetahui besaran pajak yang perlu dibayar.

Sebagai salah satu cabang ilmu akuntansi, akuntansi perpajakan memiliki cara kerja yang hampir sama seperti akuntansi lainnya. Akan tetapi, akuntansi memberi hasil laporan keuangan sedangkan akuntansi perpajakan memberi hasil laporan pajak.

Fungsi Akuntansi Perpajakan 

Akuntansi perpajakan bukan hanya bermanfaat untuk mengetahui besaran pajak yang harus dibayarkan wajib pajak, tetapi juga mempunyai fungsi lain yang cukup berperan, yaitu:

 

  • Strategi 

 

Akuntansi perpajakan memiliki fungsi untuk strategi dalam merencanakan perpajakan di masa mendatang berdasarkan data pembayaran pajak dan sebagai bahan penilaian kinerja perusahaan dari periode sebelumnya.

 

  • Analisis

 

Selain strategi, manfaat selanjutnya adalah bahan analisis guna mengetahui besaran pajak sebagai tanggungan perusahaan di masa yang akan datang agar memudahkan perusahaan ketika mengurus perpajakan.

 

  • Publikasi

 

Kemudian, akuntansi perpajakan memiliki fungsi dalam laporan keuangan ketika terdapat investor maupun keperluan publikasi yang lain. Dengan laporan pajak yang baik, perusahaan pun dapat dinilai mempunyai performa yang baik pula.

 

  • Pembanding

 

Fungsi lainnya adalah sebagai dokumentasi perpajakan per tahun yang dapat dipakai sebagai perbandingan dalam memahami riwayat perkembangan keuangan perusahaan.

 

Prinsip-Prinsip yang Perlu Diketahui

Terdapat beberapa prinsip akuntansi perpajakan yang perlu dipahami agar perusahaan tidak melakukan kesalahan saat memproses penghitungan pajak, diantaranya sebagai berikut ini.

 

  • Kesatuan

 

Prinsip kesatuan berarti perusahaan adalah satu kesatuan ekonomi yang tidak dapat disatukan dengan entitas ekonomi lain yakni pemilik perusahaan maupun lembaga lain yang secara hukum tidak mempunyai hak.

 

  • Historis

 

Prinsip historis mewajibkan untuk mencatat keuangan secara real terhadap pembiayaan suatu barang ataupun aset. Contoh, jika perusahaan membeli suatu bangunan seharga Rp250.000.000 tetapi saat proses negosiasi mendapat harga Rp200.000.000, maka pencatatan adalah senilai Rp200.000.000 sesuai kesepakatan yang dibayar.

 

  • Pengungkapan Penuh

 

Agar menghasilkan akuntansi perpajakan yang akurat, setiap aktivitas keuangan yang dicatat wajib disajikan secara informatif serta detail. Bahkan, tambahkan catatan kaki serta lampiran penting sebagai referensi.

Setelah memahami prinsip-prinsip penting tersebut, diharapkan risiko kesalahan serta ketidakakuratan pencatatan data pajak dapat diminimalkan, bahkan dihilangkan.

Klasifikasi Pajak

Sebelum membahas contoh perhitungan akuntansi perpajakan, suatu perusahaan atau lembaga wajib mengetahui jenis pajak terutang. Berikut adalah klasifikasi pajak berdasarkan cara pemungutannya:

 

  • Pajak Langsung

 

Pajak langsung adalah pengenaan pajak yang didasarkan atas jumlah penghasilan maupun kekayaan yang dipunyai suatu perusahaan atau lembaga. Adapun jumlahnya sudah diatur dalam Undang-Undang Perpajakan. Pajak langsung umumnya wajib dibayar oleh wajib pajak serta tidak dapat diwakilkan maupun dibebankan pada orang atau instansi lain.

 

  •  Pajak Tidak Langsung

 

Pajak tidak langsung adalah besaran pajak pada saat terjadi suatu transaksi keuangan. Pajak semacam ini dapat diwakilkan atau dibebankan kepada orang lain. Contoh sederhana pajak tidak langsung yaitu ketika membeli pembelian barang di pusat perbelanjaan. Harga yang dibayar umumnya sudah termasuk pajak sehingga WP tidak perlu lagi membayar pajak ke pemerintah.

Baca Juga: Apa Itu Pajak PPN? Cari Tahu Definisi, Objek, dan Tarifnya di Sini

Contoh Perhitungan Akuntansi Perpajakan

Ketika telah mendalami konsep dasar mengenai akuntansi perpajakan, yang harus dilakukan sekarang adalah mempelajari cara menghitung dengan benar.

Dalam menghitung jumlah pajak yang harus dibayar, terdapat beberapa variabel yang harus dilengkapi. Apabila ingin menghitung jumlah pajak terutang, harus diketahui terlebih dahulu  jumlah setoran pajak penghasilan karyawan, penghasilan kena pajak, maupun jumlah wajib pajak di perusahaan.

Simak rumus dalam menghitung jumlah pajak terutang berikut ini:

PKP x 25% = PPh Badan

PPh Badan – PPh – PPh Pasal 23 = Pajak Terutang

Contoh Kasus Perhitungan

PT ABC menerima penghasilan kotor senilai Rp100.000.000.000. Lalu diketahui besaran PPh senilai Rp5.000.000.000, PPh Pasal 23 senilai 3 milyar, dan pengeluaran senilai Rp40.000.000.000. Cara mengetahui jumlah PKP perusahaan adalah dengan mengikuti rumus berikut ini.

Penghasilan Kotor – Pengeluaran = PKP Perusahaan

Rp100.000.000.000 – Rp40.000.000.000 = Rp60 miliar.

Dengan demikian, cara menghitung pajak terutang PT ABC yaitu:

Rp60.000.000.000 x 25% = Rp15.000.000.000

Maka besaran jumlah pajak yang wajib dibayarkan PT ABC

Rp15.000.000.000 – Rp5.000.000.000 – Rp3.000.000.000 = Rp7.000.000.000

Demikian pengertian, fungsi, klasifikasi, serta contoh akuntansi perpajakan. Namun, kini Anda tidak perlu bingung lagi dalam mengurus dunia perpajakan terlebih untuk badan. Jasa konsultan pajak Rusdiono Consulting memberi Anda tips dan solusi terbaik atas segala urusan pajak perusahaan. Biarkan kami yang membantu urusan pajak Anda, sehingga Anda dapat berfokus pada hal-hal lain dalam bisnis.


May 12, 2021
pemusatan-ppn-2.jpg

Bagi Pengusaha Kena Pajak yang memiliki banyak cabang, pelaporan dan segala aktivitas administrasi dimudahkan oleh DJP dengan adanya pemusatan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) terutang.

Lalu apa sebenarnya pemusatan PPN terutang? Bagaimana prosedur pengajuannya? Bagaimana cara pemindahan tempat pemusatan PPN terutang?

 

Definisi Pemusatan PPN Terutang

Sebelum mengetahui apa itu pemusatan PPN Terutang, Anda perlu memahami apa itu tempat PPN Terutang.

Menurut Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Tempat PPN Terutang adalah tempat tinggal atau tempat kedudukan dan/atau tempat kegiatan usaha yang menjadi tempat Pajak Pertambahan Nilai terutang.

Sedangkan pemusatan PPN adalah aktivitas pemusatan tempat penerbitan dan pengkreditan faktur pajak yang juga berfungsi sebagai tempat pelaporan SPT masa PPN.

Pemusatan PPN terutang dilakukan oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang memiliki cabang perusahaan guna menyederhanakan proses administrasi perpajakannya.

Dengan adanya pemusatan, Pengusaha Kena Pajak tidak perlu lagi menerbitkan faktur pajak atas setiap transaksi pada tiap cabangnya.

Penyederhanaan administrasi bagi PKP cabang ini bukan hanya menggunakan istilah pemusatan PPN. Beberapa kalangan juga menggunakan istilah sentralisasi PPN.

Hal yang perlu diingat sebelum melakukan pemusatan PPN terutang adalah ada beberapa tempat yang tidak bisa dijadikan pemusatan PPN terutang, yaitu:

  • Berada di Tempat Penimbunan Berikat termasuk di dalamnya Kawasan Berikat;
  • Berada di Kawasan Ekonomi Khusus;
  • Berada di Kawasan Bebas;
  • Mendapatkan fasilitas kemudahan Impor-Ekspor;
  • Memiliki kegiatan usaha di bidang pengalihan tanah atau bangunan;
  • Kawasan berfasilitas lainnya; dan
  • Tempat PPN terutang yang secara nyata tidak memiliki kegiatan usaha.

Syarat dan Prosedur Pemusatan PPN

Bagi PKP yang ingin melakukan pemusatan PPN harus menyampaikan pemberitahuan secara tertulis kepada Kepala Kanwil DJP dengan tembusan kepada Kepala KPP yang wilayah kerjanya meliputi tempat PPN terutang yang hendak dipusatkan.

Dokumen pemberitahuan harus memenuhi syarat berikut:

  • Mencantumkan nama, alamat, dan NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) tempat yang menjadi Tempat Pemusatan PPN Terutang.
  • Mencantumkan nama, alamat, dan NPWP tempat yang akan dipusatkan.
  • Melampirkan surat pernyataan yang menyatakan administrasi penjualan diselenggarakan secara terpusat pada tempat yang dipilih menjadi Tempat Pemusatan PPN terutang.
  • Melampirkan surat pernyataan Tempat pemusatan PPN terutang tidak termasuk tempat tinggal, tempat kedudukan, atau tempat kegiatan usaha yang dikecualikan.
  • Melampirkan surat pernyataan Tempat pemusatan PPN terutang secara nyata memiliki kegiatan usaha.
  • Melampirkan surat kuasa khusus jika dalam hal pemberitahuan dilakukan oleh wakil atau kuasa sesuai dengan ketentuan perundang-undangan di bidang perpajakan.

Setelah surat pemberitahuan disampaikan kepada Kepala Kantor Wilayah, maka dalam waktu paling lambat 14 hari Kepala Kantor Wilayah atas nama Direktur Jenderal Pajak akan menerbitkan surat keputusan tentang persetujuan atau penolakan pemusatan PPN terutang, jika ternyata surat pemberitahuan tidak memenuhi syarat.

Kemudian persetujuan tempat pemusatan PPN terutang mulai berlaku untuk masa pajak berikutnya setelah tanggal SK Direktur Jenderal Pajak tentang persetujuan pemusatan PPN diterbitkan.

Baca Juga: Pemungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Penambahan atau Pengurangan Tempat Pemusatan PPN Terutang

Selain dapat mengajukan permohonan tempat, PKP yang telah memperoleh keputusan Pemusatan PPN dapat mengajukan penambahan atau pengurangan tempat pemusatan yang telah dipusatkan.

Pemohon dapat mengajukan penambahan dan pengurangan Pemusatan PPN terutang melalui dua cara:

  • Melalui elektronik kepada Kepala Kanwil DJP tempat pemusatan dengan tembusan kepala KPP terdaftar yang wilayah kerjanya meliputi tempat pemusatan PPN terutang yang akan diajukan penambahan atau pengurangan.
  • Melalui dokumen tertulis yang diserahkan kepada Kanwil DJP tempat pemusatan dengan tembusan kepala KPP terdaftar yang wilayah kerjanya meliputi tempat pemusatan PPN terutang yang akan diajukan penambahan atau pengurangan.

Untuk persyaratan dokumen sama dengan dokumen ketika PKP mengajukan permohonan pemusatan PPN untuk pertama kali yang bisa dilihat pada topik sebelumnya.

Pemindahan Tempat Pemusatan

PKP juga bisa melakukan permohonan pemindahan dan pencabutan tempat pemusatan PPN terutang dengan persyaratan dokumen yang sama ketika pemohon mengajukan pemusatan PPN pertama kali.

Untuk perubahan pemusatan PPN terutang, pemohon bisa mengajukan secara elektronik dengan:

  • memilih tempat pemusatan PPN terutang lain sebagai tempat pemusatan baru;
  • melakukan pemindahan alamat tempat pemusatan PPN yang berada dalam satu wilayah kerja Kanwil DJP tempat pemusatan; dan
  • melakukan pemindahan alamat tempat pemusatan PPN yang tidak berada dalam satu wilayah kerja Kanwil DJP tempat pemusatan.

Selain dengan cara elektronik, pemohon juga bisa mengajukan perubahan tempat pemusatan melalui dokumen tertulis yang diserahkan kepada Kepala Kanwil DJP tempat pemusatan.

Melalui Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-11/PJ/2020, PKP tidak perlu menyampaikan pemberitahuan perubahan keputusan pemusatan ketika ada pemindahan tempat terdaftar secara jabatan.

Pencabutan Tempat Pemusatan

Selain pemindahan, PKP juga bisa mengajukan pencabutan pemusatan PPN terutang yang selanjutnya Kepala Kanwil DJP tempat pemusatan atas nama Dirjen Pajak akan menerbitkan surat keputusan paling lama 14 hari sejak pemberitahuan diterima.

  • Seluruh permohonan yang diajukan PKP apabila tidak mendapatkan pemberitahuan melewati batas waktu dari Kepala Kanwil Dirjen Pajak maka kemungkinannya ada dua; pemberitahuan atau permohonan dari PKP dianggap telah memenuhi persyaratan; atau
  • PKP bisa mem-followup dan Kepala Kanwil DJP harus menerbitkan Keputusan Pemusatan yang berlaku mulai masa pajak berikutnya setelah 14 hari berakhir.

Contoh Formulir Permohonan Pemusatan PPN

Berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-11/PJ/2020, berikut contoh formulir permohonan Pemusatan PPN:

Contoh Formulir Permohonan Pemusatan PPN

Keterangan Pengisian:

 

  • Angka 1 diisi logo/Kop Pengusaha kena Pajak (PKP) pemohon;
  • Angka 2 diisi nomor surat PKP;
  • Angka 3 diisi tanggal, bulan, dan tahun pengisian formulir permohonan;
  • Angka 4 dan 5 diisi dengan nama dan alamat Kanwil tempat pemusatan PPN terutang;
  • Angka 6, 7, 8 masing-masing diisi data  (nama, NPWP, dan alamat) pemohon, pengurus PKP, atau kuasa yang menandatangani formulir;
  • Angka 9, 10, 11 masing-masing diisi dengan nama, NPWP, dan alamat PKP meski yang menandatangani adalah pengurus atau kuasa dari PKP;
  • Angka 12 diisi dengan nama, NPWP, alamat cabang/kegiatan usaha PKP yang ingin dipusatkan;
  • Angka 13, 14, 15 masing-masing diisi nama, NPWP, alamat PKP;
  • Angka 16 diisi dengan KPP tempat pemusatan;
  • Angka 17 diisi dengan nama dan tanda tangan jelas PKP atau pengurus pemohon.

Terkait surat permohonan penambahan, pengurangan, perubahan, dan pencabutan pemusatan PPN terutang, Anda bisa melihat contoh lengkapnya di sini.


April 27, 2021
WhatsApp-Image-2021-04-25-at-5.05.58-PM.jpeg

Salah satu cara perusahaan untuk meningkatkan keuntungan adalah melalui penjualan kredit. Penjualan kredit tersebut tentu harus diatur melalui manajemen piutang..

Penjualan secara kredit juga memberikan nilai stabil atas aset dan modal usaha sehingga perusahaan tidak akan merugi apabila terjadi penurunan penjualan.

Meski begitu, aktivitas piutang ini harus diatur sedemikian rupa agar tidak berbalik merugikan perusahaan. Di sinilah fungsi manajemen piutang.

Lantas bagaimana analisis manajemen piutang usaha atau perusahaan? Simak secara lengkap melalui artikel ini!

Pengertian Manajemen Piutang Usaha

Manajemen piutang adalah praktik atau sistem yang dibuat oleh perusahaan melalui proses perencanaan, pengawasan, pengendalian uang yang ditagihkan kepada pihak yang meminjam.

Tagihan kepada pihak lain yang dimaksud adalah tagihan perorangan maupun perusahaan atas setiap aktiva atau aset perusahaan yang timbul dari transaksi kredit.

Contoh sumber piutang yang lazim terjadi adalah pinjaman karyawan, penjualan kredit, atau restitusi pajak.

Piutang pada operasional bisnis adalah dua peran yang tidak bisa dipisahkan. Hal ini karena piutang menjadi salah satu faktor untuk meningkatkan keuntungan misalnya melalui penjualan kredit.

Selain itu, piutang juga membantu perusahaan dalam menghadapi persaingan bisnis. Misalnya saja dengan pinjaman hutang karyawan sebagai bentuk upaya mempertahankan karyawan.

Agar tujuan-tujuan tersebut tercapai, perusahaan wajib mengelola piutang secara efektif, efisien, dan tepat sasaran agar tidak berbalik merugikan.

Pengelolaan piutang inilah yang lebih jauh disebut dengan manajemen piutang.

Fungsi Manajemen Piutang

Adapun fungsi manajemen piutang dapat dilihat melalui empat fungsi utamanya yaitu:

  • Perencanaan – Merencanakan anggaran atau pos apa saja menggunakan pembayaran kredit

 

  • Pengorganisasian – Menciptakan kebijakan atau prosedur penagihan piutang agar berjalan secara efektif.
  • Penerapan atau pengarahan – menerapkan kebijakan atau aturan yang telah dibuat sehingga perusahaan mampu mengetahui mana piutang tertagih dan tidak tertagih.
  • Pengawasan – Perusahaan mampu mengevaluasi kebijakan piutang yang telah dijalankan. Apakah pengelolaan piutang berjalan efektif atau justru merugikan.

 

Tujuan Manajemen Piutang

Pengelolaan atau manajemen piutang dilakukan agar perusahaan terhindar dari risiko-risiko yang berasal dari pemasukan kredit seperti:

  • Seluruh piutang tidak tertagih. Risiko yang terjadi apabila jumlah piutang tidak dapat tertagih sama sekali. Misalnya kurang pengawasan, salah memilih pelanggan dan potensi lainnya seperti adanya kondisi negara yang tidak stabil.
  • Piutang yang tidak dibayarkan sebagai piutang. Hal ini akan berpengaruh langsung pada pencatatan keuangan yang berakibat mengurangi laba perusahaan.
  • Pelunasan piutang lewat jatuh tempo. Hal ini mampu menimbulkan beban tambahan pada perusahaan yang jika dilakukan berulang maka bisa merugikan perusahaan.
  • Perputaran piutang yang rendah pada modal yang dapat mengakibatkan modal yang tertanam dalam piutang semakin besar dan berakhir pada tidak produktifnya modal kerja.
  • Adanya kecurangan seperti kegagalan penagihan piutang karena pelanggan yang tidak bertanggungjawab atau pencurian kas.
  • Kesalahan teknis baik dalam hal penagihan maupun pemasukan data.
  • Data pelacakan piutang hilang atau rusak.
  • Kinerja SDM penagih piutang yang buruk.

Kebijakan Manajemen Piutang

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, manajemen piutang mampu mengontrol siklus piutang mulai dari terjadinya piutang hingga penagihan sehingga tidak mengganggu aliran kas perusahaan.

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan dalam penerapan manajemen piutang yaitu sebagai berikut.

1. Analisis Standar Kredit

Standar kredit merupakan kualitas minimal yang digunakan untuk menilai apakah peminjam layak untuk diberikan kredit atau pinjaman.

Dengan menentukan standar kredit, perusahaan bisa menentukan besaran pemberian kredit serta jangka waktu yang diberikan untuk melakukan pelunasan.

Ada beberapa versi kriteria dalam menganalisis standar kredit yaitu 5C, 5P, dan 3R. 

Adapun analisis standar kredit 5C sebagai berikut:

 

  • Characteristic: Perilaku pemohon pinjaman yang meliputi kejujuran, keterbukaan, pengalaman dalam meminjam, dan perilaku umum lainnya.
  • Capability: Kemampuan pemohon pinjaman dalam mengelola usahanya.
  • Capital: Utang yang diberikan bukan satu-satunya sumber daya. Namun pemohon juga harus memiliki modal.
  • Collateral: Pemohon harus bisa memberikan jaminan pinjaman.
  • Condition: Keadaan yang terjadi ketika adanya transaksi atau permohonan piutang baik secara makro maupun mikro.

 

Sedangkan analisis 5P meliputi:

 

  • Party: Pengelompokan calon pemohon pinjaman.
  • Purpose: Tujuan pemohon pinjaman. Apa yang akan dilakukan dan digunakan dari dana pinjaman tersebut.
  • Prospect: Memprediksi efektivitas hasil dari pinjaman yang diberikan.
  • Protection: Adanya perlindungan atau jaminan atas aset atau uang yang dipinjamkan.
  • payment: menganalisis apakah kredit yang dipinjamkan mampu dikembalikan atau tidak.

 

Di sisi lain, prinsip analisis kredit 3R dijabarkan lebih sederhana namun cukup menggambarkan aspek-aspek sebelumnya yaitu:

 

  • Return: Tingkat keberhasilan dari aktivitas piutang baik bagi peminjam maupun pemohon pinjaman.
  • Repayment: Kemampuan pemohon pinjaman untuk melunasi pinjamannya.
  • Risk: Kemampuan pemohon dalam menanggung risiko apabila tidak mampu mengembalikan hutangnya.

 

2. Persyaratan Kredit

Persyaratan kredit yang dimaksud adalah meliputi ketentuan-ketentuan yang dibuat perusahaan dalam mengelola piutangnya.

Syarat kredit meliputi penentuan periode kredit, potongan tunai, penetapan bunga dan syarat-syarat lain yang diberikan kepada pemohon pinjaman.

Umumnya, syarat kredit sangat dipengaruhi dengan jenis usaha yang dijalankan, bentuk kerjasama, kondisi kreditur maupun debitur, nilai ekonomis produk, dan sifat relatif lainnya.

3. Kebijakan Penagihan

Kebijakan penagihan utang sangat didasari oleh kebijakan kredit yang telah disepakati misalnya jumlah pinjaman yang diterima, periode kredit, dan persyaratan khusus lainnya.

Perusahaan harus jeli dalam menentukan kebijakan penagihan pinjaman. Mulai dari media penagihan apakah melalui email, penagihan langsung, atau melalui agen.

Satu hal yang perlu diingat dalam menentukan kebijakan penagihan adalah strategi dalam penagihan itu sendiri.

Misal, jika perusahaan terlalu agresif kepada peminjam dalam hal ini konsumen, bukan hal yang tidak mungkin apabila mereka akan beralih ke pesaing bisnis.

Dalam hal pinjaman karyawan misalnya, kebijakan pinjaman yang berbelit dan membebankan menyebabkan perusahaan kehilangan karyawan terbaiknya dan mungkin akan memengaruhi kinerja perusahaan secara langsung.

4. Mengandalkan Pihak Ketiga

Kebijakan terakhir bukanlah prinsip utama yang bisa dilakukan untuk mengefisiensi manajemen piutang perusahaan. Namun di dalam persaingan yang semakin ketat dan sangat volatile mengandalkan pihak ketiga merupakan pilihan terbaik.

Pihak ketiga yang dimaksud adalah pihak di luar perusahaan yang membantu mengelola piutang perusahaan misalnya adalah menggunakan layanan teknologi keuangan atau konsultasi dengan konsultan bisnis.

Mengandalkan pihak ketiga adalah investasi jangka panjang yang paling efektif dalam mengelola keuangan terutama piutang perusahaan.

Misalnya, Anda bisa menggunakan teknologi pengolahan akuntansi dan keuangan untuk memangkas birokrasi penagihan dan pemberian piutang, pemantauan, hingga kemudahan pengolahan data.

Baca Juga: Apa itu Akuntansi Manajemen? Bagaimana Fungsi dan Tujuan Akuntansi Manajemen?

Selain menggunakan teknologi, perusahaan juga bisa mengandalkan konsultan bisnis untuk mengatur keuangan terutama piutang secara efektif.

Melalui konsultan bisnis, perusahaan bisa mendapatkan konsultasi secara efektif mengenai pengelolaan keuangan baik yang terjadi saat ini dan proyeksi masa depan.


April 26, 2021
WhatsApp-Image-2021-04-25-at-4.52.09-PM.jpeg

Setiap kali seseorang membuka bisnis yang melibatkan inventaris, pertanyaan yang muncul setelah beberapa waktu adalah “Bagaimana cara menilai pajak atas sesuatu yang terus berfluktuasi?” Ternyata, terdapat beberapa metode penilaian persediaan yang membuat masalah ini menjadi sederhana bagi pemilik bisnis. Simak ulasannya berikut ini.

Pengertian Penilaian Persediaan (Inventory Valuation)

Penilaian persediaan adalah praktik akuntansi yang oleh perusahaan untuk mengetahui nilai persediaan yang tidak terjual pada saat mereka menyusun laporan keuangan. Persediaan merupakan aset bagi suatu perusahaan, dan untuk mencatatnya di neraca harus memiliki nilai finansial. Nilai ini dapat membantu Anda menentukan rasio perputaran inventaris, yang selanjutnya akan membantu Anda merencanakan keputusan pembelian.

Sebagai contoh, jika Anda menjalankan bisnis sepatu dan tersisa 50 pasang sepatu di akhir tahun, Anda perlu menghitung nilai keuangannya dan pencatatannya di neraca Anda. Mari kita lihat bagaimana dan mengapa Anda akan menghitung nilainya.

 

Kenapa Inventory Valuation Penting?

Mengidentifikasi barang yang tidak terjual hanyalah salah satu langkah dalam penilaian persediaan. Anda juga membutuhkan nilai tukar yang dapat dikalikan dengan kuantitas untuk mendapatkan nilai akhir. Anda mungkin telah membayar harga yang berbeda untuk barang-barang ini sepanjang tahun, jadi Anda perlu memilih teknik untuk menghitung tarif umum.

Melanjutkan contoh sebelumnya, mari kita lihat pembelian Anda untuk jenis sepatu kets tertentu sepanjang tahun:

 

Item (Sneakers) Purchase (No.) Rate (each pair, rupiah)
January 100 30.000
March 150 31.000
July 100 31.000
October 110 31.000
December 90 35.000
Items purchased 550
Items sold 500
Items unsold 50
Inventory value 50 x? (30.000 atau 31.000 atau 35.000)

 

Di akhir tahun, Anda memiliki 50 pasang barang yang tidak terjual, tetapi karena fluktuasi harga produk, Anda menghadapi dilema mengenai tarif mana yang harus Anda gunakan. Karena itu, Anda perlu memilih metode. 

Pada bagian berikut, kita akan melihat berbagai teknik penilaian inventaris dan berbagi beberapa petunjuk yang dapat membantu Anda memilih metode yang tepat untuk bisnis Anda.

 

Apa saja Metode Penilaian Persediaan?

Terdapat tiga metode untuk penilaian persediaan: FIFO (First In, First Out), LIFO (Last In, First Out), dan WAC (Weighted Average Cost).

  • FIFO

Anda berasumsi bahwa barang pertama yang dibeli adalah barang pertama yang keluar dari gudang. Dengan kata lain, setiap kali Anda melakukan penjualan, di bawah FIFO, item akan dikurangi dari daftar produk pertama yang masuk ke toko atau gudang Anda. 

  • LIFO

Anda membuat asumsi sebaliknya: item terakhir yang masuk ke toko Anda adalah yang pertama keluar.

  • WAC

Anda menggunakan biaya rata-rata item sepanjang tahun. Biaya rata-rata per unit dihitung dengan membagi total biaya dengan jumlah total unit yang dibeli selama tahun tersebut.

Baca Juga: Istilah Manajemen Persediaan beserta Metode dan Fungsinya

 

Bagaimana Menilai Persediaan dengan Metode Penilaian Persediaan yang Berbeda?

Mari lanjutkan contoh di atas dan cari tahu bagaimana masing-masing metode ini menghitung nilai persediaan Anda yang tidak terjual.

Item (Sneakers) Purchase (No.) Rate (each pair, rupiah) Total Cost FIFO LIFO WAC
January 100 30.000 300.000 Asumsikan bahwa 500 pasang yang terjual berasal dari barang yang paling lama (dari Januari hingga Oktober). 50 sisanya adalah yang i terbaru. Asumsikan bahwa 500 pasang yang terjual berasal dari item terbaru (Desember hingga Maret). 50 sisanya adalah barang lebih lama. Hitung dulu harga rata-rata / unit sepatu kets yang dibeli sepanjang tahun, lalu gunakan angka ini untuk menilai Inventaris yang tidak terjual di akhir tahun.
March 150 31.000 465.000
July 100 31.000 310.000
October 110 31.000 341.000
December 90 35.000 315.000
Items purchased 550
Items sold 500
Items unsold 50
Total 1.731.000
Average price/unit 1.731.000/550 = 31.500
Inventory value 50 x? (30.000 atau 31.000 atau 35.000) 50 x 35.000 = 1.750.000 50 x 30.000 = 1.500.000 50 x 31.500 = 1.575.000

 

Dari tabel ini, Anda dapat melihat bagaimana nilai persediaan Anda yang tidak terjual pada akhir tahun akan berbeda berdasarkan metode penilaian yang Anda pilih. Namun, ada dua hal yang perlu diingat:

  • Dalam contoh di atas, nilai FIFO lebih dari nilai LIFO karena Anda membayar lebih per unit di akhir tahun. Namun, tidak selalu demikian. Jika harga pembelian Anda turun sepanjang tahun, nilai FIFO akan lebih kecil dari nilai LIFO dan nilai WAC akan berubah sesuai dengan itu.
  • Jika jumlah barang yang tidak terjual di akhir tahun lebih besar dari pesanan pertama atau terakhir, maka perhitungannya akan sedikit berbeda. Misalnya, jika Anda memiliki 150 item yang tidak terjual di akhir tahun , maka perhitungannya akan terlihat seperti ini:

 

  • FIFO: Barang yang dibeli lebih dulu akan dijual lebih dulu

Gunakan tarif pembelian terbaru untuk jumlah item yang termasuk dalam pesanan terbaru, lalu gunakan tarif sebelumnya untuk item yang tersisa.

90 x 35.000 = 3.150.000 ( Semua barang yang dibeli di bulan Desember)

60 x 31.000 = 1.860.000 ( Sisa barang yang akan dinilai menggunakan tarif dari  Oktober)  

Jumlah 5.010.000

  • LIFO: Item yang dibeli terakhir akan dijual lebih dulu

Gunakan tarif pembelian terlama untuk jumlah item yang termasuk dalam pesanan terlama, lalu gunakan tarif berikutnya untuk item yang tersisa.

100 x30.000 = 3.000.000 ( Semua item yang dibeli di bulan  Januari)

50 x 31.000 = 1.550.000 ( Sisa item yang akan dinilai menggunakan tarif dari Maret.)

Jumlah 4.550.000

  • WAC: Biaya rata-rata per unit

150 x 31.500 = 4.725.000  ( Harga rata-rata per unit akan tetap sama karena  TIDAK ADA perubahan harga dan kuantitas yang dibeli )

Metode Penilaian Persediaan Mana yang Terbaik untuk Bisnis Anda?

Sebenarnya tidak ada jawaban langsung untuk pertanyaan ini. Metode penilaian persediaan Anda bergantung pada kondisi pasar, dan tujuan keuangan perusahaan Anda. Berikut adalah beberapa skenario yang dapat membantu Anda menentukan metode penilaian persediaan terbaik untuk bisnis Anda.

  • Mengajukan Pinjaman untuk Ekspansi Bisnis

Jika Anda berencana untuk mengajukan pinjaman, maka Anda perlu menyimpan saham Anda sebagai jaminan. Dalam kasus seperti itu, akan lebih baik jika nilai saham Anda tinggi, karena penilaian yang lebih tinggi akan memberikan lebih banyak jaminan kepada pemberi pinjaman. 

Jika harga meningkat sepanjang tahun, teknik penilaian persediaan FIFO akan memberi Anda nilai yang lebih tinggi untuk menutup persediaan. Jika harga turun, teknik LIFO akan memberi Anda nilai yang lebih tinggi. 

Nilai persediaan penutup di neraca Anda merupakan salah satu faktor yang digunakan oleh lembaga keuangan sebelum menyetujui pinjaman ke sebuah perusahaan, sehingga teknik yang memberi Anda nilai persediaan tertinggi akan menjadi yang terbaik untuk perusahaan Anda.

  • Menarik Investor 

Perusahaan dengan margin keuntungan yang tinggi bisa mendapatkan banyak perhatian dari calon investor dan membuat pemegang sahamnya senang. Jadi jika Anda mencari peluang pendanaan baru atau jika Anda ingin menyenangkan pemegang saham Anda dengan pendapatan yang baik, maka penilaian FIFO akan bermanfaat dalam kondisi pasar yang inflasi. 

Demikian pula, penilaian LIFO akan menjadi pilihan yang lebih baik saat harga sedang turun. Karena metode FIFO menghasilkan laba kotor yang lebih tinggi, hal tersebut akan membuat perusahaan lebih menarik bagi investor.

  • Menghemat Pajak

Jika Anda sedang mencari cara untuk mengurangi kewajiban pajak Anda, maka teknik penilaian persediaan Anda dapat membantu. Dengan asumsi situasi inflasi lagi, teknik penilaian LIFO akan menghemat uang Anda. 

Kewajiban pajak tertinggi dibebankan jika Anda mengikuti teknik penilaian FIFO, karena keuntungannya juga paling tinggi. Di bawah LIFO, kewajiban lebih rendah karena margin keuntungan lebih rendah. Namun, perlu diingat bahwa kami mengasumsikan harga akan naik sepanjang tahun. Selama depresi ekonomi, skenario ini mungkin berjalan berbeda.

 

Metode Penilaian Persediaan Menurut Aturan Pajak

Namun, jika mengacu pada Undang Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan, dalam pasal 6 metode persediaan yang diperkenalkan dalam perpajakan,  hanya terdapat 2 metode yang dapat digunakan yaitu metode rata-rata (average) maupun FIFO (First In First Out). 

Kedua metode terkait memiliki kelebihan serta kekurangan, yang secara finansial menjadi pertimbangan bagi wajib pajak. Pertimbangan secara fiskal dari pemakaian metode perhitungan persediaan ini sama dengan pertimbangan secara finansial. Wajib pajak tentu akan memutuskan untuk memakai metode yang menghasilkan PPh terutang yang lebih rendah.

 

Kesimpulan

Konsep penilaian persediaan mungkin tampak sedikit berat pada awalnya. Namun, begitu dipecahkan dan mendemonstrasikan setiap metode, hal ini menjadi jauh lebih sederhana. Itulah yang Rusdiono Consulting coba capai dalam artikel ini. 

Apakah Anda seorang pemilik bisnis yang mapan atau pengusaha pemula, Anda perlu tahu tentang penilaian persediaan karena inventaris memainkan peran besar dalam kategori aset di neraca Anda. Pemahaman tentang penilaian inventaris dan pentingnya dapat membantu Anda memenuhi tujuan pertumbuhan bisnis, dan manfaatkan kondisi pasar saat ini dengan sebaik-baiknya.

Jika Anda perlu konsultan berpengalaman mengenai metode penilaian persediaan maupun aturan perpajakannya, Anda dapat menghubungi Rusdiono Consulting sekarang.


April 22, 2021
iStock-636772794-liability-1000x800-1.jpg

Dalam menjalankan operasional bisnis, pengusaha tidak hanya mengandalkan modal dan aset. Seringkali perusahaan juga berhutang. Nah, kewajiban untuk membayar hutang ini lah yang disebut dengan liabilitas.

Dalam praktiknya, perusahaan tidak melulu mengandalkan modal dan aset yang ada. Mengambil risiko seperti berhutang menjadi kunci agar bisnis tetap berkembang.

Misalnya ketika membeli barang atau jasa dari vendor, perusahaan biasanya akan berhutang dan itu wajar. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan jumlah aset dalam waktu singkat.

Jadi apa itu liabilitas? Kenapa perusahaan melakukan liabilitas dan apa jenis-jenis liabilitas itu sendiri?

Liabilitas dalam Bisnis

Mengutip Investopedia, liabilitas adalah kewajiban perusahaan atau perorangan yang diselesaikan seiring berjalannya waktu dengan memberikan manfaat ekonomi seperti uang, barang, atau jasa.

IASB (International Accounting Standard Boards) mendefinisikan liabilitas sebagai kewajiban entitas saat ini yang berasal dari peristiwa masa lalu yang penyelesaiannya melalui arus kas keluar entitas tersebut.

Australian Accounting Standard Boards menjelaskan juga bahwa liabilitas terjadi karena sebuah pengorbanan yang dilakukan untuk mendapatkan manfaat ekonomi.

Manfaat ekonomi yang dimaksud adalah penghasilan, peningkatan aset, atau kekuatan modal.

Singkatnya liabilitas adalah kewajiban yang harus dibayarkan perusahaan dari pihak lain untuk mendapatkan nilai ekonomi salah satunya dalam proses operasional bisnis.

Misalnya saja utang yang berasal dari pembelian aset, gaji karyawan, pajak, sewa, atau obligasi.

Dalam akuntansi, liabilitas berbanding terbalik dengan aset. Hal ini karena liabilitas adalah kewajiban kepada pihak lain sedangkan aset adalah sumber daya yang dimiliki untuk menjalankan operasional.

Selain itu, perubahan liabilitas juga bisa dianalisis melalui persamaan dasar akuntansi. Dimana persamaannya adalah Aset = liabilitas + ekuitas (modal).

Oleh karena itu,adanya hak yang dimiliki oleh perusahaan akan selalu diikuti dengan adanya kewajiban (liabilitas).

Di sisi lain, liabilitas berbeda dengan beban. Hal ini karena beban adalah pengeluaran yang dilakukan untuk menjalankan bisnis. Sedangkan hutang adalah sesuatu yang wajib dibayar tanpa melihat kondisi bisnis saat ini.

Oleh karena liabilitas tidak melihat kondisi bisnis, maka kewajiban (liabilitas) harus dibayarkan pada tenggat waktu yang sudah ditentukan.

Jenis-Jenis Liabilitas

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, kewajiban atau hutang dituntaskan pada waktu tenggat yang ditentukan.

Berikut jenis-jenis liabilitas yang didasari dari jangka waktu pembayaran dan sifat urgensinya.

1. Kewajiban Lancar (Jangka Pendek)

Kewajiban atau liabilitas jangka pendek juga biasa disebut dengan liabilitas lancar yaitu dimana kewajiban jatuh tempo selama siklus operasi normal atau satu tahun.

Berikut beberapa contoh dari liabilitas lancar:

 

  • Utang dagang – utang yang berasal dari transaksi pembelian barang atau jasa.
  • Utang tagihan atau akrual – beban perusahaan yang belum dibayarkan secara tunai.
  • Pendapatan di muka – kondisi dimana perusahaan telah menerima penghasilan namun barang atau jasa belum sampai ke tangan pelanggan.
  • Utang wesel – pinjaman berbunga dengan masa tagihan kurang dari satu tahun.

 

    • Utang jangka panjang yang jatuh tempo pada periode saat ini (satu tahun) misalnya obligasi berseri.

 

  • Utang dividen – Kewajiban perusahaan yang harus dibayar kepada para pemegang saham.

 

Selain contoh-contoh tersebut, liabilitas lancar juga digunakan dalam rasio keuangan yaitu:

  • Rasio kas (cash ratio) yang dihitung dengan cara membandingkan total kas dan setara kas dengan kewajiban lancar.
  • Rasio lancar yang dihitung dengan membandingkan aset lancar dengan kewajiban lancar.
  • Rasio cepat yang dihitung dengan membandingkan aset lancar yang dikurangi persediaan dengan kewajiban lancar.

2. Kewajiban Tidak Lancar (Jangka Panjang)

Liabilitas tidak lancar juga disebut dengan liabilitas jangka panjang dimana waktu tenggat pembayaran lebih dari satu tahun.

Biasanya dalam liabilitas jangka panjang terdapat restriksi atau batasan yang berguna untuk memberikan perlindungan antara peminjam maupun pihak yang dipinjamkan.

Kewajiban jangka panjang ada biasanya karena sebuah perusahaan ingin mengembangkan bisnisnya atau baru memulai bisnis.

Contoh liabilitas jangka panjang adalah hutang hipotek, hutang obligasi, atau hutang wesel jangka panjang.

3. Kewajiban Kontinjensi

Kewajiban atau likuiditas kontinjensi bisa dikatakan kewajiban berdasarkan kejadian luar biasa.

Maksudnya luar biasa adalah kewajiban yang berpotensi timbul akibat peristiwa masa lalu. Itu artinya, kewajiban tersebut tidak bersifat aktual.

Singkatnya, kewajiban bisa saja timbul tergantung terjadinya peristiwa saat ini atau mendatang.

Dalam pencatatan, kewajiban jenis ini tidak dicatat dalam laporan keuangan secara aktual. Namun hanya sebagai lampiran.

Contoh liabilitas kontinjensi adalah gugatan atau garansi produk.

Analisis Liabilitas Bisnis

Ternyata rasio liabilitas sebuah perusahaan bisa dianalisis menggunakan sebuah metode yang bernama rasio solvabilitas atau istilah lainnya leverage.

Analisis ini berfungsi menganalisis kemampuan perusahaan dalam membayar kewajibannya dengan membandingkan aspek akuntansi lain yaitu aset dan modal.

Adapun rasio yang umum digunakan adalah sebagai berikut.

1. Rasio Utang Terhadap Aset (Debt to Asset Ratio)

Rasio ini digunakan untuk menganalisis porsi hutang pada semua aset yang dimiliki perusahaan.

Perhitungan rasio ini adalah dengan membandingkan total liabilitas dengan total aset perusahaan.

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah semakin besar persentase rasio utang terhadap aset, maka liabilitas perusahaan dianggap kurang aman.

2. Rasio Utang Terhadap Modal (Debt to Equity Ratio)

Rasio ini bertujuan untuk membandingkan jumlah kewajiban dengan ekuitas atau modal yang dimiliki oleh perusahaan.

Dimana jumlah utang tidak boleh melebihi jumlah modal yang dimiliki perusahaan. Itu artinya, semakin kecil persentase rasio ini, maka liabilitas perusahaan semakin baik.

Itulah pengertian liabilitas dan jenis-jenisnya dalam bisnis. Tentu, sebagai pebisnis, adanya liabilitas atau kewajiban adalah hal wajar. Namun hal yang perlu diingat adalah jumlah utang tidak boleh melebihi modal atau aset yang dimiliki perusahaan.


Send this to a friend