Biaya Marginal, Analisis Biaya Produksi yang Wajib Diketahui Pebisnis

August 10, 2021by Admin dua0
WhatsApp-Image-2021-08-07-at-12.10.14-PM.jpeg

Ketika Anda memproduksi barang dan ternyata permintaannya melebihi ekspektasi, maka mau tidak mau Anda akan menambah biaya produksi lagi. Biaya tersebut yang dinamakan dengan biaya marjinal atau marginal cost.

Bukan tidak mungkin, bahwa bila Anda mengoperasikan sebuah usaha atau bisnis, ada momen dimana Anda akan mengeluarkan biaya marginal.

Jika pada contoh di atas situasinya terdapat penambahan produksi, biaya marginal juga bisa saja timbul karena adanya kejadian yang merugikan.

Lantas, apa itu biaya marginal dan kenapa perusahaan perlu memahami ini? simak artikel berikut ini.

 

Pengertian Biaya Marginal

Di dalam ilmu ekonomi mikro atau lebih sempitnya biaya produksi, biaya marginal adalah perubahan total biaya produksi yang berasal dari penambahan unit produksi.

Contoh sederhana, misal Anda membuka usaha roti. Biasanya Anda memproduksi 50 roti dalam sebulan dengan biaya Rp1.000.0000.

Nah ternyata, ada peningkatan permintaan yaitu 10 roti dengan tambahan biaya Rp50.000. Nah biaya Rp50.000 ini merupakan biaya marginal.

Sudah disebutkan sebelumnya, bahwa biaya marginal adalah perubahan biaya produksi yang berarti terdiri dari biaya tetap dan tidak tetap.

Namun, perubahan total biaya produksi atau adanya biaya marginal umumnya total biaya produksi hanya merupakan biaya marginal.

Kenapa demikian? Mari ingat sedikit tentang teori biaya tetap dan biaya tidak tetap.

Biaya tetap atau fixed cost tidak mengalami perubahan apabila terjadi perubahan jumlah produksi.

Namun biaya tetap per unit akan terus berkurang seiring perubahan produksi namun tidak sampai ke titik nol.

Sedangkan biaya variabel dipengaruhi dengan jumlah produksi. Menambah unit produksi berarti menambah biaya variabel.

Sehingga banyak pebisnis, ketika menghitung biaya marginal, mereka mengabaikan biaya tetap. Kecuali memang ada penambahan biaya tetap itu sendiri. Misal, menambah daya listrik atau menambah gudang produksi.

Baca Juga: Pengertian Manajemen Biaya, Konsep hingga Langkah Penerapannya

Rumus dan Cara Menghitungnya

Banyak pembahasan yang membahas bagaimana sebenarnya cara menghitung biaya marginal.

Pedoman umum yang biasanya digunakan untuk menghitung biaya marginal adalah prinsip yang dikemukakan Michael Parkin melalui buku nya Microeconomics dan Karl E. Case CS dengan bukunya The Principle of Economics.

Meskipun keduanya memiliki pendekatan yang berbeda. Lebih jauh, prinsip keduanya tidak ada yang salah dan bisa digunakan dalam praktik perhitungan biaya marginal.

Namun kali ini, untuk mengetahui rumus perhitungan atau cara menghitung biaya marginal maka pada tulisan ini akan menggunakan prinsip yang dikemukakan oleh Michael Parkin.

Beliau menjelaskan bahwa biaya marginal merupakan operasi hitung antara perubahan biaya produksi dibagi dengan perubahan jumlah unit.

Jika dirumuskan akan seperti ini:

Biaya Marginal = Perubahan Total Biaya Produksi / Perubahan Jumlah produksi

Sebagai ilustrasi, Aldi produsen sepatu yang saat ini berhasil memproduksi 50 pcs dengan total biaya produksi sekitar Rp30.000.000.

Namun Aldi ingin menambah produksinya menjadi 80 pcs dan diperkirakan akan memakan biaya sebesar Rp50.000.000.

Berarti biaya marginalnya adalah selisih dari total biaya produksi (Rp50.000.000 – Rp30.000.000  = Rp20.000.000) dibagi dengan selisih jumlah produksi (80 – 50 pc = 30 pc).

Maka biaya produksi marginalnya adalah Rp20.000.000/30 = Rp670.000.

Pembahasan

Mari bandingkan ketika Aldi memproduksi sepatu pada jumlah normal yaitu 50 pcs, biaya produksinya adalah Rp600.000 (Rp30.000.000 dibagi 50 pcs).

Kesimpulannya, Rp670.000 merupakan biaya produksi optimal agar Aldi bisa mendapatkan keuntungan.

Apabila Aldi nekat untuk menambah unit lagi di atas batas itu, kemungkinan besar biaya produksi tambahan juga akan naik. Mau-tidak-mau Aldi harus menaikkan harga.

Namun menaikkan harga dalam jangka pendek seperti itu akan memengaruhi keuntungan perusahaan, menurunkan daya saing, atau bahkan kehilangan konsumen.

Jadi, Aldi mau tidak mau harus menahan untuk tidak memproduksi lebih dari 80 pcs sepatu.

Singkatnya, biaya marginal bisa dikatakan optimal atau dapat memberikan keuntungan apabila biaya marginal (marginal cost) sama dengan pendapatan marginal (marginal revenue).

 

Kurva Biaya Marginal

Untuk mengetahui lebih jelasnya pengaruh biaya marginal dengan keputusan bisnis Anda, coba simak kurva dari grafik berikut ini.

Kurva Biaya Marginal

Untuk menganalisis biaya marginal, Anda tidak bisa melakukannya dengan satu faktor saja yaitu biaya marginal itu sendiri. 

Ada faktor pembanding yang harus Anda lihat. Faktor pembanding yang paling umum dan mudah adalah faktor biaya rata-rata (average cost).

Dalam grafik tersebut, para ekonom sepakat bahwa ketika biaya marginal lebih rendah dibanding biaya rata-rata (grafik pada posisi sebelah kiri), maka perusahaan berada pada skala ekonomis.

Maksudnya, pada skala ekonomis perusahaan bisa mengoptimalkan keuntungannya atau bahkan menciptakan competitive advantages.

Setelah kurva marginal cost dan average cost (lihat grafik) bertemu, baik biaya marginal maupun biaya rata-rata, angkanya akan terus menaik.

Namun, biaya marginal lebih tinggi dibanding dengan biaya rata-rata. Kondisi ini, bisa dibilang merupakan kondisi disekonomis.

Pada skala ini, perusahaan dianjurkan untuk menahan atau tidak melakukan penambahan unit produksi karena akan berdampak pada kerugian perusahaan.

 

Fungsi Biaya Marginal

Analisis biaya marginal sejatinya memiliki fungsi untuk membantu pelaku usaha dalam mengambil keputusan untuk mengoptimalkan keuntungan.

Misal, Anda penjual roti yang menjual 10 roti. Namun karena situasi tertentu, Anda ingin menambah unit produksi. 

Di sinilah peran analisis biaya marginal yang akan membantu Anda dalam menentukan berapa unit yang harus ditambah dalam produksi.

Memproduksi terlalu berlebihan atau terlalu cepat akan berdampak buruk bagi keuntungan. Sebaliknya, memproduksi terlalu lambat atau terlalu sedikit juga akan memiliki dampak yang sama.

Dari contoh di atas misalnya. Ketika Anda ingin menambah produksi dari 10 roti ke 11 roti ternyata membutuhkan biaya Rp5.000 per roti. Sedangkan dari 10 roti ke 12 roti membutuhkan biaya Rp6.000 per roti.

Namun, karena berbagai pertimbangan, entah karena daya beli konsumen, persaingan atau harga pasar, Anda menjual roti umumnya Rp5.500 per roti.

Berdasarkan kasus tersebut, berapa unit yang Anda akan tambahkan ke dalam produksi roti Anda? 11 unit atau 12 unit?

Tentu, Anda akan lebih memilih untuk menambah produksi menjadi 11 unit karena masih ada margin keuntungan Rp500.

Dengan kata lain jika biaya marginal Anda Rp1.000, maka Anda mau tidak mau harus menahan diri untuk menambah produksi ketika lebih atau bahkan mencapai biaya marginal itu.

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, mengetahui biaya marginal juga membantu melihat skala ekonomis sebuah perusahaan. Pada angka berapa perusahaan bisa melakukan competitive advantages.

Competitive advantages yang dimaksud misalnya menawarkan harga produk yang lebih kompetitif atau bahkan melakukan diversifikasi produk.

Itulah penjelasan singkat mengenai biaya marginal. Semoga artikel ini bisa memberikan sedikit pengetahuan bagi Anda yang ingin atau sedang menjalankan bisnis.

Apabila Anda membutuhkan konsultasi bisnis dan perpajakan, Anda bisa menghubungi Kami, Rusdiono Consulting melalui tautan berikut ini

Admin dua


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Send this to a friend